
Saat Adeline mendengar Rosaline memanggil namanya dan menyadari keberadaannya, gadis kecil itu melepaskan kaki pria itu, dan mendekati Rosaline dengan wajah berseri-seri.
Rosaline akhirnya menyadari bahwa kehadiran Adeline yang memang nyata.
“Jadi ini benar-benar kamu?! Aku tidak sedang berhalusinasi?” ucapnya tak percaya. “Apa yang sedang kamu lakukan disini Adeline? Gadis kecil sepertimu tidak baik jika berada di rumah sakit seperti ini” lanjutnya dengan khawatir.
Gadis kecil itu sama sekali tidak menghiraukan kekhawatiran Rosaline. Gadis kecil itu hanya tersenyum senang melihat tantenya sudah sadar.
“Itu salahku” ucap Steve sambil mengangkat tangan kanannya dan muncul dari balik badan William.
Rosaline menjadi semakin bingung dengan kehadiran orang lain yang tidak dikenalnya lagi. “Maaf, tapi apakah aku mengenalmu?” ucapnya bingung.
“Kita memang tidak saling kenal. Aku Steve, temannya ayah Adeline dan juga Evan. Aku yang membawanya kemari atas permintaan dari Adeline sendiri yang sudah memaksaku, karena dia ingin bertemu denganmu” jawab Steve dengan canggung.
“Ahh jadi begitu. Aku sungguh minta maaf, karena aku sudah membuatmu merasa kesulitan menuruti keinginan Adeline” ucap Rosaline.
“Emm yah, tidak masalah” jawab Steve canggung, karena sekarang dia sedang ditatap tajam oleh William.
Kemudian Cheryl berusaha memecahkan suasana yang canggung. “Raline, apa kamu membutuhkan sesuatu? Keadaanmu masih belum pulih benar. Aku akan merawatmu sampai kamu sembuh” ucap Cheryl khawatir terhadap Rosaline.
“Tidak perlu Cheryl. Aku sudah merasa baikan. Bukankah sekarang sudah hampir waktunya kamu kerja part time? Lebih baik segeralah pulang sekarang sebelum kamu terlambat” jawab Rosaline dengan tersenyum.
“Kalau begitu biar aku saja yang merawatmu. Menginaplah di apartemenku untuk sementara ini. Lagi pula katamu tadi kan keluargamu sedang tidak ada di rumah, aku khawatir jika nanti terjadi sesuatu padamu saat di rumah sendirian. Bagaimana jika kamu pingsan lagi? Bagaimana jika kamu ingin makan? Minum? Bagaimana jika kam--” ucap Angel khawatir histeris, tapi sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Rosaline sudah menyahutnya.
“Angel, stop Angel. Tenanglah...” sahut Rosaline tersenyum. Kemudian dia melanjutkan, “Aku tahu kamu mengkhawatirkanku. Tapi sungguh aku sudah merasa baikan. Aku tidak masalah tinggal di rumah sendirian, badanku tidak selemah itu hingga tak mampu mengurus diriku sendiri. Kamu tidak perlu repot-repot merawatku. Lagi pula penerbanganmu kan malam ini, dan kamu juga sudah lama tidak pulang, jadi mana mungkin di cancel hanya gara-gara aku. Kamu harus pulang ke rumah orang tuamu hari ini, tidak boleh ditunda lagi, karena mereka sudah sangat merindukanmu”
“Apa kamu yakin tidak membutuhkan kami? Kami berdua ini sungguh mengkhawatirkanmu Raline, jadi jangan sungkan jika butuh bantuan. Aku dan Angel hanya takut jika terjadi sesuatu lagi denganmu. Apalagi di rumahmu kan tidak ada orang yang bisa merawatmu dengan baik” ucap Cheryl masih tidak yakin.
Kalian tenang saja. Semua pelayan di rumahku pasti akan merawatku dengan sangat baik. Bahkan jika aku ketahuan sakit hingga seperti ini, mungkin ayah akan mengerahkan semua dokter terbaik di rumah sakit ini untuk merawatku. Untung saja saat ini ayah dan kak Rayen sedang pergi – batin Rosaline.
“Tenang saja, aku tidak apa-apa kok. Jika aku memang butuh bantuan, aku pasti akan menghubungi kalian. Aku akan beristirahat sejenak disini sampai infusnya habis. Tidak perlu khawatirkan aku” jawab Rosaline menenangkan kedua temannya.
Sebenarnya tidak perlu menunggu infusnya habis. Setelah kalian semua pulang, aku pasti akan segera keluar dari rumah sakit ini - batin Rosaline.
Angel dan Cheryl hanya menghela nafas dan mengangguk pasrah. Mereka juga tahu kalau temannya itu keras kepala dan tidak bisa dipaksa jika memang tidak mau. Mereka hanya bisa berharap kalau kondisi Rosaline memang sudah baik-baik saja.
Kemudian Evan menyampaikan diagnosa dokter tadi kepada Rosaline. “Oh ya Raline, kata dokter kamu sangat kelelahan beraktivitas, terlebih di saat badanmu yang sedang tidak dalam kondisi baik, sehingga kamu bisa pingsan seperti tadi. Kamu juga terkena sedikit demam. Jadi kamu harus istirahat untuk beberapa hari ke depan. Dan untuk ujianmu jangan khawatir, kamu sudah menyelesaikan dan mengumpulkannya” ucapnya dengan menatap Rosaline.
“Ahh begitu rupanya...” ucap Rosaline mengerti tentang diagnosanya. “Baiklah. Terima kasih banyak Mister Evan sudah membawaku kemari dan aku minta maaf karena sudah merepotkan” lanjutnya berterima kasih pada Evan.
“Tidak masalah. Ini sudah tugasku” balas Evan dengan tersenyum.
Kemudian Rosaline kembali teringat bahwa tadi ada kehadiran Adeline juga di ruangan itu.
Dia beralih lagi menatap Adeline. “Adeline sayang, apakah kamu sudah memberi tahu orang tuamu kalau kamu berada disini?”
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya sambil tulunjuknya mengarah ke sosok pria tinggi dan tampan yang berdiri diam seperti patung dengan matanya yang setajam elang.
Evan kemudian mendekat ke arah William. “Raline, pria ini adalah teman baikku, William. Dia ayah dari Adeline”
Rosaline merasa terkejut bahwa pria yang sedari tadi ada di ruangannya itu ternyata adalah ayah dari Adeline dan juga teman dari Mister Evan.
Lalu Rosaline mengingat sesuatu yang pernah diucapkan Mister Evan kepada Rosaline tentang temannya yang bernama William. “Ahh jadi dia ini teman Mister Evan. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu tuan William” ucapnya sambil tersenyum.
Pria yang disapa itu hanya menunjukkan respon wajah datarnya saja.
Evan merasa terheran dengan ucapan Rosaline yang ambigu. “Apa kamu sudah mengenal dia sebelumnya?” tanya Evan penasaran pada Rosaline.
Rosaline menggelengkan kepalanya dan menjawab pertanyaan dosennya itu, “Tentu saja tidak. Tapi aku masih ingat Mister Evan pernah menyinggung namanya saat itu. Dulu saat aku membantu Mister Evan mengerjakan projek kampus, Mister Evan pernah bilang kepadaku kalau mempunyai teman yang bernama William. Mister mengatakan kalau teman mister yang bernama William itu orang yang kaku, dingin, berwajah datar, menyebalkan. Lalu apa lagi ya...hmm...coba aku ingat-ingat. Jika aku tidak salah, Mister Evan juga mengutuknya dengan sebutan---“ ucap Rosaline santai dengan wajah innocentnya.
“Aa-a-ahh itu...” ucap Evan panik memotong ucapan Rosaline. Evan menyilangkan kedua tangannya ke udara, tanda agar Rosaline segera menghentikan ucapannya. Rosaline yang melihat dosennya bertingkah seperti itu merasa bingung dan menggantungkan ucapannya.
Gadis itu tidak menyadari bahwa ucapannya tadi bagaikan bensin yang menyiram tubuh Evan.
Saat ini Evan merasakan kehadiran iblis berdiri di sampingnya dan sudah siap menyeret dirinya ke neraka.
Evan mencoba mencuri pandang sekilas pada pria itu, dan di dapatinya tatapan iblis sedang menatap mengerikan ke arahnya. Tatapan itu bahkan mampu untuk membakar tubuh Evan.
Evan menelan ludahnya berat. Kemudian dia berlari ke arah dua mahasiswinya Angel dan Cheryl, untuk menjadikan mereka berdua alasan dirinya keluar dari ruangan horor itu. “Aa-eeh Angel, Cheryl, sepertinya Raline sudah tidak apa-apa. Kalian berdua kan harus segera pergi karena ada keperluan, saya pun juga masih ada urusan lain setelah ini. Jadi lebih baik sekarang kita bergegas pergi dari sini, biarkan Raline beristirahat. Saya akan antarkan kalian berdua ke depan” ucap Evan sambil mendorong kedua gadis itu keluar dari ruangan.
Evan tidak ingin berlama-lama bersama William dan memilih segera kabur.
Tak lupa Evan, Angel, dan Cheryl berpamitan pada Rosaline.
Rosaline masih terheran dengan situasi yang tiba-tiba ini. Gadis itu masih belum sadar kalau dirinya sudah salah berucap.
Steve pun juga tak kalah ngeri menghadapi situasi ini. Melihat Evan yang sudah pergi meninggalkannya sendirian di ruangan ini, membuat Steve merasa semakin terancam dan ingin segera kabur juga.
“Raline, aku harap kamu cepat sembuh. Jaga kesehatanmu. Aku pamit pulang dulu, sampai jumpa lagi” ucap Steve sambil melambaikan tangan ke Rosaline, gadis itu hanya membalas dengan tersenyum. Dan Steve pun meninggalkan ruangan itu.
Ada apa dengan kedua orang tadi? Aneh sekali – ucap Rosaline terheran dalam hati.
Kini di ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga, Rosaline, Adeline, dan William. Meninggalkan ketiganya dalam situasi yang penuh kecanggungan.
Kemudian Rosaline mengalihkan pandangannya pada William. Pria itu sedang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit dipahami. Namun tatapan itu justru membuat Rosaline merasa merinding.
Ahh...sepertinya aku tahu kenapa Mister Evan dan pria tadi ingin segera pergi. Ternyata mereka berdua ingin segera melarikan diri dari pria ini. Ngomong-ngomong ada apa dengan pria ini? Kenapa dia terus saja menatapku? Tidakkah dia sadar kalau tatapannya itu membuatku sulit bernafas – ucap Rosaline dalam hati.
“Ee-eeh Adeline, kamu dan ayahmu juga harus segera pulang sekarang. Tante akan istirahat sejenak disini, kemudian akan langsung pulang” ucap Rosaline sambil menatap Adeline dengan penuh pengertian.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Dia memohon dengan menggunakan tatapan memelas. Matanya seolah mengatakan bahwa Adeline tidak mau mengabulkan ucapan Rosaline. Karena gadis kecil itu tidak ingin meninggalkan tantenya sendirian di rumah sakit.
Rosaline menghela nafasnya. “Adeline, sebaiknya kam--“ belum sempat Rosaline menyelesaikan omongannya, Adeline sudah menyahutnya dan berkata, “Mau rawat tante”.
“Apa?! Kamu mau merawat tante??!” Rosaline sangat terkejut dengan ucapan Adeline.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Adeline sayang, rumah sakit bukanlah tempat yang aman untuk anak kecil. Tante tahu kalau kamu merasa khawatir, tapi kamu juga tidak harus merawat tante. Kerena kamu bisa sakit jika terlalu lama berada disini. Tante sudah merasa baikan. Jadi sebaiknya, sekarang kamu segera pulang dengan ayahmu”
Gadis kecil itu merasa sangat sedih setelah mendengar penolakan dari Rosaline. Karena dia benar-benar tidak mau meninggalkan Rosaline.
Melihat hal itu, membuat William merasa dilema harus berbuat apa. Ketika gadis kecil itu berlari ke arah William, pria itu sudah tahu apa yang akan diminta oleh gadis kecil itu dan bisa menebak kejadian selanjutnya.
Adeline memegang erat kaki William dengan mata merah berkaca-kaca dan tatapan yang memohon padanya agar mau membantu Adeline membujuk Rosaline.
Melihat ekspresi menyedihkan dari gadis kecil itu, membuat William tidak tega jika harus menolak permintaannya. William merasa tidak ada pilihan lain selain mengabulkan keinginan Adeline. Dia harus membuat keputusan yang tidak akan merugikan Adeline, dan dia juga tidak mau gadis kecilnya berlama-lama berada di rumah sakit.
William memijat keningnya, menghela nafasnya berat, dan berkata, “Nona Raline, bagaimana jika kamu ikut pulang dan tinggal bersama dengan kami untuk malam ini?”
“WHAT??!”
🐤🐤🐤
Dan mau tak mau, Rosaline pun berakhir dengan duduk di kursi belakang bersama dengan seorang gadis kecil yang mengunci erat lengannya, sementara pria itu duduk di kursi kemudi. Wajah Rosaline begitu datar dan bingung karena harus meratapi kenyataan yang saat ini sedang dia alami.
Ketika di perjalanan, Rosaline terus merenungkan bagaimana bisa dirinya berakhir dengan mereka berdua. Pikirannya tiba-tiba menjadi kosong ketika kepalanya mulai merasakan sakit lagi. Rosaline mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya dan tidak menunjukkan rasa sakitnya untuk menghindari gadis kecil itu mengkhawatirkan dirinya lagi.
Namun dia tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya dari pria yang mengemudi. Karena pria itu tidak sengaja melihat perubahan ekspresi wajah Rosaline melalui kaca spion.
🐤🐤🐤
Saat ketiganya sampai di rumah, kepala pelayan keluar dari rumah dan menyambut kedatangan mereka. Tetapi kepala pelayan itu terkejut saat melihat nona kecilnya keluar dari mobil bersama dengan seseorang. Terlebih seseorang itu adalah seorang perempuan.
“Tuan William, nona kecil Adeline, selamat malam...” sambut kepala pelayan itu.
“Siapkan kamar tamu” ucap pria itu sembari masuk ke dalam rumah dan meninggalkan dua orang dibelakangnya.
“Nona muda, apa nona muda butuh bantuan?” tanya kepala pelayan itu kepada Rosaline, karena dia melihat nona kecilnya sangat hati-hati menggandeng Rosaline.
“Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku baik-baik saja paman...” jawab Rosaline dengan tersenyum hangat.
“Nona kecil, nona sudah pulang” sambut pelayan wanita yang masih muda. Tetapi pelayan itu merasa terkejut saat melihat nona kecilnya sedang menuntun dengan hati-hati seorang nona muda masuk ke dalam rumah.
Keduanya kemudian duduk di ruang tamu. Gadis kecil itu bertindak sebagai suster yang siap merawat Rosaline. Adeline bahkan juga membawakan Rosaline bantal dan juga air putih untuknya. Selama bersama dengan Rosaline, senyum cerah bahagia tak henti-hentinya terpancar dari wajah gadis kecil itu. Seolah gadis kecil itu sudah menemukan sosok yang selama ini dia inginkan.
🐤🐤🐤
“Nona kecil Adeline, makan malam sudah siap” ucap pelayan wanita yang sudah berumur.
Gadis kecil itu menjawab dengan tersenyum sambil menuntun Rosaline dengan hati-hati menuju ruang makan.
Semua pelayan di rumah itu merasa terkejut dengan situasi ini. Ditambah lagi melihat pemandangan nona kecilnya bersama dengan seorang nona muda dan sangat lekat dengannya. Ini adalah kali pertama tuan mereka, William, membawa seorang perempuan masuk ke dalam rumahnya, selain mama dan kakak perempuan William. Terlebih ini juga pertama kalinya mereka bisa melihat nona kecil mereka tersenyum cerah bahagia seperti itu dan menghangatkan hati para pelayan.
Kemudian pelayan wanita muda tadi yang juga menjadi pengasuh Adeline mulai ingat dan menyadari siapa perempuan yang sedang bersama nona kecilnya. “Ahh...itu dia! Nona muda itu adalah orang yang menolong nona kecil saat jatuh ke kolam renang. Dia adalah nona Raline” ucapnya dan membuat pelayan lain menoleh ke arahnya.
Saat kepala pelayan mengetahui siapa sebenarnya nona muda itu, akhirnya dia mengerti mengapa nona kecilnya menunjukkan keterikatan kuat terhadap nona muda itu. Kepala pelayan itu dapat menilai dan melihat, bahwa nona muda itu sudah seperti pelindung sekaligus ibu bagi nona kecil mereka.
Para pelayan mulai berbisik. Mereka tidak menyangka bahwa perempuan yang menyelamatkan nona kecil mereka sangat cantik dan masih muda.
‘Bukankah akan sangat hebat jika tuan William menjadikan nona muda Raline sebagai calon istrinya’
‘Memiliki nona muda Raline dan menjadikannya sebagai nyonya di rumah ini pasti akan sangat mengagumkan. Dia tidak hanya muda dan cantik, tapi dia juga berhati baik dan lembut. Dan yang terpenting adalah dia menyayangi nona kecil kita’