
Saat mereka diperjalanan menuju tempat makan, tiba-tiba ponsel William yang diletakkan di console box tengah dekat handbrake bergetar, tanda ada panggilan telfon. Namun sayangnya pria itu sedang fokus mengemudi.
Rosaline berpikir kalau mungkin saja itu adalah panggilan telfon penting. Lalu dia bertanya pada William, “Apa aku perlu membantumu mengangkat telfon?”
William menganggukkan kepalanya dan berkata, “Hmm”
Rosaline pun mengambil ponselnya dan membaca siapa penelfonnya. “Annoying Brother” ucapnya.
“Angkat telfonnya dan tekan loudspeaker” ucap William.
Rosaline mengangguk mengerti dan mengikuti perintah pria itu.
Sesaat setelah telfon diangkat oleh Rosaline, terdengar suara pria berteriak dari seberang telfon.
“William! Kau sudah gila ya? Dimana sekarang? Kau benar-benar sialan menghilang tiba-tiba seenaknya sendiri. Kau tahu kan kalau sekarang kita sedang sibuk. Kau ini bos macam apa yang meninggalkan perusahaannya di tengah deadline proyek seperti ini. Dasar kau bongkahan es kutub selatan menyebalkan dan tidak peka” cerocos pria dari seberang telfon.
William merasa geram mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria penelfon itu. Jika hanya dia saja yang mendengarnya, dia sama sekali tidak akan keberatan. Tetapi masalahnya di mobil ini sekarang ada dua orang perempuan yang sedang bersamanya dan mendengarkan ucapannya, sehingga membuat William menjadi marah.
“Aku sedang di mobil bersama Adeline, jaga mulutmu” jawab William dingin dan penuh penekanan.
“Oo-ohh aku mengerti. Kalau begitu selamat bersenang-senang...” pria di seberang langsung memutus sambungan telfon. Mendengar jawaban mengerikan dari William, membuat si penelfon ketakutan setengah mati.
Rosaline tertawa sembari meletakkan kembali ponsel William ke tempat semula. “Saudara laki-lakimu sangat lucu” ucap Rosaline.
William menatap wajah Rosaline yang terlihat menggemaskan saat tertawa. Kebetulan saat ini sedang di perempatan dan lampu rambu-rambu masih merah. “Dia bukan saudara kandungku” jawab William.
Gadis itu terheran dan makin penasaran dengan hubungan William dengan penelfon tadi. “Ahh...saudara tiri?”
William tersenyum sesaat, lalu dia kembali lagi ke mode wajah dinginnya dan menjawab, “Teman. Dia adalah Steve”
“Pfftttt...jadi penelfon ‘Annoying Brother’ tadi itu adalah Steve, pria yang aku temui di rumah sakit? Apakah dia benar-benar saudara yang mengganggumu, sesuai dengan nama kontaknya?” ucap Rosaline terkekeh.
“Hmm. Teman yang seperti saudara tapi sangat mengganggu”
Rosaline tertawa sambil menutup wajahnya. Dia benar-benar tidak paham dengan kelakuan pria itu.
William tadi mengatakan kalau urusannya sudah selesai, tetapi ternyata dia sedang sibuk. Jika memang dia sibuk, lalu kenapa dia harus repot-repot menjemput kami berdua? Bahkan dia juga bisa menamai kontak temannya dengan nama seperti itu. Benar-benar pria yang sangat lucu.... – ucap Rosaline dalam hati.
Tawa di wajah Rosaline tidak bisa berhenti karena memikirkan tingkah William. Lalu dia menatap gadis kecil yang duduk disampingnya. “Sepertinya om Stevemu itu sangat lucu. Benarkan Adeline?” ucap Rosaline sambil tertawa memeluk Adeline. Antara pikiran dan mulutnya benar-benar tidak sejalan. Rosaline memikirkan William, tetapi mulutnya justru mengucapkan nama orang lain untuk mengelaknya.
Adeline menjawab dengan mengangguk dan tersenyum menampilkan gigi susunya.
William memperhatikan ekspresi Rosaline yang sedang tertawa dari kaca spion. Dia melihat kedekatan kedua gadis yang sedang duduk dibelakang. Ketika melihat tawa Rosaline, entah mengapa membuat William tersenyum dan jantungnya juga berdebar.
Kenapa tiba-tiba aku tersenyum setelah melihat Raline tertawa? Pasti ada yang salah dengan syaraf otakku – ucap William dalam hati.
🐤🐤🐤
• Di tempat makan •
“Adeline harus makan sayuran, ini bagus untuk kesehatanmu....” ucap Rosaline tersenyum sambil mengambilkan sayuran dan menempatkannya di piring Adeline.
Gadis kecil itu pun mengangguk menuruti perintah dari tante kesayangannya.
Setelah selesai mengurus Adeline, kemudian Rosaline tanpa sadar mengambilkan lauk dan menaruhnya di piring William. Ketika gadis itu tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan, Rosaline merasa shock sendiri dan menjadi salah tingkah. Dia sungguh ingin merutuki tingkah bodohnya itu.
“Ee-eeh tuan William aku minta maaf...” ucap Rosaline sambil menatap canggung pria itu.
“Tidak masalah”
Kemudian William memakan lauk yang sudah diletakkan Rosaline di piringnya. Dia tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan gadis itu.
Apa otakmu sudah tergenang air Rosaline? Apa yang baru saja kamu lakukan? Sekarang kamu tidak hanya bertindak sebagai ibu dari Adeline, tetapi juga sebagai istri dari William. Kamu benar-benar sudah gila Ros.... – ucap Rosaline merutuki dirinya dalam hati.
Tak lama dari itu, pelayan wanita membawa lagi makanan yang dipesan. Pelayan yang sedari tadi memperhatikan ketiga orang itu mengatakan, “Tuan, anda tidak hanya memiliki putri yang cantik. Tetapi juga istri yang perhatian. Anda sungguh beruntung”
Pelayan itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya anda nyonya. Kalian bertiga benar-benar keluarga bahagia yang membuat orang lain iri” ucap pelayan itu, lalu dia pamit undur diri.
Rosaline benar-benar tidak bisa menyembunyikan wajah melongonya saat mendengar ucapan pelayan itu. “Apa? Keluarga bahagia? Yang benar saja. Aku bahkan belum begitu mengenal pria yang dianggap sebagai ‘suamiku’ ini...” ucap Rosaline dalam hati.
Pria yang dianggap sebagai suami Rosaline itu hanya diam saja, tidak menunjukkan reaksi apapun. Begitu pun juga dengan gadis kecil yang dianggap sebagai anaknya Rosaline. Kedua orang itu begitu santai melanjutkan makan seolah tidak terjadi sesuatu.
🐤🐤🐤
Setelah mereka menyelesaikan makan, ponsel Rosaline tiba-tiba berdering.
Gadis itu mengambil ponselnya dan tersenyum tipis setelah melihat siapa penelfonnya.
“Halo...” ucap Rosaline mengangkat telfon.
Adeline dan William saling tatap setelah mendengar gadis itu menjawab telfonnya. Mereka berdua penasaran dengan siapa Rosaline bertelfon.
Rosaline memberi sinyal kepada keduanya untuk ijin menjauh sebentar guna mengangkat telfon.
William mengijinkan dengan menganggukkan kepala. Namun berbeda dengan Adeline. Gadis kecil itu memperhatikan gerak-gerik Rosaline yang sedang tersenyum saat sedang bertelfon. Gadis kecil itu penasaran apa yang sedang dibicarakan dan dengan siapa tantenya telfon.
Tak lama kemudian, Rosaline kembali lagi. Adeline merasa kalau dirinya akan segera berpisah dengan tantenya. Dan ternyata dugaan gadis kecil itu memang benar.
“Tuan William, aku minta maaf. Aku harus segera pulang sekarang. Karena nanti aku masih ada keperluan lain” ucap Rosaline.
William meminta bill kepada pelayan. Lalu dia menatap Rosaline dan berkata, “Aku akan mengantarmu pulang”
Rosaline tersenyum dan menjawab, “Tidak perlu repot-repot tuan William. Aku akan pulang sendiri”
Pria itu hanya mengangguk setuju, tidak mau memaksanya juga.
Rosaline beralih pada Adeline. “Adeline, tante harus pergi sekarang. Lain kali kita akan pergi bersama lagi” ucapnya lembut.
Adeline menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Meskipun berat, tapi mau tidak mau dia harus menerimanya. Kemudian Adeline menarik tangan Rosaline untuk mendekat padanya, dan Rosaline pun menurut. Dan tanpa disangka-sangka, ternyata gadis kecil itu mencium kedua pipi Rosaline. Membuat Rosaline dan William sangat terkejut atas perlakuan gadis kecil itu.
Setelah mencium pipi Rosaline, gadis kecil itu tersenyum ceria dan berkata, “Sampai jumpa lagi tante Raline. Adel sayang tante...”
Adel tidak mau kehilangan tante.... - ucap Adeline dalam hati.
Gadis kecil polos itu tidak mau kalau ini menjadi kali terakhir dirinya bisa menghabiskan waktu bersama dengan tante yang disayanginya. Maka dari itu dia mengungkapkan rasa sayangnya kepada Rosaline.
Perlakuan dari gadis kecil itu sukses membuat hati Rosaline meleleh dan berdebar. Itu adalah kalimat terpanjang dan menyentuh hati yang pernah diucapkan Adeline kepada dirinya. Rosaline sama sekali tak menyangka kalau Adeline bisa berlaku semanis itu kepadanya.
Rosaline menangkup wajah Adeline, mencium balik kening dan kedua pipi gadis kecil itu, lalu berkata, “Tante Raline juga sayang Adeline...” ucapnya dengan tersenyum.
Melihat gadis kecilnya memperlakukan Rosaline hingga seperti itu, membuat hati William ikut berdebar. Dia begitu terharu melihat pemandangan di depannya. William begitu senang kalau gadis kecilnya bisa membuka diri terhadap orang lain. Namun pria itu juga merasa dilema, karena orang yang berhasil membuka hati Adeline adalah seseorang yang tidak memiliki ikatan apapun dengan William.
Apa yang harus aku lakukan.... – ucap William dalam hati.
🐤🐤🐤
• Di kediaman pribadi William •
Adeline pulang ke rumah dengan perasaan berbunga-bunga. Meskipun harus berpisah dengan Rosaline, tapi setidaknya gadis kecil itu sudah mengungkapkan perasaannya kepada Rosaline. Selain itu, Adeline juga yakin kalau nanti pasti akan ada waktu lagi untuk bersama dengan Rosaline.
Wajah bahagia gadis kecil itu tidak luput dari pandangan William yang sedang menggendong Adeline masuk ke dalam rumah.
William menatap hangat gadis kecilnya dan berkata, “Kamu senang?”
Gadis kecil itu menganggukkan kepala dengan semangat, lalu mengecup sekilas pipi ayahnya dan berkata “Sangat senang!” ucapnya antusias dan mata berbinar-binar. Kemudian gadis kecil itu bersandar manja di pelukan ayahnya.
Teruslah tersenyum seperti ini Adeline. Aku sadar kalau mungkin selama ini aku kurang perhatian padamu. Tapi aku janji akan selalu berusaha menjaga dan melindungimu. Aku harap kamu hanya akan selalu merasakan kebahagiaan. Meskipun itu harus membuatku menyimpan kebenarannya seumur hidupku – ucap William dalam hati.