
• Di Orchard Residence •
Rosaline bersiap pergi ke kantor managementnya untuk mengurus beberapa kontrak kerja baru. Dia merasa senang karena orang-orang menyambut baik dirinya sebagai ambassador.
Ketika Rosaline berjalan munuju mobilnya, salah satu pelayan perempuan menghampirinya.
“Nona muda, saat mencuci saya menemukan ini di dalam saku” pelayan menyerahkan jas dan sebuah kotak kecil berpita ke Rosaline.
Setelah menerimanya, Rosaline ingat siapa yang meminjamkan jas tersebut. Tanpa berkata-kata, dia meninggalkan pelayan itu dan pergi.
Pelayan itu bingung karena nona mudanya tidak mengatakan apapun. Kemudian satpam yang melihat hal tadi menghampiri pelayan itu.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa nona muda pergi begitu saja?”
“Aku tidak melakukan apapun, hanya menyerahkan jas yang pernah dipakai nona muda. Tadinya aku ingin bertanya siapa pemilik jasnya, karena ada sebuah kotak hadiah di dalam saku. Tapi sebelum bertanya, nona sudah pergi duluan”
“Emmm, bukankah nona muda mengenakan jas itu saat dia pulang dari acara pesta pernikahan?”
“Ahh benar. Jas itu pasti milik pria yang sudah membuat tuan besar dan tuan muda heboh karena nona muda di dekati olehnya. Tapi tunggu, bagaimana dengan hadiah yang aku temukan? Untuk siapa hadiah itu?”
“Entahlah. Urusan para konglomerat sungguh rumit...”
🐤🐤🐤
• Di SJ Management •
Lisa menerima banyak panggilan untuk Rosaline supaya tampil di acara reality show TV, tampil di fashion show, majalah ingin menjadikannya sebagai cover bulan depan mereka, dan juga produk lain yang ingin di endorse oleh Rosaline.
Rosaline tiba di kantor dan langsung menemui managernya itu.
“Ini ada beberapa kontrak yang harus kamu tanda tangani. Aku sudah menelitinya, jadi kamu tidak perlu khawatir” ucap Lisa.
Rosaline membaca sejenak isi dokumennya dan menandatangani.
“Oh iya Ral, Nexon akan bergabung dengan management kita. Apa kamu sudah tahu?” tanya Lisa.
“Ya, aku tahu. Kak Nexon memang sudah lama merencanakan kepindahannya setelah kakaknya menikah”
“Ngomong-ngomong, aku tadi sempat membaca data dirinya. Ternyata hari ini adalah ulang tahunnya”
Rosaline sontak kaget mendengarnya. “Benarkah?! Astaga aku tidak membawakan hadiah apapun untuknya. Bagaimana ini...”
“Tenanglah, aku yakin dia tidak membutuhkan itu darimu” ucap Lisa terkekeh. “Karena menurutku, ada kamu disisinya sudah menjadi kado terindah untuk Nexon...” lanjutnya dalam hati.
Kemudian Lisa kembali berkata, “Nexon masih disini. Jika kamu mau menemuinya, dia ada di ruangan Nyonya Ellena”
“Kalau begitu aku akan menemuinya” ucap Rosaline.
Setelah Nexon selesai dengan urusannya, dia keluar dari ruangan bersama Nyonya Ellena.
“Kenapa kak Nexon tidak bilang kalau sekarang hari ulang tahunmu!” Rosaline sedikit berteriak saat Nexon keluar dari ruangan. Pria itu kaget karena mendapatkan semburan omelan dari Rosaline.
“Apa benar? Nexon, harusnya kamu juga bilang padaku. Setidaknya kan aku bisa menyiapkan sesuatu untukmu” tidak hanya Rosaline yang mengeluh, Nyonya Ellena pun juga.
“Nyonya Ellena, terima kasih atas perhatianmu. Tetapi ini hanya ulang tahun, tidak perlu repot-repot” ucap Nexon.
Rosaline menabok lengan Nexon. “Bagaimana bisa kak Nexon bicara begitu?! Hari ini adalah hari spesialmu. Harusnya kamu mengingatkanku supaya aku bisa memberikan hadiah untukmu. Apa kamu tidak menganggap keberadaanku selama ini?”
“Raline, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak perlu apapun, hanya ucapan darimu saja sudah membuatku senang” ucap Nexon sambil memegang kedua pundak gadis itu.
“Kenapa kalian tidak pergi merayakan ulang tahun bersama saja?” ucap Nyonya Ellena menatap Nexon dan Rosaline bergantian.
“Ahh, temanku memang hari ini mengajakku untuk pergi keluar. Jika tidak keberatan, apa mau sekalian bergabung?” ucap Nexon menatap Rosaline.
“Aku rasa tidak akan masalah. Bukankah semakin banyak orang akan semakin seru...” sahut Nyonya Ellena.
“Bagaimana Raline, kamu akan ikut kan?” tanya Nexon.
“Tentu saja. Apa aku juga boleh mengajak kak Lisa?” jawab Rosaline antusias.
“Aku bahkan akan mengijinkan jika kamu ingin membawa keluargamu menemuiku” Nexon mencubit gemas pipi gadis itu.
Wajah Rosaline bersemu merah mendengar candaan Nexon. “Ciih, jangan mimpi” gadis itu melepaskan cubitan di pipinya dan memalingkan wajahnya.
Nyonya Ellena melihat interaksi kedekatan kedua orang itu. “Sepertinya persaingan untuk mendapatkan Raline semakin sengit” ucapnya dalam hati.
🐤🐤🐤
Malam harinya, di King KTV House
King KTV House adalah tempat karaoke termewah dan terbesar yang banyak dikunjungi oleh kalangan atas dan orang-orang dari industri entertaiment. Tempat ini memiliki ruangan private yang luas yang biasa digunakan untuk acara party.
Setelah istirahat sejenak dengan bermain truth or dare, mereka kembali melanjutkan acara karaokenya.
“Come on brother, bernyanyilah duet dengan Raline. Aku sangat menyukai suara kalian” ucap salah satu teman Nexon.
“Yeah. Nyanyikan lagu yang romantis”
“Hey birthday boy, berikan hiburan yang menarik untuk kami semua”
Nexon meraih mic dan berdiri di tengah-tengah. Dia berusaha menyeimbangkan badannya agar tidak terjatuh karena dia sudah mabuk. “Aku akan berikan pertunjukan yang bagus untuk kalian semua. Raline, aku persembahkan lagu ini untukmu”
Ooh, I can’t wait to get home
Happened again and I want you to know
Having my woman there is good for my soul
I try to be strong, well I got demons
So can I lean on you?
I need a strong heart and a soft touch
And you’re the one when I want love
Hey baby we can dance slowly
My darling I’ll be all you need
I know it hasn’t been your day, your week, your week, your week
So put it all on me
Oh my darling put your worries on me
Can’t judge me cause I feel the same thing
And I’m here for whenever you need, you need, you need
To put it all on me
Rosaline yang juga sudah terlalu mabuk karena kalah dalam permainan, dia ikut bergabung menari dan bernyanyi bersama Nexon.
Semua orang bersemangat melihat keduanya menari begitu dekat satu sama lain. Mereka bahkan terlihat seperti pasangan yang dimabuk asmara.
“Sialan, Raline terlihat sangat hot. Aku yakin Nexon tidak akan mengingat semua kejadian ini besok”
“Nexon benar-benar berusaha mengesankan Raline”
“Aku heran kenapa mereka berdua tidak berkencan. Padahal mereka sudah lama saling dekat”
Malam semakin larut, akhirnya acara party Nexon pun selesai. Nexon diantar pulang oleh temannya yang masih sadar.
Kini hanya tinggal dua orang perempuan di ruangan tersebut. Lisa yang memang sengaja menjaga kesadarannya untuk Rosaline, dia masih berada di tempat itu karena Rosaline sangat mabuk dan sulit ditangani.
“Raline, katakan dimana alamat rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang” ucap Lisa.
Rosaline yang sedang meletakkan kepalanya di meja, melirik Lisa dan menjawab, “Rumah? Mmm aku lupa dimana rumahku”
Lisa geleng-geleng kepala. Ini sudah kesekian kalinya dia menanyakan hal yang sama dan Rosaline masih tidak menjawab.
“Ral, bagaimana kamu bisa pulang jika tidak memberitahu alamatmu? Keluargamu pasti khawatir jika jam segini kamu belum pulang”
“Keluargaku tidak ada di rumah. Mereka berada diluar negeri semua. Jadi aku bebas” racau Rosaline dengan nyengir.
Lisa mulai frustasi karena tidak lekas mendapatkan jawaban. “Astaga anak ini benar-benar...” kemudian dia mengambil tas Rosaline. Dia ingin mengambil ponselnya, siapa tahu bisa menemukan kontak seseorang yang dekat dengan gadis itu.
Saat dia merogoh tas untuk mengeluarkan ponsel Rosaline, sebuah kotak kecil tidak sengaja keluar dari dalam tas dan terjatuh ke lantai. Rosaline yang melihatnya langsung mengambil kotak tersebut.
Meskipun Rosaline mabuk, tetapi dia bisa mengetahui kotak kecil itu milik siapa.
“Ponselmu terkunci dan sudah lowbate. Tolong cepat dibuka dan katakan siapa yang bisa untuk aku hubungi” ucap Lisa sambil menyodorkan ponsel milik Rosaline.
“Biasanya aku akan menghubungi Lauren di saat seperti ini. Tapi sekarang kita hidup berjauhan” Rosaline menunjukkan wajah sedihnya.
Lisa memijit keningnya yang terasa pening akibat ulah gadis itu. “Siapapun temanmu tidak masalah. Asalkan kamu kenal baik dengannya. Biar temanmu itu yang menjemput dan mengantarmu pulang”
Rosaline berpikir sejenak. Sebenarnya juga tidak berpikir, karena dia sudah hilang kesadaran. Kemudian dia melihat kotak kecil di tangannya. “Ahh, aku tahu! Hubungi saja pemilik kotak kecil ini. Lagi pula aku memang harus segera mengembalikan kotak ini ke pemiliknya”
“Baiklah, hubungi dia sekarang”
Rosaline mencari nomer kontaknya dan menekan tombol panggilan. Karena Lisa melihat Rosaline memegang ponsel dengan tidak benar, lantas dia mengambilnya. Rosaline hanya bisa pasrah, dia tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya.
Lisa melihat sekilas siapa nama orang yang dihubungi.
“Halo, selamat malam tuan William. Apa anda temannya Raline?”
“Hmm ya” suara dari seberang telfon menjawab.
“Maaf karena sudah menelfon larut malam, dan sepertinya saya harus merepotkan anda. Saat ini Raline sedang mabuk, dan dia tidak mau memberitahu rumahnya dimana. Dia mengatakan agar saya menghubungi anda. Jadi bisakah anda kemari untuk menjemputnya?”
“......” tak ada jawaban. Sejenak suasana berubah hening.
“Halo? Halo? Apa masih tersambung?” ucap Lisa.
“Dimana harus kujemput?”
“Di King KTV House ruang nomer 311. Ponsel Raline lowbate, mungkin sebentar lagi mati. Jika anda sudah sampai, segera ke ruangan kami saja. Oh iya, Raline kemari membawa mobil. Jadi sebaiknya anda kemari dengan diantar atau menggunakan taksi, supaya nanti bisa membawa pulang mobilnya”
“Baiklah”
Pembicaraan melalui telfon itu pun berakhir.