
Semua orang bingung dengan ucapan si pembawa acara. Saat mereka balik badan mengikuti arah pandangannya, akhirnya mereka tahu yang dimaksud pembawa acara itu.
Seorang gadis berjalan masuk ke dalam ballroom mengenakan Long Ruffle Backless Formal Dresses warna gradasi ungu dan heels setinggi 7 cm. Dress panjang tersebut memberikan kesan seksi di tubuh proporsionalnya. Bagian bahu dan punggung yang terbuka menampakkan kulitnya yang mulus seputih salju. Parasnya cantik rupawan bagaikan jelmaan dewi. Rambut goldennya digelung dan diberi aksesoris yang tidak berlebihan. Satu set anting, gelang, dan kalung berlian menyempurnakan tampilannya.
Gadis itu sangat memukau, anggun, dan elegant. Beberapa orang ternganga dan matanya membelalak karena tak percaya dengan apa yang dilihat. Gadis itu mampu menghipnotis lawan jenisnya. Bahkan perempuan lainpun juga mengagumi kecantikannya.
“Itu pasti dia! Nona muda dari Heinan Group.”
“Pewaris sekaligus putri kesayangan keluarga Heinanverero.”
“Oh my God! Ternyata dia terlalu cantik, melebihi dari apa yang aku bayangkan.”
Rosaline jalan penuh percaya diri, mengabaikan orang-orang yang menatapnya dan membicarakan dirinya. Dengan santai ia melewati mereka. Rosaline menghampiri dimana kakak, ayah, nenek, dan kakeknya duduk.
“Ayah, kakak, grandpa, grandma, maaf aku terlambat datang.”
“Tidak apa-apa, Rosy. Kemarilah, peluk grandpa dulu” Rosaline menuruti perintah kakeknya. Kedekatan Tuan Rudy dan cucunya itu membuat rekan sebayanya cemburu, karena ia memiliki cucu secantik Rosaline.
“Hanya grandpa yang dipeluk?” ucap Rayen yang juga ingin dipeluk.
“Bagaimana dengan ayah?”
Istri Tuan Rudy geleng-geleng kepala melihat perilaku ketiga pria tersebut. Di acara formal seperti ini, sempat-sempatnya Rayen dan Tuan Anthoni bersikap kekanakan.
“Rosy, tidak usah pedulikan ayah dan kakakmu” istri Tuan Rudy menatap lembut cucunya. Kemudian beralih menatap tajam Tuan Anthoni dan Rayen. “Kalian berdua jangan coba-coba menghancurkan citra kalian di depan umum. Jangan sampai hanya karena sebuah pelukan, aku akan menghajar kalian saat nanti tiba di rumah” ancamnya.
Rayen dan Tuan Anthoni memilih patuh terhadap istri Tuan Rudy. Apa yang diucapkannya bukanlah main-main. Istri Tuan Rudy adalah putri tunggal dari keluarga militer yang terpandang, ia dibesarkan dalam lingkungan didikan yang tegas. Bela diri adalah makanannya sejak kecil guna perlindungan diri. Meskipun istri Tuan Rudy sudah tua, namun ia masih mampu jika disuruh mencederai tubuh anak dan cucunya itu.
“Sudah...sudah. Lebih baik sekarang kita fokus dengan acaranya” ujar Rosaline menengahi. Rosaline duduk diantara nenek dan kakaknya.
Pembawa acara kembali melanjutkan tugasnya.
Para pria muda yang duduk tidak jauh dari Rosaline, mereka antusias memperhatikan gadis itu. Mereka tidak sabar ingin segera berkenalan dengannya. Namun karena Rosaline berada di samping Rayen dan sedang asyik mengobrol, tidak ada satupun yang berani mengganggu. Apalagi di meja itu juga ada Tuan Anthoni dan Tuan Rudy yang terlihat ganas.
Tak jauh dari meja Rosaline, ada seorang pria yang diam terpaku. Matanya terus memandangi gadis itu sedari tadi datang hingga sekarang duduk manis di samping Rayen. Kini ia paham mengapa Rayen overprotektif terhadap adiknya.
“Aku tahu Ros sangat cantik, tapi jangan sampai membuatmu tampak bodoh hingga lupa berkedip” bisik teman yang duduk di sampingnya.
Pria itu tersadar setelah mendengar sindiran temannya. Dia melirik sebal temannya. “Jadi ini alasanmu duduk semeja denganku? Karena kau ingin mengejekku ‘kan, Glenn?”
Glenn terkekeh. “Of course! Aku ingin melihat reaksi konyolmu saat melihat Ros. Tapi tenang, ekspresimu sekarang ini termasuk wajar, jadi tidak perlu malu. Bahkan mungkin ada yang lebih parah darimu, Jeff...”
“Bukankah ini juga pertama kali kau bertemu dengannya? Tapi sepertinya kau biasa saja melihat dia.”
“Aku sudah pernah bertemu Ros sebelumnya. Lumayan lama sejak terakhir kali pertemuanku dengannya” balas Glenn.
“Ohh, kenapa kau tidak pernah bilang padaku?”
“Untuk apa aku laporan padamu” ucap Glenn. “Lagi pula awal pertemuanku dengan Ros bisa dibilang tidak biasa. Kau beruntung karena baru bertemu dengannya sekarang dan dalam keadaan normal. Percayalah, jika kau bertemu dengan Ros waktu itu bersamaku, kau akan sama gilanya sepertiku.”
“Maksudmu? Aku tidak mengerti...”
“Glenn! Kau itu bicara apa, sih? Bicaralah dengan jelas, gunakan bahasa yang mudah dipahami” geram Jeffrin.
“Ah lupakan, tidak penting” ucap Glenn yang tidak mau membahas lagi pengalaman konyolnya. “Ngomong-ngomong, menurutmu lebih cantik mana, Ros atau baby kesayanganmu?”
Jeffrin menyadari sesuatu setelah Glenn mengatakannya. Entah kenapa Jeffrin memang tidak asing ketika pertama kali melihat adik Rayen. Wajah itu terasa tidak asing, mirip dengan seseorang. Dipikir-pikir mungkin agak kurang masuk akal, tetapi Jeffrin merasa kalau adik Rayen mirip dengan ‘Ralinenya’.
“Baik itu Ros ataupun gadisku, keduanya jelas berbeda. Gadisku suka berpenampilan sederhana, sedangkan Ros sepertinya suka dengan tampilan glamour dan fancy. Yah wajar memang, karena dia adalah nona muda dari keluarga Heinanverero.” Jeffrin salut dengan ‘Ralinenya’ yang senantiasa rendah hati. Meskipun gadis itu kerja di dunia modeling yang erat kaitannya dengan gemerlap fashion, ‘Raline’ tidak silau dengan barang-barang mewah. Bahkan ketika sekarang gadis itu sudah sukses, ia tidak terseret dengan pergaulan yang aneh-aneh.
Glenn hampir tak bisa menahan tawanya mendengar penuturan Jeffrin. Rosaline suka berpenampilan mewah? Yang benar saja. Justru sebaliknya, Rosaline suka penampilan yang sederhana. Glenn yang sudah lama mengenal Rosaline, ia baru kali ini melihat Rosaline bisa berpenampilan seperti itu. Glenn sangat yakin kalau penampilan Rosaline sekarang hanyalah bagian dari penyamaran.
“Jangan asal bicara, Jeff. Ros tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Ck, aku tidak asal. Nona muda seperti dia memang bisa apa? Paling hanya belanja atau party, apalagi dia lama tinggal di luar negeri. Dia juga sangat dimanjakan oleh keluarganya. Ros memang cantik, tapi jika dia tidak bisa apa-apa, maka dia sama layaknya boneka barbie di dalam kotak. Indah untuk dipandang, tapi tidak berguna.”
Mendadak raut wajah santai Glenn berubah datar. Sungguh perkataan Jeffrin menusuk di telinga Glenn. Jika Tuan Rudy atau Tuan Anthoni mendengarnya, Glenn yakin besok pagi akan ada berita jatuhnya harga saham Avicena Group di seluruh televisi maupun media online. Dan jika Rayen mendengarnya, mungkin malam ini Jeffrin akan berakhir terbaring di ruang UGD. Jangankan ketiga orang itu, seandainya Glenn tidak ingat kalau sekarang berada di tengah acara penting, ia mungkin akan langsung menonjok Jeffrin karena tidak terima Rosaline dikatakan begitu.
Andai Jeffrin tahu bahwa Rosaline rela meninggalkan status sosialnya dan menyamar sebagai orang biasa hanya demi bisa hidup dengan normal. Andaikan Jeffrin tahu betapa tebal topeng yang dipakai Rosaline untuk menutupi segala kecemasannya. Glenn jamin, Jeffrin pasti akan sangat menyesal karena pernah berprasangka buruk terhadap gadis itu. Rosaline yang sekarang dilihat oleh orang-orang adalah palsu. Karena Rosaline yang asli adalah ketika gadis itu menjadi ‘Raline’. Itulah kehidupan yang sesungguhnya diinginkan Rosaline, sederhana dan apa adanya. Namun Glenn juga tidak bisa memberitahukan hal tersebut ke Jeffrin. Karena Glenn sudah berjanji untuk menjaga rahasia Rosaline.
“Jeff, kau tidak boleh asal menilai orang hanya dari luar. Terlebih ketika kau belum mengenalnya. Aku bisa menjamin kau akan menjilat ludahmu sendiri setelah kenal Ros lebih dekat. Saranku, jaga sikapmu di depan Ros. Aku tahu kau selalu ketus dengan perempuan. Tapi jangan pernah berani menyinggung perasaan Ros dengan lidah tajammu. Kalau aku dengar sepatah kata yang tak enak keluar dari mulutmu saat berhadapan dengan Ros, aku bersumpah akan menghajarmu detik itu juga, tidak peduli meski aku harus mempermalukan diriku sendiri di depan umum” ujar Glenn tegas.
Jeffrin heran dengan Glenn. Biasanya Glenn akan bertingkah humoris atau menyebalkan. Namun sekarang dia berubah menjadi pria yang serius. Wajahnya tampak dingin tanpa senyum, sorot matanya tajam dan mengintimidasi. Tak pernah sebelumnya Glenn memperlakukan seseorang hingga seperti ini, bahkan dengan mantan kekasihnya sekalipun. Glenn seolah menjadi sosok malaikat pelindung yang tidak terima jika ada orang yang menggunjing atau menyakiti gadis itu. “Ada apa dengannya? Kenapa dia membela Ros mati-matian...” ucap Jeffrin dalam hati.
“Apa kau sedang mengancamku?”
Glenn tersenyum tipis dan menjawab, “Sekedar memperingatkanmu, brother.”
“Tampaknya kau cukup dekat dengan Ros” Jeffrin menyeringai.
“Kalian berdua sedang membicarakan apa?” suara seseorang membuyarkan ketegangan diantara dua pria tampan itu. Dari tadi Jeffrin dan Glenn memang mengobrol dengan lirih agar tidak terdengar orang lain.
“Tidak ada, mom. Hanya bicara masalah pekerjaan” Jeffrin menjawab pertanyaan ibunya.
• Di sisi lain •
“Sayang, di mana William? Acaranya sudah mulai tapi dia belum kembali juga” tanya Tuan Theo pada istrinya.
“Mungkin sedang mencari udara segar di luar. Kamu tahu ‘kan kalau dia bukan tipe orang yang suka berada di acara seperti ini” jawab Nyonya Martha.
“Mau sampai kapan dia menghindari acara semacam ini. Cepat atau lambat dia tetap harus terbiasa melakukannya. Apa dia tidak sadar dengan posisinya...” Tuan Theo memijat keningnya, ia merasa sakit kepala bila mengingat kelakuan putranya.
Tak lama kemudian, William muncul dan langsung duduk di samping ibunya. Nyonya Martha melempar senyum ke putranya yang baru datang. Baru saja Nyonya Martha akan menanyai William, tetapi suaminya sudah mendahuluinya.
“Kau dari mana? Apa kau tidak tahu acaranya sudah dimulai?” ucap Tuan Theo.
“Dari luar” jawab William tanpa menatap ayahnya.
“Will...” Tuan Theo tidak bisa melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, karena Nyonya Martha menggenggam erat tangannya sambil menggelengkan kepala, pertanda agar ia menahan amarahnya dan tidak menekan William lebih lanjut. Tuan Theo yang paham maksud istrinya pun hanya bisa menghela nafas dan menurutinya.
Sedangkan tiga orang lainnya yang semeja dengan Tuan Theo, yaitu Tuan Thomas, istrinya, dan Billy, ketiganya menyeringai senang melihat hubungan ayah dan anak yang kurang baik itu. Semesta seolah merestui dan melancarkan segala rencana mereka untuk mendapatkan Eriston Group.