ME vs OM OM

ME vs OM OM
Kecurigaan



Beberapa saat setelah kejadian, acara kembali dimulai.


“Para hadirin sekalian, kami telah menyiapkan kejutan. Nona muda Ros dan tuan muda Rayen akan mempersembahkan penampilan musik untuk kita semua pada malam hari ini. Sekarang, mari kita sambut keduanya ke atas panggung...” ucap pembawa acara. Penampilan duet musik ini memang telah direncanakan dan masuk daftar acara. Meskipun Rayen sempat minta dibatalkan karena kondisi Rosaline, tetapi Rosaline tetap kukuh agar menjalankan sesuai rencana. Toh kaki Rosaline sudah diobati dan untung saja tidak bengkak. Disamping itu supaya lebih nyaman, Rosaline juga mengganti high heelsnya dengan flatshoes.


Rosaline dan Rayen naik ke atas panggung diiringi tepuk tangan meriah dari tamu undangan. Sebelum memulai penampilannya, kakak beradik itu memberi salam hormat dengan membungkukkan badan. Rayen duduk di kursi piano, sedangkan Rosaline memposisikan dirinya duduk di kursi yang diletakkan di depan piano dengan membawa biolanya. Lalu musik pun mulai mengalun.


Disela permainan musiknya, Rosaline melirik sekilas ke arah William. Tanpa disangka ternyata pria itu juga sedang menatap intens Rosaline. Lama-lama melihat penampilan Rosaline, William seperti merasakan perasaan yang familiar. Untuk beberapa alasan, putri dari Tuan Anthoni itu mengingatkan pada seorang gadis yang William kenal. “Hmm, kenapa jantungku selalu berdebar saat melihat Ros...”


🐤🐤🐤


Di sisi lain, ada dua orang pria yang sedang duduk dan terpukau melihat penampilan Rosaline. Mereka berdua dibuat kagum olehnya. Gadis itu tidak hanya diberkati wajah yang rupawan, tetapi juga bakat yang mengagumkan.


“Ros penuh kejutan, bukan?”


“Hm.”


“Apa kau sedih karena tidak bisa menjadi tuan penolong untuk Ros?”


“Tutup mulutmu sebelum aku menyumpalnya, Glenn.”


Dengan wajah tengilnya, Glenn berbisik lirih di telinga Jeffrin. “Kau tahu Jeff, kupikir gelar lady killer lebih cocok disandang oleh William daripada kau.”


Jeffrin menggeram kesal. “Bedebah sint*ng, kau akan sangat menyesal kalau masih nekat mengusikku!”


Glenn tertawa. “Jeff...Jeff, mulut sialanmu memang tidak pernah mengecewakanku.” Melihat Jeffrin emosi merupakan suatu hiburan bagi Glenn. Saat Jeffrin dalam mood buruk, Glenn akan makin gencar menggodanya. “Lihat, gadis yang kau bilang manja itu sekarang sedang memainkan biola dengan indah.”


“Terserah” ucap Jeffrin acuh. Yah baiklah, Jeffrin akui bahwa dirinya gegabah dalam menilai adik Rayen, tetapi dia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya.


“Ros...dia berhati lembut. Ros spesial, berbeda dari gadis lain yang pernah kukenal” ucap Glenn tersenyum memandang Rosaline yang berada di panggung.


“Meskipun masih muda, tapi pemikirannya sangat dewasa dan mengesankan. Ros mengajariku melihat kehidupan dari sudut pandang lain. Dia mematahkan persepsiku bahwa orang yang terlahir dari keluarga kalangan atas seperti kita akan selalu hidup nyaman serta bahagia.” Glenn teringat curahan hati Rosaline. Gadis itu diam-diam punya beban pikiran yang membuatnya tertekan dibalik kesempurnaan hidupnya. “Percayalah, bila sudah mengenalnya, kau akan mengerti semua maksudku” ucap Glenn dengan menoleh ke Jeffrin dan menepuk pundaknya.


Jeffrin berpikir sejenak, mencoba menangkap makna dari perkataan Glenn. “Maksudmu, Ros tidak bahagia dengan kehidupannya sekarang?”


Apa yang dikatakan Jeffrin setengah benar dan setengah salah, tetapi Glenn tidak bisa menjawabnya secara gamblang. Jika berkaitan dengan kasih sayang, jangan ditanyakan lagi, sudah pasti Rosaline bahagia mendapatkan berlimpah dari keluarganya. Tetapi jika berkaitan dengan diri Rosaline sendiri, Glenn tidak yakin kalau gadis itu sepenuhnya bahagia. Mengingat Rosaline rela meninggalkan status sebagai putri konglomerat demi menyamar menjadi orang biasa.


“Aku tidak tahu” ucap Glenn, kemudian menghela nafas. “Hanya saja menurutku dia sedang berjuang dengan perasaannya sendiri.”


“Dinilai dari omonganmu, nampaknya kalian jauh lebih dekat dari yang aku kira” ucap Jeffrin sinis. Tanpa disadari, ada rasa kecemburuan yang tiba-tiba muncul dalam dirinya saat mendengar Glenn yang begitu mengenal Rosaline.


“Tidak juga” jawab Glenn. “Sedekat apapun kita dengan seseorang, akan selalu ada rahasia yang menjadi dinding pembatas” Glenn menjeda ucapannya. “Seperti kita yang berteman dengan Rayen. Dia misterius, tertutup, dunianya seolah hanya berporos pada Ros. Tidakkah itu aneh?”


“Apanya yang aneh? Mereka kakak beradik. Wajar bukan kalau Rayen ingin memfokuskan perhatiannya pada Ros...”


“Kau melupakan poin pentingnya, Jeff. Jika memang begitu, lantas mengapa membiarkan Ros tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun? Bukankah hidup berjauhan akan semakin menyulitkan Om Anthoni dan Rayen untuk mengawasi Ros?” Glenn mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman, lalu melanjutkan perkataannya.


“Aku pernah tanya ke Rayen alasan Ros tinggal di luar negeri, tapi Rayen sama sekali tak menggubris dan berbalik menyerangku supaya tidak usah ikut campur. Kupikir betul juga, mungkin aku terlalu ingin tahu.” Glenn tidak bisa melupakan betapa mengerikan raut wajah Rayen saat itu, dan hawa di sekitar mereka yang sekejap berubah mencekam. Sebenarnya agak mencurigakan, sebuah pertanyaan yang Glenn rasa wajar untuk ditanyakan, tetapi mampu menyumat amarah Rayen. Glenn mengira dirinya akan berakhir babak belur karena telah lancang menanyakan hal yang mungkin teramat sensitif bagi Rayen. Untung saja Rayen masih bisa mengontrol emosinya. Semenjak itu, Glenn tak pernah berani lagi tanya hal mendalam apapun seputar Rosaline. “Tapi dasar akunya yang bebal dan kebetulan ada kesempatan, aku nekat bertanya langsung ke Ros sendiri. Dan kau tahu jawaban yang diberikannya?”


Jeffrin menaikkan sebelah alisnya. “Apa jawabannya?”


“Alasannya karena Ros sendiri yang merengek dan memohon-mohon ke Om Anthoni untuk bisa tinggal di London bersama tantenya.” Sungguh alasan yang menggelitik, mana bisa Glenn percaya. “Sangat konyol, kan? Menurutmu dengan perangai yang dimiliki Om Anthoni, dia akan sukarela melepaskan putri kesayangannya diasuh Tante Sandra begitu saja?”


Keganjilan demi keganjilan terus menyeruak. Ketika Glenn menanyakan alasan yang lebih mendetail ke Rosaline, gadis itu kebingungan. Rosaline mengatakan bahwa mungkin karena kejadian tersebut sudah terlalu lama, jadi dia tidak bisa ingat jelas. Bagaimana Glenn tidak tambah curiga, sangat tidak mungkin bila Rosaline sama sekali tidak bisa mengingatnya. Glenn bahkan masih belum lupa jika ditanya tentang masa kecilnya sendiri meskipun puluhan tahun telah berlalu. Tetapi Rosaline, mengapa dia tidak bisa mengingatnya? Seolah bagian ingatan Rosaline mengenai kejadian itu hilang tanpa jejak.


“Jadi, Ros berbohong?” Jeffrin mengernyitkan dahinya.


“Tidak. Seberapa kali pun aku melihat ke matanya, tak ada tanda bahwa Ros membohongiku.”


Barulah Jeffrin perlahan paham apa yang dikatakan Glenn. “Ah, atau jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan keluarganya dari Ros...”


Glenn menjetikkan jari dan berkata, “Bingo! Tepat sekali! Akhirnya kau menangkap poin terpenting. Aku curiga mereka merahasiakan sesuatu hingga mengharuskan mengirim Ros ke luar negeri di umurnya yang masih terbilang sangat muda.” Inilah yang disimpulkan oleh Glenn. Jika Rosaline tidak berbohong, berarti Rosaline yang sedang dibohongi.


“Tapi rahasia macam apa yang disembunyikan. Mungkinkah ini penyebab Rayen dan keluarganya sangat overprotektif terhadap Ros...” Jeffrin mencoba berpikir kritis. Selama ini Jeffrin tidak pernah peduli dengan kehidupan pribadi Rayen, karena menurutnya setiap orang memiliki privasi. Maka dari itu Jeffrin menghormati privasi Rayen dan tidak menggali informasi tentangnya.


“Memang tak ada yang salah dengan overprotektif terhadap Ros, tandanya mereka menunjukkan betapa besar kasih sayang yang diberikan untuk Ros. Tapi jangan lupakan sebab sifat berlebihan itu bisa muncul, yaitu karena murni ingin melindungi, ingin mengontrol ruang gerak Ros, atau mungkin...mereka ingin menghindarkan Ros dari hal-hal yang mengancam hidupnya.” Demi Tuhan, Glenn harap dugaan terakhir itu hanyalah sebatas pikiran asal-asalannya saja.


Jika ditelisik lagi, apa yang dikatakan Glenn memang masuk akal. Jeffrin jadi berpikir, mungkin ada sebuah rahasia yang disimpan rapat oleh keluarga Heinanverero. Selama mengenal Rayen, pria itu tidak pernah terbuka masalah keluarga. Segala yang diobrolkan seputar pekerjaan atau hal-hal simple yang tidak berkaitan dengan keluarga. Jeffrin dan Glenn bisa tahu adanya Rosaline di kehidupan Rayen, itu pun tidak sengaja. Karena setiap mereka bertiga kumpul, Rayen akan menyempatkan diri untuk menghubungi seseorang, yaitu Rosaline. Awalnya Jeffrin dan Glenn mengira yang dihubungi adalah kekasihnya, tetapi ternyata adalah adiknya yang tinggal di luar negeri. Saat disinggung mengenai adiknya, Rayen cuma menjawab seadanya atau terkadang bungkam, bahkan juga enggan menunjukkan fotonya. Informasi mengenai Rosaline pun diblokir oleh keluarga Heinanverero, seolah keberadaan gadis itu disembunyikan dari dunia luar. Tetapi sepenasaran apapun, lebih baik Jeffrin diam dan tidak cari masalah. Lagi pula tidak ada alasan baginya untuk menyelidiki, toh dia sama sekali tidak ada hubungan dengan adik Rayen.


“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Kurasa bukan ranah kita untuk ikut campur. Setiap orang pasti punya privasi dan rahasia yang tidak ingin diketahui. Jadi jangan menjerumuskan diri ke suatu masalah yang kita tidak ketahui resikonya” ucap Jeffrin tegas.


Mereka berdua kembali terdiam. Pembicaraan diantara mereka tidak dilanjutkan. Di saat semua orang menikmati penampilan musik, Jeffrin dan Glenn justru tenggelam sendiri dalam pemikiran masing-masing.


Lagi-lagi Glenn hanya bisa menelan pil pahit. Jeffrin yang diharapkan bisa diajak diskusi, ternyata memilih acuh dan menutup mata. Padahal Glenn tahu sebenarnya Jeffrin juga pasti penasaran.


Semua yang dicurigai Glenn bukan tidak berdasar. Dia masih ingat kejadian beberapa tahun silam dimana seluruh keluarga Heinanverero mendadak menghilang selama hampir setahun. Tak ada berita, tak ada kabar, tak seorangpun yang tahu keberadaan mereka. Semua bisnis hanya dijalankan oleh orang kepercayaan. Tentu hal ini menimbulkan spekulasi dan rasa penasaran orang-orang, termasuk Glenn. Lalu setelah kemunculan mereka lagi, Heinan Group yang awalnya memang sudah berjaya, semakin bertumbuh pesat menjadi perusahaan adidaya dan terus mendaki puncak kerajaan bisnis.


Sayang, saat itu Glenn dan Jeffrin belum mengenal Rayen. Seandainya Glenn sudah mengenal Rayen, mungkin dia akan menanyakan ke Rayen tentang hilangnya keluarga Heinanverero kala itu demi menuntaskan hasrat penasarannya. Tetapi nyatanya ketika sudah kenal, Glenn berubah takut untuk bertanya pada Rayen. Karena sepertinya masalah itu tidak sesederhana yang Glenn bayangkan. Perkara kajadian itu berhubungan dengan Rosaline atau tidak, juga masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan di benak Glenn.


🐤🐤🐤


Penampilan musik Rayen dan Rosaline telah selesai. Para tamu undangan bertepuk tangan dan memuji kakak beradik itu. Dan acara lelang pun kembali diteruskan.


“Barang selanjutnya adalah sebuah kalung dengan batu ruby yang disebut The Blood Full Moon” pembawa acara mengatakannya sembari menunjukkan kalung ke semua tamu undangan.


“Aku tadi mengobrol dengan Nyonya Martha. Katanya, dia akan meminta putranya untuk membelikan kalung itu. Dari nada bicaranya yang antusias, jelas sekali kalau dia sangat menginginkannya.”


“Jangankan Nyonya Martha, akupun menginginkan kalung itu. Andai aku punya putra, pasti akan kusuruh untuk membelinya juga. Mau minta ke suamiku tapi tidak berani, karena bulan ini aku sudah banyak pengeluaran belanja.”


Rosaline terus berjalan dan berlagak acuh supaya Rayen tidak curiga. Tetapi diam-diam, Rosaline menajamkan telinganya dan mendengar semua percakapan kedua wanita tersebut.


Ketika penawaran dimulai, ternyata banyak yang menawar kalung ruby itu. Para pria yang berisitri, mereka mengincar kalung tersebut untuk istrinya. Sementara para pewaris muda, mereka mengincar untuk diberikan kepada ibu atau pasangan mereka.


“Rosy, apa kamu menyukai kalung itu? Grandma bisa mendapatkannya untukmu” ucap istri Tuan Rudy.


Rosaline menyelesaikan minumnya, lalu menaruh gelas ke meja dan menjawab pertanyaan neneknya. “Tidak perlu, grandma.”


Pembawa acara memandu jalannya penawaran.


“20 juta.”


“60 juta.”


“80 juta.”


“100 juta”


“150 juta untuk tuan muda William Eriston.”


“200 juta untuk tuan muda Billy Eriston.”


Pada akhirnya, pertarungan penawaran berada diantara kedua saudara itu.


“Apa bagusnya kalung itu. Kenapa mereka berdua terkesan seperti bersaing mendapatkannya” gumam Rosaline terheran.


“Karena memang begitu kenyataannya, Ros” sahut Rayen yang bisa mendengar gumaman Rosaline.


“Oh, benarkah?” Rosaline menoleh ke Rayen dengan mengerutkan keningnya. “Tapi itu hanya sebuah kalung, bukan barang langka. Apa gunanya bersaing untuk mendapatkannya...”


“Mungkin mereka ingin bertarung sampai akhir dan menunjukkan siapa yang layak jadi pemenang” ujar Rayen. “Dari luar mereka tampak sebagai saudara, tapi isi hati orang tidak ada yang tahu. Aku pernah dengar kabar kalau Tuan Theo dan kakaknya, diam-diam sedang memperebutkan posisi di perusahaan. Dan kelihatannya hal itu berimbas pada hubungan anak-anak mereka.”


Sebuah kabar yang cukup mengejutkan Rosaline. Sepertinya lumayan rumit hubungan di keluarga besar William. Pikir Rosaline, mungkin karena alasan inilah William tidak bergabung dengan perusahaan Eriston Group. Dia ingin menghindari keributan dan memilih mandiri dengan bekerja di perusahaannya sendiri.


Rosaline berpaling ke arah belakang. Dari kejauhan, Rosaline bisa melihat Nyonya Martha menggelengkan kepala, menahan William untuk tidak menawar lagi. Mungkin dia menyuruh William supaya mengalah dari saudaranya. “Bukankah Tante Martha sangat menginginkan kalungnya? Lalu kenapa sekarang merelakan begitu saja....”


“Jika tidak ada yang menawar lagi, kalung ruby akan jatuh ke tangan tuan muda Billy. Panggilan pertama...kedua...tera--“ tiba-tiba pembawa acara menghentikan ucapannya karena ada seseorang yang mengangkat papan nomernya.


“400 juta untuk nomer 10.”


Semua orang menoleh ke arah si pemilik nomer. Bahkan mereka yang duduk semeja dengannya pun tercengang melihat gadis itu juga ikut menawar.


“Rosy, grandma pikir kamu tidak menyukainya.”


“Ayah kira kamu tidak akan membeli barang di acara lelang ini.”


“Kenapa membelinya sendiri, Ros? Kamu ‘kan bisa minta kakak membelikan kalung itu untukmu.”


“Seharusnya yang perlu kamu lakukan hanya meminta pada kami, Rosy. Tidak perlu repot-repot turun tangan sendiri, biar kami yang menawarnya untukmu” ucap Tuan Rudy.


Rosaline tersenyum mendengar keluarganya yang menghujani omelan. “Kalung itu bukan untukku.”


“Lalu untuk siapa?” pertanyaan Rayen mewakili keluarganya.


“Untuk seseorang. Nanti kalian juga akan tahu” Rosaline mengedipkan sebelah matanya.


Tentu tidak ada seorangpun yang berani menawar setelah Rosaline turut ambil bagian. Orang-orang langsung pesimis, karena pasti akan kalah bersaing. Gila saja, gadis itu berani menawar harga dua kali lipat. Selain itu, mereka juga masih sangat waras untuk tidak mencari gara-gara dengan nona muda kesayangan keluarga Heinanverero.


Pembawa acara mengumumkan panggilan terakhir, dan berkata, “Terjual! Selamat untuk nona muda Ros dari Heinan Group.”


🐤🐤🐤


Setelah acara selesai, di sebuah kediaman


“Arrgggh! Semua kacau! Kacau! Kupikir setelah lepas dari Martha dan William, tidak akan ada halangan lagi. Tapi yang terjadi justru di luar dugaan” istri Tuan Thomas mengerang kesal.


“Sudahlah mom, lupakan saja. Mungkin kalung itu tidak ditakdirkan untuk kita” Billy duduk di samping ibunya dan mencoba menenangkannya.


“Andaikan nona muda itu tidak ikut campur, kalungnya pasti sudah menjadi milikku. Aku bisa memamerkannya ke semua teman-temanku, dan yang terpenting aku bisa membuat Martha iri karena barang yang diinginkannya jatuh ke tanganku” istri Tuan Thomas emosi memikirkan kejadian tadi. “Sekarang aku akan jadi bahan olok-olokan oleh teman-temanku karena tak berhasil mendapatkannya.”


“Lebih baik menjadi bahan olok-olokan daripada kita harus menanggung resiko karena menghalangi keinginan nona muda kesayangan itu” ucap Billy.


“Jadi kau senang jika mom menjadi bahan olokan, begitu?! Kau senang melihat mom menderita?!” ucap istri Tuan Thomas tak terima. Bisa-bisanya putranya membela orang lain dibanding ibunya sendiri.


“Tentu tidak, mom. Tapi--“


“Cukup!” gertak Tuan Thomas. “Apa dengan berteriak membabi buta akan membuat keadaan berubah? Tidak, kan?! Aku justru bersyukur kita tidak jadi membuang uang sia-sia. Jadi berhenti bertingkah bodoh hanya karena perhiasan tak berguna. Masih ada hal lain yang lebih penting yang harus dipikirkan. Mengerti?!” Tuan Thomas memberi penekanan pada tiap kata yang diucapkan. Matanya melirik tajam istri dan anaknya yang nyaris bertindak bodoh menghamburkan uang demi barang yang dirasa tidak penting. Yang Tuan Thomas pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menghadapi hari esok dan seterusnya. Sebab dia yakin berita mengenai kedekatan Tuan Theo dengan keluarga Heinanverero akan tersebar ke seluruh penjuru perusahaan. Kondisi semacam itu akan membuat posisi Tuan Thomas semakin terpojokkan dan tidak menguntungkan.