
Di dalam sebuah gedung, tempat dimana sering digunakan untuk mengadakan berbagai acara, orang tua dan anak dari berbagai kalangan menghadiri acara Art For Children. Ketika Rosaline dan Adeline tiba di tempat tersebut, suasana di dalam gedung sudah sangat ramai.
Rosaline dan Adeline berkeliling di tempat itu untuk melihat apa saja yang ada di acara tersebut. Kedua orang itu bagaikan sepasang ibu dan anak yang tampak bahagia. Paras wajah Rosaline yang muda dan cantik, lalu wajah Adeline yang juga cantik dan menggemaskan, ditambah lagi keduanya memakai warna pakaian senada, membuat pandangan orang-orang tertuju pada keduanya. Banyak orang yang berkomentar melihat pemandangan indah kedua orang yang dianggap sebagai pasangan ibu dan anak itu.
‘Papa lihat, gadis kecil itu sangat imut...’
‘Wah...mamanya masih muda dan cantik’
‘Mama dan anaknya benar-benar kompak, bahkan keduanya juga sangat cantik...’
Kemudian pandangan Adeline berhenti pada bagian workshop melukis. Disitu banyak anak-anak yang di dampingi orang tuanya sedang belajar melukis dan terlihat sangat mengasyikkan bagi Adeline.
Rosaline yang melihat arah pandangan gadis kecil itu, langsung paham dan bertanya pada Adeline. “Apa kamu mau ikut melukis juga?”
Adeline menatap Rosaline antusias dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Tante tidak bisa melukis. Jadi mungkin kita hanya akan sekedar bersenang-senang saja. Apa kamu tidak masalah?”
Adeline mengangguk senang dan satu tangannya membentuk sinyal ‘oke’.
Rosaline tersenyum dan menjawab, “Baiklah, sesuai dengan keinginanmu little princess” Rosaline mengedipkan satu matanya dan menggandeng Adeline masuk ke area workshop.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” ucap ramah staf bagian workshop kepada Rosaline.
“Kami berdua ingin ikut workshop, apakah bisa?” tanya Rosaline.
“Tentu saja bisa nyonya. Mari, saya akan membantu anda dan putri anda...”
Saat staf itu mengatakan Adeline adalah ‘putrinya’, Rosaline merasa salah tingkah dan wajahnya memerah. Dia berpikir apakah wajahnya mirip dengan gadis kecil yang menggemaskan itu hingga membuat staf tadi salah sangka. Selain itu, dia juga berpikir apakah benar kalau dirinya juga sudah tampak seperti ibu dari gadis kecil itu.
🐤🐤🐤
Semua peralatan melukis sudah disiapkan oleh para staf. Mereka memang menyediakan dua kanvas kosong, yang berukuran kecil untuk anak, dan yang berukuran lebih besar untuk dewasa (orang tua).
Lalu Rosaline dan Adeline pun mulai duduk untuk memulai waktu senang-senang mereka.
“Baiklah, ayo kita mulai little princess” ucap Rosaline tersenyum pada Adeline.
Adeline mulai mengulaskan kuas yang sudah dilumuri cat ke atas kanvas kosong miliknya. Sedangkan Rosaline masih melihat gadis kecil itu dengan senyum hangat.
Kemudian Rosaline beralih melihat kanvas kosong miliknya. Entah kenapa jantungnya berdebar kencang saat melihat alat lukis di depannya. Rosaline meraba dadanya yang terasa sesak dan terus berdebar-debar. “Ada apa denganku? Jantungku...sakit...” ucapnya dalam hati.
Rosaline mulai mengatur nafasnya, dan perlahan debaran jantungnya berangsur membaik.
Adeline melihat ke arah Rosaline. Gadis kecil itu melihat kanvas tantenya yang masih kosong. Lalu dia menatap Rosaline dan berkata, “Lukis”.
Rosaline menatap balik gadis kecil itu. “Kamu ingin tante ikut melukis?”
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.
“Yah baiklah. Tapi kamu tidak boleh mengejek tante jika lukisannya terlihat buruk” ucap Rosaline terkekeh.
Adeline tersenyum dengan memperlihatkan gigi susunya.
Akhirnya Rosaline pun menuruti keinginan Adeline dan mulai mengulas cat ke atas kanvas. Rosaline mulai melukis sesuai dengan kehendak hatinya. Gadis itu terlihat tidak canggung sama sekali menggunakan alat-alat lukis. Pemilihan warna yang dia gunakan juga sangat bagus. Dan tanpa sadar Rosaline pun sudah mulai tenggelam dalam lukisannya.
Saat Rosaline sibuk melukis, orang-orang yang lewat berlalu-lalang di area itu tidak sengaja melihat hasil lukisan Rosaline dan berhenti sejenak. Orang-orang begitu terkesan dengan hasil lukisan Rosaline dan mulai saling berbisik. Namun gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaan orang-orang yang membicarakannya.
‘Lihat, pemandangan pantainya terlihat hampir nyata’
‘Lukisannya bagus sekali. Apakah dia itu seorang seniman?’
‘Penggunaan warnanya benar-benar luar biasa. Wanita itu sangat berbakat dalam melukis’
Lalu Rosaline kembali melihat Adeline. Gadis kecil itu masih asik menorehkan warna-warna di kanvasnya. Dan munculah ide di pikiran Rosaline untuk bersenang-senang berdua dengan Adeline.
Tiba-tiba, Rosaline menurunkan kanvas Adeline ke lantai. Kemudian dia menggenggam tangan Adeline yang masih memegang kuas. Gadis kecil itu merasa bingung dengan perlakuan tantenya.
“Kita akan melakukan senang-senang yang sesungguhnya” ucap Rosaline tersenyum.
Rosaline menuntun perlahan tangan Adeline untuk melukis. Gadis kecil itu menuruti keinginan tantenya dengan senang hati. Keduanya kini sudah larut dalam kesenangan bersama.
Di tengah melukis, gadis kecil itu tidak sengaja memperhatikan pipi Rosaline yang terkena noda cat, dan tanpa sadar Adeline pun menghapus noda di pipi Rosaline. Sesaat setelah menghapus, gadis kecil itu baru sadar kalau tangannya juga ternoda dengan cat, sehingga justru tambah memperbanyak noda cat di pipi Rosaline. Adeline panik ketakutan karena sudah berbuat salah.
Rosaline yang melihat Adeline ketakutan, langsung terpikirkan cara untuk menenangkannya. Dia mencolek cat lukis, lalu mengoleskannya di pipi Adeline. “Sekarang kita impas...” ucap Rosaline tersenyum hangat menatap Adeline. Dan gadis kecil itu membalas dengan tersenyum kepada Rosaline.
Saat keduanya melanjutkan melukis, kerumunan orang menjadi semakin banyak untuk melihat adegan ibu dan anak itu. Apalagi hasil lukisan keduanya juga terlihat sama bagusnya dengan milik Rosaline pribadi tadi.
‘Wow, ibu dan anak benar-benar bekerja dengan kompak. Hasil lukisannya juga bagus’
‘Wajah gadis kecil itu sangat imut meskipun tercoret dengan cat’
'Suaminya pasti beruntung sekali memiliki anak dan istri yang sangat cantik seperti mereka'
‘Mamanya gadis kecil itu masih muda dan kulitnya sangat mulus. Padahal wajahnya sudah tercoret dengan cat, tapi justru membuatnya semakin mempesona’
Semua orang benar-benar memuji pasangan yang mereka anggap sebagai ibu dan anak itu.
Dan pemandangan kedua orang itu tidak lepas dari pandangan seorang wanita paruh baya yang berpenampilan elegan, yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua sedari tadi. Wanita itu sangat tersanjung dengan pemandangan indah penuh cinta dari kedua orang itu. Wanita itu mengenali wajah Rosaline karena dia pernah melihatnya saat membaca majalah yang mana disitu Rosaline menjadi covernya.
🐤🐤🐤
Di gedung yang sama dengan tempat Rosaline dan Adeline berada, seorang pria berawakan tinggi dan tampan baru saja memasuki gedung tersebut. Pria itu tampak bingung dan mengedarkan pandangannya untuk menemukan orang yang dia cari.
Dia berkeliling gedung itu. Lalu dia berhenti di tempat orang-orang berkerumun, tempat dimana Rosaline dan Adeline berada. Pria itu penasaran dengan kerumunan orang tersebut dan ingin tahu apa yang mereka lihat.
Pria itu begitu terkejut melihat siapa yang membuat orang-orang tersebut berkerumun. Ternyata orang itu tak lain adalah orang yang dicarinya.
Lalu pria itu masuk menerobos ke dalam kerumunan untuk menghampiri keduanya.
“Kalian berdua disini” ucap pria itu.
Rosaline yang merasa familiar dengan suara itu langsung berdiri dan berbalik badan untuk mengkonfirmasi. “Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Rosaline terheran pada pria itu.
“Menjemput kalian” jawab pria itu. “Apa kamu baik-baik saja?” imbuhnya.
Rosaline tersenyum dan menjawab, “Ya...aku baik-baik saja. Tetapi bukankah tadi katamu sedang ada urusan? Lalu mengapa kamu datang kemari? Apakah sekarang urusanmu sudah selesai?”
“Hmm. Bisa dikatakan begitu”
Adeline yang juga mendengar suara yang sangat dikenalnya, langsung menengadahkan kepalanya untuk melihat pria itu. Lalu dia langsung berdiri dan memeluk erat kaki pria itu dengan senyum merekah di wajah gadis kecil itu. Beberapa saat setelah memeluk kakinya, Adeline sadar kalau dirinya saat ini sedang terkena noda cat. Kemudian dia mundur beberapa langkah dari pria itu dengan wajah menyesal karena sudah mengotori celana pria itu.
Pria itu berjongkok untuk mensejajarkan tinggi dengan Adeline. “Tidak apa-apa sweetie...” ucapnya sambil mengusap kepala Adeline. Menenangkan gadis kecilnya supaya tidak usah merasa bersalah.
“Kamu senang berjalan-jalan dengan tante Raline?” tanya William.
Adeline menjawab dengan mengangguk senang.
“Kamu tidak merepotkan tante Raline kan?” tanya William lagi. Gadis kecil itu menjawab dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Lalu Adeline menarik pria itu untuk berdiri dan mendekatkannya ke arah Rosaline. Saat sudah mendekat, pria itu baru menyadari kalau wajah, tangan, dan pakaian Rosaline terkena noda cat. Pria itu kini tahu apa yang dimaksudkan Adeline dengan mendekatkannya ke arah Rosaline.
Pria itu mengambil sapu tangan dari sakunya, lalu mengelap membersihkan bekas noda cat di wajah dan tangan Rosaline dengan penuh perhatian. William terlihat tenang saat membersihkan noda cat di wajah dan tangan Rosaline, sama sekali tidak terlihat gugup. Yah, walapun sebenarnya jantung pria itu sudah berdebar kencang.
Perlakuan William kepada Rosaline, mengundang perhatian orang-orang disekitar yang menyaksikan adegan lovey-dovey kedua orang itu.
‘Oh my God! Apa mereka berdua sedang syuting adegan film?’
'Mereka berdua benar-benar pasangan serasi'
‘Astaga, ini adalah adegan teromantis yang pernah aku saksikan secara langsung’
‘Perempuan itu sangat beruntung mempunyai suami yang begitu perhatian seperti pria itu’
‘Suaminya sangat tampan dan gagah, istrinya pun masih muda dan sangat cantik. Dan lihat, anak mereka begitu menggemaskan mirip seperti mamanya. Oh astaga, mereka benar-benar keluarga yang sempurna’
Rosaline saat ini benar-benar merasa seperti berada di dimensi lain. Dia begitu bingung, terkejut, tercengang, semua rasa campur aduk menjadi satu hingga tak mampu membuatnya berkata-kata. Rosaline yang diperlakukan seperti itu oleh William dan mendengar respon dari orang-orang disekitarnya, merasa jiwanya telah mengambang di udara. Perlakuan dari pria itu sukses membuatnya susah bernafas dan membeku. Dan bagaimana kabar wajahnya? Jangan ditanya, sudah pasti wajahnya sudah sangat memerah. Jantungnya? Tentu saja juga berdebar kencang. Entah pria itu menyadarinya atau tidak kalau Rosaline benar-benar merasa gugup diperlakukan seperti itu.
Rosaline menatap lekat pria itu. “Hei, ku mohon hentikanlah. Perlakuanmu ini sangat membuat orang lain salah sangka. Aku juga tidak terbiasa dengan sikapmu yang perhatian ini. Sebenarnya ada apa denganmu? Kamu terlihat dingin diluar, tetapi ternyata juga bisa bersikap perhatian seperti ini kepadaku. Sebenarnya kamu orang yang seperti apa William... Jika sikapmu kepadaku terus seperti ini, lama-lama bisa membuatku............” ucap Rosaline dalam hati.
William yang merasa ditatap oleh Rosaline, dia memberanikan diri untuk menatap balik gadis itu dan bertanya, “Ada apa?”
Rosaline hanya tersenyum canggung menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak apa-apa...”
Pria itu sebenarnya menyadari tingkah aneh dari Rosaline. “Gugup?” tanya William.
Rosaline membelalakkan matanya dan menjawab, “Ee-eeh mana mungkin. Jangan mengada-ngada...”
William mengangkat satu alisnya. “Benarkah?” Kemudian pria itu menatap lekat wajah Rosaline yang merona. “Tapi sepertinya wajahmu berkata lain” ucapnya dengan nada datar.
Sebisa mungkin Rosaline menekan ekspresi wajahnya yang merasa malu akibat ulah William. Dia tidak ingin pria di depannya itu menangkap basah lagi tingkah anehnya. “Pria ini benar-benar tidak peka. Tidak bisakah dia berpura-pura tidak tahu saja....” batin Rosaline.