ME vs OM OM

ME vs OM OM
Pertanyaan Yang Tidak Terjawab



Setelah William selesai membersihkan bekas cat di tangan dan wajah Rosaline, Adeline menarik tangan pria itu untuk melihat hasil karyanya dan Rosaline. Pria itu terkesan dengan lukisan yang dilihatnya.


“Apa kamu yang melukisnya?” tanya pria itu pada Adeline.


Adeline menganggukkan kepala sambil telunjuknya mengarah pada Rosaline.


Kemudian William mengarah pada Rosaline dan bertanya, “Kamu yang membantu Adeline melukis ini?”


“Yah, begitulah...” jawab Rosaline santai.


“Apa kamu memang bisa melukis?”


“Sama sekali tidak bisa. Aku tidak punya bakat melukis” jawab Rosaline terkekeh.


William mengangkat satu alisnya. Dia tidak percaya kalau gadis di depannya itu tidak punya bakat melukis. Lalu dia melirik ke arah kanvas pribadi milik Rosaline. Dilihatnya sebuah pemandangan pantai yang terlihat realistis dan sangat bagus meskipun lukisan itu belum sempurna seutuhnya.


“Kamu yakin tidak berbakat?” tanya William sambil telunjuknya mengarah pada kanvas Rosaline.


Gadis itu pun menoleh ke kanvas miliknya. Dia sendiri juga baru menyadari dan merasa heran dengan hasil lukisannya. Seingatnya, selama ini dia tidak pernah belajar melukis. Tetapi kenapa hasil lukisannya terlihat seperti orang yang sudah pernah melakukan itu sebelumnya.


Gadis itu termenung sejenak dalam pikiran seriusnya. Rosaline merasa ada yang salah dengan dirinya.


Sebenarnya ada apa ini? Jika aku bisa melukis, kenapa aku tidak pernah melakukan ini sejak dulu? Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Sepertinya ada yang aneh.... – ucap Rosaline dalam hati.


Dan tiba-tiba saja gadis itu terjatuh berlutut. Kakinya terasa lemas tidak mampu untuk berdiri. Membuat William dan Adeline begitu panik.


William membantu menopang tubuh Rosaline. “Nona Raline, ada apa denganmu?” ucapnya panik.


Rosaline sama sekali tidak bisa mendengar suara apapun, termasuk suara William. Pandangannya kosong, gadis itu masih terhanyut kebingungan dalam dirinya.


‘Kamu memang berbakat Ros’


‘Benarkah?’


‘Tentu. Apa kamu begitu suka melukis?’


‘Uhm. Sangat suka’


‘Apa ada hal lain yang juga kamu sukai?’


‘Emm ada. Tapi aku paling suka melukis karena................’


“Arrrrgghhh!” erang Rosaline kesakitan sambil memegang dadanya. Dia tidak bisa lagi mendengar kata selanjutnya.


Adeline yang melihat tantenya yang seperti kesakitan, langsung menghampirinya. Gadis kecil itu merasa khawatir jika Rosaline sakit lagi karena mengajak dirinya jalan-jalan. Matanya sudah mulai memerah takut tantenya kembali sakit.


William yang masih memegangi tubuh Rosaline merasa bingung dengan gadis itu yang tiba-tiba terjatuh seperti itu, terlebih juga dia seperti merasa kesakitan.


“Raline, apa kamu mendengarku? Katakanlah sesuatu....” ucap William yang merasa cemas. Namun sayangnya tak ada respon dari gadis itu.


Sedangkan orang-orang mulai penasaran dengan apa yang sedang terjadi. William yang menyadari kalau sekarang mereka mulai menjadi bahan tontonan, merasa tidak nyaman.


Pria itu menatap ke arah gadis kecilnya dan berkata, “Adeline, sebaiknya kita pergi dari sini sekarang”


Gadis kecil itu tentu saja langsung mengangguk patuh.


Karena tidak mau mengundang banyak perhatian, William langsung saja menggendong Rosaline ala bridal dan membawa gadis itu keluar dari gedung. Diikuti oleh Adeline yang berjalan disamping pria itu sambil memegang jasnya, karena saat ini ayahnya tidak bisa menggandeng dirinya.


🐤🐤🐤


Saat Rosaline sudah di dudukkan di kursi belakang mobil, William juga masih setia memantau keadaan gadis itu. Dia merasa sangat khawatir melihat Rosaline yang sedari tadi masih belum mengatakan sepatah kata pun.


Adeline yang duduk di samping Rosaline pun juga sama khawatirnya seperti William.


Rosaline masih mengatur nafasnya, dia berusaha mengendalikan dirinya.


Namun saat ini dia tidak ingin memikirkannya lebih lanjut. Rosaline memilih untuk mengabaikannya dan fokus menstabilkan dirinya. Karena gadis itu tidak ingin membuat Adeline dan William merasa khawatir.


Setelah beberapa saat, kondisi Rosaline sudah kembali pulih dan stabil.


Rosaline menatap gadis kecil yang duduk disampingnya. Wajah gadis kecil itu begitu khawatir. “Tidak apa-apa. Tante sudah merasa baikan...” ucapnya menenangkan Adeline.


“Tante yakin?” ucap Adeline dengan suara manisnya.


Rosaline yang mendengar suara manis dari Adeline, merasa sangat meleleh. Dia bahkan sudah lupa bahwa beberapa saat lalu dirinya merasa kesakitan.


“Yakin sayang... Jadi Adeline tidak perlu khawatir lagi” ucap Rosaline tersenyum.


Dan Adeline pun mengangguk mengerti. Dia senang karena tantenya sudah tidak sakit lagi.


Rosaline beralih menoleh ke arah sisi lainnya. Dia melihat seorang pria dengan wajah cemasnya sedang berlutut di samping pintu mobil yang terbuka sambil menggenggam erat tangan kanannya. Lagi-lagi Rosaline dibuat bingung dengan situasi macam ini.


“Sudah lebih baik?” tanya pria itu.


Rosaline dengan senyum canggungnya menjawab, “Ee-ehh yah begitulah. Aku sudah tidak apa-apa...”


“Butuh sesuatu?”


“Aku tidak butuh apapun. Tenang saja...” jawab Rosaline berusaha tenang.


“Yakin?”


William, ku mohon hentikan sikapmu yang seperti ini.... - ucap Rosaline gelisah dalam hati.


Rosaline sebisa mungkin mengendalikan rasa gugupnya yang sedang ditatap lekat dan digenggam oleh William, karena dia tidak ingin tertangkap basah lagi.


“Ehh-emm sebenarnya...jika tidak keberatan...bisakah lepaskan genggamanmu ini?” ucap Rosaline canggung sambil melirik ke arah tangannya yang digenggam erat pria itu.


William yang melihat arah lirikan gadis itu, langsung mengerti dan reflek melepaskan genggaman tangannya. Betapa bodohnya dia baru menyadari hal itu. William berdehem karena merasa salah tingkah. Wajahnya juga terasa mulai menghangat.


Adeline geleng-geleng kepala karena melihat tingkah ayahnya.


Kemudian Adeline menyelamatkan kecanggungan kedua orang dewasa itu. Dia mencolek lengan Rosaline, membuat gadis itu menoleh ke arah Adeline.


“Apa apa Adeline?” tanya Rosaline.


“Makan” jawab Adeline sambil tersenyum.


Rosaline melihat jam tangannya, dan ternyata sekarang sudah sangat lewat dari jam makan siang. Ternyata cukup lama juga mereka berdua tadi berada di acara itu. Pantas saja Adeline ingin makan. Jika dirasa-rasa, sekarang pun Rosaline juga sudah mulai lapar.


Kemudian Rosaline beralih menatap pria disampingnya. “Bisakah kita pergi makan sekarang?”


“Hmm. Ingin makan apa?”


Rosaline mengerucutkan bibirnya. Dia juga bingung jika ditanya seperti itu, karena dia tidak tahu apakah selera makan kedua orang itu sama dengannya. “Apapun. Aku akan mengikuti keinginan kalian...” jawabnya.


William melihat ekspresi wajah Rosaline yang tampak menggemaskan. Apalagi ternyata masih ada bekas cat yang tersisa di bawah dagu gadis itu.


Dengan spontannya, William mengusap bekas cat di bawah dagu gadis itu menggunakan tangannya. Pria kaku itu bahkan sekarang juga sedang tersenyum pada Rosaline, lalu dia berkata, "Baiklah. Kita pergi sekarang"


Kemudian William berdiri dan menuju ke kursi kemudi.


Rosaline sangat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari pria itu. Lagi dan lagi, pria itu berhasil membuatnya berdebar dan merona. Kemudian Rosaline beralih menatap Adeline yang duduk disampingnya, dan ternyata gadis kecil itu juga sama terkejutnya seperti Rosaline.


Kedua gadis itu sekarang saling pandang dengan wajah melongonya.


Ekspresi Adeline mengatakan bahwa, “Apa yang baru saja dilakukan ayahku?”


“Adeline, tepat sekali. Itu juga yang sedang aku pikirkan sekarang” ucap Rosaline, lalu dia mencium pipi Adeline. Kali ini kedua gadis itu benar-benar saling sepemikiran tentang kejadian ajaib barusan.