ME vs OM OM

ME vs OM OM
Merasakan Apa Yang Kamu Rasakan



Rosaline dan Jeffrin memilih untuk menjauh dari keramaian dan bersantai di balkon samping ballroom. Mereka mengobrol di tempat ini sembari menunggu dimulainya inti acara.


“Siapa wanita tadi? Apa dia mantan kekasihmu?”


“Sama sekali bukan”


Gadis itu terheran dengan jawaban Jeffrin. “Jika bukan, lalu apa?”


“Dulu aku berteman dengannya. Aku memang tidak ada niatan lebih dari awal dan murni ingin berteman saja, dan itu sudah aku jelaskan kepadanya. Tetapi ternyata dia ingin hubungan kita bisa lebih dari teman. Selama ini aku selalu menghindarinya, karena dia sudah seperti lalat pengganggu. Dia terlalu terobsesi denganku seperti wanita gila. Aku sudah muak berurusan dengannya. Maka dari itu aku memilih untuk mengakhiri pertemanan kami”


Rosaline membeo mendengar jawaban dari Jeffrin. “Seburuk itukah? Apa kalian sudah lama saling kenal? Mungkin itu hanya prasangkamu saja Jeff. Kenapa tidak mencoba dulu untuk lebih dekat dengannya? Siapa tahu dia tidak seburuk itu...”


“Apa sekarang kamu sedang mengintrogasiku? Ahh, atau mungkin kamu sedang cemburu?” Jeffrin terkekeh dengan sikap Rosaline yang ingin tahu.


“Jeffrin....jangan bercanda” ucap Rosaline dengan wajah merajuknya yang menggemaskan sambil memukul lengan pria itu.


“Alright, aku akan serius. Aku tidak tahan melihat wajahmu yang lucu itu...” jawab Jeffrin terkekeh dengan mengusap lembut rambut gadis itu. “Baiklah. Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Jawab saja pertanyaanku tadi...”


“Emm...aku tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaanmu tadi. Yang jelas, aku sudah tahu sifat asli Regina dan tahu alasannya mendekatiku. Karena itulah aku tidak ingin terlibat dengan wanita semacam itu. Singkatnya, aku sangat membenci tipe wanita yang sejenis seperti dia”


“Ahh...ternyata begitu. Selain Regina, apa semua wanita yang selama ini mendekatimu juga seperti wanita itu?”


“Sejauh ini bisa dikatakan begitu” jawab Jeffrin dengan mengangkat bahunya.


“Tunggu! Apa jangan-jangan kamu juga menganggapku begitu??!” ucap Rosaline dengan wajah melongonya. Takut jika Jeffrin juga berprasangka kalau dirinya mempunyai motif lain untuk mendekati pria itu.


Jeffrin tertawa melihat tingkah Rosaline. Tentu saja jawabannya ‘tidak’, mana mungkin dia berpikiran macam-macam tentang gadis itu. Selama Jeffrin mengenalnya, Rosaline selalu bersikap apa adanya. Gadis itu tidak pernah bersikap sok manis atau mencari perhatiannya, bahkan dia lebih sering bersikap seenaknya sendiri saat bersama Jeffrin. Selama ini kan sudah jelas kalau dirinyalah yang mengejar Rosaline, tetapi gadis itu masih saja belum menyadarinya.


“Tenang saja, aku tidak pernah berprasangka buruk tentangmu. Aku bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana orang baik dan mana orang yang tidak baik” jawab Jeffrin terkekeh.


Rosaline bernafas lega mendengar jawaban pria itu. “Syukurlah. Ku pikir kamu akan menganggapku sebagai salah satu lalat yang mengganggumu” ucapnya dengan muka polos.


“Mana mungkin, Raline. Bagiku kamu itu lebih tepat disebut sebagai burung phoenix. Dan aku rasa semua orang yang mengenalmu pasti setuju dengan pendapatku ini. Jadi jangan pernah lagi memandang rendah dirimu” Jeffrin tersenyum tulus pada gadis itu.


“Apa-apaan dia ini? Kenapa tingkahnya menjadi semakin aneh? Sejak kapan dia belajar mengucapkan kata-kata pujian dengan filosofi seperti itu....” ucap Rosaline dalam hati. Gadis itu menjadi salah tingkah tiap kali dipuji oleh Jeffrin. Rosaline berpikir kalau pria itu terlalu tinggi memandang dirinya.


Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Mereka hanya menikmati suasana pemandangan malam yang ada di hadapan mereka.


“Jeff...tidakkah kamu pernah berpikir kalau prasangkamu selama ini terlalu berlebihan?” Rosaline mencoba memecahkan keheningan dan membuka topik pembicaraan.


“Berlebihan? Ini sama sekali tidak berlebihan Raline, tapi memang begitu kenyataannya. Andai kamu tahu alasanku bersikap seperti ini. Apa kamu tertarik mendengar alasanku?”


“Aku....tidak tertarik mendengar alasanmu...”


Jeffrin mengernyitkan alisnya. “Kamu yakin tidak ingin tahu apa alasanku?” ucap Jeffrin terheran. Jika itu orang lain, pasti mereka dengan senang hati akan berkata ‘ya’. Apalagi alasan ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh orang terdekatnya saja.


Rosaline tersenyum dan berkata, “Aku hanya tidak ingin mencampuri privasimu. Tetapi sebagai teman, aku ingin menasehatimu. Bukankah sekarang ini kamu sudah sangat cukup umur untuk memiliki pendamping hidup? Jika kamu terus menolak dan berprasangka dengan wanita yang mendekatimu, lantas sampai kapan kamu akan hidup melajang? Setidaknya pikirkanlah betapa cemasnya orang tuamu memikirkan anaknya yang tak kunjung menikah. Tidak semua wanita mempunyai motif buruk untuk bisa dekat denganmu. Cobalah untuk lebih membuka dirimu....” ucapnya lembut.


Jeffrin melihat sekilas sorot mata teduh dari bola mata coklat Rosaline yang saat ini sedang berdiri di sampingnya dan menatapnya.


Lalu Jeffrin beralih menatap langit malam yang berhiaskan bintang, dan menyandarkan tangannya ke pagar balkon. Langit malam begitu terang dan indah, tetapi tidak dengan suasana hatinya.


Pria itu menghela nafasnya. “Aku pernah hampir menikah....”


Rosaline sangat terkejut mendengar pengakuan Jeffrin. Niatnya hanya ingin menasehati pria itu saja, bukan untuk membuatnya membuka privasinya.


“Apa kamu terkejut?” ucap Jeffrin melirik sekilas Rosaline dan tersenyum tipis.


Rosaline menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Sangat. I’m sorry Jeff. Aku tidak bermaksud...”


“It’s okay. Aku memang ingin memberitahukan ini padamu” sahut Jeffrin dengan tersenyum. Kemudian dia mengalihkan pandangannya dari gadis itu.


“Aku pernah hampir menikah 5 tahun yang lalu. Dia beberapa tahun lebih muda dariku, tetapi selama berpacaran dia selalu bersikap dewasa dan pengertian. Saat itu aku merasa pilihanku tepat karena dia tidak pernah memandang statusku yang sebagai pewaris Avicena Group, maka dari itu aku sangat beruntung bisa memilikinya. Karena itulah aku memutuskan untuk menikahinya. Tetapi ternyata aku salah besar. Semua itu....palsu” Jeffrin menyeringai tipis.


Dia memang sudah melupakan masa lalunya, tetapi menceritakannya kembali, membuatnya harus membuka lagi luka yang selama ini ditutup rapat.


Jeffrin berhenti sejenak. Memikirkan betapa kacau dan menyedihkan dirinya saat itu yang sudah dibohongi oleh orang yang dicintainya selama bertahun-tahun. Pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi dan sudah di depan mata, hancur begitu saja karena harus menerima kenyataan pahit. Masa depan yang diimpikannya bersama wanita yang dia cintai, musnah dalam waktu sehari.


“Sungguh ironis bukan hidupku? Betapa ironis fakta bahwa seorang pria sepertiku yang memiliki segalanya tapi bisa remuk gara-gara cinta....” ucap Jeffrin tersenyum getir.


Rosaline benar-benar terkejut mendengar cerita dari Jeffrin. Pria itu, dari luar memang terlihat egois, ketus, dan semena-mena. Tetapi Rosaline tahu bahwa sebenarnya dia adalah pria yang baik. Namun mendengar cerita Jeffrin barusan, sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya bahwa pria seperti dia mengalami hal semacam itu.


“Kamu pasti sangat mencintainya kan Jeff....” ucap Rosaline dalam hati.


Dia sangat tahu betapa hancurnya Jeffrin di saat itu. Bahkan dadanya juga ikut merasa sesak saat mendengarkan ceritanya. Rasa sesak di dadanya tak mampu di tahan hingga membuat pertahanan air mata Rosaline jebol juga.


“Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan....” Rosaline tanpa sadar sudah meneteskan air matanya.


Gadis itu mengatur nafasnya berat. “Jeff, menurutku ironis bukanlah kata yang tepat. Itu adalah sebuah pelajaran hidup. Hidup menjatuhkanmu ke titik terendah pasti karena sebuah alasan. Meskipun caranya sakit, tetapi itu semua agar kamu bisa mendapatkan orang yang jauh lebih pantas, lebih baik, dan lebih berharga dari orang itu. Kamu adalah pria yang baik dan luar biasa. Suatu saat pasti kamu bisa mendapatkan pendamping yang benar-benar tulus mencintaimu. Jadi mulai sekarang, bukalah hatimu dan jangan lagi menyia-nyiakan waktumu untuk mengingat masa lalu. Kamu berhak untuk bahagia Jeff....” ucapnya tulus.


Sekuat tenaga Rosaline mengucapkan kata-kata itu. Dia ingin menguatkan pria yang ternyata tidak jauh beda dengannya. Rosaline sama sekali tak menyangka kalau Jeffrin juga memiliki kecemasan yang sama dengannya. Menjadi anak dari seorang pengusaha besar, membuat mereka hidup dalam memikul beban yang mungkin orang lain tidak mengetahuinya. Selain itu, Rosaline juga memiliki nasib yang hampir sama dengannya.


Mendengar ucapan dari Rosaline, membuat hati Jeffrin merasa hangat. Dia memang tidak salah sudah membuka hatinya dan menjatuhkan hatinya untuk gadis itu.


“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Jeffrin tiba-tiba.


“Hm? Maksudmu?” ucap Rosaline bingung.


Akhirnya Jeffrin menghadap ke arah Rosaline. Pria itu sebenarnya kaget melihat ada bekas air mata di wajah cantik Rosaline. Entah apa yang membuat gadis itu menangis. Apakah itu karena mendengar ceritanya atau karena memang Rosaline ada alasan lain.


Jeffrin menghapus bekas air matanya dan berkata, “Tenang saja. Aku sudah lama meninggalkan masa laluku dan memulai hidup yang baru. Aku masih sendiri, karena aku merasa belum menemukan orang yang tepat....”


“Tetapi sekarang aku sudah menemukannya, dan orang itu adalah kamu Raline” lanjut Jeffrin dalam hati.


“Raline, tidakkah kamu merasa lucu? Kamu bisa menasehatiku, pria yang umurnya jauh diatasmu. Lalu bagaimana denganmu? Kenapa tidak menerapkan nasehat ini untukmu sendiri? Aku memang tidak tahu apa yang pernah terjadi denganmu. Tapi aku bukanlah orang yang bisa kamu bohongi. Kamu tahu Raline? Kamu tidak akan pernah bisa memulai kisah yang baru jika kamu tidak segera mengakhiri kisah yang lama” ucap Jeffrin menatap penuh arti gadis di depannya.


Setelah mendengar perkataan Jeffrin, membuat dada Rosaline terasa semakin sesak dan darahnya seakan berhenti mengalir. Tak pernah terpikirkan sebelumnya kalau nasihatnya akan menjadi senjata makan tuan.


“Kamu adalah gadis yang mengagumkan, Raline. Sadarkah bahwa kamu itu berbeda dari gadis lain seumuranmu? Kamu istimewa. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan terjebak di masa lalumu. Alih-alih mencoba melindungi dirimu sendiri, tetapi itu justru akan semakin menjauhkanmu dari kebahagiaan. Kamu tidak akan pernah bisa selamanya hidup bersembunyi dibalik senyum palsumu itu. Lepaskan semua masa lalumu, dan tataplah masa depanmu. Nikmati masa mudamu sekarang bersama orang-orang yang mencintaimu...” Jeffrin memandang Rosaline dengan penuh kasih sayang.


“Kamu ini bicara apa sih Jeff... Sekarang aku memang sedang menikmati masa mudaku, menikmati masa-masa untuk membangun karierku, menikmati hidup bersama orang-orang yang mencintaiku. Jadi tidak perlu khawatir seperti itu” jawab Rosaline mencoba tersenyum.


“Ya, aku tahu itu. Tetapi kamu juga adalah orang yang masih hidup terbelenggu dalam bayang masa lalu”


“No. I’m not!” ucap Rosaline dingin. Dia mencoba menyangkal ucapan Jeffrin yang memang benar adanya.


“Raline...aku bisa membaca semuanya dari matamu. Sorot mata ini, sama sepertiku saat itu. Karena aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang....” ucap Jeffrin sembari mengusap lembut pelipis mata gadis itu.


“Raline, apa kamu benar-benar tidak bisa melupakan orang yang ada di masa lalumu itu....” ucap Jeffrin dalam hati.


“Hentikan omong kosongmu” Rosaline memalingkan wajahnya untuk menghindari kontak mata dengan pria itu.


“Tatap mataku” Jeffrin memberikan perintah dan menangkup wajah gadis itu.


“Jawablah dengan menatap mataku, Raline. Katakan jika yang kukatakan semua ini adalah benar-benar omong kosong semata”


Karena wajahnya sedang ditahan dengan kedua tangan Jeffrin, membuat Rosaline tidak bisa melarikan diri dari perintah pria itu.


“Jeffrin....kumohon jangan bersikap seperti ini” Rosaline menatap memelas pria itu.


“Raline, biarkan aku menjadi orang yang membantumu. Aku hanya tidak ingin gadis sebaik dirimu terbelenggu seperti ini....” ucap Jeffrin meyakinkan gadis yang dicintainya.


“Jeff, aku tidak sebaik yang kamu kira. Kamu tidak mengenalku dengan baik. Dan kamu tidak tahu apapun tentang masa laluku. Bahkan mungkin aku juga tidak mengenal siapa diriku sepenuhnya. Jadi jangan buang waktumu untuk terlibat dengan orang sepertiku....”


Selama ini bahkan aku sudah membohongimu tentang siapa identitasku yang sebenarnya.... – ucap Rosaline dalam hati.


“Maka mulai sekarang biarkan aku untuk mengenalmu lebih dekat lagi” ucap Jeffrin mantap.


“H-Huh??!”