ME vs OM OM

ME vs OM OM
Love, Doesn't Always End Well



“Buka mulutmu Jeff...aaakkkk” perintah Rosaline kepada Jeffrin dengan mempraktekkan membuka mulut.


Jeffrin menggelengkan kepala berulang kali sambil menutup mulutnya.


“Ck, aku bilang buka mulut Jeffrin. Kamu harus mencobanya, rasanya tidak seburuk seperti yang kamu katakan tadi” ucap Rosaline ngotot.


“Aku tidak menyukainya Raline. I-don’t-like-it. Mengerti” jawab Jeffrin yang masih menutup mulutnya.


Dia ini sudah tua, tapi kenapa tingkahnya seperti anak kecil – batin Rosaline.


“Kalau kamu tidak membuka mulut, aku akan marah padamu dan tidak mau lagi pergi denganmu” ancam Rosaline dengan nada datar.


Jeffrin tampak berpikir setelah mendengar ancaman dari Rosaline. Dia bingung harus menuruti perkataannya atau tidak.


Rosaline yang sudah merasa tidak sabar, memutar otak bagaimana caranya agar mulut Jeffrin tidak ditutupi lagi oleh tangannya. Dan dia pun mempunyai ide lalu menyeringai tipis.


“Hei Jeff, ada serangga di rambutmu” ucap Rosaline dengan sangat meyakinkan.


Jeffrin pun sontak mengarahkan kedua tangannya untuk mengusir serangga dari rambutnya. “Oh sial. Dimana serangganya? Apa sudah hilang seka--“ belum sempat menyelesaikan ucapannya, Rosaline sudah menahan kedua pipi Jeffrin dengan satu tangan miliknya hingga mulut Jeffrin terbuka, lalu dia segera memasukkan potongan pizza ke mulut Jeffrin.


Rosaline dengan cepat menutup mulut Jeffrin dengan telapak tangannya, mencegah pria itu agar tidak memuntahkan keluar. “Kamu tidak boleh memuntahkannya. Ayo kunyah itu” Rosaline menahan tawanya. Kapan lagi dia bisa menjahili orang itu kalau tidak sekarang.


Saat ini keduanya sedang menikmati makan malam di salah satu restoran cepat saji dengan menu pizza. Jeffrin memesan menu yang tidak mengandung paprika, dan sebaliknya Rosaline memesan yang mengandung paprika. Lalu terjadilah pertikaian sengit diantara keduanya.


Mau tidak mau Jeffrin pun mengunyah pizza yang berisi potongan paprika itu dengan wajah yang masam. Selama ini Jeffrin tidak suka makan paprika karena rasanya aneh. Tetapi Rosaline bilang kalau rasa paprika tidak seaneh itu jika sudah dimasukkan dalam adonan pizza. Dia meminta Jeffrin untuk mencobanya. Dan adegan selanjutnya, seperti kejadian barusan. Seorang Jeffrin sudah berhasil dikalahkan oleh gadis muda bernama Rosaline.


Setelah dikunyah, Jeffrin langsung meneguk minumannya. “Rasanya masih saja aneh. Untung saja aku masih bisa menahannya dan tidak memuntahkannya” Jeffrin mengusap bibirnya dan mengecap lidahnya yang masih ada sisa rasa paprika.


“Jika kamu memuntahkannya, maka aku akan menjadikan ini pertemuan terakhir kita” ucap Rosaline terkekeh geli melihat tingkah Jeffrin yang lucu.


Mendengar ucapan Rosaline yang terkesan ambigu, membuat Jeffrin lantas ingin memperjelasnya. “Karena aku menelannya, jadi akan ada pertemuan yang selanjutnya kan?” ucapnya dengan nada menggoda.


Rosaline merutuki dirinya berulang kali karena sudah berkata ceroboh seperti itu. Dia berusaha keras menahan rasa malunya dengan memalingkan wajahnya.


“Tidak perlu memalingkan wajahmu itu. Apa kamu sedang malu?” Jeffrin masih lanjut menggoda.


Rosaline menarik nafas dalam-dalam dan mengatur dirinya agar terlihat tenang, dan tersenyum palsu menatap Jeffrin. “Hentikan pertanyaanmu itu atau aku akan menyuapimu dengan paprika lagi”


Jeffrin pun tertawa mendengar jawaban Rosaline. Rasanya senang sekali jika bisa menggodanya sampai seperti itu.


“Jeffrin...” ucap Rosaline.


“Hm? What?” jawab Jeffrin.


“Aku minta maaf jika tadi sudah memaksamu untuk menonton film itu” ucap Rosaline menyesal.


Jeffrin tersenyum memandang Rosaline. “It’s okay. Itu bukan masalah besar”


Rosaline kemudian memandang ke arah luar jendela, karena saat ini mereka duduk di dekat jendela kaca. “Kamu tahu alasan aku ingin sekali melihat film itu?” ucapnya tanpa melihat Jeffrin.


Jeffrin merasa terheran. “No. Memang apa alasanmu?”


Dan sekejap suasana mendung terpancar dari diri Rosaline.


“Maleficent adalah film yang menceritakan tentang cinta, melindungi orang yang dicintai, memberikan hidup untuk melindungi keluarga. Singkatnya, film ini sungguh luar biasa” ucap Rosaline.


Kemudian dia melanjutkan, “Aku sangat suka dengan karakter Maleficent. Dia terlihat kuat, berani, sempurna, dan hebat dari luar. Tetapi di dalam, dia mempunyai jiwa yang rapuh. Dia membungkus semua kelemahannya dengan penampilannya yang menakjubkan. Tidak ada seorang pun yang pernah tahu, bahwa sebenarnya sosok yang terlihat kuat diluar itu, ternyata pernah dihancurkan dan disakiti hatinya hingga dia tak bisa percaya lagi dengan cinta. Sampai pada akhirnya, dia bisa menemukan orang yang bisa dia cintai lagi, yaitu Aurora”


Jeffrin terdiam mendengar perkataan Rosaline. Dia merasa saat ini Rosaline sedang mengungkapkan sesuatu dengan penuh teka-teki.


“Dalam film tadi, Aurora sangat dilindungi oleh Maleficent agar dia tidak merasakan cinta yang menyakitkan seperti yang pernah dirasakan oleh Maleficent. Dia berusaha memberikan yang terbaik untuk Aurora. Tapi suatu ketika, Aurora mengabaikan Maleficent karena lebih mempercayai omongan orang lain, dan pada akhirnya dia menyesal karena sudah tidak mempercayai ibu angkat yang selama ini sudah melindunginya itu” Rosaline menghela nafasnya sejenak. “Kamu tahu Jeff? Entah kenapa aku merasa diriku seperti Maleficent, tapi disaat yang bersamaan aku juga seperti Aurora”


Yah, hidupku hampir sama persis seperti Maleficent. Yang membedakan adalah Maleficent sudah menemukan Aurora untuk dicintai, sedangkan aku belum menemukannya. Tapi di saat yang bersamaan aku juga seperti Aurora. Aku selalu dilindungi oleh keluargaku. Entah kenapa aku selalu merasa selama ini keluargaku sedang melindungiku dari sesuatu. Tapi apapun itu, aku yakin bahwa keluargaku hanya tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepadaku – ucap Rosaline dalam hati.


Tatapan Rosaline terlihat sendu. Dia menatap kosong suasana diluar jendela. Jeffrin yang duduk di depan Rosaline hanya bisa mengamati gadis itu.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu Raline? Aku yakin perkataanmu ini tidak sesimple itu. Apakah ini alasan yang membuatmu tadi menangis saat menonton film? – ucap Jeffrin dalam hati.


Rosaline masih memandang ke arah luar jendela. “Jeffrin.... Apa kamu pernah merasakan cinta?”


Jeffrin merasa kaget mendengar pertanyaan tak terduga itu, tetapi dia berusaha tenang. “Hm. Aku pernah”


Dan aku juga pernah disakiti oleh rasa cinta itu – ucap Jeffrin dalam hati.


“Apa saat itu cintamu berjalan dengan baik?” tanya Rosaline masih dengan nada sendu dan menatap luar jendela. Dia seperti enggan untuk menatap langsung pria itu.


Raut wajah Jeffrin pun langsung berubah. Untung saja gadis di depannya itu tidak melihatnya. “Aku rasa segala sesuatu tidak harus selalu berjalan dengan baik. Karena dalam hidup ini, kita tidak bisa lepas dari masalah”


“Lalu, apa saat itu cintamu berakhir dengan tidak baik?”


“Hm” jawab Jeffrin singkat. “Bahkan berakhir dengan sangat buruk” lanjutnya dalam hati.


Rosaline tersenyum tipis, senyuman tipis yang pahit dari dalam hatinya. “Huh, so it’s true. Love...doesn't always end well”


(Jadi itu benar. Cinta...tidak selalu berakhir dengan baik).


Jeffrin terkejut dengan ucapan Rosaline. Gadis di depannya sekarang ini benar-benar tampak seperti sedang mencurahkan isi hatinya.


“Yes, it’s true. Tapi tidak mungkin akan selalu begitu. Jika kamu pernah merasakan cinta yang tidak berakhir dengan baik, lantas akankah itu membuatmu tidak mau merasakan jatuh cinta lagi?” tanya Jeffrin serius.


Rosaline mengangkat bahunya. “Mungkin” jawabnya datar.


“Mungkin apa?”


“Mungkin aku tidak ingin merasakan jatuh cinta lagi” jawab Rosaline cepat.


Mendengar jawaban dari Rosaline, membuat jantung Jeffrin berdetak cepat. Jawaban itu seakan seperti tamparan baginya. Sepertinya jalan untuk mendekati Rosaline tidak akan mudah baginya.


“Karena aku hanya ingin melindungi diriku sendiri” jawab Rosaline cepat dan serius.


Sedari tadi gadis itu masih tidak mau memalingkan wajahnya untuk menatap Jeffrin. Dia tidak ingin pria di depannya itu menangkap gelagat aneh darinya.


Jeffrin menghela nafasnya. Dia tidak ingin menyerah begitu saja. Jeffrin akan mencoba segala cara supaya gadis di depannya itu bisa merubah jalan pikirannya.


“Raline, apa kebetulan kamu pernah mengalami pengalaman seperti apa yang kamu katakan barusan?” tanya Jeffrin dengan serius memandang gadis yang masih memalingkan wajahnya itu.


Rosaline akhirnya menatap balik Jeffrin. Dia berpura-pura tertawa renyah dan berkata, “Tentu saja tidak. Aku hanya asal bicara saja. Jangan dibawa serius Jeff” ucapnya berbohong.


Kamu berbohong Raline – ucap Jeffrin dalam hati.


Meskipun Jeffrin tahu bahwa sekarang Rosaline sedang berbohong, tetapi dia tidak mau menanyakan lebih lanjut. Dia tidak mau menaburkan garam di luka Rosaline yang bahkan sama sekali tidak dia ketahui. Jeffrin akan menunggu hingga suatu saat gadis itu yang akan menceritakan sendiri kepada dirinya.


“Aku harap apa yang kamu ucapkan benar” ucap Jeffrin dengan tersenyum.


🐤🐤🐤


Suasana di dalam mobil terasa hening. Jeffrin juga sedang mengecek pekerjaannya dengan menggunakan tablet miliknya. Dia terheran karena tidak ada pergerakan ataupun suara dari orang disampingnya. Kemudian dia menoleh untuk mengecek, dan di dapatinya gadis itu sedang tertidur pulas menyender di kaca mobil.


Jeffrin mengamati wajah gadis itu, terlihat begitu tenang dan damai. Wajah Rosaline yang putih dengan pipi terlihat kemerahan alami tanpa blush on, bibirnya terlihat tipis dan imut, bulu mata yang lentik, hidungnya yang tidak mancung menjulang tapi terlihat pas di wajahnya, entah kenapa Rosaline terlihat sangat cantik saat tertidur seperti ini.


Kemudian Jeffrin bergeser dan mengarahkan kepala gadis itu untuk bersandar di bahunya agar tidak terpentok kaca mobil. Disibakkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinga agar tidak menutupi wajahnya.


Aku harap waktu bisa berhenti saat ini agar kamu bisa selalu berada di dekatku. Dan apapun yang pernah terjadi padamu, aku berjanji tidak akan membiarkanmu merasakan rasa sakit itu lagi - ucap Jeffrin dalam hati dengan tersenyum bahagia.


Supirnya yang melihat dari kaca spion adegan tuannya dengan gadis disampingnya itu juga turut ikut tersenyum.


🐤🐤🐤


Saat ini mobil yang ditumpangi Jeffrin dan Rosaline sudah berada di area apartemen. Sebelum tertidur, Rosaline sudah memberitahukan alamat kepada Jeffrin yang diakui sebagai tempat tinggalnya.


Rosaline sebelumnya sudah mengirim pesan pada Angel kalau akan ke apartemennya. Mereka berdua sudah merencanakan persekongkolan, karena Angel tadi juga tahu bahwa dirinya sedang pergi dengan Jeffrin. Rayen tadi mengirim pesan ke Rosaline menanyakan keberadaannya yang belum pulang hingga malam, sedangkan Rosaline tidak mungkin berkata jujur jika tidak mau mendapat masalah. Dia beralasan sedang mengerjakan tugas di rumah Angel. Lalu Rayen juga mengirim pesan bahwa nanti dia yang akan menjemput Rosaline di apartemen temannya itu.


Jeffrin tidak tega jika harus membangunkan Rosaline yang terlihat tidur pulas. Hari ini Rosaline memang kuliah dari pagi hingga sore, lalu harus diajak pergi dengan Jeffrin. Kemarin setelah pulang kuliah, dia juga sudah ada jadwal pemotretan dari sore hingga malam. Sehingga wajar saja jika hari ini dia merasa kelelahan.


Jeffrin memilih menunggu hingga Rosaline terbangun. Tetapi sepertinya gadis itu tidak bergerak sama sekali. Tak lama dari itu, ponsel Rosaline yang sedang digenggamnya bergetar menandakan ada telfon masuk. Tertulis nama ‘Angel’ di layar ponselnya. Kemudian Jeffrin langsung mengangkat telfon itu.


“Sudah sampai mana? Kapan kamu akan datang?” suara Angel dari sambungan telfon.


“Dia tidur, dan sekarang sudah sampai apartemen. Apa kamu teman sekamarnya?” jawab Jeffrin.


(Disini Rosaline mengaku pada Jeffrin bahwa dia tinggal bersama dengan temannya di apartemen itu untuk sementara waktu)


“Ee-eeh ya benar” jawab Angel gugup.


“Bisa beritahu di nomer berapa tempat tinggalmu?” tanya Jeffrin.


“...........” Angel menjawabnya.


Tanpa basa-basi setelah mendengar jawaban Angel, Jeffrin langsung memutuskan telfonnya.


🐤🐤🐤


Terdengar bunyi bel dari tempat tinggal Angel, dia juga sudah tahu siapa tamu yang berkunjung. Begitu pintu terbuka, betapa terkejutnya Angel melihat pemandangan di depannya. Rosaline sedang digendong mesra ala bridal oleh seorang Jeffrin. Gadis itu masih saja tertidur pulas tak bergeming meskipun sedang digendong. Memang kebiasaan Rosaline adalah dia akan sulit terbangun jika sedang tidur kelelahan. Selain itu, Jeffrin memang sangat hati-hati saat menggendong Rosaline agar gadis itu tidak terbangun.


Angel hanya bisa ternganga melihat pemandangan romantis itu. “Astaga, Raline pasti tidak akan pernah menyangka kalau dia bisa berada dalam gendongan anak pemilik Avicena Group ini” ucapnya dalam hati.


“Sampai kapan aku akan dibiarkan berada di depan pintu seperti ini?” ucap Jeffrin dengan ketus.


Angel kembali tersadar dari lamunan bodohnya. “Mm-mmaafkan aku om- ehh ttu-tuan Jeffrin. Mari silahkan masuk” kemudian Angel mempersilahkan masuk.


“Dimana kamar Raline?”


“Dd-ddi-disitu” jawab Angel gagap sambil menunjuk arah pintu kamarnya yang terbuka.


Setelah ditunjukkan, Jeffrin langsung masuk ke dalam kamar, dan diikuti oleh Angel. Dibaringkan Rosaline diatas tempat tidur dengan sangat pelan dan hati-hati, kemudian dia menyelimuti gadis itu dan mengusap kepalanya.


Setelah selesai, Jeffrin langsung beranjak untuk keluar dari apartemen itu. Tetapi sebelum keluar, dia berkata pada Angel, “Jangan bangunkan Raline”. Dan dia pun akhirnya meninggalkan apartemen Angel.


Setelah Jeffrin pergi, Angel bisa bernafas dengan lega. “Mengerikan sekali orang itu. Dia memperlakukanku dengan sangat acuh dan ketus. Tapi melihat sikapnya tadi terhadap Raline, dia bahkan memperlakukan Raline bagaikan barang pecah belah yang harus dijaga dengan sangat hati-hati. Ckckc kehidupan om om konglomerat memang susah dimengerti”


🐤🐤🐤


Sekitar setengah jam kemudian, terdengar bunyi bel lagi di apartemen Angel. Gadis itu memang tinggal sendirian di apartemen ini, karena dia melanjutkan kuliah disini sedangkan orang tuanya tinggal berbeda kota dengannya. Angel berasal dari keluarga yang mampu, maka dari itu orang tuanya menyewakan apartemen yang tidak terlalu besar untuk Angel agar dia bisa tinggal dengan lebih nyaman.


Angel yang sedang berkutat dengan laptopnya, berhenti sejenak dan membukakan pintu. Lagi dan lagi, Angel dibuat ternganga melihat siapa tamunya. Siapa lagi kalau bukan kakak Rosaline. Ini memang bukan kali pertama Angel bertemu Rayen, tetapi tetap saja gadis itu akan bersikap bodoh saat melihat Rayen.


“Dimana adikku? Apa dia sudah tidur?” tanya Rayen dengan ramah.


Oh God, thank you so much hari ini ada dua om om tampan yang datang ke tempat tinggalku. Apartemenku ini sudah bagaikan kuil suci yang dikunjungi para dewa langit. Om yang sebelum ini ketus bagaikan badai gurun pasir, dan om kakak Raline sekarang ini yang terlihat lebih ramah bagaikan musim semi – racau Angel dalam hati.


Angel masih dengan wajah bodohnya.


“Hei, kamu dengar tidak?” Rayen menjetikkan jari di depan wajah Angel.


Membuat gadis itu akhirnya tersadar. “Ya ya, dia sudah tertidur dari tadi. Sepertinya kelelahan mengerjakan tugas. Dia ada di kamarku. Mari silahkan masuk”


Rayen pun masuk, mengekori Angel yang sudah jalan terlebih dulu menuju kamar. Setelah di kamar, Rayen memilih menggendong Rosaline dan tak mau membangunkannya. Karena dia juga tahu kalau adiknya pasti kelelahan sekali hingga tidur sangat pulas.


“Terima kasih sudah menjaga adikku. Kami pulang dulu” pamit Rayen ramah, kemudian dia meninggalkan apartemen itu.


Angel sudah mengunci pintu, tetapi dia masih terbawa suasana barusan. Gadis itu menghela nafasnya. “Beruntung sekali teman baikku itu bisa dikelilingi om om tampan seperti mereka berdua” ucapnya dengan geleng-geleng kepala.