
“Oh-my-God. Dari sekian banyak restaurant di negara ini, kenapa aku harus berakhir disini...”
Rosaline meratapi dirinya yang lagi-lagi harus berada di Avicena Kitchen. Terakhir kesini, dia nyaris seperti tikus yang terperangkap. Dia hanya bisa berdoa semoga kali ini tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan langkah berat, dia turun dari mobil.
Setelah mengunci mobil, dia bingung karena William kembali menghampirinya ke parkiran mobil. “Tuan William, kenapa kembali lagi?”
“Kamu terlalu lama”
“Ahh, aku baru saja mengganti pakaianku di dalam mobil. Karena aku merasa gerah dan juga aku sudah mengenakan pakaian itu sejak tadi pagi”
William mengernyitkan alis. Dia heran dengan ucapan gadis itu, karena acara di sekolah Adeline baru dimulai siang. “Sejak tadi pagi?”
Rosaline menggigit lidahnya yang sudah kelepasan bicara. “Emm sebenarnya aku baru tiba disini sesaat sebelum gurunya Adeline menelfonku...”
“Maksudmu?” William masih belum paham.
Sepertinya memang Rosaline harus mengatakan apa adanya. “Beberapa hari ini aku berada di Australia untuk urusan pekerjaan. Lalu setelah tiba disini, aku mendapatkan telfon dari guru itu. Karena aku kira kamu sedang sibuk dan Adeline membutuhkan bantuanku, jadi yah aku langsung menuju ke sekolahnya. Lagi pula aku juga tidak ada jadwal lain”
“WHAT?!” mendengar penjelasan Rosaline, William sontak kaget.
William tidak habis pikir, apa gadis itu sadar dengan apa yang dilakukannya? Gadis itu baru saja menempuh perjalanan lama, mungkin juga mengalami jetlag, dan pasti dia merasa lelah karena harus berjam-jam transit di bandara. Tetapi begitu tiba disini, alih-alih istirahat, dia justru lebih memilih menemui Adeline.
“Raline...kamu...” William tidak bisa berkata-kata. Karena tidak tahu harus mengatakan apa, lantas dia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Tentu saja tindakannya membuat Rosaline terkejut setengah mati. Tubuhnya lemas menerima pelukan dadakan dari pria yang seharian ini sudah mengacaukan dirinya. “Ap-apa yang sedang kau lakukan?” ucap Rosaline frustasi dalam hati.
Entah apa yang dipikirkan William hingga dirinya lebih memilih memeluk gadis itu ketimbang mengucapkan berbagai kata yang tidak penting.
“Terima kasih untuk semuanya” hanya itu kalimat yang bisa William ucapkan. Dia masih belum mau melepaskan pelukannya dan malah mengeratkannya.
Hangat. Itu yang dirasakan Rosaline. Baik itu pelukan ataupun suara William, begitu hangat dan tanpa disangka mampu menggetarkan hatinya. Pelukan dan suara ini, terasa tidak asing baginya.
“Ku mohon jangan begini. Aa-aku...aku tidak yakin kalau aku akan sanggup menahannya jika kamu terus bersikap sehangat ini kepadaku...” ucap Rosaline dalam hati.
Rosaline masih tenggelam dalam pikiran seriusnya. Dia masih memikirkan, apa yang harus dilakukannya terhadap pria itu. Rosaline benar-benar takut jika harus merasa sakit lagi. Tidak siap. Itulah kata yang selalu ada dipikirannya. Tetapi entah sampai kapan pikiran itu bisa dia pegang teguh jika terus berdekatan dengan William.
Setelah beberapa saat berpelukan dalam keheningan, akhirnya William melepaskan pelukannya. Dilihatnya Rosaline yang sedang menatap dirinya penuh kebingungan.
“Ayo kita masuk. Mereka sudah menunggu” tanpa mau menjelaskan apapun, dia langsung menggandeng Rosaline untuk masuk ke dalam restaurant.
🐤🐤🐤
Saat mereka memasuki private room, anak-anak sedang main kejar-kejaran di dalam ruangan.
“Tante Raline kenapa sangat lama. Aku sudah kelaparan menunggumu” Zeno merajuk sambil menubruk memeluk tubuh Rosaline. Meskipun merajuk, wajah bocah kecil itu terlihat lucu.
“Zen, jangan bicara begitu” tegur istri Evan kepada anaknya.
“It’s alright. Aku memang yang salah” jawab Rosaline tersenyum menatap istri Evan.
“Maafkan tante ya...” ucap Rosaline. Dan Zeno pun tidak jadi merajuk, karena sebenarnya dia tidak benar-benar marah dengan Rosaline.
“Apa tante Raline habis pacaran dengan om William?” tanya Zeno dengan wajah tanpa dosa.
Rosaline hanya bisa terdiam. Kenapa bocah kecil seumuran Zeno bisa mengerti hal-hal dewasa seperti itu? Makanan jenis apa yang sudah diberikan mister Evan hingga anaknya bisa berpikiran seperti itu terhadap dirinya dan William?
Sedangkan Evan hanya bisa menahan tawanya, karena sepertinya apa yang diucapkan anaknya itu benar. Jika melihat ekspresi William yang aneh, bisa dipastikan kalau barusan sudah terjadi sesuatu diantara mereka berdua.
“Zenzen! Astaga, mulut anak ini. Come here boy, jangan ganggu tante Raline lagi” perintah istrinya Evan.
Mereka akhirnya duduk. Adeline memilih duduk disamping kiri Rosaline, sedangkan William duduk disamping kanan Rosaline.
Kemudian mereka semua memesan apa yang akan dimakan.
Istri Evan baru menyadari kalau Rosaline berganti pakaian. Yang jadi pertanyaan, gadis itu mengenakan dress brand ternama dunia yang harganya sekitar $1,990. Model dress itu memang sangat simple. Namun yang namanya barang branded asli, tidak akan pernah bisa disembunyikan. Dia ingat Evan pernah cerita kalau gadis itu adalah anak beasiswa dan berasal dari keluarga biasa. Istri Evan yang berjiwa sosialita, merasa tergerak untuk menanyakan rasa penasarannya.
*($1,990 sekitar Rp 28.460.000)
“Raline, kamu sangat cocok dan anggun memakai dress itu. Modelnya casual tapi elegant. Bukankah itu brand dari Ralph Lauren yang harganya $1,990 dan hanya bisa dibeli melalui website resmi atau store sekitar Amerika saja?”
Bak tersambar petir Rosaline mendengar pertanyaan tersebut. Tak disangka istri mister Evan punya mata yang jeli. Ini memang dress yang dibelikan Rayen saat dia ke New York. Dia suka memakainya karena modelnya polos, simple, dan tidak terlihat barang branded.
“Aa-emm sebenarnya ini hadiah ulang tahun dari temanku. Jadi aku tidak tahu kalau ternyata harganya semahal itu...” jawab Rosaline berbohong.
“Ahh begitu rupanya...” ucap istri Evan mengerti dengan menganggukkan kepala.
William terkejut karena Rosaline bisa memakai pakaian mahal. Jika dipikir-pikir, gadis itu juga mengendarai mobil yang baru dikeluarkan beberapa bulan lalu. Ponselnya pun juga model terbaru. Namun William tidak berpikiran negatif. Dia berpikir mungkin mobil itu milik temannya yang dipinjam dan ponsel itu dibeli menggunakan tabungan hasil kerjanya.
🐤🐤🐤
Setelah selesai makan, Rosaline pamit ke kamar mandi. Dan ketika dia akan kembali ke ruangan, dia bertabrakan dengan seseorang.
“I’m sorry, sir...” ucap Rosaline.
“Raline?”
Gadis itu menengadahkan kepalanya untuk menatap orang itu. “Jeffrin?!” Rosaline kaget bisa bertemu dengannya disini.
“Apa yang kamu lakukan di--“ belum sempat Rosaline menyelesaikan ucapannya, pria itu sudah terlebih dulu memeluknya.
“Maafkan aku. Aku mengaku salah. Aku bodoh. Aku sungguh menyesal” ucap Jeffrin dengan nada yang putus asa.
Dia terbawa amarah melihat berita kencan Rosaline. Tanpa sengaja dia justru emosi saat telfon dengan gadis itu. Dan ketika Jeffrin mencoba menghubunginya lagi setelah melihat berita klarifikasi, Rosaline sama sekali tidak meresponnya. Gadis itu benar-benar menjalankan apa yang dikatakannya untuk tidak saling berhubungan dulu. Jeffrin ingin mencari keberadaannya, tetapi dia baru sadar kalau tidak tahu rumahnya, dicari di kampus juga sayangnya tidak ketemu. Dan saat dia mencari ke kantor agensinya, mereka mengatakan bahwa Rosaline sedang diluar negeri tetapi tidak bisa membocorkan info detailnya. Tentu saja Jeffrin merasa frustasi beberapa hari ini karena tidak bisa bertemu ataupun kontak dengan Rosaline.
“Jeff, sudahlah. Yang lalu biarkan berlalu”
Sebenarnya Rosaline juga tidak tega mengabaikan semua pesan dan telfon dari pria itu. Namun Rosaline memang merasa kecewa dengannya dan memilih untuk memberi waktu untuk saling menenangkan diri. Setelah beberapa hari tidak berhubungan dengan Jeffrin dan sekarang bertemu seperti ini, membuat Rosaline menjadi luluh.
Rosaline menepuk lembut punggung pria itu. “Aku tidak akan mengabaikanmu. Aku hanya sedang sibuk akhir-akhir ini”
“Jangan membohongiku. Aku tahu itu hanya alasanmu saja kan...”
Okay, apa yang diucapkan Jeffrin memang benar, sebenarnya itu hanya alasan Rosaline.
Rosaline terkekeh mendengar suara Jeffrin yang terkesan ngambek seperti anak kecil. “Kau itu sudah tua Jeff, jangan bertingkah seperti ini”
Jeffrin melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu. “Aku sudah mengecewakanmu dan tidak menepati janjiku. Karena itulah aku ingin memperbaikinya”
Perkataan pria itu terdengar tulus. Yang Jeffrin butuhkan adalah kesempatan untuk memperbaikinya dan mengembalikan hubungan mereka seperti semula.
“Baiklah, aku maafkan. Tapi berjanjilah, jangan pernah mengulanginya. Berita seperti itu mungkin akan terjadi lagi di masa depan, karena itu resiko dari pekerjaanku. Dan jika kamu melihat beritanya, jangan pernah menghakimiku sendiri, tanyakanlah kebenarannya padaku” ucap Rosaline dengan tersenyum hangat.
“Aku janji” kemudian Jeffrin mencium kening Rosaline dan berkata, “Aku sangat merindukanmu...”
Rosaline terkejut karena Jeffrin tiba-tiba menciumnya. Apakah dia memang serindu ini dengannya? Entah kenapa Rosaline jadi merasa bersalah karena sepertinya dia sudah memberikan harapan tak pasti untuknya.
“Jeff, sepertinya aku harus segera kembali. Aku sudah pergi terlalu lama, mereka pasti menungguku” ucap Rosaline mengalihkan pembicaraan.
“Kamu makan malam dengan siapa?”
“Aku bersama dengan kenalanku dan keluarganya”
“Keluarganya?” Jeffrin agak takut dengan yang dimaksud ‘keluarga’. Jangan-jangan gadis itu sedang makan malam sekeluarga dengan orang yang dijodohkan dengannya.
Melihat wajah Jeffrin yang khawatir, sepertinya Rosaline tahu apa yang sedang ada dipikirannya.
“Tenanglah, ini bukan makan malam perjodohan. Aku hanya makan malam bersama dosenku, istrinya, dan anak laki-lakinya yang masih kecil” ucapnya terkekeh. Rosaline sengaja tidak mengatakan jika disitu juga ada William dan Adeline. Karena dia tidak ingin hubungan rumit antara dirinya dan William diketahui oleh Jeffrin.
“Ahh syukurlah...” Jeffrin merasa lega setelah mendengar jawaban Rosaline.
“Baiklah, aku akan pergi sekarang” Rosaline menepuk lengan pria itu.
Jeffrin menggenggam tangan Rosaline sambil tersenyum dan berkata, “Aku akan menghubungimu...”
• Di sisi lain •
Ada satu orang yang merasa shock karena tidak sengaja menyaksikan Rosaline dan Jeffrin. Awalnya dia berniat untuk ke kamar mandi. Namun siapa sangka, dia justru memergoki gadis itu sedang bersama pria lain. Setelah dia melihat Rosaline dicium oleh pria itu, dia mengurungkan niatnya dan segera kembali ke ruangannya.
🐤🐤🐤
Saat akan ke parkiran, Evan dan William berjalan beriringan bersama, meninggalkan para wanita dan anak-anak yang sudah jalan duluan.
“Kau menyukai Raline?” tanya Evan tiba-tiba.
“Hmm?” William bingung dengan pertanyaan itu.
“Jujur saja Will, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Jadi aku tahu jika terjadi sesuatu yang aneh denganmu”
“Aku tidak tahu” jawab William datar. Karena nyatanya dia masih belum mengerti dengan perasaannya sekarang.
Evan menghela nafasnya berat. “Will, aku hanya ingin memberitahumu. Jika kau menyukai Raline, maka jangan main-main dengannya. Dia anak yang baik, aku tak peduli meskipun kau sahabatku, aku akan menghajarmu jika kau berani macam-macam dengannya. Dan satu lagi, jika kau ingin mendekatinya, aku rasa tidak akan mudah. Karena aku pikir mungkin kau akan punya saingan yang berat” ucapnya serius.
“Maksudmu?”
“Kau tahu kan, Raline itu istimewa. Siapapun pria pasti akan dengan senang hati melemparkan diri ke pelukannya. Dia memang ramah dengan semua orang. Tapi selama aku mengenalnya, dia sangat menutup diri jika itu sudah menyangkut hatinya. Kau tidak akan pernah tahu siapa sainganmu untuk mendapatkan gadis itu. Jadi saranku, kau harus berusaha keras dan lebih bersungguh-sungguh untuk mendekati Raline”
Evan mencoba meyakinkan William. Dia tidak ingin sahabatnya itu merasa kalah sebelum berperang. Jika William tahu siapa saingannya, maka dia pasti akan mundur, dan Evan tidak menginginkan itu terjadi. William bisa dekat dengan seorang perempuan adalah kesempatan yang sangat langka. Jadi lebih baik Evan menyembunyikan kebenarannya.
“Bahkan pria sehebat Jeffrin bisa takluk dihadapan Raline. Dan dia juga sudah selangkah di depanmu. Aku rasa hubungan ini tidak akan mudah untukmu Will...” ucap Evan dalam hati.
William kembali merenungkan perkataan Evan. Beberapa hari ini dia menjadi sering mendapatkan pertanyaan ‘Kau menyukai Raline?’ dari sahabatnya. Entah dari Steve, Evan, ataupun yang lain, mereka selalu memojokkan dirinya. Maka dari itulah William jadi perlahan berubah dan mempertimbangkan pertanyaan mereka.
🐤🐤🐤
Hari sudah larut ketika William sampai di rumahnya. Dia diantar dengan mobil Rosaline, tetapi kali ini dia yang menyetir mobilnya. Karena Adeline sedari tadi ingin dipeluk Rosaline hingga sekarang dia sudah tertidur dalam pelukannya.
William keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Rosaline. Ketika Rosaline akan melepaskan pelukan Adeline untuk menyerahkannya kepada William, gadis kecil itu sedikit terbangun, membuatnya merengek dan semakin mengencangkan pelukannya di leher Rosaline.
“Sebaiknya kamu sendiri saja yang membawanya ke dalam kamar”
Rosaline bingung harus bagaimana. Haruskah dia melakukannya? Tetapi sepertinya dia memang harus mengikuti saran pria itu. “Yah baiklah...”
Di dalam kamar Adeline, Rosaline kembali menidurkan gadis kecil itu dengan menyanyikan lagu tidur yang pernah dia nyanyikan sebelumnya. Setelah dirasa Adeline tertidur pulas, Rosaline meninggalkannya.
William mengantarkan Rosaline ke mobilnya. Dia membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
Sebelum masuk ke mobilnya, Rosaline menatap pria itu untuk berpamitan. “Terima kasih untuk hari ini tuan William. Aku pamit pulang...”
‘Kau tidak akan pernah tahu siapa sainganmu untuk mendapatkan gadis itu. Jadi saranku, kau harus berusaha keras dan lebih bersungguh-sungguh untuk mendekati Raline ’
William kembali teringat ucapan Evan. Ucapannya sangat membekas di pikirannya dan membuat hatinya tidak tenang.
Tanpa disadari, tubuh pria itu bergerak sendiri untuk lebih mendekat ke Rosaline. Dia memindahkan helaian rambut yang menutupi wajah Rosaline ke belakang telinganya. Perlahan tangannya turun ke pipi Rosaline, lalu dia mengelus lembut pipinya yang merah. Dia bisa merasakan wajah gadis itu hangat. Dan tiba-tiba, William sudah mencium pipi gadis itu.
Seketika tubuh Rosaline menegang mendapatkan ciuman dari pria itu. Hari ini dia sudah cukup frustasi karena harus berdekatan dengannya. Dan tindakan William barusan, resmi menggoyahkan pertahanan hatinya.
Setelah William tersadar, dia juga terkejut dengan tindakannya sendiri. “Sampai jumpa, Raline. Hati-hati di jalan. Selamat malam” ucapnya. Dan dengan langkah cepat dia masuk ke dalam rumah.
Rosaline masih merasa shock ketika dia di dalam mobil. Wajahnya sangat merah, jantungnya berdebar kencang. Meskipun AC mobilnya sudah menyala, namun sekujur tubuhnya terasa panas. “Ada apa dengannya? Apa karena terlalu lama hidup sendirian membuatnya menjadi stres? Sial, apa dia tidak sadar tindakannya tadi sangat membahayakanku...” gumamnya sambil memegang pipi yang sudah dicium pria itu.