
Sudah beberapa hari berlalu sejak munculnya berita skandal kencan Rosaline dan Nexon. Semuanya sudah mulai terlupakan. Namun orang-orang yang mendukung hubungan mereka masih saja membicarakannya.
Rosaline baru saja menyelesaikan syuting iklannya di luar negeri ditemani oleh managernya. Dia sudah tiba di bandara dan bersiap untuk pulang. Rosaline pulang menggunakan mobilnya sendiri yang dititipkan di parkiran bandara.
Ketika menyalakan mobilnya, tiba-tiba dia mendapatkan panggilan telfon dari nomer yang tidak dikenal.
“Halo, saya gurunya Adeline. Hari ini ada acara outbond bersama orang tua di sekolah. Saya sudah menelfon suami anda dari tadi, tapi tidak diangkat. Saya ingin mengingatkan bahwa acaranya akan segera dimulai. Saya harap kalian bisa segera datang...” ucap orang dari seberang telfon.
Mendapatkan telfon yang tak terduga dan terlebih orang itu mengatakan hal yang mengejutkan, membuat Rosaline serasa mengalami jetlag kronis. Dia benar-benar speechless mendengar apa yang dikatakan guru itu. Namun dia menyadari mengapa Adeline melakukan ini. Karena ayahnya selalu sibuk, jadi Adeline merasa takut mengganggunya dan malah lari mencari bantuan dirinya.
“Saya minta maaf, tadi saya masih ada urusan penting. Sekarang saya sudah di jalan. Akan saya usahakan untuk sampai secepatnya” ucap Rosaline.
Setelah mengakhiri panggilan telfon, Rosaline menghela nafasnya berat. “Ros...Ros. Bagaimana bisa kau punya anak dan suami jika menikah saja belum pernah. Lelucon macam apa ini...”
Tanpa memperdulikan rasa lelahnya, Rosaline langsung menjalankan mobilnya menuju sekolah Adeline.
🐤🐤🐤
• Di Lincoln School •
Lincoln School merupakan sekolah untuk golongan elite. Sekolah ini menerima siswa tingkat PG-TK, SD, SMP, SMA International. Sehingga gedung sekolahnya cukup besar dan luas. Selain itu, sekolah ini juga mempunyai penjagaan yang ketat.
Ketika Rosaline tiba, guru Adeline sudah menunggunya di dekat gerbang untuk menuntunnya ke tempat berkumpul.
Saat memasuki aula tempat berkumpul, guru itu menunjukkan dimana Adeline berada. Setelah menunjukkan, guru itu meninggalkan Rosaline karena masih ada keperluan lain.
Rosaline mengendap-ngendap menghampiri Adeline untuk mengagetkannya. “Hello, little princess!” ucap Rosaline sambil mengecup pipi gadis kecil itu dari belakang.
Gadis kecil itu menengok dan mendapatkan orang yang dirindukannya sudah datang. Rosaline berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Adeline. Dan tanpa menunggu lebih lama, gadis kecil itu langsung memeluk erat tubuh Rosaline.
“Merindukanku?” ucap Rosaline yang masih memeluk Adeline.
“I miss you” suara kecil dan manis keluar dari mulut Adeline.
“Tante juga merindukan Adeline” setelah beberapa saat, Rosaline mengendurkan pelukannya. Gadis kecil itu langsung mencium kedua pipi Rosaline.
“Jadi, kamu sedang membutuhkan pertolonganku?” Rosaline tersenyum menatap Adeline.
“Sorry...” gadis kecil itu merasa harus meminta maaf karena sudah merepotkan tantenya.
Rosaline tentu tidak akan marah atau keberatan sedikit pun. “Maaf untuk apa? Adeline tidak salah. Tante senang kok bisa membantu Adeline” ditatapnya hangat gadis kecil itu. “Apa ayahmu sedang sibuk?”
Adeline menganggukkan kepalanya dengan menunjukkan raut wajah kecewa. Sebenarnya dia sudah mengingatkan ayahnya semalam, namun sepertinya memang ayahnya ada urusan penting hingga lupa dengan dirinya. Dan yang terlintas di pikiran Adeline untuk mendampinginya hari ini hanyalah Rosaline, karena dia yakin kalau tantenya pasti bersedia membantunya.
Melihat wajah gadis kecil itu berubah, membuat Rosaline tidak tega dan mencoba menghiburnya. “It’s okay, Adeline. Ayahmu pasti punya alasan mengapa tidak bisa datang kemari. Jangan dipikirkan. Yang penting sekarang sudah ada tante disini menemanimu” ucap Rosaline lembut sambil mengelus pipi gadis kecil itu.
Adeline mengangguk mengerti dan kembali tersenyum.
Tak lama dari itu, sepasang suami istri dan anaknya menghampiri Adeline. “Adeline, kamu dengan siapa?” terdengar suara seorang wanita.
Sebelum Rosaline sempat menoleh, seorang anak laki-laki sudah terlebih dulu berlari menghampirinya dan memeluknya.
“Tante Raline”
“Oh hey little boy” Rosaline menyambut hangat pelukan bocah kecil itu.
“I miss you, auntie”
“I miss you too, Zeno” Rosaline mengendurkan pelukannya. Lalu dia melihat ke arah kedua orang tua bocah kecil itu.
Saat sepasang suami istri itu melihat siapa orang yang dipeluk anaknya, mereka terkejut. “Raline?!” ucap suaminya.
“Mister Evan?!” Rosaline pun juga tak kalah terkejut melihat dosennya ada disini. Kemudian gadis itu berdiri, karena sedari tadi dia berjongkok.
“Dad, mom, ini tante Raline yang pergi denganku waktu itu bersama oma Martha dan Lin kecil” anak laki-laki itu menghampiri lagi orang tuanya dan memperkenalkan Rosaline kepada mereka.
Rosaline kaget mendengar Zeno memanggil dosennya dengan sebutan ‘dad’. Itu berarti Zeno adalah anak dari dosennya. Seketika dia merasa situasinya menjadi canggung. “What the heck is going on here? Kenapa dunia ini sempit sekali” ucap Rosaline dalam hati.
“Nona Raline, senang bisa bertemu langsung denganmu. Ternyata kamu sangat cantik” sambut hangat dari istri Evan.
“Aku juga senang bertemu denganmu nyonya. Panggil aku Raline saja”
“Baiklah. By the way, aku ingin berterima kasih karena sudah menjaga anak kami saat kalian jalan-jalan”
“Tidak masalah, aku senang melakukannya”
“Raline, apa yang kamu lakukan disini?” akhirnya Evan mengeluarkan suaranya setelah dilanda kebingungan akibat situasi tak terduga ini.
“Guru Adeline tadi menghubungiku supaya datang kemari”
“Menghubungimu? Kenapa dia tidak menghubungi William?” Evan terheran, kenapa gurunya malah menghubungi orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Adeline ataupun William.
Rosaline sedikit enggan untuk mengatakan yang sejujurnya. Tetapi dia juga tidak tahu harus beralasan apalagi. “Ee-eeh gurunya mengira tuan William adalah suamiku, jadi dia memintaku untuk segera kemari. Dan sepertinya tuan William juga sedang sibuk, makanya Adeline tidak berani mengganggunya...” jawab Rosaline apa adanya.
Evan terkejut mendengar jawaban gadis itu. Dia tidak habis pikir kalau gurunya mengira gadis itu adalah istri William. Yang membuatnya lebih terheran adalah, kenapa Adeline justru memilih menghubungi gadis itu.
🐤🐤🐤
Acara pun akhirnya dimulai. Semua anak dan orang tuanya sudah pindah berkumpul di lapangan luas yang terletak di belakang gedung sekolah. Rata-rata semua anak didampingi kedua orang tuanya, hanya Adeline yang didampingi satu orang saja.
Melihat Adeline sama sekali tidak mempermasalahkan keadaan anak-anak lain yang didampingi kedua orang tuanya, membuat Rosaline merasa lega. Setidaknya gadis kecil itu tidak sedih karena hanya ditemani olehnya.
“Adeline, ayo kita bekerja sama dan berusaha sebaik mungkin. Menang atau kalah tidak masalah, yang penting kita bersenang-senang. Okay?” Rosaline memberi pengertian kepada gadis kecil itu. Dan gadis kecil itu pun mengangguk dengan wajah cerianya.
‘Selamat datang untuk para orang tua di Lincoln School dalam acara Outbond Parenting. Kami telah menyiapkan banyak hal menarik untuk anda sekalian...’ sambut pembawa acara.
Setelah pembawa acara selesai menjelaskan semuanya, acara pun segera dimulai.
Permainan pertama sangat simple, yaitu anaknya melempar bola dan salah satu orang tuanya menangkap menggunakan keranjang.
‘Waktu habis!’ ucap orang yang mengawasi permainan.
Rosaline dan Adeline sejauh ini bekerja sama dengan baik. Mereka berdua lolos ke babak selanjutnya.
Giliran kloter selanjutnya yang melakukan permainan. Sedangkan yang sudah selesai, mereka bisa istirahat sejenak.
“Raline, ikutlah bergabung dengan kami” ajak Evan.
“Kemarilah Raline...” ucap istri Evan.
Rosaline dan Adeline pun ikut bergabung bersama Evan sekeluarga.
“Apa kamu lelah?” Rosaline memperhatikan Adeline yang sedang duduk kelelahan. Wajah gadis kecil itu juga berkeringat karena terlalu bersemangat saat bermain.
Adeline menjawab dengan menggelengkan kepala. Meskipun dia memang lelah, tetapi dia senang karena ini mengasyikkan.
Lalu Rosaline mengambil tisu dari tasnya dan mengelap keringat gadis kecil itu. Sikap Rosaline yang perhatian terhadap Adeline, membuat Evan dan istrinya terenyuh. Di mata mereka berdua, Rosaline sudah seperti ibu yang menjaga anaknya.
“Tante Raline, ini untukmu dan Lin kecil” Zeno memberikan dua botol air mineral dingin.
“Thank you, Zeno” ucap Rosaline sambil mengusap kepala anak itu.
“Raline, apa kamu baik-baik saja? Jika kamu ada keperluan lain, biar aku dan istriku saja yang menjaga Adeline disini” ucap Evan.
“Tenang saja mister Evan. Aku sedang tidak sibuk” jawab Rosaline.
“Kamu yakin? Maksudku, kamu kan seorang model, siapa tahu kamu merasa lelah dengan jadwalmu yang padat” istri Evan yang tahu bahwa Rosaline berprofesi sebagai model mengkhawatirkan kondisi gadis itu.
“Aku yakin, terima kasih sudah perhatian denganku” jawab Rosaline tersenyum.
Rosaline kembali memperhatikan gadis kecil itu. Dia jadi teringat untuk mengatakan sesuatu kepada gadis kecil itu. “Oh ya Adeline, bunga pemberianmu sangat indah. Apa kamu yang memilihnya sendiri?”
Adeline memiringkan kepalanya. Dia bingung dengan pertanyaan aneh dari tantenya. “Bunga?”
“Iya. Bukankah beberapa hari lalu kamu mengirimkan buket bunga ke kantor tante? Jadi, siapa yang sudah membantumu?” ucap Rosaline sambil tersenyum menatapnya.
“Adel tidak kirim bunga” jawab Adeline dengan wajah polosnya.
“Tidak mengirimnya? Apa Adeline yakin?” Rosaline mengerutkan keningnya.
“Hmm” Adeline pun mengangguk tanpa keraguan. Karena memang dia tidak tahu apa yang dikatakan tantenya itu.
Rosaline bingung, jika Adeline tidak mengirimnya, lantas siapa? Tetapi di kartu ucapan itu jelas-jelas tertera namanya.
‘Ros, aku harap kamu bisa segera sadar dan membuka matamu lebar-lebar...’
Tiba-tiba Rosaline jadi teringat ucapan Nyonya Ellena saat itu. Dia mencoba mencerna maksud dari ucapannya. Setelah memikirkan berbagai dugaan, Rosaline tidak mau mempercayainya. Tidak mungkin kan dugaannya benar? Masa iya kalau yang mengirimkan bunga itu adalah ayahnya Adeline?
Rosaline berusaha tetap mengelaknya. Dia tidak bisa menerima fakta kalau pria itu yang mengirimkan buket bunga. Pasti dugaannya salah besar. Mungkin Adeline hanya malu mengakuinya. Ya, pasti begitu.
Setelah waktu istirahat mereka selesai, permainan lain pun kembali dimulai.
🐤🐤🐤
Waktu semakin berlalu, beberapa permainan kekompakan antara orang tua dan anak sudah dilewati.
Seorang pria tiba di lapangan sekolah dan kaget dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menyangka bisa melihat gadis itu disini dan menggandeng Adelinenya. Kedua gadis itu terlihat bahagia dan tertawa bersama. Melihat pemandangan itu, membuat hati pria sedingin es itu meleleh. Bisa melihat Rosaline lagi, membuat pria itu bimbang. Dia berpikir, apakah dia perlu mempertimbangkan nasihat dari Steve?
‘Baiklah semua, kita istirahat sejenak untuk lanjut ke babak final’ ucap pembawa acara.
Kedua gadis itu bergandengan tangan sambil melompat kegirangan karena berhasil masuk ke babak final. “Adeline, aku sangat bangga padamu! Hari ini kamu sudah melakukan yang terbaik. Jika nanti kita tidak mendapatkan juara, tante harap kamu tidak kecewa” ucap Rosaline memuji gadis kecil itu.
Adeline pun mengangguk dengan wajah gembiranya. Dia tidak masalah mau menang atau kalah. Karena sejauh ini dia sudah sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama tantenya.
Ketika Adeline melihat sosok orang familiar berjalan ke arahnya, dia melepaskan gandengan tangannya dari Rosaline dan berlari menghampiri orang itu. Rosaline bingung mengapa gadis kecil itu tiba-tiba kabur darinya. Dan saat Rosaline membalikkan badannya, dia sontak kaget. Rasanya Rosaline ingin sekali menggali lubang untuk bersembunyi.
“****! Kenapa hot daddy ini ada disini? Bukankah dia tidak bisa datang...” ucap Rosaline dalam hati.
Namun beberapa saat kemudian dia tersadar dan shock sendiri atas apa yang baru saja dia ucapkan. “Astaga! Apa penyakit gila Angel sudah menular padaku? Untuk apa aku ikut-ikutan si gila Angel memanggilnya ‘hot daddy’!! Aku pasti sudah mulai tidak waras!” umpat Rosaline dalam hati.
Pria itu semakin mendekat ke arahnya sembari menggandeng Adeline.
Rosaline menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya yang sudah mulai keruh akibat terkontaminasi ucapan Angel. Dan sepertinya kewarasan Rosaline semakin hilang ketika jarak antara dia dan pria itu begitu dekat. “Ee-eeh-ttu-tuan William...”
“Sialan. Kenapa aku jadi gagap begini. Bernafaslah dengan normal Ros...bernafaslah!” ucap Rosaline dalam hati.
William memperhatikan ada rambut yang menutupi wajah gadis itu. Dengan santainya dia menyelipkan rambut itu ke belakang telinganya, bahkan dia juga memberikan senyum lembut untuk Rosaline.
Rosaline ingin segera mengubur dirinya hidup-hidup setelah diperlakukan semanis itu oleh William. Jantungnya sudah sekarat dan wajahnya pasti memerah. Sikap pria itu benar-benar membahayakan keselamatan jantung dan hatinya.
“Siapapun tolong selamatkan aku dari sini sekarang juga” ucap Rosaline meronta-ronta dalam hati.
Semua orang yang berada di sekitar mereka tak luput menyaksikan pemandangan dua sejoli yang terlihat romantis itu.
‘Bukankah itu ayahnya Adeline? Jadi apakah wanita itu istrinya tuan William?’
‘Kamu lihat sayang, suaminya sangat manis terhadap istrinya. Tidak bisakah kamu juga bersikap seperti itu kepadaku?!’
Diantara orang-orang yang membicarakan kedua orang itu, masih ada sepasang suami istri yang tak kalah terkejutnya melihat apa yang baru saja terjadi. Sepasang suami istri itu tidak percaya kalau William bisa melakukan hal-hal langka seperti itu.
“Honey, apa aku sedang bermimpi? Sahabatmu itu tidak salah minum obat kan?” ucap istri Evan.
“Jika kamu tanya padaku, aku harus tanya siapa sayang? Aku bahkan nyaris kencing di celana karena terlalu shock melihat William sedekat itu dengan Raline” balas Evan.
“Sejak kapan mereka berdua sedekat ini? Apa jangan-jangan William menyukai Raline...” ucap Evan dalam hati.
Rosaline masih linglung atas apa yang baru saja terjadi, sampai disadarkan oleh gadis kecil yang menarik bajunya dan merentangkan kedua tangannya, tanda dia ingin digendong olehnya. Rosaline kembali memulihkan kesadarannya dan menggendong gadis kecil itu.
“Tuan William, guru Adeline tadi menelfonku dan....”
“Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menjaga Adeline” sahut William sambil mengelus lembut kepala Rosaline.
Ingin sekali Rosaline merutuki William. Sebenarnya ada apa dengan sikapnya hari ini? Kenapa dia bisa berubah 180 derajat? Pikiran Rosaline berkecamuk karena perubahan sikap William yang mendadak.
🐤🐤🐤
Pembawa acara kembali menjelaskan permainan untuk babak final, yaitu uji kekompakan anak dan kedua orang tua. Jadi untuk babak final kali ini, kedua orang tua harus terlibat, tidak seperti tadi yang boleh diwakilkan salah satunya saja.
Permainannya adalah kedua orang tua harus mencapai garis finish dengan menginjak puzzle gabus yang dipindahkan oleh anaknya. Masing-masing tim hanya diberikan 2 buah puzzle gabus. Jadi setelah satu puzzle diinjak, sang anak harus segera memindahkan puzzle yang lainnya hingga nanti mencapai garis finish. Dan masalah terbesarnya adalah puzzle gabusnya tidak berukuran besar, jadi kedua orang tua harus berdiri berdekatan agar kakinya tidak menginjak tanah. Jika menginjak tanah, maka tim tersebut kalah.
“Astaga, cobaan apalagi ini” ucap Rosaline dalam hati sambil mengamati ukuran puzzle gabusnya.
William sudah berdiri diatas puzzle, menunggu Rosaline yang masih bengong di tempatnya. Adeline juga sudah siap di posisinya dengan memegang puzzle satunya.
Karena Rosaline masih diam, Adeline berinisiatif mendorong perlahan tantenya itu agar segera berdiri di atas puzzle. Melihat Rosaline yang seperti canggung berdekatan dengannya, William mencoba mencairkan suasana diantara mereka berdua.
“Kita pasti bisa melakukannya. Cepat kesini” ucap pria itu lembut dengan tersenyum.
Setelah mendapatkan persetujuannya, Rosaline berani mendekatinya. Sebisa mungkin dia menekan segala rasa malunya agar tidak ketahuan oleh pria yang sedang berdiri dekat sekali dengannya.
“Pegang pundakku”
“Hh-huh?” ucap Rosaline gagap mendengar perintah pria itu.
“Jika tidak ingin jatuh, sebaiknya kita saling berpegangan”
Rosaline ragu-ragu meletakkan tangannya di pundak pria itu, rasanya berat sekali. Ini bukan pertama kalinya Rosaline bersentuhan dengan pria, tetapi jika disuruh menyentuh William, entah mengapa membuatnya merasa was-was dan berdebar.
Karena tak kunjung direspon, William meraih kedua tangan Rosaline dan menaruh di pundaknya. Lalu dia juga balik memegang lengan gadis itu agar nanti tidak terjatuh.
Jangan dikira hanya Rosaline saja yang merasa frustasi dengan situasi ini, William pun juga sama. Kecepatan jantungnya berdebar sudah mencapai batas maksimal. Jarak mereka yang sangat dekat dan saling bersentuhan, membuat lutut William terasa lemas. Namun dia pintar sekali menyembunyikan semua kegelisahan dibalik wajah tenangnya.
‘Ready? Go!’ ucap orang yang mengawasi permainan, dan babak final pun dimulai.
🐤🐤🐤
Setelah babak final selesai
‘Akhirnya pengumuman juara pertama, pemenangnya adalah Adeline dan kedua orang tuanya’ ucap pembawa acara.
Ketiganya maju ke depan dan menerima hadiahnya. Adeline sangat gembira dan antusias karena tak menyangka bisa memenangkan juara pertama.
Kali ini Rosaline tidak akan bertindak bodoh lagi. Cukup sekali saja dia bertindak bodoh dengan memeluk William saat tadi mereka berhasil mencapai garis finish di urutan pertama. Sungguh Rosaline ingin menenggelamkan dirinya ke sungai Amazon karena sangat malu.
Bagaimana dengan William? Si pria dingin itu juga tak kalah bodohnya. Dengan polosnya dia membalas pelukan Rosaline.
Dan ketika kedua orang itu sadar dengan apa yang dilakukan, mereka pun malu sendiri dan salah tingkah.
🐤🐤🐤
Setelah semua acara selesai, beberapa orang tua yang wanita menghampiri Rosaline dan mengajaknya mengobrol. Rosaline pun dengan ramah menanggapi mereka sambil menggendong Adeline.
‘Nyonya, anda cantik sekali. Apakah perawatannya mahal?’
‘Nyonya, jika anda ada waktu luang, sesekali ikutlah kumpul bersama kami dan juga anak-anak’
William memperhatikan dari kejauhan gadis yang disebut sebagai ‘istrinya’ itu sedang dikelilingi oleh orang-orang. Dia tidak menduga bisa bertemu dengan Rosaline secepat ini dan menghabiskan waktu bersamanya. “Apa aku boleh mengharapkanmu menjadi istriku yang sesungguhnya?” ucap pria itu dalam hati.
Merasa dirinya sudah mulai berpikiran yang tidak karuan, William menggelengkan kepalanya dan mencoba menenangkan dirinya.
Tiba-tiba ada yang memanggil dan menghampirinya
“Om William”
“Halo Zeno. Lama tidak bertemu” ucap William dengan mengacak rambut bocah itu.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Dimana Raline?” tanya Evan.
“Tidak ada. Dia sedang mengobrol dengan orang tua yang lain. Apa kau akan langsung pulang?”
“Tidak, kami bertiga akan pergi makan terlebih dulu. Kalian juga ikutlah dengan kami. Zeno ingin sekali bisa makan bersama dengan Raline dan Adeline lagi” ajak Evan.
“Iya Will, ikut saja. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Aku juga ingin mengenal Raline lebih dekat” ucap istri Evan.
“Aku akan tanyakan padanya dulu”
“Kalau begitu kami akan berangkat duluan. Sampai jumpa di Avicena Kitchen. Jangan lupa ajak Raline!” setelah itu Evan sekeluarga pergi meninggalkan William.
Rosaline sempat melihat dosennya mengobrol dengan William sebelum dia pergi. Lalu Rosaline melihat jam tangannya, dan ternyata sekarang sudah hampir menjelang petang. Setelah berpamitan dengan para orang tua, dia langsung menghampiri William.
“Tuan William, sepertinya aku harus segera pulang”
“Evan mengajak kita untuk makan bersamanya. Dia dan istrinya mengharapkan supaya kamu bisa ikut”
Rosaline berpikir sejenak sebelum memberi William jawaban. Dia juga tidak enak jika menolak ajakan dosennya, mengingat selama ini mister Evan selalu baik kepadanya. “Ahh begitu. Hmm...sebenarnya aku juga tidak ada kegiatan setelah ini. Jadi aku rasa tidak ada salahnya menerima ajakan mister Evan dan istrinya” ucap gadis itu dengan tersenyum.
“Baiklah, ayo kita pergi” lalu William menggendong Adeline.
“Ee-emm sebenarnya aku membawa mobil sendiri. Jadi....”
“Tidak masalah, tadi aku juga diantar supir. Jadi aku dan Adeline akan menumpang mobilmu”
Mereka bertiga pun menuju mobil Rosaline. Ketika William melihat mobilnya, dia terkejut sekaligus terheran karena gadis itu mengendarai mobil seharga milyaran. “Bukankah Raline berasal dari keluarga yang sederhana?” ucap William dalam hati.