ME vs OM OM

ME vs OM OM
Malam Yang Indah



Selesai makan malam, Rosaline mencuci piring bekas makan di dapur. Jeffrin hanya berdiri mengamatinya, karena Rosaline memang tidak mau dibantu.


“Nona, apa kamu berminat menjadi asisten rumah tangga di sini?” canda Jeffrin.


Rosaline yang baru selesai mencuci piring melirik Jeffrin dengan senyuman yang dibuat-buat. “Maaf tuan, tapi saya tidak minat menjadi pelayan di apartemen tuan muda seperti anda” ucapnya menanggapi candaan Jeffrin.


“Ayolah, aku akan menggajimu berkali-kali lipat. Aku akan berikan apapun yang kamu inginkan.”


Rosaline menghampiri Jeffrin dan mencubit pinggangnya. “Hentikan bercandaanmu.”


“Auch! Sakit, Ral...” Jeffrin mengaduh kesakitan. “Kenapa kamu galak sekali. Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga.”


Rosaline memelotinya. “Seenaknya bicara. Memang sejak kapan kita berumah tangga, huh?!”


“Tidakkah sekarang kita terlihat seperti pasangan suami istri? Aku memasak untukmu, kita makan malam bersama, saling cerita kegiatan masing-masing, aku menunggumu cuci piring, hanya kurang....” Jeffrin menyeringai jahil.


“Cukup” Rosaline meletakkan telunjuknya di bibir Jeffrin untuk menghentikan perkataannya. “Jangan dilanjutkan. Aku tidak mau kamu mencemari telingaku.”


Jeffrin meraih tangan Rosaline dan mengecup punggung tangannya. “Baiklah, sayang.”


Sontak Rosaline salah tingkah diperlakukan seperti itu. Dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah. “Sial. Kenapa om-om jaman sekarang sangat agresif? Aku bisa gila kalau selalu berhadapan dengan pria sejenis mereka. Ini namanya keluar dari kandang singa, tapi masuk kandang harimau” gerutu Rosaline dalam hati.


Rosaline meratapi nasibnya yang apes. Beberapa minggu lalu dia baru keluar dari rumah William yang bagaikan kandang singa, sekarang dia justru kembali masuk ke dalam apartemen Jeffrin yang sama saja bagaikan kandang harimau. Rosaline menyadari pesona kedua pria itu benar-benar kuat hingga mungkin suatu saat bisa membuatnya khilaf. Dalam keadaan rawan seperti ini Rosaline harus siaga menjaga kewarasannya agar tidak terbuai suasana.


Untungnya ponsel milik Jeffrin berdering, menyelamatkan kecanggungan diantara keduanya.


“Aku angkat telfon sebentar” ucap Jeffrin sebelum meninggalkan Rosaline.


Akhirnya Rosaline bisa bernafas lega. Lalu dia melihat sekeliling apartemen milik Jeffrin. Rasanya dia juga jadi ingin tinggal mandiri. Rosaline memang pernah berpikir untuk tinggal sendiri agar penyamarannya tidak terbongkar, apalagi sekarang dia sudah terjun di dunia modeling lagi. Rosaline tidak mau jika identitas aslinya diketahui publik. Namun mengingat keluarganya yang sangat protektif terhadapnya, apa iya mereka mau mengijinkannya?


Rosaline berjalan menuju balkon apartemen. Mengamati pemandangan malam kota dan langit yang terang bertabur bintang. Jeffrin memiliki hunian apartemen dengan segala fasilitas terbaik karena ini adalah gedung apartemen milik keluarganya. Saat Rosaline asyik bersantai menikmati suasana malam, tiba-tiba ia dikagetkan dengan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Tangan itu memeluk dirinya dengan erat dan posesif dari belakang.


“Jeff, lepaskan...” Rosaline berusaha melepaskan tangan Jeffrin yang memeluknya.


“Sebentar saja” Jeffrin tetap tidak mau melepaskannya.


Rosaline hanya bisa menurutinya. Dia juga tidak akan menang berdebat dengan Jeffrin.


“Pemandangan dari sini sangat indah” ucap Rosaline memecah keheningan.


“Hm, aku tahu.”


“Kenapa kamu memilih tinggal di apartemen?”


“Tinggal sendiri membuatku lebih nyaman.”


“Kenapa tidak beli rumah sekalian?”


“Untuk apa beli rumah, terlalu besar. Lagi pula aku masih tinggal sendiri.”


“Kalau masih sendiri lebih baik tinggal dengan orang tuamu saja. Pasti orang tuamu juga tidak akan keberatan.”


“Raline, aku bukanlah anak remaja lagi. Aku sudah tua. Sudah saatnya aku hidup mandiri...”


“Dan juga menikah...” Rosaline menambahi perkataan Jeffrin, kemudian ia tertawa.


“Denganmu.”


“Iya” Rosaline spontan mengatakannya dalam keadaan masih tertawa. Sesaat kemudian ia tersadar. “He?” ucapnya bingung. “Sebentar...”


Setelah berpikir, Rosaline baru paham dengan maksud perkataan Jeffrin. “Hei, bercandamu tidak lucu, Jeff...” Rosaline tersenyum canggung.


“Aku tidak bercanda” ujar Jeffrin dengan nada serius. Seketika senyum di wajah Rosaline memudar. Dia mendadak menjadi tegang. Rosaline tidak bisa menghindar juga, karena dia masih dalam pelukan Jeffrin. Jadi lebih baik Rosaline diam dan tidak menanggapinya.


Sesaat keheningan melanda keduanya. Suasana yang mulanya indah berubah menjadi canggung karena pembicaraan yang tak terduga.


“Raline?” setelah lama terdiam, akhirnya Jeffrin buka suara lagi.


“Hmm?”


“Apa menurutmu aku orang yang baik?”


“Hmm, tentu. Memang kenapa kamu bertanya?”


“Apa aku juga sudah cukup baik untukmu?”


Rosaline terdiam. Pertanyaan Jeffrin sulit untuk dijawab. Sebenarnya mungkin tidak sulit juga. Hanya saja Rosaline takut salah bicara.


“Maaf aku tidak punya banyak waktu untukmu. Aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan, dan mungkin kamu merasa kalau aku tidak serius denganmu” imbuh Jeffrin.


Perlahan Rosaline menyandarkan kepalanya ke dada Jeffrin. Pikirannya mulai berkecamuk. Ingin rasanya dia mengatakan semua kekhawatirannya, masa lalunya, dan mengakhiri kebohongannya pada Jeffrin. Meski tampak mudah dari luar, tetapi sebenarnya tidak semudah itu untuk dilakukan Rosaline.


“Jeffrin...” Rosaline menjeda ucapannya sejenak dan menghela nafas dalam. “Aku tidak pernah memandangmu begitu. Dan kamu akan selalu menjadi Jeffrin yang baik di mataku.” Rosaline menatap langit malam yang indah. “Banyak hal yang belum kamu ketahui tentangku. Maksudku, mungkin apa yang akan kukatakan nanti tidak mengenakkan untuk di dengar, bahkan mungkin bisa mempengaruhi perasaanmu padaku.”


“Apa kamu sudah jatuh cinta dengan pria lain?” tanya Jeffrin.


Rosaline menegakkan tubuhnya, membalikkan badan untuk menatap Jeffrin dan menjawab, “Tidak! Bukan itu maksudku” ucapnya mantap.


“Jadi apa?”


“Raline, kamu terlalu bicara berbelit-belit. Apa ini ada hubungannya dengan masa lalumu?”


“Bbu-bukan Jeff...” sungguh bukan itu maksud Rosaline. Tetapi kenapa Jeffrin lagi-lagi harus membahas masalah itu.


Antara pemikiran Jeffrin dan Rosaline sangat berkebalikan. Rosaline yang mencoba sedikit demi sedikit terbuka ke Jeffrin tentang identitasnya, tetapi di lain sisi Jeffrin berpikir kalau Rosaline belum bisa menerimanya karena masih memikirkan orang di masa lalunya. Dan semua kedekatan mereka selama ini hanyalah kebohongan semata Rosaline dengan menjadikan Jeffrin sebagai pelarian.


Rosaline menundukkan wajahnya. Dia tidak mau menatap wajah Jeffrin saat mengatakan apa yang akan dikatakan. Dia tidak mau melihat perasaan Jeffrin yang berubah terhadapnya. Dia tidak ingin Jeffrin membencinya ketika tahu yang sebenarnya. Rosaline tidak sanggup menyakiti pria sebaik Jeffrin. Berbagai pikiran negatif menghantui pikiran Rosaline. Egois memang, karena Rosaline belum bisa membalas perasaan Jeffrin, tetapi dia juga tidak siap kehilangannya.


“Oke, dengarkan aku” Rosaline memulai pembicaraan. “Aku sebenarnya....” di saat Rosaline akan melanjutkan, tiba-tiba Jeffrin mengangkat dagu Rosaline dan mencium bibir Rosaline untuk menghentikan ucapannya. Hanya ciuman ringan dan sesaat. Meskipun sebentar, tetapi sudah membuat perasaan Rosaline meledak-ledak tak karuan.


“Aku tidak mau kamu melanjutkannya” Jeffrin tidak siap mendengar pengakuan yang tidak ingin didengarnya. Jeffrin memeluk Rosaline erat sambil membelai rambutnya. “Asal kamu tahu, aku sangat menyayangimu, Raline. Aku tidak ingin kamu memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Aku akan tetap menunggu sampai kamu siap. Apapun kebohonganmu, tidak perlu khawatir kalau aku akan membencimu setelah mengetahuinya, karena aku akan mencoba memahami alasanmu.”


Rosaline tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya terdiam di pelukan Jeffrin. Selain itu, dia masih shock dengan kejadian barusan. Perasaannya sekarang semakin kacau tak menentu. “Bukankah Jeffrin adalah pilihan yang lebih baik untukku? Dia kurang apalagi coba? Tidak ada. Dia sangat sempurna, dewasa, pengertian, sayang denganku. Jika cinta tulus yang aku inginkan, maka sepertinya aku sudah mendapatkannya dari Jeffrin. Tapi kenapa aku masih belum bisa menerimanya....” ucapnya dalam hati.


Rosaline di saat seperti ini malah terpikirkan orang lain, yaitu pria yang sudah membuatnya nyaris gila karena selalu memikirkannya setiap hari. Dia berandai-andai, bagaimana jika orang yang mencium dan memeluknya sekarang adalah William? Bagaimana jika yang mengungkapkan perasaannya adalah William? Apakah dia akan menerimanya?


“Jeff, maafkan aku. Bukan maksudku untuk...”


“Ssssttt, aku tahu” Jeffrin menyela ucapan Rosaline. “Harusnya aku yang minta maaf padamu. Karena aku sendiri yang sudah janji untuk memulainya dengan perlahan, tapi justru sekarang aku yang terkesan seperti mendesakmu” ucapnya dengan mencium puncak kepala Rosaline.


Ponsel Rosaline yang di dalam sakunya berdering dan menghancurkan suasana romantis keduanya. Rosaline mengambil ponselnya, melihat yang menelfon adalah kakaknya. Dia menjauh sebentar dari Jeffrin untuk mengangkat telfonnya.


“Aku harus pulang sekarang” ucap Rosaline setelah kembali dari menelfon.


“Kakakmu menyuruhmu pulang?” Jeffrin tadi sempat melihat nama penelfonnya.


“Hmm, ini sudah malam. Dia khawatir kalau aku harus pulang sendirian.”


“Ck, kakakmu menyebalkan sekali mengganggu waktu kita berdua.”


“Mau bagaimana lagi, dia ‘kan kakakku. Aku harus patuh dengannya. Masih untung dia hanya menelfon, tidak mendobrak pintu apartemenmu itu” ucap Rosaline terkekeh.


“Dasar kakak yang kekanakan. Dia pikir adiknya ini masih bayi yang harus selalu diawasi...”


Rosaline geli dengan sikap Jeffrin. “Kalian berdua sama kekanakannya. Sudah tua tapi kelakuan seperti bocah. Aku rasa kalian berdua akan sangat cocok jika berteman.”


“Aku tidak mau berteman dengannya.”


“Tapi dia kakak kesayanganku, Jeff. Biasanya aku akan menuruti apa yang dikatakan kakakku” Rosaline mencoba menggoda Jeffrin.


“Apa makanan kesukaan kakakmu? Apa dia sedang membutuhkan sesuatu? Aku akan membantunya jika dia perlu bantuan” naluri penjilat Jeffrin mulai keluar.


Rosaline tertawa karena sikap Jeffrin yang berubah mendadak. “Jeff...Jeff, kamu benar-benar lucu. Sudahlah, kalau bercanda terus bisa-bisa aku terlambat pulang.”


“Aku bisa mengantarmu pulang...”


“Ahh tidak-tidak!” Rosaline buru-buru menyahut perkataan Jeffrin. “Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula rumahku jauh dari apartemenmu.”


Selalu seperti ini, begitu pikir Jeffrin. Rosaline selalu menolak jika dia ingin mengantarnya pulang.


Rosaline pulang dengan membawa buket bunga mawar di tangannya. Jeffrin hanya bisa mengantarnya sampai depan lift. Saat pintu lift terbuka, Rosaline menatap Jeffrin dan berkata, “Terima kasih untuk hari ini, Jeff. Aku sangat senang bisa makan malam bersamamu.”


“Hati-hati di jalan” ucap Jeffrin, lalu dia melepaskan tangan Rosaline. Akhirnya mereka pun berpisah.


Jeffrin menghela nafasnya, ia masih menatap kepulangan Rosaline. Meskipun malam ini terasa indah, tetapi Jeffrin masih belum tenang karena belum bisa mendapatkan hati Rosaline sepenuhnya. “Sampai kapan aku harus menunggumu terbuka padaku...” gumamnya.


🐤🐤🐤


Di Orchard Residence


“Grandma, grandpa, kalian belum istirahat?” ucap Rosaline yang baru saja datang. Dia melihat kakek, nenek, kakak, dan ayahnya sedang bersantai bersama.


“Belum, kami masih mau mengobrol dan menunggumu” jawab istri Tuan Rudy.


Rayen, Tuan Rudy, dan Tuan Anthoni cukup tercengang dengan buket bunga yang dibawa gadis kecil mereka.


“Ros, siapa yang memberimu bunga?” tanya Rayen menyelidik.


“Ahh ini...ini dari properti pemotretan. Sayang jika harus dibuang, makanya aku bawa pulang” Rosaline berusaha bersikap tenang agar tidak ketahuan bohong.


Sayangnya Rosaline payah dalam urusan berbohong. Karena nyatanya ketiga singa itu tidak bisa percaya, termasuk neneknya pun juga.


“Kalau begitu aku akan ke kamar dulu untuk bersih-bersih badan” ucap Rosaline yang ingin melarikan diri dari interogasi lebih lanjut.


“Apa cucuku tidak sadar kalau dia itu tidak pandai berbohong...” ucap Tuan Rudy dengan geleng-geleng kepala.


“Sekarang Ros pulang dengan buket bunga. Lalu selanjutnya apa lagi...” ucap Rayen.


Istri Tuan Rudy memperhatikan anaknya yang hanya diam saja. Namun dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya.


“Anakku, kamu tahu suatu hari nanti putrimu akan melebarkan sayapnya dan terbang jauh. Bahkan dengan kekuatanmu sekalipun tidak akan bisa menghentikannya jika waktu itu sudah tiba” ucap istri Tuan Rudy penuh pengertian kepada Tuan Anthoni.


“Aku tahu. Tapi saat waktunya tiba, akan kupastikan tidak akan ada seorang pun yang bisa menyakitinya” jawab Tuan Anthoni.


• Di sisi lain, di dalam kamar Rosaline •


Rosaline sedang berbaring di tempat tidur termenung dalam pikirannya. Malam ini terasa indah untuknya karena mendapat kejutan spesial dari Jeffrin. Dia meraba bibirnya dan mengusap perlahan. Bohong jika dia tidak merasakan apapun saat dicium Jeffrin. Jantungnya tetap berdebar meskipun dia belum bisa membalas perasaan pria itu. Rosaline tidak mau ambil pusing berlarut dalam kebingungan perasaannya. Dia hanya akan menjalani semuanya seperti air mengalir. Jika memang sudah waktunya, pasti nanti hatinya akan tahu berlabuh pada siapa. Yang jelas untuk saat ini dia masih belum mendapatkan jawabannya.