ME vs OM OM

ME vs OM OM
Aksi Heroik



“Apa yang terjadi?”


“Rosy, ada apa denganmu?”


Pertanyaan beruntun datang dari Rayen dan Tuan Rudy. Mereka berdua sengaja menunggu Rosaline di depan pintu masuk. Tetapi mereka dikejutkan dengan Rosaline yang digendong oleh seorang pria.


William mengerutkan kening. Dia bingung dengan situasi yang dihadapinya sekarang karena dihampiri oleh Tuan Rudy, dan pria yang bersamanya kemungkinan adalah Rayen, CEO dari Heinan Group.


“Boy, apa yang kamu lakukan pada cucuku?” Tuan Rudy bertanya pada William.


“Cucu?”


“Ya, dia cucuku, Rosy” ucap Tuan Rudy. Dia menyadari pemuda itu sepertinya tidak mengetahui identitas Rosaline. Semua tergambar jelas di raut wajahnya yang kebingungan.


William mencoba memahami situasi. Tak butuh waktu lama untuknya menyadari. William tidak menyangka perempuan yang ditolongnya adalah cucu dari Tuan Rudy.


“Jadi kamu....” ucap William dengan menatap Rosaline.


Rosaline tersenyum canggung dan menjawab, “Iya, benar.” Kini apa yang ditakutkan Rosaline terjadi juga. Pada akhirnya mereka berdua terpergok oleh kakek dan Rayen.


“Cepat turunkan aku dari gendonganmu sebelum keadaannya memburuk” ucap Rosaline lirih yang hanya bisa di dengar William. Pria itu pun menuruti perintah Rosaline dan menurunkannya. Rosaline tidak meninggalkan William begitu saja, ia akan terus berdiri di sampingnya sampai memastikan William tidak akan terkena masalah.


“Ros, coba jelaskan. Sebenarnya ini ada apa? Dan siapa pria yang bersamamu?” tanya Rayen menyelidik.


“Kak Rayen, grandpa, kalian tenang dulu, biar aku jelaskan semuanya.” Rosaline mengambil nafas dalam dan menghembuskannya. Rosaline menceritakan awal mula kejadian dari ia jatuh sampai kakinya yang menjadi lebih baik setelah ditangani oleh William. Tentunya Rosaline menyensor bagian pertengkarannya dengan William.


“Jarak dari taman ke tempat ini cukup jauh. Aku tidak mungkin jalan sendiri dalam keadaan kaki yang masih sedikit nyeri dan memakai high heels, aku takut akan memperparahnya. Maka dari itulah aku meminta bantuannya untuk menggendongku. Jadi kalian berdua jangan salah sangka dengan kami berdua” lanjut Rosaline bercerita.


William heran mendengar penjelasan Rosaline. “Kenapa dia berbohong? Apa mungkin dia sedang melindungiku?” ucapnya dalam hati. William masih ingat bahwa dirinyalah yang berinisitif menggendong, bukan atas permintaan Rosaline.


“Apa?! Terjatuh?!” Tuan Rudy kaget. “Bagaimana dengan pergelangan kakimu sekarang, Rosy?”


“Jauh lebih baik dari sebelumnya. Sakitnya mereda, dan semua ini berkat dia” mata Rosaline mengarah ke William.


“Jadi kamu yang sudah menolong Rosyku?” Tuan Rudy mengkonfirmasi ke William.


“Yang kulakukan bukanlah apa-apa, tuan. Hanya pertolongan kecil” ucap William.


“Baby, apa kamu ingin pergi ke rumah sakit?” tanya Rayen cemas.


“Tidak perlu, kak. Aku rasa ini tidak parah. Diobati dengan salep saja pasti sembuh” jawab Rosaline.


Mata Rayen yang jeli memperhatikan tangan Rosaline yang berada di lengan pria itu. Rayen tidak boleh marah, ia harus maklum, karena pria itu yang telah menolong Rosaline. Rasanya aneh, mengingat Rayen yang baru pertama kali bertemu tetapi ia merasa posisinya terancam oleh kehadiran pria itu. “Kenapa mendadak aku merasa dia akan mencuri Ros dariku....” ucapnya dalam hati.


Tuan Rudy bernafas lega karena cucunya tidak terluka serius. Melihat Rosaline yang berterima kasih kepada pria yang menolongnya, Tuan Rudy merasa perlu mengapresiasi tindakan heroik pemuda itu.


“Boy, katakan siapa namamu. Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu...” Tuan Rudy yang biasanya menunjukkan wajah garang, kini ia sedang tersenyum senang menatap William.


“Tuan Rudy, anda tidak perlu membalas saya...” ucap William.


Tuan Rudy mulai menyukai pemuda itu yang terlihat sopan dan rendah hati. Selain tampan, segala tindak tanduknya juga tulus. Menambah poin plus di mata Tuan Rudy.


Tanpa mereka sadari, perhatian orang-orang dari tadi terfokus ke mereka. Orang-orang berkerumunan, penasaran dengan keributan yang terjadi.


Diantara kerumunan, seorang wanita paruh baya juga turut ikut penasaran dan ingin melihat juga. Tetapi betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa ternyata putranya yang sedang menjadi pusat perhatian. Dia khawatir dan segera berlari menghampiri putranya. “William, apa yang terjadi?” Wanita itu melihat gadis muda yang berdiri di sebelah putranya. Tentu ia tahu gadis itu adalah nona muda dari Heinan Group.


Tuan Rudy mendekati wanita yang sepertinya kenal dengan pemuda yang menolong cucunya. “Nyonya, apakah dia putramu?”


“Ttu-tuan Rudy...” wanita itu gemetaran, takut kalau putranya sudah membuat masalah. “Iya. Dia adalah William, putra saya dan Theo.”


“Tuan Theo dari Eriston Group?” tanya Rayen.


“Benar...”


“Ahh, jadi kalian dari keluarga Eriston” ucap Tuan Rudy. “Boleh saya tahu nama anda, nyonya?”


“Saya Martha, tuan” Nyonya Martha berkeringat dingin.


“Nyonya Martha, anda membesarkan putra yang baik. William sudah menolong cucuku Rosy. Saya sangat berterima kasih padanya. Dan sebagai rasa terima kasih, saya ingin mengundang kalian untuk makan bersama” ujar Tuan Rudy.


“APA?!” ucap Rosaline dalam hati.


Pernyataan dari kakeknya membuat Rosaline tercengang. Niat awal Rosaline hanya ingin menyelamatkan William dari masalah. Tetapi hasilnya malah mengakrabkan keluarganya dan keluarga William. Ini sungguh di luar rencana Rosaline.


“Aa-apa? Makan bersama?” Nyonya Martha memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


“Ya, benar. Aku akan mengatur waktunya dan mengkonfirmasi ke kalian melalui asistenku” ucap Tuan Rudy.


Semua orang yang menyaksikan merasa iri, berharap merekalah yang berada di posisi William. Sekarang karena Rosaline, keluarga Heinanverero merasa hutang budi kepada keluarga Eriston.


“Tentu saja. Semua orang tahu betapa Nona Ros sangat disayangi keluarganya. Bahkan kabarnya Tuan Anthoni akan melenyapkan siapapun yang berani menyakiti putrinya.”


• Di sisi lain •


Ketika semua orang saling berbisik membicarakan kejadian itu, seorang ayah, ibu, dan anak terbakar amarah menyaksikan William dan Nyonya Martha disanjung oleh Tuan Rudy.


“Bil, lihatlah sepupumu. Sekarang dia dipuji-puji Tuan Rudy, bahkan dia juga punya peluang besar mendekati cucunya. Bukankah tadi aku mengingatkanmu untuk mendekati gadis itu?”


“Mom, sudah kulakukan. Aku sempat mengobrol dengannya, tapi aku tidak bisa berduaan dengannya karena selalu ada pria lain yang juga ingin mendekatinya. Apalagi ternyata Ros dekat dengan Glenn” ucap Billy.


“Apa kau takut dengan pria itu?” tanya ibunya.


“Aku cuma tidak mau cari gara-gara dengan Glenn. Mengusiknya sama saja cari mati, Glenn bukan orang sembarangan. Dan mommy tadi liat sendiri ‘kan kalau Ros juga kenal dengan Jeffrin. Persaingan ini terlalu berat. Lebih baik aku menyerah daripada harus berhadapan dengan dua pria menyeramkan.”


“Kau tidak boleh mudah menyerah, Bil. Jangan biarkan William menang!” ujar istri Tuan Thomas.


“Mom, tenanglah. Ros tidak mudah untuk di dekati. Dia nona muda yang tidak bisa berhubungan dengan sembarang orang. Pria semacam William jelas tidak akan masuk dalam kriterianya” ujar Billy.


“Sepertinya usaha William tidak sia-sia. Sekarang dia menjadi salah satu orang paling beruntung di negara ini karena telah menolong nona muda dari Heinan Group“ ucap Tuan Thomas sinis.


“Apa yang harus kita lakukan, Thom? Ayahmu pasti akan sangat senang mengetahui hal ini. Apalagi ayahmu berharap agar bisa menjalin kerja sama dengan Heinan Group. Lalu bagaimana kalau keluarga Heinanverero menjodohkan Ros dengan William? Kita akan kalah telak, Thom. Kita bisa tamat!” ucap istri Tuan Thomas pada suaminya.


“Bocah tengik itu selalu beruntung. Harusnya saat itu dia mati saja sekalian. Tampaknya kita harus merencanakan sesuatu untuknya.”


“Aku tahu, tapi apa Thom?”


“Adeline!” ucap Billy tiba-tiba.


Tuan Thomas mengangkat satu alisnya. “Untuk apa kau malah membahas gadis kecil itu?”


“Maksudku kita bisa memanfaatkan Adeline. Jika keadaan semakin memburuk, kita gunakan Adeline untuk menyerang William” Billy menyeringai licik.


Tuan Thomas dan istrinya angguk-angguk kepala. Mereka mengerti apa yang dimaksud anaknya.


“Kau memang pintar, Bil” puji istri tuan Thomas.


“Ya, kali ini idemu sangat cemerlang. Jika keluarga Heinanverero mengetahui fakta William yang diam-diam sudah punya anak, mereka pasti tidak akan menjodohkan Ros dengannya” senyum jahat terukir di wajah Tuan Thomas.


“Tentu saja. Keluarga terhormat Heinanverero tidak akan mau mendapat menantu yang punya aib seperti William” ucap Billy menyeringai.


🐤🐤🐤


Sementara itu, orang-orang akhirnya kembali ke tempat duduk mereka, meninggalkan urusan keluarga Heinanverero dengan keluarga Tuan Theo.


“Ayah, ada apa ini?”


Tuan Rudy menoleh, ternyata anak dan istrinya baru datang. “Ahh, Anthoni. Rosy tadi jatuh, kakinya terkilir. Dan pemuda ini, William, dialah yang sudah menolong Rosy.” Kemudian ia menceritakan kronologi lengkapnya ke Tuan Anthoni.


Istri Tuan Rudy yang sudah mendengar penjelasannya, ia mendekati Rosaline dan mengecek keadaan cucunya. “Rosy, bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit? Apa perlu kita panggil dokter?”


“Grandma, tenanglah. Aku tidak apa-apa” jawab Rosaline menenangkan neneknya.


“Kamu yakin, sayang? Mungkin sebaiknya kita pulang saja supaya kamu bisa istirahat.”


Rosaline terkekeh melihat reaksi berlebihan neneknya. “Tidak usah, grandma. Aku akan mengikuti acaranya sampai selesai.”


“Ray, bawa Ros ke ruang istirahat. Suruh orang membeli salep untuk mengobati Ros” perintah Tuan Anthoni. Jika Rosaline tidak mau dibawa ke rumah sakit atau dipanggilkan dokter, setidaknya Rosaline harus segera diobati.


“Baik, dad...” Rayen menghampiri Rosaline. Dan Rosaline langsung melingkarkan tangannya di lengan Rayen. Keduanya pun pergi meninggalkan para tetua.


Tuan Theo yang datang bersamaan dengan Tuan Anthoni, ia menanyakan detail kejadian ke Nyonya Martha. Dia cukup terkejut mendengar putranya menolong putri kesayangan Tuan Anthoni.


Tuan Anthoni menjabat tangan Tuan Theo dan memujinya karena telah memiliki putra sebaik William. “Anda sungguh punya putra yang baik. Aku benar-benar berterima kasih, karena berkat dia, putriku Ros sekarang baik-baik saja. Sama seperti permintaan ayahku, mari kita adakan acara makan bersama.”


“Suatu kehormatan bagi kami menerima undangan keluarga anda, Tuan Anthoni...” ucap Tuan Theo. Dia masih shock dengan segala hal yang barusan dialami keluarganya.


Tuan Anthoni, dan Tuan Rudy beserta istrinya, pamit untuk masuk ke dalam duluan. Menyisakan Tuan Theo, Nyonya Martha, dan William di tempat semula.


“Eem-kerja bagus, Will...” Tuan Theo ragu-ragu memuji putranya.


“Hmm” balas Willian sekenanya, dan ia pun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya untuk kembali ke kursinya.


Tuan Theo menghela nafas dan tersenyum miris. Meratapi hubungannya dengan William yang semakin merenggang dan canggung. “Aku benar-benar mengacaukannya, bukan?”


Nyonya Martha meraih tangan suaminya dan mengikuti William masuk ke dalam ruangan. “Sama sekali tidak. Bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya untuk mempercayai putramu. Dan juga tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan kalian...”