ME vs OM OM

ME vs OM OM
Menyadari Perasaan



• Di SJ Management •


Rosaline berdiri tercengang melihat buket bunga besar yang baru saja dia terima. Tadi pagi managernya menelfon kalau ada yang mengirimkan bunga untuknya. Jika diperhatikan, mungkin isinya sekitar 80 bunga mawar berwarna pink yang dirangkai dengan bunga-bunga kecil berwarna putih. Sungguh rangkaian bunga yang cantik, tak bisa dipungkiri kalau Rosaline sangat menyukainya.


“Ini sangat indah!” ucap Rosaline sambil memeluk buket bunga itu. Dia melihat tulisan di kartu ucapannya.


{ Have a nice day – From Adeline }


“Astaga, Adeline manis sekali. Aku tidak menyangka kalau dia bisa bersikap seperti ini” Rosaline tersenyum sambil melihat kartu dan bunganya secara bergantian.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke seseorang.


“Bunga dari siapa?” ucap Nyonya Ellena yang tidak sengaja bertemu Rosaline.


Rosaline menengok ke arah suara dan melihat seorang wanita yang dikenal baik olehnya. “Bunga ini dari gadis kecil kenalanku, namanya Adeline” jawabnya dengan senyum cerah di wajahnya.


“Gadis kecil bisa mengirimkan bunga sebesar itu untukmu?” Nyonya Ellena terheran. Dia mencium sesuatu yang mencurigakan, dan tidak sengaja dia membaca kartu ucapannya. Setelah melihatnya, kecurigaannya semakin besar. Seorang gadis kecil pasti akan menulis ucapan yang kekanakan, bukan malah seperti itu.


“Yah, kenapa tidak. Kami berdua memang dekat, jadi bukan hal aneh bukan kalau dia mengirimkan bunga untukku...”


“Memangnya Adeline ini siapa?” tanya Nyonya Ellena menyelidik.


“Ceritanya panjang jika harus ku jelaskan semua. Singkatnya, dia anak dari temanku William. Tapi aku lebih dulu mengenal Adeline sebelum bertemu dengan ayahnya”


Setelah mendengar penjelasan singkat itu, nyonya Ellena langsung bisa menebak dari mana datangnya bunga itu. Gadis muda yang berdiri di depannya ini sungguh polos. Dan lihatlah, senyuman di wajah cantiknya tidak pernah pudar saat memandangi bunga itu. Bahkan senyumannya berbeda sekali ketika dia menerima bunga dari Nexon.


Nyonya Ellena hanya bisa menghela nafasnya. Sebenarnya dia juga kaget mengetahui Rosaline kenal dengan pria yang sudah memiliki anak. Namun dia tidak ingin ikut campur urusan pribadi Rosaline. Dia juga tidak akan mengadukan hal ini kepada keluarganya, karena ini bukanlah ranah urusannya.


“Oh my dear Ros, apa kamu tidak sadar kalau yang mengirim bunga itu adalah ayahnya? Dan lihatlah, kamu begitu senang menerima bunga darinya. Apa kamu juga tidak menyadari perasaanmu sendiri? Astaga, ini membuatku gemas...” ucap nyonya Ellena dalam hati.


Nyonya Ellena mendekat ke Rosaline dan menepuk bahunya. “Ros, aku harap kamu bisa segera sadar dan membuka matamu lebar-lebar...” ucapnya berbisik. Setelah itu dia meninggalkan Rosaline yang masih kebingungan dengan maksud perkataannya.


🐤🐤🐤


• Di sisi lain, di MEGA Tech Corp •


Seorang pria sedang fokus dibalik meja kerjanya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan ada pesan baru masuk. Melihat siapa pengirimnya, membuat dadanya berdebar. Dia segera membuka dan membaca isi pesannya.


[ Tuan William, maaf jika mengganggumu. Aku minta tolong untuk menyampaikan pesan ini kepada Adeline.


‘Adeline, terima kasih. Bunganya sangat indah dan aku sungguh menyukainya. Mendapatkan bunga darimu membuat hariku menjadi lebih menyenangkan. Semoga kita bisa segera bertemu lagi. I miss you’


Jangan lupa untuk disampaikan. Terima kasih tuan William ]


Entah mengapa setelah membaca pesan itu membuat jantungnya semakin berdebar. William senang karena gadis itu menyukai bunganya. Yah, meskipun dia tidak memberikannya secara langsung dan menggunakan Adeline sebagai alibinya. Tanpa disadari, senyuman sudah menghiasi wajah pria itu. Bahkan dia juga tidak sadar kalau sudah ada orang yang berdiri di sampingnya.


“Kau senang?” terdengar suara yang mengagetkan dan menyadarkan William. Dia langsung mematikan layar ponselnya. Lalu dia menoleh dan melihat Steve sedang berdiri di sampingnya sambil menunjukkan seringai penuh arti.


William berdehem menetralkan dirinya. “Ada apa?”


“Sepertinya suasana hatimu sedang baik hingga bisa tersenyum. Apa es di kutub selatan sudah mulai mencair?”


“Apa kau ke ruanganku untuk bicara omong kosong?” kini William sudah kembali lagi ke mode dinginnya.


Steve tidak menjawab pertanyaannya dan memilih untuk duduk di sofa. Tadi dia sempat melihat sekilas William sedang berkirim pesan dengan Rosaline. Dan hal ini sudah cukup membuktikan bahwa prasangkanya memang benar.


“Kau menyukainya” ucap Steve serius. Ini bukanlah pertanyaan, tetapi pernyataan.


“What?”


Steve menatap William dengan serius. “Kau sudah menyukainya, William” dia berhenti sejenak. “Apa aku juga perlu menyebutkan namanya?”


Seketika William membeku. Bibirnya mendadak kelu, tak mampu mengatakan sesuatu untuk menyanggah perkataan sahabatnya.


Tak ada respon dari pria itu, Steve menyunggingkan senyum sinis. “Lihat, kau bahkan tidak tahu bagaimana cara mengelaknya”


“Aku sudah mengenalmu bertahun-tahun, dan selama itu juga aku tak pernah sekali pun melihatmu seperti ini terhadap seseorang. Kau mungkin tidak menyadarinya dan tidak akan mengakuinya, tapi aku bisa membacanya”


William hanya mendengarkan perkataan pria menyebalkan itu. Memangnya Steve tahu apa tentang dirinya?


“Meskipun kau mengelak apapun yang kukatakan, aku akan tahu disaat kau bohong atau jujur. Sebenarnya aku tidak ingin membahas ini, tapi sepertinya aku juga perlu memberitahumu....” Steve mengambil nafas dalam dan menghembuskannya. “Aku tahu tentang Adeline. Aku sudah tahu semuanya sejak lama. Seribu kali pun kau meyakinkanku saat ini, aku tidak akan percaya”


Sungguh kali ini William tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya seperti terkena serangan jantung mendengar ucapan Steve yang mengetahui rahasianya.


“Sampai kapan kau akan terus fokus pada gadis kecil itu dan mengabaikan dirimu sendiri? Jika kau ingin menghancurkan hidupmu untuk menebus rasa bersalahmu, maka pikirlah dua kali. Setidaknya pikirkanlah mamamu. Dia terlihat baik-baik saja dihadapanmu dan menerima semua keputusan bodohmu, tapi apa kau pernah memikirkan perasaannya? Mamamu juga hancur saat melihatmu hancur, dan kau akan semakin menambah luka di hidupnya”


“Kau harus melanjutkan hidupmu dan memulai kehidupanmu sendiri, Will. Jika kau penasaran kenapa aku baru mengatakan hal ini sekarang, alasannya karena sekarang sudah ada Raline. Aku sengaja menunggu waktu yang tepat sampai ada seseorang yang berhasil mendekati benteng pertahanan yang kau bangun. Dan ternyata orang yang perlahan meruntuhkan bentengmu dan memasuki wilayahmu adalah gadis muda itu”


“William, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Semuanya sudah berlalu bertahun-tahun, jadi sekarang lupakanlah. Kau bahkan sudah berkorban untuk sesuatu yang tidak perlu...”


Mendengarkan ucapan itu, William langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Steve.


“Kau tidak pernah tahu apa yang aku rasakan, karena kau tidak berada di posisiku. Jadi jangan pernah mengatakan kalau Adeline adalah sesuatu yang tidak perlu” ucap William dingin dan mencengkram kerah kemeja Steve.


“Kau tahu kan kalau bukan begitu maksudku. Jangan pura-pura bodoh” balas Steve santai. Dia justru menatap William dengan sendu.


Kemudian William melepaskan cengkramannya dan ikut duduk di samping Steve.


“Apa menurutmu aku sudah menjadi ayah yang baik untuknya?” ucap William lirih.


Steve tersenyum menatap sahabatnya. “Kau sudah berusaha yang terbaik untuk gadis kecil itu...”


“Apa menurutmu aku akan dimaafkan?”


Suara William begitu lemah dan putus asa. Steve tidak tega, ini adalah kali pertama pria dingin itu terlihat rapuh dihadapannya.


“Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau adalah pria terbaik dan paling tulus yang pernah ku kenal, Will. Jadi aku mohon jangan lagi membentengi dirimu. Kau juga berhak bahagia...” ucap Steve tulus sambil menepuk punggung pria itu.


“Ngomong-ngomong, apa Adeline mirip dengan ibunya?” tanya Steve.


William tersenyum menatap sahabatnya dan menjawab, “Ya, Adeline sangat mirip dengannya”


“Apa dia cantik?”


“Hmm”


Steve menganggukkan kepala tanda mengerti.


“Hei Will, menurutku jika kau mengatakan Adeline adalah anak Raline, orang-orang pasti akan percaya. You know, karena mereka berdua sama-sama terlihat cantik dan menggemaskan” Steve tidak sadar kalau candaannya itu bisa membangunkan sisi keiblisan dari William. Berani-beraninya dia mengatakan hal seperti itu tentang Rosaline.


“Apa kau cari mati?” William sudah mengeluarkan aura horornya.


Steve tertawa melihat sikapnya. Dia tidak percaya kalau William bisa mengatakan itu karena tidak terima jika Rosaline dipuji oleh pria lain. “Sepertinya aku mencium aroma terbakar disini. Will, kau sungguh terlihat seperti orang bodoh saat ini”


“Aku sangat membencimu, Stev. Rasanya aku ingin sekali membunuhmu karena kau selalu tahu semua rahasiaku”


“Aku juga sangat mencintaimu sayang. Itu karena aku terlalu memahami dan mengenalmu dengan baik. Kau tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari pria tampan sepertiku” ucap Steve dengan bangga. Dia sudah paham kalau William sedang mengungkapkan rasa bersyukurnya karena memiliki sahabat yang selalu mengerti dirinya.


“Idiot” ucap William sinis.


“Kau yang idiot! Sudah setua ini tapi tidak pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta malah dengan gadis muda. Dan kau menjadi super idiot karena tidak bisa menyadari perasaanmu sendiri”


“Menyadari perasaanku?”


“Oh God, si idiot ini belum sadar juga. Will, apa kau bingung dengan perasaanmu? Jika kau masih bingung, maka cari tahu jawabannya. Dekati dia, dan kau akan menemukan jawabannya” ucap Steve kesal. Sahabatnya itu masih diam, tidak merespon perkataannya. Tetapi di wajah William terlihat jelas kalau dia tidak tahu harus berbuat apa.


“Mendekati Raline?” ucap William dalam hati.


“Iya dia! Raline! Memangnya siapa lagi perempuan yang bisa didekati oleh tuan William Dave Eriston yang suci ini” jawab Steve seolah tahu apa yang dipikirkan William. Steve sebal karena sahabatnya terlampau polos dan bodoh. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa William menghabiskan 32 tahun hidupnya dengan sia-sia.


“Tapi aku tidak menyukainya”


“Wah wah, kau masih tidak mengakuinya? Astaga, kau sungguh membuatku frustasi. Sampai Aladdin bisa terbang dengan keset welcome pun aku tidak akan percaya dengan ucapanmu itu, Will!” Steve merasa geram dengan si bodoh William.


“Hei dengar ya, jika ada kesempatan bertemu lagi dengannya, jangan sia-siakan. Kau tidak akan pernah tahu jawabannya jika belum mencoba. Bahkan secara tidak langsung Adeline sudah membantumu. Kalau kau masih diam saja, kau adalah keledai terbodoh dan idiot di dunia ini” sekali lagi Steve mencoba meyakinkan William.


“Dan jika kau tetap tidak mau mendekati Raline, maka aku akan membangunkan kuil untukmu di daerah pegunungan supaya kau bisa fokus menjadi pemimpin biksu suci disana” kali ini ucapan Steve memang patut untuk dihajar.


“Bolehkah aku mematahkan tulang si brengs*k ini?” umpat William dalam hati.


“Apa akhir-akhir ini aku terlalu baik padamu sehingga kau berani melunjak padaku?” sindir William.


Steve mengapit leher William. “Brother, ini adalah nasihat dari pria tampan untuk saudara tersayangnya. Pikirkan baik-baik semua perkataanku barusan. Ini demi masa depanmu. Ingat, kesempatan tidak datang dua kali”


William merenungkan semua nasihat pria menyebalkan itu. Dia tidak percaya kalau Steve bisa mengetahui rahasia yang disimpan rapat olehnya, bahkan pria menyebalkan itu juga bisa mengerti perasaannya.


Sebenarnya William masih tidak tahu dengan dirinya sendiri. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan perasaan yang aneh. Entah mengapa saat melihat berita Rosaline berkencan dengan Nexon, dadanya terasa sesak. Namun setelah Steve mengatakan bahwa berita itu tidak benar, hatinya merasa lega. Dan dengan gegabahnya dia menggunakan Adeline untuk mengirimkan bunga untuk gadis itu.


‘Karena itulah aku berpikir Raline butuh orang yang bisa menyayangi dan melindunginya dengan baik dalam keadaan apapun. Nexon itu masih muda dan labil. Jadi Raline pantas mendapatkan sosok pria pendamping yang lebih dewasa dan perhatian ’


William jadi teringat perkataan Steve semalam. Dia jadi berpikir, apakah dirinya adalah pria yang pantas untuk gadis itu? Gadis itu begitu cantik, muda, mengagumkan, dan terlihat sempurna di matanya. Sangat berbanding terbalik dengan William.


“Apa benar aku menyukai Raline? Tapi apa pria sepertiku pantas untuk mendekatinya?” ucap William dalam hati.