ME vs OM OM

ME vs OM OM
Malam Keajaiban



Rosaline memikirkan apa yang harus dilakukan. Makanan yang ada diatas meja makan terlalu berminyak dan terlalu berat untuk dimakan pada saat keadaan tubuhnya yang kurang sehat seperti ini.


Adeline duduk manis disampingnya, menunggu Rosaline mengambil makanan. Gadis kecil itu terus saja menunjuk ke arah makanan yang berbeda, seolah meminta Rosaline untuk memakan makanan yang ditunjuk oleh gadis kecil itu.


Tiba-tiba, semangkuk bubur datang dari arah belakang Rosaline. Dia berbalik dan melihat siapa yang memberikannya bubur. Pria itu tidak berbicara sama sekali dan langsung pergi duduk ke sisi lain Adeline setelah memberikannya bubur.


“Terima kasih...” ucap Rosaline kepada pria yang memberikan bubur itu.


Adeline yang melihat hal itu langsung memelototi pria tersebut. Pelototan mata itu memberitahukan bahwa, “Aku yang akan merawat tante, ayah tidak perlu ikut terlibat ”


Pria itu tentu saja tahu maksud dari gadis kecilnya. Dia melihat betapa dinginnya gadis kecil itu memelototi dirinya. William hanya menggelengkan kepala dan memilih mengabaikannya. Kemudian William menaruh makanan di piring Adeline.


Rosaline mulai mencicipi bubur yang tadi diberikan oleh William. Gadis itu tersenyum senang dan puas setelah mencicipi bubur yang ternyata sesuai dengan seleranya. Rosaline tidak bisa mengendalikan ekspresinya itu, hingga membuat Adeline yang duduk di sampingnya menyadari ekspresi senangnya.


Adeline kembali menatap ke arah ayahnya dan menganggukkan kepalanya satu kali. Maksud dari gadis kecil itu adalah, “Bagus. Kali ini ayah sudah melakukannya dengan baik ”


William benar-benar tidak percaya dengan perlakuan gadis kecilnya terhadap dirinya saat ini.


Apa sekarang kamu masih menganggapku sebagai ayahmu... – ucap William dalam hati sambil menatap Adeline.


Pria itu akan mengabaikan perlakuan gadis kecilnya dan memilih untuk melanjutkan makan malam.


🐤🐤🐤🐤🐤


Setelah makan malam selesai, Rosaline kembali ke kamar tamu untuk beristirahat. Dia menemukan shopping bag diatas tempat tidurnya. Sebelumnya, William sudah menyuruh salah satu pelayan untuk membeli beberapa pakaian ganti untuk digunakan Rosaline. Dan begitu Rosaline membuka isi shopping bag itu, dia merasa terheran karena ternyata William membelikan berbagai macam pakaian untuknya, padahal dia hanya akan menginap untuk malam ini saja.


“Sebenarnya apa yang dipikirkan orang itu. Pakaian ini bahkan terlalu banyak jika hanya untuk kugunakan satu malam...” gumam Rosaline.


Rosaline tidak mau memikirkannya lebih lanjut lagi. Dia mengambil salah satu pakaian untuk tidur dan langsung menggantinya di kamar mandi.


Saat Rosaline bersiap untuk tidur, dia terkejut karena tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Munculah Adeline dari balik pintu menggunakan piyama yang saat itu dibeli bersamanya. Rosaline tersenyum melihat gadis kecil itu yang tampak menggemaskan.


“Apa kamu ingin tidur denganku?” ucap Rosaline lembut dan tersenyum.


Adeline tentu saja menganggukkan kepalanya dengan semangat. Gadis kecil itu langsung berhamburan ke pelukan Rosaline diatas tempat tidur.


Beberapa menit setelah keduanya berbaring di tempat tidur, gadis kecil itu masih saja belum tidur. Membuat Rosaline bingung harus berbuat apa supaya gadis kecil itu segera tertidur. Rosaline belum pernah mengasuh anak kecil sebelumnya, terlebih dia adalah anak bungsu, jadi sudah pasti dialah yang diasuh oleh kakaknya.


Kemudian dia terpikirkan sesuatu untuk membuat gadis kecil itu segera tidur. “Apa Adeline mau tante nyanyikan lagu pengantar tidur?” ucapnya lembut sambil membelai rambut Adeline.


Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


“Tapi Adeline harus janji untuk segera tidur saat tante menyanyikan lagu untukmu...”


Dan gadis kecil itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Kemudian Rosaline memilih menyanyikan lagu pengantar tidur Rock A Bye Baby.


Rock a bye baby in the tree top


When the wind blows the cradle will rock


When the bough breaks the cradle will fall


Down will come baby cradle and all...


Baby is drowsing, cozy and fair


Mother sits near in her rocking chair


Forward and back, the cradle she swings


Though baby sleeps, she hears what she sings...


Rock a bye baby do not you fear


Never mind baby mother is near


Wee little fingers eyes are shut tight


Now sound asleep until morning light...


Saat Rosaline perlahan bersenandung lagu tidurnya, dia melirik Adeline dan di dapatinya gadis kecil itu sudah memejamkan matanya dan tertidur lelap. Kemudian Rosaline manarik selimut untuk menutupi tubuh gadis kecil itu.


“Good night, little princess....” ucap Rosaline tersenyum sambil mengecup kening Adeline.


“Good night”


Rosaline terkejut setengah mati dan rasanya ingin berteriak karena mendengar suara yang membalas ucapan selamat malamnya. Suara balasan ini tentu saja bukan dari gadis kecil di depannya yang sudah tertidur lelap.


Perlahan Rosaline membalikkan tubuhnya untuk menatap ke arah pintu kamarnya. Dan di dapatinya sosok pria tinggi menyilangkan tangannya di dada menggunakan pakaian tidurnya. Dia sedang berdiri di depan pintu yang memang sedikit terbuka karena tidak ditutup rapat oleh Adeline. Pria itulah yang membalas ucapan selamat malam Rosaline.


Demi apapun, rasanya aku ingin sekali membenturkan kepalaku ke tembok saat ini juga. Sejak kapan dia berdiri disitu. Apa dia mendengarkanku bernyanyi sejak tadi? Jika iya... Astaga, aku benar-benar sangat malu... – ucap Rosaline dalam hati.


“Ttu-tuan William...” ucap Rosaline canggung.


Kemudian William melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar.


“Adeline datang ke kamarku dan ingin tidur bersamaku. Maaf jika membuatmu merasa keberatan....” ucap Rosaline merasa tidak enak.


“Tidak masalah”


Pria itu duduk di ujung tempat tidur di samping sisi Adeline tidur. Kemudian dia mencium kening gadis kecilnya.


William beralih menatap Rosaline dan menyadari bahwa wajah gadis itu masih terlihat pucat. “Apa masih sakit?”


“Yah, masih sedikit sakit. Tapi aku sudah merasa baikan dibandingkan tadi” jawab Rosaline.


William kemudian keluar dari kamar Rosaline tanpa berkata-kata lagi, meninggalkan gadis itu yang merasa kebingungan.


Apa-apaan orang itu? Dia datang dan pergi sesuka hatinya. Benar-benar sulit ditebak – ucap Rosaline dalam hati.


Rosaline hanya menggelengkan kepalanya saja, tidak mau mempermasalahkan lebih lanjut.


Tak lama dari itu, tiba-tiba Rosaline merasakan kepalanya sakit lagi dan perutnya terasa mual. Mengingat saat ini gadis itu juga sedang terkena sedikit demam. Rosaline pun langsung ke kamar mandi.


Ketika Rosaline keluar dari kamar mandi, dia mendapati William kembali lagi ke kamarnya dan membawa cangkir yang Rosaline tidak ketahui apa isinya.


“Ini, minumlah” ucap pria itu menyodorkan cangkir.


Rosaline menerima cangkir itu. Dia mengendus isi cangkirnya, dan ternyata itu adalah minuman jahe hangat. Selama ini saat Rosaline sakit kepala atau merasa mual, dia tidak pernah mau meminum air jahe meskipun dipaksa seisi penghuni rumahnya. Dan sekarang, dia dihadapkan dengan kenyataan William yang membawakan salah satu minuman yang tidak disukainya itu.


Rosaline beralih menatap William, pria itu masih saja menatapnya, menunggu agar dirinya segera meminum air itu.


Aku senang karena orang ini ternyata tidak seburuk yang diucapkan Mister Evan, dan justru sekarang sedang peduli padaku yang sedang sakit. Tapi masalahnya....kenapa harus memberikanku minuman ini – ucap Rosaline dalam hati.


“Tunggu apalagi, cepat diminum” ucap pria itu dengan nada santai tapi terkesan memberikan perintah pada Rosaline.


Rosaline yang mendengar perintah pria itu, seketika langsung mengeluarkan tatapan memelas anak anjingnya, berusaha membujuk pria itu agar dia tidak perlu meminumnya.


William merasa lucu melihat tatapan memelas Rosaline, tapi tentu saja pria itu berusaha menekan ekspresi wajahnya. Dia menyadari kalau gadis di depannya itu tidak menyukai minuman yang dibawanya. Tapi William juga tidak mau jika Rosaline tidak meminumnya, karena dia khawatir kalau gadis itu akan terus merasakan sakit dan tidak nyaman sepanjang malam. Selain itu, William juga harus bertanggungjawab merawatnya karena sudah membawa gadis itu tinggal di rumahnya.


“Pilih aku membantumu meminumnya, atau kamu akan meminumnya sendiri” ucap William.


Astaga, satu lagi om om yang bertindak seenaknya sendiri. Pilihan macam apa itu... – batin Rosaline.


William menghela nafasnya. “Aku tahu kamu tidak menyukainya. Tapi setidaknya dengan meminum ini, akan mengurangi rasa sakitmu dan akan menghangatkan badanmu” ucap William.


Rosaline tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak menyukai minuman itu, tapi dilain sisi, dia juga merasa tidak enak jika menolak kebaikan William.


Rosaline menghela nafasnya. “Apa boleh buat...” gumamnya pasrah. Dan dia pun menutup hidungnya, lalu meneguk cepat minuman itu.


Setelah habis, Rosaline mengecap lidahnya berulang kali karena terasa aneh dimulutnya.


Ini benar-benar karma untukku karena waktu itu sudah memaksa Jeffrin. Terkutuklah kau Rosaline – ucap Rosaline dalam hati.


William lega karena gadis itu akhirnya mau meminum air jahenya. Kemudian dia mengambil cangkir kosong di tangan Rosaline dan berkata, “Good”


“Aku harap minuman ini akan membuat badanku lebih enak. Aku tidak ingin pengorbananku sia-sia” ucap Rosaline dengan wajah melasnya.


“Tentu tidak akan sia-sia”


Rosaline menatap pria di depannya itu. “Aneh. Kenapa aku mau menuruti perintah orang ini” ucapnya dalam hati.


“Yah, semoga saja...” ucap Rosaline dengan tersenyum.


“Segeralah beristirahat. Selamat malam, nona Raline”


Rosaline menatap hangat pria di depannya itu dan menjawab, “Selamat malam juga tuan William. Terima kasih atas semuanya. Selamat beristirahat...” ucapnya dengan tersenyum tulus.


Melihat Rosaline tersenyum hangat tepat di depan wajahnya, membuat jantung William tiba-tiba berdetak cepat. Dengan segera William keluar dari ruangan itu untuk mencegah hal-hal bodoh terjadi pada dirinya. Namun pikirannya masih terus saja memikirkan senyuman dari gadis itu saat berterima kasih padanya.


🐤🐤🐤🐤🐤


Setelah William keluar dari kamarnya, Rosaline kembali berbaring disamping Adeline yang sudah tertidur lelap. Dia mengambil ponselnya di meja samping tempat tidur dan mengirimkan pesan pada ayah dan kakaknya, memberitahukan bahwa saat ini dia tidak pulang ke rumah karena sedang menginap di apartemen Angel. Mau tidak mau Rosaline harus berbohong, karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.


Setelah mengirim pesan, Rosaline menatap gadis kecil yang sedang tidur disampingnya.


Adeline...aku penasaran kenapa kamu menjadi anak yang tidak banyak bicara dan terlihat menutup diri terhadap orang lain. Tapi apa yang membuatmu begitu menyukaiku? Dan sepertinya aku pun juga tidak bisa mengabaikanmu begitu saja. Sebenarnya takdir apa yang sudah membuat hubungan kita menjadi seperti ini.... - ucap Rosaline dalam hati sambil menatap Adeline.


Rosaline masih dalam pikiran seriusnya. Malam ini terasa seperti mimpi baginya. Dia merasa saat ini sedang terlibat hubungan yang aneh. Bagaimana bisa dia berakhir di rumah seorang pria yang baru dikenalnya beberapa jam lalu? Yah, meskipun Rosaline memang sudah lama mengenal anaknya. Tapi entah kenapa setelah dilihat-lihat, wajah William tampak tidak asing baginya.


“Apa kebetulan aku pernah bertemu dia sebelumnya? Tapi kapan dan dimana... Apa mungkin aku sudah melupakan sesuatu? Sebenarnya ada apa denganku...” gumam Rosaline penasaran.


Ketika Rosaline memikirkan hal-hal yang baru saja terjadi padanya, tanpa sadar gadis itu mulai mengantuk dan akhirnya terlelap tidur.


Malam ini, semua keajaiban terjadi di rumah William. Tidak hanya karena ada kehadiran Rosaline, atau segala hal yang sudah terjadi di rumah itu. Tetapi juga karena setelah sekian lama, akhirnya kedua orang itu harus dipertemukan lagi oleh takdir. Dan semua itu terjadi berkat perantara gadis kecil yang bernama Adeline.


Sepertinya memang takdir tidak ingin melepaskan kedua orang itu begitu saja. Namun apakah ini akan menjadi takdir baik atau takdir buruk bagi Rosaline dan William? Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawabnya.