
• Pagi hari di kediaman pribadi William •
William sedang melakukan sarapan bersama dengan Adeline. Kemarin William sudah membawa Adeline kembali ke rumah pribadi miliknya. Dia sudah menyelesaikan semua urusannya diluar kota, dan selain itu dia juga sudah terlalu lama menitipkan Adeline di rumah orang tuanya.
Sekarang ini Adeline kembali memakai pakaian yang dipilihkan oleh Rosaline. Dia memakai jumpsuit beruang yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan saat dia pakai, hingga mampu melelehkan hati pria sedingin es itu.
Ketika mereka sedang sarapan, terdengar bunyi bel rumah. Pelayan rumah itu langsung membukakan pintu untuk melihat tamu tersebut.
“Selamat pagi tuan Steve, tuan Evan, tuan kecil Zeno” ucap kepala pelayan sambil mempersilahkan masuk ke dalam rumah dan mengawal menuju meja makan.
Ketiganya pun mengikuti masuk ke dalam menuju area meja makan, dan betapa terkejutnya kedua pria dewasa itu hingga membelalakkan matanya karena tidak bisa mempercayai apa yang sedang dilihatnya sekarang. Berbeda dengan Zeno, dia terlihat tenang karena sudah tahu sebelumnya, toh dia juga ada ketika sedang berbelanja saat itu.
Kedua pria dewasa itu menggelengkan kepalanya ketika mereka melihat untuk pertama kalinya Adeline memakai pakaian yang seperti itu. Terlebih lagi wajah Adeline tampak lebih ceria dari biasanya.
“Will, apakah aku sedang bermimpi” ucap Steve dengan wajah terkejutnya.
“Kemari, duduklah” ucap pria berhati dingin itu dan mengabaikan pertanyaan temannya.
Ketiganya pun akhirnya duduk. Zeno memilih duduk di samping Adeline. Gadis kecil itu terlihat senang karena kedatangan temannya. Lalu pelayan yang bertugas di dapur menyiapkan peralatan makan untuk digunakan ketiga tamu yang baru datang.
William terlihat tenang menikmati sarapan paginya. Setelah peralatan makan tersedia, Evan yang duduk disamping Zeno, menyiapkan sarapan untuk dimakan anaknya itu dan untuk dirinya sendiri. Sedangkan Steve masih terbengong dengan situasi saat ini.
“Hei Will, sebenarnya ada apa ini? Tidak seperti biasanya Adeline terlihat seperti itu. Kau sudah apakan dia?” ucap Steve yang masih terheran.
“Tidak ada” jawab William di sela-sela makannya.
“Apa mamamu yang membelikan pakaian itu? Tapi sepertinya itu tidak terlihat seperti selera mamamu” tanya Steve sembari mengambil sarapan.
“Memang bukan”
Steve mengerutkan keningnya. “Lalu siapa?”
“Dia membelinya sendiri”
“Sendiri? Maksudmu dia membeli sendiri?” Steve masih saja tampak bingung. Dia masih tidak paham dengan jawaban William.
“Dia membelinya menggunakan kartu yang aku berikan padanya”
Ini berita yang cukup membuat Steve terkejut. Steve juga tahu kalau selama ini Adeline tidak pernah menggunakan kartu miliknya.
“Tu-tunggu. Adeline membeli pakaian itu sendiri dan memilihnya sendiri, begitu maksudmu?
“Orang lain yang memilihkan”
Ini menarik. Steve ingin menyelidikinya lebih lanjut. “Hei Will, siapa orang lain itu? Apa dia seorang laki-laki atau seorang perempuan?” tanya Steve menyelidik di sela-sela makan.
“Perempuan”
Kali ini Steve merasa sangat terkejut mendengar jawabannya. “Perempuan?! Siapa dia??” tanyanya. Kemudian Steve mulai berasumsi sendiri dan menatap melotot ke arah William. “Will! Apakah kau berencana untuk menikah??!” ucapnya dengan meninggikan suaranya.
Evan yang sedang menikmati sarapannya, seketika merasa shock dan tersedak makanannya saat mendengar ucapan yang dilontarkan temannya itu.
Sedangkan dua anak kecil yang lain hanya diam saja. Memilih untuk menikmati sarapan mereka dan tidak menghiraukan pembicaraan orang dewasa.
“Steve...” ucap William dengan nada meninggi, sambil menatap dingin dan tajam ke arah temannya itu.
“I’m sorry, my bad” ucap Steve menyesal.
“Tetapi kenapa Adeline bisa dekat dengan perempuan itu? Bukankah selama ini Adeline tidak pernah dekat dengan orang asing dan hanya bersama dengan keluargamu, pengasuhnya, aku, atau keluarga Evan saja...” tanya Steve yang merasa semakin penasaran sejak mengetahui adanya seorang perempuan yang hadir di kehidupan Adeline dan William itu.
“Entahlah. Aku tak mengenalnya sama sekali. Dia menghabiskan waktu jalan-jalan bersama dengan Adeline. Mama dan Zeno juga ikut jalan-jalan saat itu. Dan mungkin juga ada alasan lain hingga membuat Adeline menyukainya” balas William.
Setelah mendengar jawaban William, Steve melihat ke arah Adeline, dan menyadari alasan kenapa Adeline menggunakan jumpsuit itu. “Jadi dia yang memilihkan pakaian itu untuk Adeline. Dan aku tebak, Adeline pasti sangat menyukai perempuan itu”
Evan yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan kedua temannya itu, kini mulai tertarik untuk ikut bergabung. Dia mengingat sesuatu setelah mendengar jawaban dari William.
Adeline sudah selesai dengan sarapannya meskipun tidak habis. Zeno yang sudah makan walaupun baru sedikit juga ingin menyudahi sarapannya ketika melihat Adeline sudah selesai. Kemudian Evan menyuruh keduanya untuk pergi bermain saja. Kedua anak kecil itu pun menurut dan meninggalkan meja makan. Evan ingin mengobrol dengan temannya tanpa ada anak kecil yang mendengarnya agar lebih leluasa.
“Maksudmu jalan-jalan yang waktu itu? Aku ingat. Zeno saat itu bercerita padaku dan istriku kalau ada seorang perempuan yang ikut jalan-jalan dengan mereka. Dan semenjak hari itu, entah kenapa Zeno jadi mau makan sayuran. Dan menurutku ini aneh. Lalu kata Zeno, perempuan itu menasehatinya dan Adeline supaya mau makan sayuran. Ajaib sekali anakku mau menuruti perkataan perempuan itu. Aku hanya mengira kalau perempuan itu mungkin adalah kenalan mamamu, sehingga aku tidak curiga dan menanyainya lebih lanjut. Zeno pun juga tidak menceritakan apa-apa lagi tentang perempuan itu. Aku pun tak masalah, karena yang penting anakku tidak mendapatkan pengaruh buruk” ucap Evan.
Steve merasa semakin terheran dengan apa yang barusan di dengarnya. “Benarkah?! Sebenarnya siapa perempuan ini?”
“Raline” ucap William.
“Namanya Raline?” Steve bingung dan memiringkan kepalanya.
“Raline...?” Evan merasa tidak asing dengan nama ini. Seperti pernah mendengar sebelumnya.
“Hmm” jawab William.
Kemudian Evan teringat sesuatu dan tiba-tiba mengambil ponsel di saku celananya. Evan ingin melihat isi pesan yang dikirimkan istrinya yang saat itu tak sempat dia lihat dengan benar. Dicarinya pesan yang sudah agak lama, dan akhirnya dia menemukan pesan yang dia cari. Evan melihat sebuah foto yang dikirimkan istrinya kepadanya. Foto itu berasal dari nyonya Martha, ia mengirimkan foto kebersamaan saat jalan-jalan di hari itu ke istri Evan.
“Astaga...” ucap Evan tiba-tiba. Dia mengusap keningnya, kemudian tersenyum kecil.
Steve dan William pun menoleh ke arah Evan yang tiba-tiba bertindak aneh.
“Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Steve.
Evan kembali tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Aku bahkan mengenal siapa Raline yang kita bicarakan dari tadi” ucapnya terkekeh geli. Dia merasa bodoh karena baru menyadari siapa perempuan yang dibicarakan sejak tadi.
“Kau mengenalnya??! Siapa perempuan itu? Katakan! Cepat jelaskan. Jangan membuatku penasaran” ucap Steve antusias.
Evan kemudian menjelaskan siapa perempuan yang dari tadi dibicarakan. “Raline adalah salah satu mahasiswi di kampusku. Aku lumayan mengenalnya, karena dia adalah salah satu mahasiswi yang cemerlang. Bahkan aku sempat menawarinya untuk menjadi asistenku. Raline ini juga sepertinya sangat populer di kampus tempatku mengajar” terang Evan dengan manatap Steve dan William bergantian.
“Wow, ini semakin menarik. Raline benar-benar penuh kejutan. Lalu apa lagi? Seperti apa Raline ini?” tanya Steve semakin antusias.
“Menurut pandanganku, dia anak yang baik, sopan, pintar, ramah, toleran dengan teman-temannya, dan juga....yaah, bisa dibilang dia masuk kategori cantik” jawab Evan.
William masih menjadi pendengar setia, meskipun dia tidak bertanya pada Evan.
“Hei, katakanlah dengan benar. Jadi Raline ini cantik atau tidak? Jangan bicara menggantung seperti itu” ucap Steve.
“Ck! Dasar kau ini bodoh sekali! Bagiku ya jelas saja hanya istriku yang paling cantik. Mana boleh aku mengatakan perempuan lain cantik secara terang-terangan. Apalagi disaat istriku sedang pergi seperti ini. Aku ini suami yang tanggung jawab dan sayang anak istri. Mengerti tidak!” jawab Evan mengotot kesal menatap Steve.
“Cih, dasar budak pemuja istri” Steve mengejek Evan dan menyeringai jahil.
“Mulutmu ini ingin sekali aku kucir. Makanya cepatlah menikah bodoh! Kau juga pasti akan merasakan sepertiku jika sudah menikah nanti” jawab Evan.
Steve tidak ingin merespon perkatan Evan. Dia lebih memilih untuk melanjutkan topik tadi yang membuatnya semakin penasaran. “Ngomong-ngomong, apa kau punya foto mahasiswimu itu? Atau mungkin kau tahu media sosialnya?”
“Aku punya foto Raline bersama dengan Adeline, Zeno, dan mama William saat jalan-jalan. Istriku yang mengirimnya padaku. Kau lihatlah saja sendiri” Evan menyodorkan ponsel miliknya kepada Steve. Dan Steve pun menerimanya.
Dilihatlah foto itu, Steve fokus memandangi wajah seorang perempuan yang sedang tersenyum. Seketika dia membelalakkan matanya. Dia terkejut karena ternyata perempuan yang dari tadi dibicarakan adalah perempuan yang sangat cantik.
“William! Ini hebat! Kau sudah seperti memenangkan lotre! Raline ini sangat cantik dan masih muda. Kau benar-benar beruntung jika Adeline bisa membuatmu dekat dengan Raline. Kau pasti seorang pahlawan berjasa di kehidupanmu sebelumnya” ucap Steve dengan bercanda dan menatap William.
William hanya menatap datar Steve yang sudah bicara omong kosong itu.
“Ahh aku jadi teringat...” ucap Evan tiba-tiba, lalu dia menatap William. “Will, kau bahkan sudah pernah melihat Raline secara langsung”
William sebenarnya merasa terkejut dengan perkataan Evan yang mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu langsung dengan Rosaline. Tetapi dia tidak menunjukkan keterkejutannya dan tetap bersikap tenang.
“Aku?” ucap William dengan menaikkan satu alisnya.
“Ya, kau pernah melihatnya. Kau ingat tidak? Hari ketika kau menghampiriku di kampus karena sebuah urusan, hari itu di kampusku sedang ada acara seminar. Kita berjalan melewati ruangan tempat diadakannya acara itu. Kemudian aku minta berhenti sebentar untuk melihat sekilas acaranya, dan kau pun menurut saja. Lalu aku memberitahumu dan menunjukkan padamu kalau perempuan yang menjadi moderator itu bernama Raline, mahasiswi yang cemerlang di kampus. Kau pun juga sepertinya saat itu melihat ke arah Raline. Apa kau mengingatnya?” ucap Evan.
Kemudian William mencoba mengingat lagi kejadian yang sudah lama berlalu itu.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Flashback pada saat kejadian di hari itu •
Evan berhenti di depan kaca jendela ruangan tempat diadakannya acara seminar. Dia ingin melihat sekilas jalannya acara. William pun tidak mempermasalahkannya.
“Will, kau lihat perempuan itu? Namanya Raline, dia mahasiswi yang cemerlang di kampus ini. Anak itu benar-benar bertalenta dan penuh kejutan, bahkan dia juga bisa membawakan acara seperti ini” ucap Evan dengan menunjuk ke arah Raline.
William menengok ke arah yang ditunjuk. Dilihatnya seorang perempuan yang memang sekilas terlihat cantik di matanya. Kemudian dia merasa kalau wajah perempuan itu tidak asing baginya. Sepertinya dia pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Dan William pun teringat kejadian beberapa saat lalu ketika dia akan menuju kantor Evan.
“Auuccccchhh” erang seorang gadis yang membentur dada bidang William.
“Maafkan aku karena sudah menabrakmu. Aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru. Sekali lagi mohon maafkan aku...” ucap gadis itu tanpa memandang wajah William sekali pun. William memandangi dengan seksama wajah gadis yang sudah menabraknya itu. Mulai dari dia sedang membereskan kertasnya yang berjatuhan hingga dia meminta maaf. Tapi William juga tidak akan mempermasalahkannya lebih lanjut dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
Dan seketika itu juga William tersadar bahwa gadis yang sekarang berada di dalam ruangan itu adalah gadis yang tadi sudah menabraknya. “Jadi gadis itu terburu-buru karena acara ini” ucapnya dalam hati sambil menatap Rosaline.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Kembali lagi ke masa saat ini •
William sudah kembali teringat dengan semua kejadian di hari itu. Ternyata dia memang pernah bertemu dengan Rosaline sebelumnya. Tak disangka takdir akan mempertemukan kembali William dengan Rosaline melalui Adeline. Siapa yang menyangka, bahwa sebuah perjumpaan biasa yang tak disengaja antara dirinya dengan Rosaline saat itu akan berubah menjadi sebuah hubungan yang seperti ini.
William menyeringai tipis. "Huh, takdir benar-benar sangat lucu" ucap William dalam hati.
“Bagaimana? Apa kau sudah mengingatnya?” tanya Evan lagi, memastikan apakah William mengingat kejadian saat itu atau tidak.
Steve merasa aneh melihat seringai tipis di wajah William. Dia merasa merinding melihat seringai itu. “Will, apa kau baik-baik saja? Kau masih mengingatnya tidak?”
William menatap kedua temannya itu dan menjawab rasa penasaran mereka. “Aku tidak ingat” ucapnya datar.
Aku mengingatnya – ucap William dalam hati.