
• Di Orchard Residence •
Tuan Anthoni bergegas ke kamar Rosaline. Tetapi ketika masuk ke kamarnya, Rosaline tidak berada di sana. Kemudian Tuan Anthoni bertanya pada pelayan yang kebetulan lewat di depan kamar Rosaline.
“Di mana Ros?”
Pelayan membungkuk sopan dan menjawab, “Tuan besar, nona muda sedang bersantai di taman belakang.”
Tanpa menunggu lama, Tuan Anthoni bergegas menuju ke tempat Rosaline.
🐤🐤🐤
Rosaline fokus membaca buku biografi berbahasa asing yang cukup tebal. Hingga dia tidak menyadari kehadiran ayahnya sekarang yang berdiri di belakangnya.
Tuan Anthoni tersenyum melihat betapa putrinya tidak peka dengan keadaan sekitar. Bagaimana bisa Rosaline tidak menyadari kehadiran orang lain di dekatnya. Tuan Anthoni mendekatkan dirinya ke Rosaline.
“Sweetheart...”
Rosaline terlonjak kaget. Dia mendongakkan kepala dan mendapati Tuan Anthoni berdiri di sebelahnya. “Ayah...” sapa Rosaline dengan senyum manisnya.
“Apa yang membuatmu begitu serius? Apa bukunya sangat menarik sampai-sampai tidak menyadari kedatangan ayah?” Tuan Anthoni mengecup puncak kepala Rosaline. Dia menggeser kursi mendekat ke Rosaline, lalu duduk santai bersama putrinya.
“Biasa saja. Ini buku lama, tapi aku baru sempat membacanya sekarang” jawab Rosaline. “Ada apa ayah kemari?”
“Ayah hanya ingin tahu kamu sedang apa. Dan...mungkin sedikit merindukanmu.”
Melihat wajah genit ayahnya, Rosaline jadi gemas dan memeluk ayahnya. “Ahh...kenapa ayah begitu romantis dan tampan. Ayah bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali dengan sikap semanis ini. Aku sangat beruntung memiliki pelindung seperti ayah.”
“Kamu memang harus mencintai ayah, sweetheart. Karena ayah adalah cinta pertamamu.”
Rosaline sedikit mengendurkan pelukannya, dan mendongakkan kepala. “Ayah bukan cinta pertamaku....”
Seketika wajah Tuan Anthoni berubah datar. Rosaline terkekeh melihat perubahan ekspresi ayahnya, benar-benar lucu.
“Tapi ayah cinta abadiku” Rosaline menyelesaikan ucapannya yang tadi menggantung. “Bagiku, cinta ayah tidak bisa dinomerkan dan tidak ternilai. Pelukan ayah pun juga akan tetap menjadi yang terbaik dan terhangat di dunia.”
Kata-kata indah dari mulut putrinya menyentuh relung hati Tuan Anthoni. Sekuat tenaga Tuan Anthoni mengontrol diri agar tidak terbawa suasana. Pertahanan air di matanya tidak boleh jebol. Gadis kecilnya kini sudah dewasa. Akan ada pria yang suatu saat nanti mengambil alih Rosaline dari pelukan Tuan Anthoni, dan dia harus siap bila hari itu tiba. Namun baru memikirkan saja sudah membuat Tuan Anthoni tak rela. Berbagai pemikiran buruk selalu menghantui, seolah jika melepaskan Rosaline, Tuan Anthoni akan kehilangan gadis kecilnya untuk selamanya.
Tuan Anthoni membelai lembut rambut panjang Rosaline. “Jangan pernah tinggalkan ayah, Rosaline...” ucapnya. “Jangan lagi....”
Rosaline mengerutkan keningnya karena terheran. “Ada apa dengan ayah? Tidak biasanya dia memanggilku ‘Rosaline’. Aneh....”
Kali ini Rosaline melihat wajah ayahnya yang tampak ketakutan, seakan menyiratkan luka mendalam. Apa efek perkataannya sedahsyat itu? Rosaline ‘kan hanya mengungkapkan perasaan sayang kepada ayahnya, bukan memberi salam perpisahan atau berniat menghilang.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan ayah, tenang saja.” Rosaline memberikan senyuman tulus dan hangat untuk menenangkan ayahnya. “Ayah tahu ‘kan kalau aku sangat mencintai ayah?”
“Tidak juga.”
Sesaat mereka terdiam. Rosaline merasa cara bercanda ayahnya benar-benar payah dan kaku. Lalu tak lama mereka tertawa bersama.
“Wah, apa sedang ada syuting drama sayang-sayangan antara ayah dan putrinya?” suara istri Tuan Rudy membuat Tuan Anthoni mengurai pelukannya dari Rosaline.
Tuan Anthoni menghembuskan nafasnya. “Mom sudah mengganggu kencanku bersama putriku.”
“Kurang lebih begitu” jawab Tuan Anthoni dengan entengnya.
“Dasar anak durhaka...” istri Tuan Rudy geleng-geleng kepala.
“Grandma, jangan dimasukkan ke hati. Ayah hanya bercanda” ucap Rosaline tersenyum.
Istri Tuan Rudy jadi teringat tujuannya mencari Rosaline. “Oh ya Rosy, apa kamu sudah menyiapkan diri untuk acara makan malam nanti?”
“Grandma, aku minta maaf. Aku tidak bisa ikut bergabung bersama kalian” ucap Rosaline. “Tapi tolong berikan hadiah dariku untuk Nyonya Martha.”
“Hadiah?” tanya istri Tuan Rudy.
“Ingat kalung ruby yang kubeli saat lelang? Kalung itu adalah hadiah untuk Nyonya Martha, ibunya William.”
“Apa?!” ucap Tuan Anthoni dan istri Tuan Rudy bersamaan.
Mereka terkejut karena Rosaline membeli kalung itu untuk ibunya William. Kecuali dengan keluarga atau orang terdekatnya, Rosaline tidak pernah seroyal itu memberi hadiah kepada orang lain.
“Bagaimanapun juga aku ingin berterima kasih pada William. Tapi karena aku tidak tahu harus memberinya apa, jadi kuputuskan untuk memberi hadiah ke ibunya saja.”
Rosaline memang tulus memberikan hadiah untuk Nyonya Martha. Anggaplah sebagai rasa terima kasih, karena dulu ketika jalan-jalan bersama, Nyonya Martha memperlakukannya dengan sangat baik. Lagi pula bukankah William pernah memberikan hadiah kalung untuknya? Jadi tidak ada salahnya jika Rosaline ingin membalas melalui Nyonya Martha.
Istri Tuan Rudy memperhatikan senyum penuh makna di wajah cantik Rosaline. Senyumnya mengisyaratkan perasaan yang berbunga-bunga. Di acara waktu itu, istri Tuan Rudy tidak sengaja memergoki gelagat aneh dari Rosaline. Dia menyadari bahwa Rosaline tampak nyaman berdekatan dengan William. Untuk ukuran orang yang baru saling mengenal, Rosaline sama sekali tidak terlihat canggung. Justru Rosaline terlihat seperti orang yang sudah mengenal William sejak lama. Dan sekarang kecurigaan istri Tuan Rudy tambah diperkuat dengan Rosaline yang membeli hadiah untuk ibu William. Tidak mungkin Rosaline dengan mudahnya memberi hadiah mahal untuk orang asing yang baru dikenalnya.
“Mungkinkah selama ini pria yang dekat dengan Rosy bukanlah Nexon, melainkan pemuda yang bernama William? Karena setiap aku tanya tentang Nexon, Rosy tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan. Tidak, tidak mungkin. Kami semua bahkan sudah menyelidiki si model itu, tapi nyatanya Rosy malah dekat dengan pria lain. Oh astaga, Rosy benar-benar pandai menyembunyikan....” batin Istri Tuan Rudy.
Tuan Anthoni mengedikkan bahu. “Yah, baiklah. Terserah kamu saja, sweetheart” ucapnya. “Jadi, kamu tidak akan ikut makan malam bersama kami?”
Rosaline sebenarnya gugup, namun dia berusaha tenang. “Emm well, aku ada acara fashion show malam ini dan tidak bisa dibatalkan.” Memang benar yang dikatakannya, tetapi Rosaline sengaja mengambil jadwal yang bertabrakan supaya bisa menghindari acara makan malam. “Kupikir tidak ada gunanya juga aku ikut. Lagi pula kalian pasti akan membicarakan masalah bisnis, dan seperti yang kalian tahu, aku masih belum tertarik dengan urusan perusahaan.”
Gerak-gerik Rosaline tidak luput dari mata istri Tuan Rudy. Rosaline yang bicara tanpa memandang ayahnya, dan pada saat yang bersamaan dia juga menggigit bibir bawah serta memainkan jari-jarinya, membuktikan bahwa Rosaline sedang menyembunyikan sesuatu. “Oh my dear Rosy. Jika ayahmu tahu William adalah pria yang dekat denganmu, ayahmu akan lebih memilih membunuh William daripada berinvestasi di perusahaan ayahnya. Aku jadi tidak sabar menantikan acara makan malam. Aku ingin lebih mengenal pemuda yang sudah membuat cucuku membohongi keluarganya....”
Tuan Anthoni mencurigai senyuman tak wajar ibunya. Dia penasaran dengan yang dipikirkan ibunya sekarang.
“Kalau begitu aku ke kamar duluan. Aku harus siap-siap karena sebentar lagi akan berangkat.” Rosaline meninggalkan nenek dan ayahnya.
Setelah kembali ke kamarnya, Rosaline bernafas lega. “Astaga aku nyaris mati di tempat. Aku harap mereka percaya omonganku. Jika hubunganku dengan William ketahuan, aku yakin William tidak akan keluar dari tempat makan dengan selamat. Dan yang lebih mengerikan, jika ayah tahu aku pernah menginap di rumahnya, Tuhan tahu apa yang akan ayahku perbuat...” gumamnya.
🐤🐤🐤
Malam harinya
Tuan Theo, Nyonya Martha, dan William baru saja tiba di parkiran sebuah restaurant. Mereka semua berpakaian rapi. Nyonya Martha berdandan tidak terlalu mencolok, namun tetap terkesan anggun. Begitupun dengan Tuan Theo yang mengenakan setelan jas. Tak bisa dipungkiri bahwa sekarang pasangan suami istri itu sangat gugup. Namun lain halnya dengan satu orang lagi yang bersama mereka. Seperti biasa, William hanya menunjukkan wajah datar dengan aura dingin terpancar dari tubuhnya. Mungkin di sini hanya William yang merasa biasa-biasa saja.
Sebelum masuk ke dalam restaurant, Tuan Theo berkata, “Will, tolong jangan bersikap kasar terhadap keluarga mereka, jagalah sikapmu. Dan juga berusahalah berkomunikasi dengan mereka.”
Nyonya Martha mengerutkan kening dan memelototi suaminya. “Berhenti menekan William. Dia sudah cukup tua untuk diberitahu apa yang harus dilakukan. Harusnya kamu berterima kasih padanya karena makan malam ini bisa terjadi berkatnya.”
Tuan Theo menghela nafas dan menyerah. Istrinya benar, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tanpa diberitahu, William pasti paham apa yang harus dilakukan.
“Baiklah, jangan biarkan mereka menunggu lama” ucap Tuan Theo.