
Gadis ini...berani-beraninya dia menolakku - batin Jeffrin.
Rosaline pun beranjak dari tempatnya tadi berdiri untuk meninggalkan mereka. Dia membalikkan tubuhnya untuk berlalu. Namun baru berjalan dua langkah, sebuah tangan kekar mencekal lengan kirinya dan membuat langkahnya terhenti.
.
.
.
Rosaline melihat ke arah tangan yang mencekalnya untuk mencari tahu pemilik tangan tersebut. Kemudian dia mendongakkan kepalanya. Melihat siapa pemilik tangan kekar itu membuat jantung Rosaline berdegup kencang. Wajahnya yang melongo mungkin sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Bagaimana tidak? Dia baru menyadari kalau saat tangannya dicekal, tubuhnya otomatis terhentak mendekat ke arah orang yang menariknya. Kini jarak keduanya menjadi sangat dekat. Jarak antara wajah Rosaline dan Jeffrin pun mungkin hanya sekitar satu jengkal saja. Rosaline menelan ludahnya berat, menggigit bagian bawah bibirnya, merasa khawatir jika sekarang dia akan segera menghadapi situasi yang diluar kendalinya.
Ap-- apa apaan om ini? Apa yang akan dia lakukan sekarang? Apa otaknya sudah tersambar petir hingga berani berbuat seperti ini? - ucap Rosaline dalam hati.
Jeffrin menatap tajam Rosaline. Menunjukkan ekspresi datarnya. Rosaline yang melihatnya bahkan tidak mampu menebak apa yang dipikirkan orang yang ada di depannya itu.
“Nona Raline, aku bukanlah orang yang suka ditolak” ucap Jeffrin datar.
Orang-orang yang berada di sekitar mereka atau sedang melewati mereka pun saling berbisik. Menatap Rosaline dan Jeffrin yang sekarang tampak seperti terlibat suatu hubungan. Tak hanya yang perempuan, para lelaki pun juga tak kalah ikut bergosip melihat adegan keduanya sedari tadi.
‘Apa tuan Jeffrin mempunyai hubungan spesial dengan Raline?’
‘Aku pikir mereka berdua baru bertemu tadi. Ternyata mereka berdua sudah saling kenal sebelumnya’
‘Astaga Raline beruntung sekali bisa mendapatkannya. Yah, meskipun tuan Jeffrin jauh lebih tua daripada Raline’
‘Apakah dewi kampus kita sudah laku terjual? Aku tidak rela jika dewi kita berakhir di tangan om om seperti dia’
‘Oh Raline, kenapa kamu lebih memilih om om seperti itu daripada kami yang masih muda ini’
Melihat ekspresi Rosaline yang sepertinya terlihat takut, membuat Jeffrin memilih untuk mengalah. Kini wajah Jeffrin sudah mulai melunak dan lebih ramah. Dia tidak ingin membuat takut gadis yang ada di depannya.
“Tidak perlu takut. Aku tidak ada maksud buruk denganmu. Aku hanya ingin merayakan keberhasilan hari ini dengan makan siang bersamamu. Anggap saja agar kita bisa menjadi lebih akrab. Dan aku pikir kamu sangat pantas untuk menerima ajakan ini. Jadi aku harap, kamu tidak akan menolak tawaranku” ucap Jeffrin lembut.
Andrew yang mendengar ucapan itu membeo, merasa tidak percaya dengan sikap yang ditunjukkan bosnya. “Hebat! Dia bisa selembut itu. Aku rasa Raline memang orang yang tepat untuknya. Gadis ini sepertinya benar-benar sudah berhasil menarik perhatian Jeffrin” – batin Andrew.
Rosaline masih tidak paham dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Tak pernah terbayangkan dia akan berurusan dengan pria seperti Jeffrin. Meskipun keluarga Rosaline lebih superior darinya, tetapi tetap saja pria di depannya itu bukanlah sembarang orang. Bahkan mungkin bisa jadi tanpa sepengetahuannya, Group Avicena mempunyai hubungan kerja sama dengan group milik keluarganya. Dia tidak mau bertindak gegabah dan mengacaukan semuanya.
Orang ini benar-benar tidak bisa ditebak. Apa semua pria yang ada di kisaran umur seperti dia selalu suka memaksa, tukang perintah, dan sensitif? – ucap Rosaline dalam hati.
Akhirnya Rosaline pun mencoba untuk merespon dengan setenang mungkin. Mencoba berbicara baik-baik. “Tuan Jeffrin, bukankah ini agak sedikit berlebihan? Aku pikir tidak ada salahnya jika aku tidak menerima tawarannya. Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian saja” ucapnya ramah dengan tersenyum palsu.
Itu bohong. Aku hanya tidak ingin berurusan saja dengan kalian. Cepat pergilah – batin Rosaline.
“Itu salah. Karena aku tidak suka ditolak. Bagiku, kamu juga sama sekali tidak merepotkan. Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu lebih jauh lagi” ucap Jeffrin. Kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telinga Rosaline dan berkata, “Sekarang mari kita pergi dari sini, Raline...” ucapnya dengan sedikit mengangkat sudut bibirnya. Suaranya juga terdengar agak menggoda. Tangan Jeffrin yang sedari tadi berada di lengan Rosaline, mulai dia turunkan perlahan hingga ke telapak tangannya, dan seketika itu juga dia langsung menggenggamnya erat.
Rosaline bergidik merinding dengan perlakuan Jeffrin. Sikap Jeffrin terhadapnya benar-benar tidak bisa ditebak. Sangat sukses membuatnya membeku tak berdaya. Bahkan dia juga tidak bisa menolak ketika tangannya sudah digenggam erat oleh si Jeffrin itu.
Tak sempat berkata-kata untuk melakukan protes dengan pria di hadapannya, tangan Rosaline sudah ditarik lebih dulu oleh Jeffrin. Membuat Rosaline merasa terkejut dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Entah kenapa dia tidak bisa bereaksi menghadapi perlakuan Jeffrin terhadapnya sedari tadi. Yang hanya bisa dia lakukan sekarang hanyalah berjalan dibelakangnya mengikuti langkah kaki Jeffrin dan dalam keadaan yang bergandengan tangan.
Dengan terheran, Rosaline menatap sosok Jeffrin dari belakang. "Hei, ada apa dengan orang ini? Dia tidak sedang salah minum obat kan? Apakah sekarang dia sedang terkena gejala awal efek samping overdosis?" – ucap Rosaline dalam hati.
Andrew yang melihat sikap bosnya yang sangat agresif terhadap Rosaline pun sangat terkejut. Tak menyangka jika bosnya bisa bertindak sejauh itu, terlebih terhadap seorang gadis yang umurnya jauh darinya. Tadi saja beberapa menit yang lalu pria itu berusaha mengelak, tetapi sekarang? Lihatlah, justru pria itu menggenggam erat tangan Rosaline seakan tak ada kesempatan hari esok. Jeffrin benar-benar totalitas berusaha mendekati gadis yang sudah berhasil menarik perhatiannya itu. Sungguh bosnya itu pria yang tidak bisa diprediksi.
Dan jangan ditanya lagi, respon orang yang berada disekitar mereka tak kalah terkejutnya melihat seorang Jeffrin Ferdinand menggenggam erat tangan Rosaline sang idola kampus mereka. Sudah dipastikan hal ini akan menjadi perbincangan panas di kalangan kampus mereka.
🐤🐤🐤
Avicena Kitchen
Merupakan salah satu restaurant mewah yang dimiliki oleh Avicena Group. Restaurant dengan menu andalan masakan Eropa ini juga beberapa kali menyandang sebagai restaurant terbaik di negaranya dan berhasil menempati urutan 10 besar restaurant terbaik di Asia. Salah satu alasan kenapa Avicena Kitchen memenangkan gelar bergengsi ini adalah dari cita rasanya yang mempunyai kualitas terbaik. Koki yang dipekerjakan pun memiliki pengalaman yang mumpuni. Masakan Asia yang ada di restaurant ini pun juga tidak kalah lezatnya dengan menu andalan masakan Eropa. Soal arsitektur, Avicena Kitchen memilih desain bergaya Eropa pada umumnya yang terkesan mewah dan elegan yang menemani suasana makan.
🐤🐤🐤
Akhirnya ketiga orang tersebut sekarang sudah berada di tempat mereka akan makan siang, dan sedang menunggu pesanan mereka datang. Sambil menunggu, Andrew berusaha menghilangkan keheningan diantara mereka.
“Jadi Raline, bagaimana kuliahmu? Aku dengar dari dosen kemarin, kamu adalah salah satu mahasiswi yang berhasil mendapatkan beasiswa di kampus. Kamu pasti sangat pintar karena berhasil mendapatkannya, mengingat di kampus itu cukup sulit untuk bisa mendapatkan beasiswa” ucap Andrew.
“Kuliahku sangat baik dan juga lancar. Mungkin aku hanya sedang beruntung saja bisa mendapatkan beasiswa itu” jawab Rosaline ramah.
“Kamu jangan terlalu merendahkan dirimu. Kamu itu sangat luar biasa Raline. Di usiamu yang masih semuda ini, selain cantik fisik, kamu juga diberikan kemampuan yang cemerlang. Bahkan kamu juga mempunyai perilaku yang mengagumkan. Ini sangat tidak adil untuk perempuan lain diluar sana. Aku pribadi saja sudah menjadi salah satu penggemarmu seperti mahasiswa lain di kampusmu itu” Andrew menautkan kedua tangannya, kemudian digunakannya untuk menopang dagunya. Tak lupa dia menampilkan wajah kagum saat menatap Rosaline.
Rosaline hanya bisa merespon perkatan Andrew dengan senyum canggung saja.
Jeffrin yang melihat tingkah Andrew itu pun langsung melirik tajam. Seolah matanya seperti pisau yang siap menusuk asistennya itu. "Kau ingin mati ya" ucap Jeffrin dalam hati.
Andrew yang mengerti lirikan bosnya itu langsung menurunkan tangannya, menampilkan wajah anak anjing yang memelas memohon ampun. “Maaf bos, aku lepas kendali" ucapnya dalam hati.
“Aku yakin orang tuamu pasti sangat bangga mempunyai anak sepertimu” ucap Jeffrin dengan menatap Rosaline.
Hubungan diantara Rosaline dan Jeffrin kini sudah jauh lebih baik. Mereka sudah melupakan kejadian tadi saat di kampus. Saat di mobil, Jeffrin tidak lagi mengeluarkan aura dominannya terhadap Rosaline. Dia berusaha menjadi lebih ramah. Mereka berdua sesekali mengobrol untuk memecahkan keheningan. Tentunya dengan dibantu oleh Andrew agar suasanya tidak terlalu canggung. Bahkan Rosaline juga merasa kalau Jeffrin tidaklah seburuk persepsi pikirannya.
Rosaline menatap ke arah Jeffrin. “Ya, aku harap begitu. Karena aku merasa sejauh ini belum berbuat banyak untuk keluargaku. Aku merasa belum bisa melakukan sesuatu hal yang berarti untuk mereka” jawabnya dengan tersenyum.
“Percayalah, setiap orang tua tidak ingin menuntut banyak pada anaknya. Mereka pasti sudah cukup merasa puas jika bisa melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi anak yang baik. Dan menurutku, kau sudah berhasil memenuhi keinginan orang tuamu. Aku yakin setiap orang tua pasti akan bangga jika mempunyai anak gadis sepertimu” Jeffrin tersenyum hangat menatap Rosaline. Entah kenapa senyuman itu mampu menghangatkan wajah Rosaline dan membuatnya sedikit salah tingkah.
Dan entah siluman mana pula yang sedang menempel di tubuh Jeffrin hingga bisa membuatnya bersikap sehangat itu terhadap Rosaline.
Andrew yang melihat mereka berdua sekarang ini hanya bisa tersenyum. Dia merasa senang karena bos sekaligus teman baiknya itu bisa memperlakukan Rosaline dengan lebih hangat.
Lihat dirimu. Aku tahu sekarang kau sedang berusaha mendekati pawangmu, tetapi juga jangan bertindak bodoh. Ucapanmu barusan itu sudah seperti ucapan seorang orang tua kepada anak gadisnya. Kau ini ingin melamar menjadi kekasihnya atau ingin menggantikan posisi ayahnya sih – ucap Andrew dalam hati.
Tak lama kemudian pesanan datang, memecahkan kecanggungan diantara mereka, dan mereka pun mulai menyantap makanannya.
“Ngomong-ngomong, apa kamu punya saudara Raline?” tanya Jeffrin di sela-sela makan mereka.
“Hmm ya. Aku punya satu orang kakak laki-laki. Kami hanya dua bersaudara saja” balas Rosaline ramah.
"Apakah kamu sangat dekat dengan kakakmu?" ucap Jeffrin.
"Tentu. Bahkan sangat sangat sangat dekat! Kami sering berbagi cerita dan melakukan berbagai hal yang menyenangkan bersama" Rosaline menjawab dengan semangat.
Jeffrin tersenyum melihat tingkah Rosaline yang terlihat lucu. "Sepertinya kamu sangat menyayangi kakakmu itu..."
"Benar sekali! Kami berdua memang saling menyayangi. Yah, walaupun terkadang rasa sayangnya padaku agak sedikit berlebihan..." ucap Rosaline terkekeh mengingat sikap protektif Rayen terhadapnya.
“Pasti kakakmu protektif padamu kan?” sahut Andrew.
Rosaline menghentikan makannya sejenak, kemudian menatap Andrew dengan wajah yang membeo. “Hebat! Apakah kamu seorang cenayang? Tepat sekali, itu yang baru saja aku pikirkan. Bagaimana kamu bisa tahu kalau kakakku itu sangat protektif? Aku bahkan hampir gila menghadapi sikapnya itu. Meskipun begitu, sebenarnya aku bisa memahami sikapnya itu. Setidaknya aku selalu merasa aman karena ada kakakku yang siap melindungiku...” ucapnya dengan sedikit tertawa.
Andrew terkekeh mendengar respon yang diberikan Rosaline. “Siapapun kakak lelaki yang mempunyai adik sepertimu, pasti akan melakukan segala cara untuk melindunginya"
“Yah, aku tahu itu. Kakakku memang sangat sayang padaku dan selalu berusaha melindungiku. Jadi aku juga menyadari kalau selama ini semua yang dilakukannya adalah untuk menjaga diriku agar selalu tetap baik-baik saja. Ayahku juga sebenarnya sama protektifnya padaku, tapi untung saja tidak separah kakakku. Karena ayahku melindungiku dengan caranya sendiri...” ucap Rosaline dengan menampilkan senyum di wajahnya. Dia merasa bersyukur karena mempunyai keluarga yang begitu sayang padanya.
Wah wah...aku rasa Jeffrin harus siap menghadapi kakaknya yang ganas terlebih dahulu jika ingin lebih dekat dengan Raline – ucap Andrew prihatin dalam hati.
“Ngomong-ngomong soal ayahmu, kalau boleh tahu, apa pekerjaan ayahmu?” tanya Jeffrin.
Mendengar pertanyaan dari Jeffrin, membuat Rosaline terdiam. Otaknya sedang berproses keras, bingung harus memberikan jawaban seperti apa. Tidak mungkin kan kalau dia akan mengungkap identitas aslinya pada mereka, orang yang baru dikenalnya. Padahal selama ini saja dia merahasiakan dari teman dekatnya dan teman-teman kampus lainnya.
Sial. Aku harus jawab bagaimana? Kenapa dia harus tanya masalah pekerjaan ayah sih? Tidak mungkin kan aku harus menjawab bahwa ayahku adalah pemilik dari Heinan Group – ucap Rosaline dalam hati.