ME vs OM OM

ME vs OM OM
Aku Tidak Mau Membuatmu Kecewa



• Saat perjalanan di dalam mobil •


Rosaline dan Jeffrin sedang duduk di kursi penumpang. Mobil Jeffrin sedang dikemudikan oleh supirnya. Dia tidak mau menyetir sendiri karena tidak ingin terlalu lelah setelah menempuh penerbangan.


“Untuk apa datang ke kampusku?” tanya Rosaline.


“Menjemput calon istriku” balas Jeffrin dengan tersenyum tipis.


Supir yang mendengarkan pembicaraan tuannya itu seketika seperti terkena serangan jantung. Tak disangka tuannya bisa memiliki selera humor yang tidak biasa.


Rosaline merasa bingung dengan ucapan Jeffrin. Sedari tadi pria itu selalu bercanda mengucapkan hal sembarangan seperti itu. Tetapi dia juga tidak ingin membahasnya lebih panjang lagi. Rosaline tidak mau pria disampingnya itu semakin bicara atau bertindak aneh lebih jauh.


Jeffrin merasa senang bisa menggoda Rosaline. Dia bisa melihat wajah Rosaline yang terlihat kebingungan. “Kenapa? Apa sekarang kamu merasa malu karena ketahuan?”


“Malu? Kenapa aku harus malu?” jawab Rosaline terheran.


Singa kecilku ini bahkan masih tidak mau mengakuinya – batin Jeffrin.


“Bukankah kamu tadi mengatakan bahwa dirimu sangat pantas menjadi istri sahku dan menantu di keluargaku?” tanya Jeffrin dengan menyeringai jahil.


Rosaline semakin bingung mendengar ucapan Jeffrin.


“Hah? Aku? Astaga. Tuan Jeffrin Ferdinand Avicena yang terhormat, saya mohon jangan bicara sembarangan. Saya bahkan tidak pernah berkata seperti itu. Kalau saat ini anda sedang bercanda, maka maaf sekali saya harus mengatakan bahwa bercandaan anda ini sangat tidak lucu” ucap Rosaline tegas dan formal.


Jeffrin pun merasa bingung melihat respon Rosaline yang tidak memahami perkataanya. Bukankah tadi gadis itu yang mengatakannya sendiri? Meskipun itu hanya gertakan, lantas kenapa dia tidak mengakuinya saja. Tetapi Jeffrin melihat tidak ada kebohongan yang terpancar dari mata gadis itu saat menjawab.


“Bukankah tadi kamu memang berkata begitu? Masa kamu tidak ingat?” ucap Jeffrin bingung.


Rosaline terkekeh geli. Dia tidak akan menganggap serius ucapan Jeffrin. “Yang benar saja. Mana mungkin aku berkata seperti itu? Sudahlah, hentikan bercandaanmu itu” ucapnya dengan geleng-geleng kepala.


Apa dia tidak mengingat perkataan yang tadi sudah dia gertakkan pada gadis yang di kampus tadi? Aku jelas-jelas mendengar dengan baik perdebatan mereka, tapi kenapa Raline justru balik bertanya. Ini aneh – batin Jeffrin.


Jeffrin terheran dengan sikap Rosaline. Entah gadis itu sengaja mencoba menghindari pertanyaannya, atau memang gadis itu benar-benar tidak ingat. Sungguh situasi yang aneh.


Rosaline juga merasa bingung dengan ucapan Jeffrin. Sepertinya pria itu juga bukan tipe pria yang akan bercanda dengan hal-hal semacam itu tanpa alasan.


Apa benar aku sudah mengatakan itu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi... – ucap Rosaline terheran dalam hati.


Suasana di mobil hening sesaat. Kemudian Rosaline kembali membuka pembicaraan setelah suasana keduanya mulai terasa tenang.


“Kita akan pergi kemana?” tanya Rosaline.


“Bagaimana jika kita makan? Aku akan menelfon terlebih dahulu untuk reservasi”


“Ck. Om Jeff benar-benar tidak asik. Aku belum lapar. Dan juga untuk apa reservasi segala jika hanya untuk mengisi perut yang lapar. Cukup makan di tempat biasa saja” ucap Rosaline dengan mengerucutkan bibirnya.


Jeffrin menghela nafasnya. “Lalu apa maumu?”


Rosaline tampak berpikir sejenak. Lalu ide muncul di kepalanya. “Bagaimana jika kita menonton di bioskop saja? Ada film baru yang sedang ingin aku tonton” ucapnya girang menatap Jeffrin.


“Nonton di bioskop? Apa tidak salah? Kenapa tidak memilih jalan-jalan di mall saja, misalkan berbelanja” ucap Jeffrin terheran.


“Aku tidak butuh berbelanja. Aku juga sedang tidak ingin ke mall. Aku ini ingin berhemat”


“Aku bisa membayarnya” jawab Jeffrin santai.


Rosaline memutar bola matanya, dia mulai kesal jika ujung-ujungnya membahas materi. Kemudian menyilangkan tangannya di depan dada. “Aku tidak butuh untuk dibayari. Om pikir aku perempuan macam apa. Jika ingin mengajakku pergi, maka aku hanya ingin pergi menonton. Kalau tidak mau, lebih baik turunkan aku sekarang disini”


Jeffrin merasa lucu melihat sikap Rosaline sekarang yang sedang kesal tapi justru terlihat menggemaskan. “Yah baiklah, aku akan menuruti keinginanmu hari ini” ucapnya sambil mengusap kepala Rosaline.


Rosaline tersenyum senang mendengar jawaban Jeffrin. Gadis itu tidak sadar bahwa senyumannya itu bisa membuat pria di depannya hilang kesadaran jika sudah melihat senyumannya.


“Apa aku bisa meminta sesuatu?” tanya Jeffrin.


“Apa?” balas Rosaline.


“Bisakah kamu tidak memanggilku om? Aku merasa tua jika kamu memanggilku seperti itu”


Memang benar dia sudah tidak muda lagi kan? Dia bahkan lebih tua dari kak Rayen dan kak Glenn – ucap Rosaline dalam hati.


“Lalu aku harus memanggil apa?”


“Apapun. Terserah padamu. Kalau mau, kamu bisa memanggil langsung namaku. Panggil aku Jeffrin saja”


Astaga, ada apa dengan orang ini? Kenapa sikapnya hari ini aneh sekali– ucap Rosaline dalam hati.


Rosaline tampak berpikir, lalu berkata, “Akan aku coba pertimbangkan”


Jeffrin menghadap ke arah Rosaline. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu dan berkata, “Harus kamu pertimbangkan dan mulai sekarang biasakan memanggilku ‘Jeffrin’. Aku tidak suka ditolak, mengerti?”.


Jika tidak suka ditolak lantas kenapa tadi mengatakan ‘terserah padamu’. Dasar tukang perintah. Om yang satu ini benar-benar sulit dikendalikan – ucap Rosaline dalam hati.


Rosaline menatap datar orang yang berada di depan wajahnya itu. Dia tidak ingin berdebat lebih lanjut dan menjawab, “Terserah”.


🐤🐤🐤


“Raline, apa kamu serius?” tanya Jeffrin berulang kali saat antri membeli tiket.


“Ya, tentu saja. Aku sangat serius. Aku ingin melihat bagaimana kelanjutan hidup seorang peri yang sebenarnya berhati baik, tetapi dia bisa berubah menjadi seseorang yang jahat ketika dia disakiti” jawab Rosaline serius.


Jeffrin hanya bisa menarik nafas panjangnya. Dia tidak ingin berdebat lebih jauh dengan Rosaline. Jeffrin sebenarnya tidak keberatan menuruti semua keinginan Rosaline. Tetapi masalahnya dia merasa risih saat ini karena harus mengantri membeli tiket film Maleficent Mistress of Evil, yang mana dalam antrian ini hanya dialah satu-satunya pria berumur yang mengantri di barisan tiket ini. Sedangkan pengantri tiket lainnya adalah anak-anak remaja, perempuan seusia Rosaline, dan para wanita yang menggandeng anak mereka. Sungguh Jeffrin benar-benar tidak bisa menolak keinginan Rosaline dan berusaha tegar menghadapi kenyataan ini.


Setelah mengantri kurang lebih sepuluh menit, akhirnya Jeffrin berhasil membeli dua tiket film Maleficent Mistress of Evil yang Rosaline inginkan. Mata Rosaline berbinar-binar menatap kertas tiket yang ditunjukkan Jeffrin, kemudian dia beralih menatap Jeffrin. Membuat orang yang ditatap merasa salah tingkah, tetapi dia berusaha menyembunyikannya dan bersikap tenang.


“Terima kasih sudah menuruti keinginanku om Jeff...” ucap Rosaline tersenyum bahagia.


Jeffrin senang bisa membuat Rosaline tersenyum dengan hal kecil seperti ini. Jeffrin menyadari bahwa untuk membuat Rosaline tersenyum itu sangat mudah, tak perlu melakukan hal-hal ribet atau membelikan sesuatu yang mahal.


Rosaline terheran. “Apa?”


“Kamu tidak ingat perkataanku tadi saat di mobil?”


“Hah? Apa?” Rosaline mengerutkan alisnya.


“Biasakan memanggil namaku” ucap Jeffrin.


Dasar pemaksa dan tukang perintah – batin Rosaline.


Rosaline menghela nafasnya. “Yah baiklah. Terima kasih Jeff...” ucapnya dengan tersenyum tulus.


Jeffrin senang dan mengusap kepala Rosaline. “Good girl”


“Kamu terlihat cantik saat tersenyum Raline” ucap Jeffrin sambil berjalan menuju ke dalam studio bioskop. Meninggalkan Rosaline yang masih dibelakangnya.


Rosaline pun langsung mengejar Jeffrin untuk masuk ke dalam studio, dia merasa ditinggalkan begitu saja. “Jeff tunggu! Apa tadi kamu mengatakan sesuatu? Aku tidak bisa mendengarnya” tanyanya pada Jeffrin dengan sedikit berteriak.


Jeffrin menghadap Rosaline dan menempelkan jari telunjuknya ke mulut gadis itu. “Ssssttt jangan berisik, kita sudah di dalam studio”


Kemudian dia menggandeng tangan Rosaline agar gadis itu tidak tertinggal dibelakangnya.


“Ck, dasar om om menyebalkan. Filmnya belum mulai, tidak perlu berlebihan juga kan” gerutu Rosaline lirih dan mengerucutkan bibirnya.


“Aku masih bisa mendengar ucapanmu Raline” ucap Jeffrin.


Astaga, telinganya peka sekali – ucap Rosaline dalam hati.


“Kamu benar, telingaku memang peka” ucap Jeffrin lagi, seolah dia tahu apa yang gadis itu pikirkan.


Mulut Rosaline ternganga tak percaya kalau ucapannya di dalam hati juga masih bisa di dengar.


Jeffrin hanya tertawa tipis saat mengintip ke belakang melihat reaksi Rosaline. Lalu mereka menaiki tangga dan menuju kursi penonton.


🐤🐤🐤


Selama menonton film, Jeffrin justru lebih fokus memperhatikan Rosaline. Senyuman Jeffrin tidak pernah surut saat memperhatikannya. Apalagi saat dia melihat Rosaline menangis karena terbawa suasana film, Jeffrin seakan tidak percaya bahwa gadis yang selama ini terlihat berani itu bisa meneteskan air matanya hanya karena menonton film.


“Kamu terlihat lucu Raline” ucap Jeffrin saat film baru saja selesai dan lampu studio sudah dinyalakan.


“Apanya yang lucu?” jawab Rosaline terheran.


Jeffrin hanya menjawab dengan menggelengkan kapala.


“Filmnya bagus sekali Jeff!! Aku senang bisa menonton film ini” ucap Rosaline kegirangan. “Bagaimana, apa menurutmu film ini bagus?” tanyanya tiba-tiba kepada Jeffrin.


Aku harus menjawab bagaimana, jika yang aku tonton dari tadi bukanlah filmnya, tapi justru kamu Raline – ucap Jeffrin dalam hati.


“Ee-ehh yah filmnya bagus. Ceritanya sangat menarik. Bahkan akting Mila Kunis juga sangat mengagumkan” jawab Jeffrin gagap.


Mendengar jawaban Jeffrin, seketika raut wajah Rosaline berubah. Matanya menatap tajam Jeffrin, seolah dia ingin sekali menerkam orang yang ada di hadapannya itu. Jawaban Jeffrin benar-benar sangat asal-asalan dan membuatnya geram.


“Jeff, jangan bilang kamu dari tadi tidak memperhatikan filmnya” ucap Rosaline datar, kemudian dia melanjutkan. “KAMU PIKIR KITA SEKARANG SEDANG MENONTON FILM OZ THE GREAT AND POWERFUL!!” ucapnya dengan menenteng tangan kiri di pinggang dan tangan kanan memukul pelan dada Jeffrin. Wajahnya pun juga sudah terlihat sangat kesal.


Rosaline beranjak dari tempat duduknya. “Ahh sudahlah. Aku malas denganmu Jeff. Kamu menyebalkan” kemudian dia pergi meninggalkan Jeffrin yang masih duduk terdiam di kursi.


Jeffrin merasa kebingungan dengan sikap Rosaline. Dia menggaruk kepalanya karena merasa tidak paham dengan situasi ini. Dia masih belum menyadari kesalahannya. Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan yang mungkin masih di bangku SD yang sedang menonton dengan mamanya, dia menarik lengan kemeja Jeffrin yang duduk disebelahnya. Jeffrin pun menoleh ke arah anak kecil itu.


“Om. Om ini keterlaluan sekali dengan pacar om. Film ini pemainnya Angelina Jolie, bukan Mila Kunis. Makanya pacar om marah seperti itu” ucap anak kecil itu dengan wajah innocentnya.


Jeffrin yang mendengar penjelasan dari anak kecil itu langsung tersadar atas kesalahannya. Bisa-bisanya dia tidak memperhatikan pemain film yang ditontonnya. Sekilas wajah kedua artis itu memang mirip. Betapa bodohnya dia tidak bisa membedakan.


“OH MY GOD! YOU SO STUPID, JEFFRIN!! Apa yang sudah kamu lakukan!” umpatnya pada diri sendiri dan menjambak rambutnya. Kemudian dia menghadap lagi ke anak kecil itu. “Terima kasih sudah memberitahu om. Bye...” ucap Jeffrin tersenyum.


Lalu dia langsung berlari menyusul Rosaline yang sudah keluar studio beberapa saat lalu.


Anak kecil dan mamanya itu tertawa melihat tingkah Jeffrin yang kelabakan mengejar orang yang mereka kira sebagai pacarnya.


“Masalah orang dewasa memang rumit dan sulit dimengerti...” gumam anak kecil itu dengan wajah innocentnya.


🐤🐤🐤


Jeffrin melihat Rosaline yang sedang duduk dan menyesap minuman yang tadi dibeli saat akan menonton film. Gadis itu terlihat diam saja seperti melamunkan sesuatu. Kemudian Jeffrin berjalan menghampirinya.


“Apa kamu marah denganku?” tanya Jeffrin sambil duduk di depan Rosaline.


Aku hanya kesal, bukan marah – batin Rosaline.


“Lupakan” jawab Rosaline acuh tanpa melihat Jeffrin.


Jeffrin menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Rosaline. “I’m sorry Raline. Sebenarnya aku tidak suka film fantasi seperti itu. Maka dari itu aku tidak serius saat menontonnya tadi” ucap Jeffrin dengan nada menyesal.


Rosaline mengangkat wajahnya untuk menatap pria di hadapannya. Mendengarkan pengakuan darinya barusan, entah kenapa membuat Rosaline menjadi merasa sedikit bersalah karena tadi sudah memaksa Jeffrin untuk menonton.


Rosaline menghela nafasnya. “Jika memang tidak suka, lalu kenapa kamu menuruti semua keinginanku? Harusnya katakan saja jika keberatan. Bukan malah diam saja seperti tadi”


“Karena aku tidak mau membuatmu kecewa” jawab Jeffrin cepat. Membuat Rosaline merasa bingung dengan maksud ucapan pria itu. Kemudian Jeffrin melanjutkan ucapannya. “Aku melihatmu tampak sangat senang hanya karena aku turuti menonton, terlebih lagi saat kita sudah mendapatkan tiketnya. Jadi mana mungkin aku tega untuk mengecewakanmu hanya karena alasanku yang tidak terlalu penting ini” lanjutnya dengan tersenyum tulus menatap Rosaline.


Astaga, ada apa dengannya? Aku sangat tidak terbiasa dengan sikap lembutnya ini. Dimana sikap semena-menanya itu. Aku lebih baik berhadapan dengan sikap semena-menanya itu saja sekarang – ucap Rosaline dalam hati.


Mendengar jawaban keseluruhan dari Jeffrin barusan, membuat wajah Rosaline mulai menghangat. Ucapan dari pria itu sukses membuatnya tak bisa berkata-kata. Sebelum hal-hal aneh terjadi pada dirinya, Rosaline pun langsung berdiri menjauh dari jangkauan Jeffrin. Meninggalkan pria itu terduduk sendiri di tempat semula.


Beberapa langkah setelah menjauh, Rosaline menoleh ke belakang dan meneriaki Jeffrin. “Kenapa diam saja? Ayo pergi dari sini!”


Jeffrin hanya bisa tersenyum geleng-geleng kepala melihat sikap Rosaline yang terlihat salah tingkah.