
• Di Avicena Group Company •
Saat sudah jam pulang, Jeffrin baru saja menyelesaikan urusan kerjanya diluar. Dia kembali lagi ke kantornya karena masih ada urusan yang harus di kerjakan di kantor. Sebagai CEO dari Avicena Group, tentu dia memilki banyak tanggung jawab.
Andrew, sang asisten masih setia menunggunya di kantor untuk melaporkan segala urusan yang sudah di handlenya kepada Jeffrin. Dia adalah teman sekaligus asisten kepercayaannya. Umur Andrew yang hanya terpaut beberapa tahun lebih muda dari Jeffrin, membuatnya tampak lebih akrab dan nyaman satu sama lain dalam berteman. Hubungan mereka sudah bisa dibilang seperti saudara.
"Bos, aku punya kabar baik dan kabar buruk untukmu. Mana yang ingin kau dengar lebih dulu?" ucap Andrew yang sekarang sedang duduk santai di sofa yang terletak di ruangan kerja Jeffrin.
Saat ini Jeffrin masih berkutat dengan beberapa berkas di meja kerjanya.
"Yang mana dulu tidak menjadi masalah untukku"
"Baiklah. Kita lihat apakah kau masih bisa bereaksi biasa saja" Andrew membalas dengan nada menyindir dan menyeringai jahil. Dia melirik ke arah meja kerja Jeffrin.
"Siang tadi aku sudah menemui pihak kampus yang mengundangmu sebagai narasumber untuk acaranya. Sudah beres semuanya dan sudah aku siapkan untukmu. Lalu untuk kabar buruknya....kamu akan segera menemui para penggemar perempuanmu di kampus itu. Sudah dipastikan keadaan akan heboh seperti biasanya saat kamu nanti menjadi pembicara untuk acara kampusnya. Bukankah bertemu para perempuan yang seperti itu adalah hal yang paling tidak kamu sukai?" ucap Andrew dengan tertawa.
Jeffrin menghentikan pekerjaannya. Dia mengusap kasar wajahnya setelah mendengar ucapan Andrew.
"Huh, mau bagaimana lagi. Menjadi tampan dan sukses bukanlah salahku. Merekalah yang seharusnya bisa mengontrol diri sendiri. Aku harap respon mereka atas kedatanganku tidak berlebihan. Aku tidak suka jika diganggu seperti yang sebelumnya" Jeffrin melirik ke arah Andrew yang duduk manis di sofa.
"Cih, lagakmu. Dan jangan lupakan, kau juga sudah tua" ucap Andrew, lalu dia tertawa.
Jeffrin melempar pulpen ke arah teman sekaligus asistennya itu. Andrew yang tahu dilempar langsung menghindar.
"Tua hanya diumur. Tapi penampilanku masih sangat tampan dan terlihat muda" ucap Jeffrin ketus. "Jangan mengataiku seenaknya. Jika aku sudah kesal, aku bisa mengirimmu ke Kenya untuk menjadi pegawai hotel tetap disana dan membuatmu tidur bersama dengan jerapah setiap hari" sambungnya.
"Ck, aku hanya bercanda saja. Kau sungguh tidak asik" Andrew berdecak kesal.
"Lalu apa kabar baiknya?" tanya Jeffrin.
Andrew beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekat ke arah kursi Jeffrin. Di menundukkan kepalanya, mensejajarkan dengan wajah Jeffrin tetapi dalam jarak yang agak jauh.
"Untuk kabar baiknya......kau akan tahu saat sudah ada disana. Dan bisa ku pastikan kau akan menyukainya" Andrew berjalan menjauh dan menuju pintu. Sebelum keluar dari ruangan Andrew menambahkan, "Jangan coba-coba penasaran. Kendalikan rasa penasaranmu itu. Aku pulang dulu Jeff!" sambungnya dengan melenggang keluar pintu dengan tawanya yang meledek.
Jeffrin yang merasa dipermainkan dengan Andrew merasa geram. Bisa-bisanya asistennya itu kurang ajar padanya. Kemudian dia berteriak sebelum Andrew sempat menutup pintunya.
"AKAN KU PASTIKAN KAU AKAN SEGERA TERBANG KE AFRIKA UNTUK MENGGALI SUMUR DISANA!!!" teriak Jeffrin.
🐤🐤🐤
• Beberapa hari kemudian - Hari saat acara di Universitas ZXY •
Seorang pria sedang berjalan menuju tempat dimana para mahasiswa/mahasiswi sudah menunggunya dengan antusias disana. Pria itu mengenakan setelan jas hitam membalut tubuh kekarnya. Wajahnya yang tampan menawan seolah tak pernah dipadamkan oleh umurnya yang sudah tidak muda lagi. Auranya yang mempesona terpancar membius lawan jenis yang berada disekitarnya. Dialah anak dari pemilik Avicena Group sekaligus menjabat sebagai CEO, Jeffrin Ferdinand Avicena.
Disampingnya, sang asisten Andrew selalu setia mendampinginya kemana saja jika diperlukan oleh bosnya itu.
Para mahasiswi yang melihat Jeffrin pun saling berbisik, heboh karena kedatangan sang pengusaha sukses. Apalagi pria itu single dan anak konglomerat. Tentu saja banyak para perempuan yang bersedia melemparkan diri ke pelukannya.
'Aku bahkan bersedia jika dia memintaku menjadi simpanannya'
'Astaga tampan sekali. Aku seperti berada di jaman Yunani kuno. Dia terlihat bak dewa yang turun ke bumi'
'Aku pasti sedang bermimpi bisa melihat Jeffrin Ferdinand secara langsung'
'Menjadi pembantu di rumahnya pun aku tidak masalah asal bisa melihatnya setiap hari'
'Aku penasaran siapa wanita beruntung yang bisa menjadi istrinya nanti. Aku bisa jamin istrinya tidak akan pernah kekurangan vitamin A seumur hidupnya jika mempunyai pria seperti ini'
'Jika aku menjadi istrinya, mungkin aku akan memasang rantai di kakinya agar dia terus berada di rumah'
Kalimat-kalimat menggelikan itu terdengar di telinga Jeffrin saat melewati mahasiswi untuk menuju ruangan acara. Andrew asistennya hanya bisa menahan tawanya.
• Disisi lain •
Dia berjalan melewati lorong kampus. Berjalan dengan langkah yang cepat menuju tempat acara. Tangannya membawa beberapa lembaran kertas yang berisi bahan acara nanti.
Tanpa disengaja, dengan cerobohnya dia berjalan menabrak seorang pria tinggi di depannya. Dadanya yang bidang membuat dahi Rosaline yang terbentur merasa sedikit sakit hingga terhuyung ke belakang. Untung saja dia masih bisa menjaga keseimbangannya. Beberapa lembar kertas yang digenggamnya pun terjatuh ke lantai.
“Auuccccchhh” erang Rosaline sambil mengusap dahinya.
Rasanya seperti menabrak tembok beton - umpat Rosaline dalam hati.
Kemudian dengan cepat dia segera berjongkok dan mengambil lembaran kertas yang terjatuh. Tak sekalipun dia memandang ke arah pria yang tadi ditabraknya. Dia sedang tak ada waktu untuk memprotes atau mengulur waktu
“Maafkan aku karena sudah menabrakmu. Aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru. Sekali lagi mohon maafkan aku... Aku permisi...” ucapnya dengan terburu-terburu sesaat setelah dia berdiri. Dia menundukkan wajah dan badannya saat meminta maaf, setelah itu dia langsung berlalu meninggalkan pria itu.
🐤🐤🐤
Saat memasuki ruangan, terdengarlah suara riuh dari para perempuan yang berada di dalam ruangan. Mereka berteriak dan bertepuk tangan melihat kedatangan Jeffrin, pengusaha sukses idola mereka.
Jeffrin duduk menuju kursi yang sudah disediakan. Andrew masih menunggu di depan pintu masuk, dia menunggu kedatangan Rosaline. Karena acara sebentar lagi akan dimulai.
Tak lama kemudian Andrew merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya. Dia menoleh dan mendapatkan Rosaline yang sudah ada disampingnya. Saat ini penampilan Rosaline berbeda dari saat mereka pertama kali bertemu. Hari ini kadar kecantikan Rosaline semakin meningkat. Penampilannya juga terlihat sedikit formal.
Saat ini Rosaline memakai celana panjang jeans hitam, pakaian model turtle neck chiffon blouse berwarna putih dengan hiasan tali pita tipis hitam dibagian leher, dan sepatu sneakers putih. Rambutnya yang diikat keatas, semakin memperlihatkan leher jenjangnya meskipun sudah tertutup rapat dengan pakaiannya. Makeup tipis yang membuat wajahnya tampak cerah. Ditambah lagi aksesoris bando tipis berwarna silver dengan hiasan deretan bintang kecil di kepalanya membuatnya terlihat elegan dan sangat dewasa.
Sangat cantik. Dia seperti jelmaan seorang dewi... – racau Andrew dalam hati.
“Maaf aku terlambat. Apa sudah mau dimulai?” ucap Rosaline sedikit terengah-engah karena dia tadi berjalan dengan agak cepat.
Ucapan dari Rosaline menyadarkan lamunan bodoh Andrew. Dia berdehem untuk mengatur dirinya agar tidak terlihat salah tingkah.
“Kamu tidak terlambat. Jeffrin juga baru saja masuk. Aku akan mengantarmu ke dalam untuk menemuinya” balas Andrew setenang mungkin. Kemudian dia masuk lebih dulu ke dalam ruangan. Rosaline mengekor dibelakang punggungnya.
Saat Andrew dan Rosaline memasuki ruangan, suasana di dalam ruangan tiba-tiba menjadi lebih riuh daripada saat Jeffrin memasuki ruangan itu. Kali ini giliran para laki-laki yang berteriak menggila karena melihat kedatangan idola kampus mereka, Rosaline. Tidak hanya para laki-laki saja, beberapa anak perempuan juga turut ikut meneriakkan nama ‘Raline’.
Banyak orang yang berada di dalam ruangan itu saling berbisik melihat penampilan Rosaline yang terlihat sangat berbeda dari biasanya. Hari ini idola kampus mereka terlihat lebih cantik dari biasanya. Bisa dimaklumi, karena ini adalah kebutuhan untuk acara formal. Jadi pasti Rosaline harus berpakaian dengan sopan untuk menghormati narasumbernya.
Jeffrin merasa bingung melihat suasana riuh di ruangan itu. Bahkan suara teriakannya lebih menggila dari saat dia datang. Andrew pun mendekat ke arah Jeffrin. Menepuk bahu untuk menyapa bosnya itu. Jeffrin pun mendongakkan kepalanya menoleh ke arah Andrew.
Andrew menundukkan kepalanya mendekat ke telinga Jeffrin. “Jangan kaget melihat reaksi para mahasiswa yang ada di ruangan ini. Kau sangat kalah saing darinya. Di tempat ini, ketenaranmu nyaris tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia” ucapnya dengan menyeringai jahil.
Jeffrin yang mendengar ucapan itu merasa bingung. “Dia? Maksudmu siapa?” ucapnya sambil mengernyitkan alis.
“Dia kabar baikmu. Aku rasa dia adalah baby yang tepat untukmu. Dia adalah Raline....” balas Andrew dengan masih menampilkan wajah jahilnya. Setelah selesai mengatakan kalimat itu, dia langsung memutar badannya.
Saat Andrew memutar badannya, terlihatlah sosok Rosaline yang berdiri berada di belakangnya menampilkan senyuman ramahnya.
Mata Jeffrin langsung tertuju pada sosok yang berdiri di belakang Andrew. Seketika melihat sosok Rosaline, tubuh Jeffrin membeku, tidak tahu harus bagaimana. Matanya menatap tajam, dalam, dan penuh kekaguman ke arah Rosaline. Terlihat jelas bahwa dirinya tidak bisa mengontrol wajahnya yang sudah terlihat agak merona. Detak jantungnya mulai berdebar lebih cepat.
Andrew yang melihat respon bosnya seperti itu hanya bisa menahan tawanya. Sudah bisa dipastikan bahwa bosnya sekarang benar-benar terpikat dengan sosok gadis yang berada di depannya. Sangat langka bisa melihat reaksi bosnya yang seperti ini. Karena biasanya Andrew lebih banyak melihat wajah emosi atau kesal dari bosnya, daripada melihat wajahnya yang merona seperti ini.
Bos, aku turut bahagia. Akhirnya kau akan segera menemukan pawangmu. Aku harap Raline memang orang yang tepat untukmu – batin Andrew.
Rosaline mendekat ke arah Jeffrin dan mengulurkan tangannya.
“Salam kenal tuan Jeffrin. Saya Raline. Maaf jika saya terlambat dan membuat anda kurang berkenan” ucapnya ramah dan dengan tersenyum.
Jeffrin sontak tersadar dan mengembalikan kewarasannya saat melihat uluran tangan Rosaline. Dia langsung menyambut ramah uluran tangannya. “Tidak masalah, santai saja. Saya Jeffrin” balasnya. Kemudian Jeffrin mempersilahkan Rosaline untuk segera duduk di kursi yang berada di sebelahnya.
Sebelum Andrew pamit undur diri dari hadapan mereka berdua, Andrew berbisik lirih ke telinga Jeffrin, “Aku serahkan baby Raline padamu. Semangat!” ucap Andrew sambil menepuk-nepuk bahu bosnya. Tak lupa dia mengedipkan sebelah matanya dan menampilkan seringai jahil untuk menambah kesan menjengkelkan bagi Jeffrin.
Jeffrin hanya bisa merespon dengan senyum geram saja ke arah Andrew. Tidak mungkin dia akan meneriaki asistennya di tempat ramai seperti ini.
Dasar asisten sint*ng. Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku. Aku akan menendang bokongmu itu hingga kau tidak bisa bereproduksi lagi – geram Jeffrin dalam hati.