
• Kembali lagi ke Avicena Kitchen •
Sial. Aku harus jawab bagaimana? Kenapa dia harus tanya masalah pekerjaan ayah sih? Tidak mungkin kan aku harus menjawab bahwa ayahku adalah pemilik dari Heinan Group – batin Rosaline.
.
.
Rosaline berusaha keras memutar otaknya untuk menjawab tanpa menimbulkan kerucigaan. Sekarang yang dihadapannya adalah Jeffrin, tentu dia bukan orang yang mudah di bohongi. Jeffrin sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, tentu dia tidak akan mudah tertipu. Jadi Rosaline tidak bisa berbohong dan harus membuat alasan selogis mungkin.
Merasa tidak ada jawaban, Jeffrin memanggilnya lagi untuk menyadarkannya. “Raline? Apa kamu mendengarkanku?” ucap Jeffrin sambil melambaikan tangannya di depan wajah Rosaline untuk menyadarkan lamunannya.
Rosaline yang melihat tangan di depan wajahnya, sontak kembali tersadar. “Eeh? Ya, aku mendengarkanmu. Kamu bertanya tentang pekerjaan ayahku kan?” jawabnya dengan senyum canggung.
“Ya, benar. Ku kira kamu tidak mendengarnya” jawabnya Jeffrin dengan terkekeh.
“Ayahku bekerja di Heinan Group Company” jawab Rosaline dengan setenang mungkin.
Jeffrin menunjukkan wajah terkejutnya. Tak menyangka jika Rosaline mempunyai ayah yang mempunyai pekerjaan di tempat luar biasa seperti itu. “Wow, itu perusahaan yang sangat besar. Hebat sekali ayahmu. Tidak heran jika dia bisa memiliki anak sepertimu. Ayahmu disana bekerja sebagai apa?” ucapnya dengan antusias.
Demi jenggot onta. Ini pertanyaan yang sulit untuk ku jawab. Jabatan ayahku adalah Chairman of Heinan Group. Sudah jelas dia bekerja sebagai pemilik dan penanggung jawab dari semua ladang bisnisnya. Aku harus jawab dengan bagaimana... – ucap Rosaline frustasi di dalam hati.
“Euumm...ayahku...dia...dia orang yang bertanggung jawab dan mengawasi bagian perusahaan” jawab Rosaline dengan nada sedikit bingung. Wajahnya juga dipaksakan untuk tetap setenang mungkin.
Ini aku juga tidak bohong. Memang benar ayahku yang bertanggung jawab dan mengawasi bagian perusahaan. Lebih tepatnya bertanggung jawab untuk menjalankan jalannya perusahaan supaya lancar dan efektif, mengawasi semua bagian bisnis perusahaan, merumuskan strategi bisnis perusahaan, dan masih banyak lagi. Ya, begitu! Aku hanya menyingkatnya saja kok – ucap Rosaline di dalam hati.
Jeffrin merasa bingung dengan perkataan yang diucapkan oleh Rosaline. Dia berpikir sepertinya Rosaline tidak begitu paham dengan jabatan ayahnya di perusahaan itu. Kemudian dia menyimpulkan sendiri maksud yang diucapkan Rosaline. “Hmm apa maksudmu...ayahmu adalah seorang manajer yang bertanggung jawab dan mengawasi bagian tertentu perusahaan, begitu?” ucap Jeffrin dengan mengernyitkan alisnya.
“Ehh...yah...mungkin bisa dikatakan begitu. Masalahnya aku tidak pernah mengobrol dengan ayah tentang masalah pekerjaan. Jadi aku tidak begitu memahaminya” balas Rosaline dengan senyum yang dipaksakan.
Jeffrin hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya saja. “Lalu apa ayahmu sudah lama bekerja disana?” tanyanya lagi.
Oh God, apa ini masih berlanjut? Aku sudah mulai frustasi hingga ingin berguling di lantai. Aku sudah tidak tahu harus menjawab dengan bagaimana lagi, aku juga tidak mungkin membohonginya. Siapapun tolong selamatkan aku - ucap Rosaline frustasi di dalam hati.
Rosaline menghela nafasnya berat dan menjawab, “Ya, sepertinya ayahku sudah lama bekerja disana. Aku juga tidak tahu sejak kapan lebih tepatnya. Karena aku tidak ingin mencampuri urusan pekerjaan ayah. Di rumah, aku hanya ingin dia menjadi ayahku, dan aku menjadi putri kesayangannya. Jadi maafkan aku jika tidak bisa menjawabmu dengan baik....” balas Rosaline dengan memasang wajah menyesalnya. Ini adalah jurus terakhirnya dan berakting sebaik mungkin agar penderitaannya segera berakhir.
Jeffrin tersenyum melihat tingkah laku Rosaline yang terlihat lucu di matanya sekarang ini. Rosaline tampaknya menyesal karena tidak bisa menjawab dengan baik pertanyaan darinya. “Untuk apa kamu minta maaf, kamu tidak salah. Akulah yang salah karena mungkin sudah menanyakan hal pribadi padamu. Justru aku berterima kasih karena kamu bersedia menjawab semua pertanyaan dariku” ucap Jeffrin dengan senyum ramah.
“Ahh...tidak masalah. Pertanyaanmu hanya sepele, tentu aku akan dengan senang hati menjawabnya” balas Rosaline dengan senyum manis yang palsu.
Sepele? Yang benar saja. Jika pertanyaan itu terus berlanjut, mungkin rambutku akan segera tumbuh uban karena terlalu stres memikirkan jawabannya - ucap Rosaline di dalam hati.
Andrew yang dari tadi memilih untuk makan dengan tenang sembari menjadi pendengar dan penonton keakraban mereka berdua pun merasa senang. Sepertinya tidak sia-sia dia tadi nekad memberanikan diri untuk mengajak Rosaline makan bersama. Nyatanya, sekarang bosnya itu sudah berhasil untuk mendekatkan diri dengan calon pawangnya. “Hmmm...sepertinya aku sudah bisa mencium aroma-aroma bonus untuk bulan depan” ucap Andrew dalam hati dengan senyuman penuh arti dan kepuasan.
Andrew memang ingin diam saja sampai nanti acara makan mereka selesai. Dia ingin melihat Jeffrin dan Rosaline bisa lebih dekat.
Lalu mereka bertiga pun melanjutkan makan mereka yang masih belum habis dengan damai dan tenang.
Namun sayangnya, ketenangan itu tidak berlangsung lama bagi Rosaline. Ketika dia sedang mengunyah makanannya, dia melirik ke arah bagian ujung kiri ruangan, yang merupakan bagian ruangan privat dari restaurant, dan sepertinya dia melihat sosok yang familiar di matanya. Setelah di teliti lagi, ternyata orang itu adalah seseorang yang benar-benar harus dihindarinya saat ini. Sangat berbahaya jika dia tertangkap basah berada di tempat ini bersama dengan dua pria yang seperti om om. Dia sungguh tidak mau menimbulkan masalah.
Seketika menyadari hal itu, Rosaline langsung tersedak dengan makanannya dan batuk. Dia menutupi mulutnya, matanya juga sedikit memerah dan berair karena efek tersedak.
Astaga, cobaan apalagi ini. Setelah aku memutar otak untuk membual panjang lebar di hadapan pria ini, tidak mungkin kan aku akan langsung tertangkap basah dan ketahuan sekarang juga – batin Rosaline.
“Apa kamu sudah baikan? Makanya perlahan saja jika sedang makan”ucap Jeffrin khawatir sambil menatap Rosaline.
Rosaline mulai agak menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat oleh orang yang dihindarinya. "Ya, aku sudah merasa baikan. Tenang saja..." jawabnya dengan tersenyum.
“Apa kamu yakin? Apa kamu butuh sesuatu?” sahut Andrew.
“Aku baik-baik saja, sungguh” jawab Rosaline menatap Andrew.
Jeffrin bernafas lega melihat Rosaline sudah baik-baik saja. Karena dia tadi melihat sepertinya Rosaline tersedak cukup serius. “Syukurlah. Kamu sudah membuatku khawatir. Kamu itu sudah besar, tetapi masih saja makan tersedak seperti anak kecil”
“Hei hei, siapa yang kamu katakan anak kecil? Aku ini sudah dewasa. Seenaknya saja mengataiku” balas Rosaline tak terima dengan menatap Jeffrin. Kemudian dia bergumam dengan memalingkan wajahnya dari Jeffrin dan berkata, “Dasar om om menyebalkan”.
Jeffrin mengernyitkan alisnya. Seperti mendengar Rosaline berbicara sesuatu tetapi tidak jelas di telinganya. “Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Jeffrin.
Kemudian Rosaline kembali menatap Jeffrin dengan senyum palsunya dan menjawab, “Tidak ada, kamu salah dengar. Aku hanya sedang berdehem saja”
Jeffrin hanya mengangguk mengerti.
Lalu Rosaline mulai tersadar kalau sekarang bukan saatnya dia berdebat. Sekarang dia harus menyelamatkan diri dan kabur dari tempat ini sesegera mungkin. Kemudian dia segera berpamitan dengan Jeffrin. “Ee-ehh aku minta maaf sebelumnya. Tapi aku harus pergi sekarang. Aku sedang ada urusan lain...” ucapnya sembari mengambil tas dan mulai beranjak dari duduknya.
Baru saja berdiri, tangan kanan Rosaline di cekal oleh Jeffrin dan menahan langkahnya.
“Raline, kamu belum menyelesaikan makanmu. Setidaknya habiskanlah dulu. Urusan apa hingga membuatmu tiba-tiba pergi terburu seperti ini” ucap Jeffrin menyelidik.
Rosaline kembali melirik ke arah yang berbahaya itu. Dan sepertinya orang itu sudah hampir selesai mengobrol di depan pintu. “Aku sudah kenyang. Aku benar-benar harus pergi saat ini. Aku tidak bisa berada disini lagi. Sungguh aku tidak ingin membuat masalah. Ku mohon lepaskan tanganku om Jeff...” ucapnya dengan panik dan sudah meracau tak terkontrol. Mukanya sangat memelas.
Mendengar ucapan dari Rosaline membuat Jeffrin agak terkejut. “Om Jeff??!” ucapnya dengan muka tak terima.
Orang yang dihindari Rosaline sekarang sudah benar-benar selesai mengobrol. Dan orang itu sudah mulai beranjak dari tempatnya berdiri bersama dengan rekan lainnya.
“Aku mohon, biarkan aku pergi sekarang. Aku tidak ada waktu lagi berdebat denganmu. Sekarang aku hanya bisa minta maaf jika sudah menyinggungmu. Jika masih tidak terima, lain kali aku akan menebusnya. Aku janji. Tapi sekarang aku benar-benar harus pergi” ucap Rosaline terburu sambil berusaha melepas genggaman Jeffrin. Saat sudah berhasil terlepas Rosaline berkata, “Maaf, aku pergi sekarang” kemudian dia jalan dengan cepat meninggalkan meja makannya.
“Enak saja aku dipanggil om. Gadis kecil ini benar-benar” gumam Jeffrin lirih. Dia menatap kepergian Rosaline yang tiba-tiba.
Kemudian Jeffrin tersentak, dia sepertinya ingat pernah berkata seperti ini. “Sepertinya aku pernah berkata seperti ini sebelumnya. Apa aku sedang mengalami dejavu?” ucapnya dalam hati sambil memiringkan kepalanya.
Jeffrin masih saja menatap kepergian Rosaline. Dia masih tidak paham apa yang sedang terjadi dengan gadis itu hingga meninggalkannya di tengah makan seperti ini. Benar-benar gadis yang misterius.
🐤🐤🐤
Akhirnya Rosaline berhasil kabur dari meja makan tadi. Dia sadar kalau sudah tidak sopan karena meninggalkan Jeffrin dan Andrew dengan cara seperti tadi. Tetapi apa boleh buat, dia hanya ingin menyelamatkan diri secepat mungkin.
Saat sudah membuka pintu keluar, Rosaline bisa bernafas lega. Dia menghembuskan nafas panjangnya, rasa pening di kepalanya juga sudah mulai berkurang karena berhasil terhindar dari masalah. Tetapi tiba-tiba..............
“ROSALINE?!!” terdengar suara seorang pria yang memanggilnya.
Seketika itu juga Rosaline terkaget bukan main, jantungnya berdegup kencang, dan dengkulnya pun terasa lemas.