ME vs OM OM

ME vs OM OM
Putri Tidur



• Di Heinan Medical Center (HMC) •


Di ruang tunggu pasien, semua orang dengan cemas menunggu dokter keluar dari ruangan untuk memberi tahu mereka situasi gadis itu.


Ketika mereka sedang menunggu, tiba-tiba terdengar langkah kaki menghampiri mereka.


“Evan, apa yang terjadi dengan Raline?”


Semua orang menoleh dan melihat seorang pria menggandeng seorang gadis kecil.


Mulut Evan ternganga melihat pemandangan itu. Dia tak percaya bahwa temannya itu sudah menggali lubang kuburannya sendiri dengan nekad membawa gadis kecil itu ke rumah sakit ini.


Berbeda dengan Evan, Cheryl dan Angel merasa bingung dengan situasi ini. Mereka sama sekali tidak mengenal siapa pria dan anak kecil itu. Karena seingat mereka, Rosaline tidak pernah menceritakan apapun tentang kerabatnya.


“Ap-apa yang kau lakukan disini? Apa kau sudah gila membawa Adeline kemari?” ucap Evan pada temannya.


“Justru aku kemari karena permintaan dari Adeline. Dia menangis memohon padaku untuk mengantarkannya kemari. Dia ingin bertemu dengan Raline. Kau tahu kan jika aku tidak bisa menolak pesona imut gadis kecil ini” jawab Steve pasrah.


“Kau sudah tidak waras ya? Kau tahu kan apa yang terjadi jika William tahu bahwa kau sudah seenaknya membawa kabur Adeline ke rumah sakit”


Steve menghela nafasnya. “Ya, aku tahu. Dia pasti akan marah besar. Tenang saja, karena ini di rumah sakit, aku bisa merasa sedikit lega. Jika sesuatu terjadi padaku, maka aku bisa segera dengan cepat ditangani oleh dokter”


Evan memukul bagian belakang kepala Steve. “Dasar bodoh. Bisa-bisanya kau bercanda setelah membangkitkan amarah pria itu”


Angel dan Cheryl masih terheran dengan hubungan orang-orang itu dengan Rosaline.


“Apa kamu mengenal pria dan gadis kecil itu?” bisik Angel kepada Cheryl.


“Mana aku tahu. Raline bahkan tidak cerita pada kita bahwa dia sebenarnya mengenal baik Mister Evan” balas Cheryl dengan berbisik.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada Raline?” tanya Steve pada Evan.


“Aku tidak tahu. Saat tadi ujian, Raline hanya menunduk, aku kira dia sedang tidur. Tapi ternyata dia sudah pingsan” jawab Evan. “Lalu kedua temannya ini cerita bahwa sebelum ujian dimulai, wajah Raline memang sudah terlihat pucat tapi Raline mengaku baik-baik saja. Jika aku tahu dia sedang tidak dalam keadaan sehat, aku bisa memintanya istirahat saja. Bagaimana jika Raline kenapa-napa, aku benar-benar dosen yang ceroboh” lanjut Evan dengan merasa bersalah.


Steve menepuk-nepuk bahu temannya itu untuk menenangkan. “Tenanglah, itu bukan salahmu. Kau sudah melakukan yang terbaik dan bertanggungjawab hingga membawanya kemari. Raline pasti akan baik-baik saja...”


Tidak lama kemudian, akhirnya dokter dan perawat keluar dari ruang ruangan.


“Dokter, bagaimana keadaannya?” tanya Evan.


“Tidak perlu khawatir. Dia baru saja kehilangan terlalu banyak darah belakangan ini karena siklus datang bulannya. Sepertinya tubuhnya tidak dapat mengatasi dengan baik selama beberapa hari awal dari siklusnya. Dia sepertinya tidak makan dengan teratur dan terlalu lelah beraktivitas. Dan disaat kondisinya rentan seperti itu, dia juga mungkin pernah beraktivitas di bawah kondisi yang panas, sehingga menurunkan imunitas tubuhnya dan membuatnya mudah terkena demam. Dia juga mengalami dehidrasi. Maka dari itulah dia bisa pingsan. Tapi jangan khawatir, yang dia butuhkan sekarang adalah istirahat beberapa hari dan semuanya akan baik-baik saja. Tubuhnya sudah berangsur pulih setelah kami memasangkan infus” terang dokter yang menangani Rosaline.


Evan, Angel, dan Cheryl bisa bernafas lega. Rasa cemas mereka berangsur membaik setelah mendengar penjelasan dokter.


“Terima kasih dokter” ucap Evan.


Kemudian semua orang masuk ke dalam ruangan Rosaline. Mereka melihat kondisi Rosaline yang terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit.


Ini adalah kali pertama Steve melihat Rosaline secara langsung. Dan ternyata gadis itu memang terlihat sangat lebih cantik daripada di foto.


“Dia bahkan tidak terlihat jika sedang sakit” ucap Steve tiba-tiba.


Semua orang menoleh dan menatap tajam pada Steve. Tetapi mereka mengerti apa yang Steve maksudkan. Meskipun Rosaline sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit dan terlihat pucat, untuk beberapa alasan, Rosaline memang lebih tampak seperti seorang putri tidur.


Kemudian Adeline melepaskan gandengannya dari Steve dan mendekat ke arah Rosaline. Gadis kecil itu memperhatikan lekat Rosaline yang sedang terbaring lemah di kasur sambil menggenggam erat tangan Rosaline. Adeline tersenyum melihat Rosaline yang sudah baik-baik saja dan dia juga merasa senang karena bisa bertemu lagi dengan Rosaline.


Evan dan Steve terkejut melihat pemandangan yang menyentuh itu. Adeline terlihat sangat perhatian dengan Rosaline yang sedang terbaring lemah. Bahkan Angel dan Cheryl yang tidak paham hubungan antara Adeline dan Rosaline pun juga turut terhanyut haru melihat pemandangan itu.


“Mister Evan, apakah akan baik-baik saja jika gadis kecil ini berada disini? Dia mungkin bisa saja terkena sakit jika terus berada disini” ucap Cheryl.


“Kamu benar, saya juga mengkhawatirkan itu. Tapi saya lebih khawatir lagi melihat reaksi pemilik gadis kecil itu jika dia tahu bahwa Adeline berada disini...” ucap Evan dengan nada putus asa.


Kemudian Evan mendekat ke Adeline. “Adeline, kamu harus pulang sekarang bersama dengan om Steve. Jika kamu berlama-lama disini, kamu mungkin akan terkena sakit”


Gadis kecil itu mengabaikan ucapan Evan. Dia lebih memilih untuk memperhatikan tantenya yang sedang terbaring di kasur.


Steve menghela nafasnya berat. “Aku akan segera menulis surat wasiatku....” ucapnya pasrah.


Angel dan Cheryl yang mendengar ucapan Steve merasa bingung.


Di waktu bersamaan, ponsel Steve tiba-tiba berdering. Ketika dia melihat nama penelfon, wajahnya berubah pucat seolah malaikat maut sedang menghampirinya.


“Hh-halo...?” jawab Steve dengan menahan rasa takutnya.


“Dimana?” suara dingin terdengar memberi perintah untuk menjawab.


“HMC bangsal xxx nomer xx...” jawab Steve bergetar.


Sebelum Steve dapat menyelesaikan omongannya lebih lanjut, tiba-tiba sambungan telfon langsung dimatikan.


Steve kemudian berlutut dan memohon kepada gadis kecil itu. “Adeline sayang, ayo kita pulang sekarang. Jika tidak, ayahmu mungkin bisa saja benar-benar membunuhku” ucapnya dengan sangat putus asa.


Gadis kecil itu tetap saja mengabaikan omongan Steve dan tetap berpegang teguh untuk memperhatikan kondisi tantenya yang sedang tertidur cantik itu. Adeline bahkan melawan ketika dia akan ditarik keluar oleh Steve.


“Astaga, apa yang harus aku lakukan...” ucap Steve frustasi sambil menjambak rambutnya.


Steve mulai panik dan berjalan mondar-mandir, menyebabkan Angel dan Cheryl bertanya-tanya apa yang terjadi pada pria itu.


🐤🐤🐤🐤🐤


Beberapa saat kemudian, seorang pria berawakan tinggi, berkulit putih, dan berwajah tampan dibalut dengan jas berwarna hitam masuk ke dalam ruangan Rosaline. Membuat para penghuni ruangan itu terkaget akan kehadiran pria itu yang tiba-tiba.


Seketika suasana ruangan itu berubah menjadi dingin dan mencekam karena kehadiran pria itu.


Saat Angel dan Cheryl melihat dan mendengar ucapan pria itu, keduanya gemetar ketakutan akan kehadiran pria itu. Sebisa mungkin mereka mencoba menghindari kemungkinan terburuk atas situasi ini.


“Will, ini bukanlah salahku” Steve berpikir sejenak, sepertinya dia salah berucap, “Ee-emm yah mungkin sebagian memang salahku karena sudah menyebut nama Raline, tap---“ sebelum Steve menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah terlebih dahulu menonjok pipinya hingga Steve terhuyung.


Membuat Angel, Cheryl, dan Evan terlonjak kaget atas respon pria itu.


“Oke. Aku akui, aku memang pantas mendapatkan ini” ucap Steve sambil menatap pria itu sembari meraba pipinya yang ditonjok.


Evan kemudian menghampiri Steve untuk mengecek kondisi temannya itu.


“Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini? Siapa lagi pria itu? Dia mengerikan sekali” bisik Angel pada Cheryl.


“Aku juga tidak tahu. Lebih baik kita tidak usah ikut campur dan fokus pada kesembuhan Raline. Abaikan saja kehadiran mereka” balas Cheryl dengan berbisik.


Sedangkan pria dingin itu mengabaikan sepenuhnya perkataan Steve dan mendekat ke arah Adeline yang sedang duduk sabar di samping tempat tidur Rosaline sambil menggenggam tangannya. Adeline bahkan terlihat seperti patung yang hanya menatap Rosaline sedari tadi.


William tidak percaya bahwa gadis kecilnya akan selekat itu dengan perempuan yang sudah menolongnya sekali.


William menatap perempuan yang sedang terbaring itu dan terpikat oleh kecantikannya. Meskipun Rosaline terlihat pucat dan sedang sakit, dia lebih terlihat seperti seorang putri tidur yang terbaring lemah. Dia juga sama cantiknya seperti di foto dan terakhir kali saat William bertemu dengannya saat di kampus. Pria itu jadi teringat lagi saat Rosaline mengirim foto kala itu dan membuat jantungnya mulai berdetak tiba-tiba.


William menghapus pikiran bodohnya dan menatap gadis kecilnya. “Sweetie, ayo kita pulang”


Adeline benar-benar tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya dan mengabaikan ucapan ayahnya.


Pria itu memijat keningnya dan menghela nafasnya untuk menenangkan diri. “Adeline, aku serius. Kita pulang sekarang, jika tidak kamu akan sakit”


“Adeline, dengarkan ayahmu. Segeralah pulang sebelum sesuatu terjadi padamu dan membuat situasi om semakin sulit” Steve memohon pada Adeline. Dia juga melihat bahwa sekarang William sedang menatap tajam dirinya.


Gadis kecil itu masih bersikukuh dan makin menggenggam erat tangan Rosaline.


“Adeline, kamu pilih berjalan keluar dari ruangan ini dengan sukarela atau ayah akan menyeretmu keluar dari ruangan ini. Semua terserah padamu” ucap William.


Astaga, aku kira aku hanya akan bertemu badai gurun pasir saat melihat om Jeffrin. Tapi nyatanya ada yang lebih parah darinya. Sayang sekali wajah setampan itu ternyata sedingin kutub selatan dan sikapnya bagaikan badai salju. Benar-benar sangat dingin dan mencekam – ucap Angel dalam hati bergidik ngeri melihat William.


Tapi tetap saja, gadis kecil itu tidak bergerak, menyebabkan pria itu menjadi lebih marah. Ketika William mendekat dan meraih tangan gadis kecil itu untuk membawanya keluar dari ruangan, seketika pria itu membeku setelah mendengar suara manis yang menggema di ruangan itu.


“Tante Raline....”


Membuat semua orang di ruangan itu menoleh ke arah gadis kecil itu.


Semua orang di ruangan itu terkejut mendengar suara Adeline. Pasalnya gadis kecil itu sedari tadi tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun semenjak tiba di rumah sakit.


William melepaskan tangan Adeline dan gadis kecil itu kembali lagi ke samping tempat tidur Rosaline.


Steve langsung mendekat ke arah William dan menunjuk ke arah Adeline dengan tidak percaya atas apa yang baru saja dia dengar. “Yo...Will...Adeline baru saja memanggil nama orang lain, dan itu Raline”


“Hmm” jawab William.


"Padahal Adeline sama sekali belum pernah memanggil namaku. Aku bahkan hampir mengira kalau Adeline tidak bisa bicara" gumam Steve lirih.


Tetapi tetap saja ucapan itu masih bisa terdengar oleh William, membuat pria itu memberikan tatapan mematikan pada Steve.


Karena sedari tadi terjadi keributan, perempuan yang terbaring di tempat tidur itu pun akhirnya tersadar. Perlahan dia membuka matanya. Dia meraba kepalanya yang terasa pusing. Rosaline juga membuat suara rendah serak yang menyebabkan gadis kecil di sampingnya merasa sangat khawatir dan kembali mendekati ayahnya.


“Raline, apa kamu baik-baik saja?” tanya Cheryl saat mendekati Rosaline.


“Apa kamu merasa ada yang sakit? Apa perlu aku panggilkan dokter” ucap Angel.


Pandangan Rosaline masih samar-samar, tenggorokannya juga terasa kering. “Ak-aku tti-tidak apa-apa” jawabnya dengan nada serak dan menghadap kedua temannya itu.


Kemudian dia menemukan sosok lain di belakang kedua temannya. “Mm-Mister Evan?” ucapnya terheran dengan keberadaan dosennya.


“Kamu tadi pingsan saat ujian. Saya dan kedua temanmu ini membawamu ke rumah sakit. Apa sekarang kamu sudah merasa baikan?” tanya Evan.


Rosaline berpikir sejenak saat mendengar kata rumah sakit. Kemudian dia tersadar bahwa rumah sakit terdekat dari kampusnya adalah rumah sakit milik keluarganya. “Ddi-di rumah sakit mana aku sekarang?” ucapnya panik.


Cheryl terheran dengan sikap Rosaline yang terlihat panik. “Kita sekarang di rumah sakit HMC” jawab Cheryl.


Seketika wajah Rosaline membeo, dia memegang kepalanya yang makin terasa pusing setelah mendengar bahwa sekarang dirinya berada di rumah sakit keluarganya. Akan gawat jadinya jika ayahnya atau Rayen mengetahui keadaannya sekarang.


Gawat. Apa orang yang memeriksaku tadi mengenalku? Semoga saja orang itu tidak mengenalku. Jika iya, maka sebentar lagi aku akan terkena masalah – ucap Rosaline frustasi dalam hati.


Rosaline harus segera keluar dari rumah sakit ini sebelum ada orang yang mengenalinya. Tapi sebelum itu, dia harus membuat kedua temannya dan dosennya itu segera pulang meninggalkan dia sendirian supaya Rosaline bisa memastikan keadaan.


“Apa kamu merasa pusing? Jika iya maka saya akan panggilkan dok--” belum selesai Evan berucap, Rosaline sudah menyelanya. “JANGAN” ucap Rosaline tiba-tiba.


“Maafkan aku, tapi aku sungguh tidak apa-apa Mister Evan... Tidak perlu memanggil dokter lagi. Aku hanya ingin segera keluar dari rumah sakit ini sebelum semuanya menjadi semakin rumit” imbuh Rosaline.


Angel, Cheryl, dan Evan merasa terheran dengan ucapan Rosaline yang terasa aneh.


Lalu Rosaline baru mulai menyadari ada kehadiran orang lain di sisi lain ranjangnya.


Rosaline melihat sosok pria tinggi dan berwajah tampan yang tampak asing baginya sedang memandang dirinya. Dan saat pandangan Rosaline menurun dari wajah pria itu, ada sosok gadis kecil yang sedang memegang kaki pria itu.


“Adeline?” ucap Rosaline terkaget, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Rosaline memegang erat kepalanya. Dia merasa sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. “Aku pasti sedang berhalusinasi karena sudah melihat Adeline disini...” gumamnya.