
• Malam hari di sebuah kediaman •
Seorang pria sedang fokus membaca dokumen di balik meja kerjanya. Dia tidak sabar menunggu kedatangan gadis kecilnya yang sudah beberapa hari ini tidak dilihatnya, karena dia harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Saat ini gadis kecilnya itu sedang pergi jalan-jalan bersama adik dari pria itu, Kei.
Tiba-tiba dia mendengar suara pintu ruang kerjanya terbuka, namun dari balik pintu tak terdengar suara permisi atau apapun. Maka sudah dapat dipastikan kalau itu hanyalah satu orang. Dan itu adalah gadis kecil kesayangannya. Tanpa basa-basa pria itu pun langsung meletakkan dokumennya.
Sebelum dia melangkahkan kaki untuk menuju pintu, gadis kecilnya itu terlebih dahulu masuk ke dalam ruangannya. Dia terlihat begitu lucu dan menggemaskan karena saat ini sedang memakai pakaian dengan model sailor moon. Rambutnya dikucir dua keatas, dan menggunakan flat shoes model rekat berwarna putih. Dia juga memakai tas slempang kecil berwarna putih polos.
Melihat penampilannya yang tidak seperti biasanya, kini William mengerti kenapa beberapa hari yang lalu ada notifikasi tagihan bank dari kartu milik Adeline. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, karena selama ini omanya yang selalu membelikan apapun yang Adeline butuhkan, meskipun William sudah memberikan kartu kredit khusus untuk kebutuhan Adeline yang dititipkan pada omanya.
William juga lupa menanyakan tentang perihal itu kepada nyonya Martha, mamanya William. Tetapi William yakin bahwa Adeline tidak akan menggunakan kartu miliknya untuk hal-hal aneh.
Pria itu berjongkok agar bisa sejajar dengan tinggi gadis kecilnya. “Kemarilah peluk ayah” William merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari Adeline.
Adeline menyambut rentangan tangan itu dan menghamburkan pelukan ke ayahnya. William pun memeluk erat gadis kecilnya. Setelah dikendurkan pelukannya, William mencium kening dan kedua pipinya.
Adeline pun juga sangat senang karena bisa bertemu ayahnya. Terlebih di saat dirinya sekarang yang sedang menggunakan pakaian yang sangat disukainya.
“Halo ayah” suara kecil manis dan imut keluar dari mulut Adeline. Wajahnya juga memancarkan senyum merekah dan menampilkan gigi susunya. Lalu dia mencium kedua pipi ayahnya.
Mendengar itu, William tercengang beberapa saat karena Adeline bisa berkata seperti itu. Selama ini Adeline bisa dibilang tidak pernah berkata seperti itu meski sudah lama tidak bertemu dengan ayahnya. Sesenang apapun Adeline bertemu ayahnya, dia hanya akan memeluk dan mencium ayahnya saja tanpa mengucapkan kata ‘halo ayah’. Apalagi dia ini anak yang sangat irit bicara. Tetapi hari ini, Adeline bisa menyambutnya dengan semanis itu.
“Sweetie, ada apa denganmu? Apa kamu sesenang itu bertemu ayah?”
Adeline mengangguk, lalu dia mengacungkan angka satu, kemudian menunjuk pakaian yang sedang ia pakai dengan memamerkannya. Maksud perkataan gadis kecil itu adalah, “Ya, aku senang bertemu ayah. Dan satu lagi, aku juga senang ayah bisa melihatku menggunakan pakaian ini ”
“Kamu senang menggunakan pakaian ini dan kamu senang karena bisa menunjukkannya pada ayah?” tanya William.
Adeline pun mengangguk dengan ceria dan semangat.
Ini kan hanya pakaian saja. Lalu apa yang bisa membuatnya begitu senang menggunakan pakaian ini – batin William.
Tak lama kemudian nyonya Martha masuk ke dalam ruang kerja William. Ternyata sedari tadi dia sudah melihat adegan sayang-sayangan Adeline dan William dari balik pintu yang sedikit terbuka.
“Pakaian itu dipilihkan oleh Raline” ucap nyonya Martha yang sudah masuk dan langsung duduk di sofa ruang kerja.
“Raline?” William mengernyitkan alisnya.
“Raline itu Rosaline. Orang yang menolong Adeline waktu itu. Apa kamu ingat?”
William mencoba mengingatnya. Dia menyipitkan mata dan mengerutkan keningnya. “Ahh aku ingat. Maksud mama apa, mengatakan kalau pakaian ini dipilihkan Raline?”
“Beberapa hari yang lalu mama sedang mengajak Zeno dan Adeline jalan-jalan ke mall. Lalu kami tidak sengaja bertemu dengan Raline disana. Adeline meminta mama untuk mengajak Raline ikut jalan-jalan bersama, dan untungnya gadis itu menyetujuinya” jawab nyonya Martha.
“Dan pakaian ini, apa Adeline membelinya dengan kartu yang aku berikan untuknya?” tanya William.
Nyonya Martha menganggukkan kepalanya.
“Mama memang berniat untuk membelikan Adeline pakaian baru, karena beberapa miliknya sudah tidak cukup lagi. Lalu Adeline meminta Raline untuk memilihkannya. Mama bahkan tidak sempat memilihkan satu pun, karena Adeline selalu menempel erat dengan Raline. Dan bahkan Adeline juga menyuruh mama untuk membiarkan dia belanja berdua saja dengan Raline. Ya sudah, apa boleh buat, akhirnya mama ijinkan. Mama hanya bisa mengawasinya saja bersama dengan Zeno” nyonya Martha menghela nafas sejenak.
William menatap sekilas gadis kecil yang ada di depannya itu. “Apa kamu benar-benar Adeline” ucapnya dalam hati.
“Raline memilihkan berbagai pakaian yang lucu-lucu dan bagus. Adeline juga meminta Raline untuk membeli pakaian tidur yang kembar dengannya, dan Raline pun menyetujuinya. Kemudian saat Raline akan membayar pakaian miliknya, Adeline mencegahnya. Dia ingin membayar pakaian Raline, karena dia ingin berterima kasih kepada Raline yang waktu itu sudah menolongnya. Lalu tiba-tiba Adeline meminta kartu kredit miliknya yang kamu titipkan pada mama. Dan setelah mendapatkannya, dia langsung serahkan pada kasir untuk membayar semua pakaiannya dan pakaian Raline. Mama juga tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menuruti keinginan Adeline dan berusaha membujuk Raline supaya dia juga mau menerima keinginan Adeline. Dan yah, begitulah terjadinya pengeluaran pertama kali dari kartu milik Adeline” terang panjang lebar nyonya Martha.
“Adeline seperti itu? Mama tidak sedang berbohong kan?”
“Untuk apa mama berbohong padamu. Semua itu benar. Termasuk kenyataan Adeline yang sangat menempel dengan Raline. Saat mau pulang, Adeline nyaris menangis karena harus berpisah dengannya. Untung saja Raline memberikan pengertian padanya, sehingga Adeline pun paham dan tidak jadi menangis” jawab nyonya Martha.
“Adeline tidak ingin berpisah dengannya?!” ucap William.
William menatap lekat gadis kecilnya dengan wajah terheran. “Ini pasti bukan Adeline. Aku ragu kalau kamu ini masih Adeline” ucapnya dalam hati.
Sekali lagi perkataan dari mamanya berhasil mengejutkan William. Selama ini Adeline tidak pernah mau untuk makan sayuran. Dan tidak satupun orang rumah yang berani memaksanya. Tetapi hanya karena perintah dari Rosaline, Adeline bisa dibuat patuh segampang itu. Bahkan Zeno pun juga sama patuhnya.
William kembali menatap Adeline. “Benarkah sweetie?”
Adeline mengangguk dengan tersenyum semangat.
Sweetie, apa kepalamu pernah terbentur sesuatu hingga bisa membuatmu bersikap seperti itu terhadap tante penolongmu itu – ucap William dalam hati.
“Ya sudahlah itu saja yang ingin mama sampaikan” nyonya Martha beranjak dari sofa. Sebelum keluar dari ruangan, dia kembali berkata, “Ahh...ada lagi yang terlupa. Raline itu gadis yang cantik, dan menurut mama dia adalah gadis yang tulus. Dia memperlakukan Adeline dengan penuh kasih sayang. Mama sudah banyak mencari tahu tentang dia saat jalan bersamanya. Jika tertarik mendengarnya, temui saja mama. Selain itu yang terpenting....Adeline sangat menyukainya” kemudian nyonya Martha keluar ruangan.
William masih terdiam setelah mamanya meninggalkan ruangannya. Dia masih merasa terkejut mendengar semua kabar yang baru saja didengarnya. Dia pun juga tak bisa berkata-kata untuk menanggapi perkataan mamanya yang sebelum keluar dari ruangan kerjanya.
Adeline menepuk pundak ayahnya dan berkata, “Ponsel”
William pun tersadar dengan tepukan gadis kecilnya. “Kamu ingin meminjam ponsel ayah?”
Adeline menganggukkan kepala.
Kemudian William mengambil ponselnya yang ada diatas meja kerja. Diserahkannya pada Adeline.
Adeline menerima ponselnya dan langsung membuka aplikasi kamera. Kemudian diserahkan lagi pada ayahnya.
“Kamu ingin ayah memfotomu?” tanya William. Dan Adeline menjawab dengan mengangguk.
William mengambil beberapa foto Adeline yang sedang menggunakan pakaian sailor moonnya itu. Kemudian Adeline meminta ponsel itu lagi. Lalu dia duduk di sofa sambil memegang ponsel ayahnya.
William hanya geleng-geleng melihat tingkahnya dan memilih kembali duduk di kursi kerjanya.
🐤🐤🐤
Adeline merogoh sesuatu di dalam tas kecilnya. Dia mengambil secarik kertas yang bertuliskan nomer ponsel. Disalinnya nomer itu ke nomer tujuan yang akan dia kirimi pesan.
Adeline memilih salah satu foto. Dia akan kirimkan foto itu ke nomer tujuan. Dan tak lupa dia juga menambahkan pesan tulisan ‘Halo tante’. Kemudian dia langsung mengirimnya.
Setelah urusan mengirim fotonya selesai, dikembalikan lagi ponsel itu pada ayahnya dengan diletakkan di atas meja kerja. William pun sama sekali tidak tahu apa yang sudah diperbuat Adeline terhadap ponsel miliknya.
“Sudah selesai?” tanya William. Adeline jawab dengan mengangguk.
William kembali berjongkok menghadap gadis kecilnya. Kemudian Adeline mengecup pipi kanan William. Maksud dari kecupan Adeline adalah, “Terima kasih ayah ”
William pun paham dengan maksudnya yang sedang berterima kasih karena sudah dipinjami ponsel, lalu dia menjawab, “Your welcome”
“Kalau begitu segeralah bersiap untuk tidur” William mengelus rambutnya, kemudian mengecup keningnya yang tertutup poni. “Good night, sweetie”
Adeline gantian mengecup pipi kiri William dan berkata, “Good night, ayah” ucapnya dengan senyum menggemaskannya. Dan dia pun keluar dari ruangan itu.
Malam ini William merasakan perasaan aneh yang sama sekali belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia mencoba merenungkan hal ini disebabkan oleh apa. Dia pun masih menatap kepergian gadis kecilnya yang sudah keluar dari ruangan kerjanya.
🐤🐤🐤
• Di kamar William •
Sebelum tidur, William bersantai sejenak di tempat tidurnya sambil menonton TV. Lalu dia mendengar ponselnya bergetar dan segera mengeceknya. Dia melihat notifikasi mendapatkan pesan baru. William terheran pesan itu dari siapa, karena dia merasa sedang tidak berkirim pesan dengan siapapun.
[ Adeline sayang, kamu terlihat sangat cantik dan menggemaskan menggunakan pakaian itu. Aku juga akan segera menggunakan piyama yang kembar denganmu, dan akan langsung aku kirimkan fotonya padamu saat aku sudah menggunakannya. Good night, Adeline ]
Setelah membaca isi pesan tersebut, William sudah bisa menduga siapa pengirimnya. “Raline?” gumamnya.