
Langit yang tadinya berwarna biru, kini sudah mulai berubah menggelap. Sinar matahari akan segera tergantikan dengan cahaya rembulan.
Seorang gadis baru saja turun dari taksinya. Dia berjalan gontai memasuki rumahnya. Meskipun begitu, dia tetap menyapa ramah para asisten rumah tangga di rumahnya. Wajah pagi hari tadi yang memancarkan keceriaan, sekarang sudah hilang digantikan dengan wajah lesu dan kelelahan.
Setelah sampai di kamar, gadis itu merebahkan tubuhnya sesaat. Merasa tidak nyaman dengan badan yang lengket, dia pun memutuskan untuk membersihkan badannya terlebih dulu.
🐤🐤🐤🐤🐤
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu kamar gadis itu.
“Ros, boleh aku masuk?”
“Masuk saja kak....”
Pintu pun terbuka, munculah Rayen dari balik pintu. Dia menghampiri Rosaline yang sedang duduk santai di tempat tidur sambil memangku laptopnya.
“Apa kamu sedang mengerjakan tugas kuliah?” tanya Rayen sembari duduk di tempat tidur adiknya.
“Hmm. Aku sedang menyelesaikan tugas sekalian belajar. Esok aku juga ada ujian” jawab Rosaline sambil menatap laptopnya.
Rayen mengamati wajah adiknya yang sepertinya tampak lelah. “Akhir-akhir ini kamu selalu pulang malam karena jadwal pemotretanmu yang mulai padat. Apa kamu tidak kelelahan? Sepertinya wajahmu terlihat pucat. Apa badanmu baik-baik saja?” tanya Rayen khawatir dan memegang wajah adiknya.
Rosaline menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menanggapi Rayen. “Yah itu resiko kak. Semenjak majalah itu terbit, jadwalku menjadi padat, aku harus pintar membagi waktu dengan kuliahku. Sangat bohong jika aku tidak lelah, tapi aku sudah terbiasa sejak dulu, dan sejauh ini aku menikmatinya. Badanku pun masih baik-baik saja dan aku harap selalu begitu. Aku terlihat pucat karena sedang datang bulan kak, selain itu tadi juga aku pemotretan di outdoor dan sedikit kepanasan, tapi itu bukan masalah besar. Jadi kakak jangan terlalu khawatir”
“Baiklah, jika kamu kelelahan jangan dipaksakan. Jika kamu sampai sakit karena jadwalmu yang padat, aku akan menyita kantor tante Sandra dan menutup usahanya” ucap Rayen bercanda.
Rosaline terkekeh geli mendengar omong kosong kakaknya. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya omong kosong, karena memang tidak mustahil hal itu bisa terwujud. “Dasar gila. Jika aku sakit itu tidak ada sangkut pautnya dengan kantor tante” dia menggelengkan kepalanya.
Rayen hanya tersenyum merespon jawaban Rosaline.
“Oh ya Ros, besok pagi aku akan pergi ke luar negeri untuk beberapa hari. Ayah juga masih diluar negeri dan baru akan pulang minggu depan. Apa kamu tidak apa-apa jika ditinggal di rumah sendirian?” tanya Rayen dengan menghadap Rosaline.
Wajah Rosaline tampak sedikit sedih. Dia sebenarnya tidak begitu suka jika harus sendiri di rumah. Tapi bagaimana pun dia juga sudah terbiasa jika harus ditinggal seperti ini. “Hmm tidak masalah. Lagi pula aku juga sudah punya kesibukan, jadi tidak akan terlalu kesepian” ucapnya dengan tersenyum.
Rayen mengusap kepala adiknya dan tersenyum. Rosaline memang gadis yang mandiri dan tidak suka merengek meskipun dia selalu dimanjakan oleh Rayen dan ayahnya. “Jika ada apa-apa hubungi kakak atau ayah. Ingat, aku dan ayah masih bisa mengawasi gerak-gerikmu meskipun kami tidak disini. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kelelahan. Mengerti?”
Rosaline menghela nafasnya. “Yes brother....” jawab Rosaline dengan hormat pada Rayen.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Keesokan harinya, di kampus ZXY •
Para mahasiswa memasuki ruang kelas. Hari ini akan diadakan ujian harian. Rosaline duduk dekat dengan kedua temannya, Angel dan Cheryl.
Kedua temannya itu melihat wajah Rosaline yang terlihat pucat dan lesu.
“Ral, apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat, tidak seperti biasanya” ucap Cheryl khawatir.
“Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang kedatangan tamu bulanan, dan ini hari ketigaku. Tidak perlu khawatir” balas Rosaline dengan memaksakan senyum. Bohong jika dia mengatakan baik-baik saja. Tapi dia tidak mau membuat temannya khawatir. Selain itu, dia juga harus mengikuti ujian. Sungguh sebenarnya saat ini dia sedang merasakan badannya sangat tidak bersahabat. Saat bangun tidur tadi badannya sudah terasa aneh, bahkan dia juga sama sekali tidak nafsu untuk makan.
“Apa kamu perlu sesuatu? Aku membawa biskuit di tas, apa kamu mau?” ucap Angel.
Rosaline hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak perlu, aku sudah makan tadi. Sudahlah jangan mengkhawatirkanku. Besok kan akhir pekan, jadi aku bisa istirahat seharian” ucap Rosaline berbohong pada temannya.
Kemudian mereka lanjut mengobrol biasa hingga akhirnya dosen memasuki ruangan.
🐤🐤🐤🐤🐤
Sepanjang ujian, Rosaline manahan rasa sakitnya. Dia memang bisa mengerjakan ujiannya dengan baik, tapi kondisi badannya begitu menyiksanya.
Ketika dia sudah selesai mengerjakan, Rosaline tidak langsung mengumpulkannya. Dia lebih memilih menunduk sejenak untuk meredakan rasa sakitnya. Dia merasa tidak kuat beranjak dari tempat duduknya saat ini.
Saat semua orang sudah selesai mengumpulkan ujiannya dan meninggalkan ruangan, Rosaline masih tertunduk di tempat duduknya, membuat Angel dan Cheryl semakin curiga. Setelah keduanya selesai mengumpulkan, mereka menghampiri Rosaline.
“Raline, apa kamu tertidur?” ucap Cheryl dengan menggoyangkan tubuh Rosaline yang masih menunduk.
Tapi tidak ada respon dari gadis itu.
“Hei Raline, ujiannya sudah selesai. Ayo segera kumpulkan” ucap Angel.
Dosen yang melihat interaksi ketiga orang itu pun menghampiri mereka. Apalagi ruangan juga sudah kosong dan hanya tinggal tiga orang itu.
“Ada apa?” tanya dosen itu.
“Ee-eeh Mister Evan, Raline sepertinya sedang tertidur. Tapi kami berdua tidak bisa membangunkannya” jawab Angel.
Kemudian Evan mencoba membangunkan Rosaline dengan memanggilnya. Tapi hasilnya sama saja, tidak ada pergerakan. Lalu dia menyuruh Cheryl untuk mengangkat sedikit tubuh gadis itu agar terlihat wajahnya. Dan betapa terkejutnya mereka mendapati Rosaline yang ternyata pingsan.
“Astaga, badannya panas. Wajahnya juga terlihat sangat pucat” ucap Evan panik ketika memegang wajah gadis itu.
“Mister, bagaimana ini? Raline sepertinya sudah dari tadi menahan sakitnya hingga pingsan seperti ini. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit” ucap Cheryl dengan panik dan dia juga mulai menangis.
“Saya akan membawanya ke rumah sakit. Kalian berdua juga ikut menemani saya” ucap Evan. Kemudian dia menggendong Rosaline untuk segera keluar ruangan dan membawa ke mobilnya.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Di dalam mobil •
Angel dan Cheryl yang duduk dibelakang menangis sambil menggenggam tangan dan tubuh Rosaline. Mereka memandangi wajah Rosaline yang sangat pucat.
“Aa-andai saja kami berdua bbi-bisa menyadari keanehan Raline lebih cepat, pasti dia tidak akan ppi-pingsan seperti i-ini mister...” ucap Cheryl dengan terisak-isak.
“Kalian berdua jangan khawatir, dia pasti akan baik-baik saja” jawab Evan menenangkan kedua mahasiswinya yang terlihat cemas.
Tapi sebenarnya, Evan sendiri pun juga merasa sangat cemas. Tangannya pun gemetar saat menyetir.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Di sisi lain •
Adeline sedang sibuk mengerjakan projek sekolahnya dengan bantuan dari Steve. Pria itu merasa seperti awan gelap sedang melayang-layang di atas kepalanya, dia hanya bisa mendesah kelelahan. Gadis kecil itu bukan milik Steve, tapi justru sekarang dialah yang berperan sebagai ayahnya Adeline untuk membantu mengerjakan projek sekolah gadis kecil itu. Karena pemilik sebenarnya gadis kecil itu sekarang sedang ada rapat di kantor, keluarganya yang lain juga sedang sibuk, dan akhirnya Steve lah yang menggantikan kehadiran mereka di sekolah Adeline.
“Kamu tahu Adeline, ayahmu yang dingin itu tidak membayarku dengan cukup untuk mengurusmu dan melakukan hal-hal seperti ini” keluh Steve kepada Adeline.
Gadis kecil itu hanya menjawab dengan tersenyum pada Steve.
Saat sudah selesai dan tiba waktu pulang, Steve dan Adeline tidak sengaja bertemu dengan Zeno dan mamanya di depan gerbang sekolah.
“Apa Evan tidak menjemput kalian berdua? Bukankah biasanya di hari ini dia selalu bisa menjemput?” tanya Steve kepada istri Evan.
“Yah, biasanya begitu. Tetapi hari ini dia sedang tidak bisa menjemput kami. Dia tadi mengabariku bahwa dia harus mengantar mahasiswinya yang bernama Raline ke rumah sakit” jawab istri Evan.
“Raline? Maksudmu Raline yang kenal dengan Zeno dan Adeline?” ucap Steve.
Istri Evan menganggukkan kepala. “Hmm benar, Raline yang itu. Dia sekarang membawanya ke rumah sakit HMC” jawabnya.
Steve merasa terkejut mendengar kabar itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga tidak kenal dengan Rosaline, hanya sekedar tahu saja. Kemudian Zeno dan mamanya pamit undur diri untuk pulang.
Saat Steve akan beranjak dari tempatnya untuk masuk ke mobil, Adeline meraih kaki Evan dan menggenggamnya.
“Adeline, ada apa? Ayo kita pulang” ucap Steve.
Adeline menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya juga terlihat sedih.
“Hei, ada apa denganmu? Kenapa kamu seperti ini? Katakan ada apa, jangan membuat om Steve khawatir....” ucap Steve dengan berjongkok agar sejajar dengan Adeline.
“Ke tempat tante” ucap Adeline.
Steve yang mendengar ucapan Adeline, serasa seperti terkena serangan jantung. Gadis kecil di depannya ini hampir tidak pernah bicara dengan Steve meskipun mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama. Dan sekarang gadis kecil itu memintanya untuk diantar ke tempat Rosaline.
Steve menghela nafasnya. “Adeline sayang... Om Steve mana mungkin membawa Adeline ke tempat tante Raline. Om Steve ini masih ingin menikmati hidup lebih lama lagi, keinginan om masih banyak yang belum terwujud, bahkan menikah pun juga belum. Om Steve masih sayang sama nyawa om. Adeline tidak mau kan kalau nyawa om Steve yang baik hati ini berakhir di tangan ayahmu itu. Jadi tolong mengertilah....” ucap Steve dengan penuh pengertian agar Adeline memahaminya.
Ketika dia memberi pengertian pada Adeline, wajah gadis kecil itu perlahan berubah memerah bersamaan dengan matanya yang sudah berair dan siap menetes ke wajahnya. Dan tak lama air mata Adeline mulai membasahi wajah gadis kecil itu.
Hati Steve begitu sakit melihat wajah gadis kecil itu yang tampak kecewa dan bahkan sudah meneteskan air matanya. Sungguh ini pemandangan yang sangat langka melihat Adeline menangis.
“Alright, kita akan ke tempat tante Raline. Tetapi kamu perlu memberitahu ayahmu. Oke?” ucap Steve dengan menghapus air mata di wajah gadis kecil itu. Wajah gadis kecil itu benar-benar imut dan membuat Steve tidak tega menolak keinginannya.
“God, tolong selamatkan nyawaku. William, tolong ampuni dan kasihanilah aku. Gadis kecil milikmu ini benar-benar melelehkan hatiku dan membuatku tidak tega jika harus mengecewakannya...” kemudian Steve menghela nafasnya dan melanjutkan, “Lupakan. Apapun intinya, toh si bongkahan es kutub selatan itu akan membunuhku” ucapnya frustasi dalam hati.
Adeline menganggukkan kepalanya dengan senang dan dia menggenggam tangan Steve untuk masuk ke dalam mobil.
Saat di dalam mobil, Steve memberikan ponselnya kepada Adeline supaya gadis kecil itu bisa mengabari ayahnya. Namun sayang, sepertinya tidak ada jawaban dari panggilan telfonnya. Jadi Adeline memutuskan untuk mengirimkan pesan saja ke ayahnya.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Di MEGA Technology Corp •
Seorang pria sedang sibuk dengan meeting yang sedang dihadirinya. Sehingga dia mengabaikan panggilan telfon seperti biasanya.
Saat meeting sudah selesai, pria itu ingat bahwa tadi ada panggilan masuk di ponselnya. Dia penasaran, siapa orang yang sudah menelfonnya selama jam meeting tadi.
Ketika dia membaca isi pesan di ponselnya, wajahnya seketika berubah menjadi marah dan dia merasa begitu menyesal tidak menjawab panggilan telfon tadi.
[ Dari Steve: Ayah, Adeline pergi dengan om Steve untuk mengunjungi tante Raline di rumah sakit HMC ]
Pria itu keluar dari ruangan meeting dan menghampiri asistennya. “Bilang supir untuk menyiapkan mobilku. Aku akan pergi sekarang!” ucap pria itu dengan penuh emosi.
Steve, rupanya kau sudah bosan dengan hidupmu yang nyaman itu – ucap pria itu dalam hati.