
“Jeffrin Avicena?”
Jeffrin yang masih menatap kepergian Rosaline, mendengar ada orang memanggilnya, dia pun menoleh. Dilihatnya sosok seorang pria yang masih tampan dan gagah di usianya yang berada di pertengahan umur 50 tahunan. Melihat orang itu, Jeffrin langsung berdiri dari tempat duduknya.
Andrew pun juga turut berdiri dan memberi sapaan menghormati dengan membungkukkan sedikit kepala dan badannya.
Jeffrin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda menyapa. “Tuan Anthoni Heinanverero. Senang bisa bertemu dengan anda lagi” ucapnya ramah dengan menundukkan sedikit kepalanya tanda hormat. Kemudian dia menegakkan kepalanya kembali. “Suatu kehormatan restaurant ini bisa dikunjungi oleh anda” lanjutnya dengan tersenyum.
Jabat tangan mereka terlepas. Tuan Anthoni menepuk lembut bahu Jeffrin. “Jeffrin...jangan terlalu formal seperti ini. Kita kan sudah saling kenal. Aku pun juga kenal baik dengan papamu. Apalagi kamu juga berteman dengan putraku Rayen. Cukup panggil om seperti biasanya saja” ucap tuan Anthoni dengan ramah.
“Ah, maafkan saya. Saya hanya ingin bersikap sopan saja, karena disini masih ada rekan bisnis tuan Anthoni. Saya tidak merasa nyaman jika memanggil dengan panggilan akrab dan di dengar orang lain. Saya tidak ingin terlihat lancang” balas Jeffrin
Rekan bisnis tuan Anthoni pun saling berbisik melihat sikap Jeffrin terhadap tuan Anthoni.
‘Sungguh pemuda yang sopan’
‘Ya benar sopan sekali. Anak dari pemilik Group Avicena sungguh mempunyai etika yang baik’
‘Saya menantikan kerja sama dengan perusahaan pemuda ini. Dia memang sangat layak menjadi pewaris Group Avicena’
Tuan Anthoni hanya tersenyum mendengar respon dari para rekan bisnisnya. Kemudian dia menatap Jeffrin. “Lihat, rekan bisnis om semuanya memujimu. Kamu benar-benar sudah mengambil hati mereka” ucapnya terkekeh.
“Terima kasih atas pujiannya. Suatu kehormatan mendapatkan pujian dari anda sekalian” ucap Jeffrin ramah dengan menatap para rekan bisnis tuan Anthoni.
Kemudian rekan bisnis tuan Anthoni berpamitan untuk pergi terlebih dahulu, karena mereka masih ada urusan lain. Dan kini hanya tinggal tuan Anthoni dan kedua asistennya saja.
“Ngomong-ngomong, apa kamu sedang ada pertemuan bisnis disini atau hanya sekedar makan saja?” kata tuan Anthoni.
“Hanya makan siang biasa saja. Kebetulan hari ini sedang ada waktu senggang” balas Jeffrin.
Tuan Anthoni melirik sekilas ke arah Andrew dengan mengernyitkan alis. Kemudian dia bertanya, “Hanya berdua saja dengan asistenmu Andrew?” ucapnya penasaran.
“Tidak. Kami tadi makan bertiga, dengan salah satu temanku. Baru beberapa menit yang lalu dia pergi dari sini. Dia pamit terlebih dahulu karena katanya ada kepentingan lain” jawab Jeffrin.
Kemudian tuan Anthoni mendekat ke arah Jeffrin. “Siapa temanmu? Apa seorang perempuan? Apa kamu sudah menemukan calon pendamping dan akan segera menikah?” ucapnya dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar mereka berdua saja.
Tuan Anthoni memang terkadang suka menggoda Jeffrin seperti ini karena dia merasa gemas melihatnya yang belum juga menikah di umurnya yang sudah hampir menginjak 35 tahun. Sama gemasnya karena putranya sendiri, Rayen, yang juga tak kunjung menikah.
“Ahh, kenapa tebakan om Anthoni tepat sekali. Dia memang seorang perempuan, tetapi aku baru saja mengenalnya. Hubungan kami masih belum bisa dikatakan dekat” balas Jeffrin dengan lirih agar tidak terdengar oleh Andrew dan kedua asisten tuan Anthoni.
“Perempuan itu seumuran denganmu, lebih tua, atau lebih muda darimu?” tanya tuan Anthoni menyelidik.
“Emmm...dia gadis yang jauh lebih muda dariku. Dan...dia...juga masih kuliah” Jeffrin menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal.
Tuan Anthoni mengernyitkan alisnya dan menyipitkan matanya. Dia terkejut mendengar pengakuan pemuda di depannya. “Semuda itu? Apa kamu tidak salah pilih?” ucapnya terheran.
“Aku rasa tidak ada yang salah jika menyukai yang jauh lebih muda. Dan aku rasa dia juga pilihan yang tepat” balas Jeffrin dengan tersenyum.
"Astaga Jeffrin, kamu memang tidak bisa ditebak. Jika gadis itu masih kuliah, berarti mungkin umurnya hampir sama seperti putriku Ros..." ucap tuan Anthoni terkekeh.
Jeffrin mencoba mengingat. "Ros? Ahh...adik yang selalu disembunyikan Rayen" ucapnya. Kemudian dia melanjutkan, "Yah, mungkin bisa jadi seumuran"
Tuan Anthoni berpikir memang tidak ada salahnya jika Jeffrin memilih orang yang jauh lebih muda. Tetapi dia hanya tidak menyangka saja kalau selera Jeffrin diluar dugaan.
Aku tidak bisa membayangkan jika my sweetheart Ros yang ada di posisi gadis itu - ucap tuan Anthoni dalam hati.
“Baiklah, itu adalah hakmu. Kamu bebas menentukan pilihanmu. Yah, aku hanya bisa berharap semoga kamu bisa segera menemukan pendamping yang tepat. Karena umurmu sekarang sudah sangat matang untuk menikah. Dan semoga saja orang tua dari gadis itu tidak keberatan jika mempunyai calon menantu yang umurnya berbeda jauh dengan anak gadisnya. Tetapi om yakin, siapapun pasti akan bersedia jika calon menantunya sepertimu” ucap tuan Anthoni dengan tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Jeffrin.
“Aku harap begitu. Semoga saja berjalan dengan baik” Jeffrin berharap apa yang diucapkan tuan Anthoni benar, bahwa orang tua gadis yang disukainya pasti bersedia untuk menerimanya. Tetapi jika orang tua gadis yang disukainya adalah tipe seperti tuan Anthoni, maka pasti dirinya akan mengalami kesulitan. Jeffrin hanya bisa berharap, semoga saja orang tua dan keluarga ‘Raline’ adalah orang yang santai.
Tuan Anthoni melihat jam di tangannya. Lalu dia berpamitan pada Jeffrin. “Baiklah, om harus pergi sekarang karena masih ada urusan. Lain kali jika ada kesempatan kita mengobrol lagi. Sesekali mainlah ke rumah bersama dengan Glenn. Kalian sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumah om”
“Tentu, dengan senang hati. Akan kami usahakan” jawab Jeffrin ramah.
Tuan Anthoni pun beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan restaurant.
🐤🐤🐤
Anthoni Gian Heinanverero atau dikenal dengan nama Anthoni Heinanverero. Dia adalah Ketua (Chairman) dari Heinan Group. Merupakan orang yang paling terkaya di negaranya versi majalah bisnis Forb. Selain itu, Anthoni Heinanverero juga termasuk dalam jajaran pebisnis terkaya di Asia. Terlahir sebagai putra sulung dari tiga bersaudara, membuatnya menjadi pewaris Heinan Group yang sudah dirintis sebelumnya oleh ayahnya, Rudy Heinanverero. Anthoni Heinanverero mampu mengembangkan bisnis Heinan Group hingga bisa menjadi sesukses sekarang.
Anthoni Heinanverero mempunyai dua orang anak. Putra sulungnya adalah Bernadio Rayen Heinanverero, dan putri bungsunya Brigita Rosaline Heinanverero. Setelah menyelesaikan studinya, Bernadio Rayen ditunjuk oleh ayahnya dan dewan komisaris lain untuk dijadikan CEO Heinan Group.
Heinan Group adalah perusahaan terbesar dan paling berpengaruh di negaranya yang mempunyai usaha di berbagai bidang: Heinan Tourism, Heinan Holdings, Heinan Aviation, Heinan Capital, dan Heinan Hospital. Selain itu, Heinan Group juga banyak melakukan investasi menjanjikan di dalam negeri maupun luar negeri. Kesuksesan inilah yang mengantarkan Heinan Group masuk dalam Fortune Global 500 (500 perusahaan top dunia yang diukur berdasarkan pendapatan tahunan perusahaan yang dikeluarkan oleh majalah Fortune). Heinan Group bahkan sudah menjadi salah satu group perusahaan yang paling berpengaruh di wilayah Asia.
Meskipun Heinan Group termasuk perusahaan adikuasa di wilayah Asia, namun kehidupan pribadi dari keluarga Heinanverero bisa dibilang begitu tertutup. Tidak banyak orang yang bisa mengetahui kehidupan pribadi dari keluarga tersebut. Bernadio Rayen adalah sosok CEO Heinan Group yang dianggap misterius oleh orang-orang, karena dia tidak pernah memproklamasikan dirinya secara resmi di depan umum seperti layaknya pewaris group lainnya. Sedangkan Brigita Rosaline, adalah satu-satunya keturunan perempuan dari keluarga Heinanverero yang keberadaan dan kehidupannya dianggap paling misterius. Sehingga, banyak orang-orang yang merasa penasaran dengan pewaris dari keluarga Heinan Group itu.
🐤🐤🐤
• Di sisi lain •
Saat sudah membuka pintu keluar, Rosaline bisa bernafas lega. Dia menghembuskan nafas panjangnya, rasa pening di kepalanya juga sudah mulai berkurang karena berhasil terhindar dari masalah. Tapi tiba-tiba.............
“ROSALINE???!!” terdengar suara seorang pria yang memanggilnya.
Seketika itu juga Rosaline terkaget bukan main, jantungnya berdegup kencang, dan dengkulnya pun terasa lemas.
.
.
Rosaline panik luar biasa mendengar seseorang memanggilnya dengan nama ‘Rosaline’. Karena hanya orang terdekatnya saja yang memanggilnya seperti itu. Lalu dia menolehkan kepalanya perlahan ke arah suara yang memanggilnya. Dilihatnya sosok pria yang sudah dia kenal sebelumnya. Namun dia tidak tahu harus bernafas lega atau tidak.
Melihat pria itu ada disini juga membuatnya kaget. Ketika di dalam restaurant, dia harus bermain kucing-kucingan agar tidak tertangkap basah oleh ayahnya. Lalu saat dia keluar restaurant, dia malah bertemu dengan.........
“KAK GLENN?!!” jerit Rosaline dengan membelalakkan matanya. Kemudian dia menepuk dahinya yang mulai kembali pening.
“Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu sedang makan bersama dengan temanmu, atau ayahmu, atau mungkin dengan kak Rayen?” tanya Glenn menyelidik.
“Apa kak Glenn kesini karena ada keperluan yang sangat penting?” tanya Rosaline cepat.
Glenn merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan Rosaline. “Tidak juga. Aku hanya diundang temanku untuk makan bersama disini. Memang kenapa?” jawabnya dengan mengernyitkan alis.
Rosaline kembali melihat ke arah dalam restaurant. Dia takut jika nanti ayahnya keburu keluar dan menemukan keberadaannya. “Aku tidak ada waktu menjelaskan disini. Bisakah kamu membantuku sekarang? Tolong bantu aku bawa pergi dari sini secepatnya. Ku mohon...” ucap Rosaline memelas. Dia menampilkan wajah anak anjingnya yang terlihat menggemaskan di mata Glenn.
Astaga, kenapa Ros menggemaskan sekali. Jika aku mendekatinya, apa Rayen akan menghajarku? Ahh, tapi itu sih sepertinya masih mending. Yang terparah adalah kemungkinan om Anthoni akan mengancam kelangsungan hidupku, grandpa Rudy akan mengerahkan pasukan militer keluarga istrinya untuk mengawasi gerak-gerikku. Belum lagi menghadapi omnya, tantenya, sepupunya. Astaga, memikirkannya saja sudah membuatku merinding. Rosaline is truly the legendary crown princess of the Heinanverero family – batin Glenn.
Glenn tersadar dari lamunan bodohnya saat tangannya sudah dipegang dan digoyang-goyangkan oleh Rosaline. “Ayolah, tunggu apa lagi. Jangan buang-buang waktu” ucap Rosaline lalu menarik tangan Glenn agar segera beranjak dari tempat itu.
Glenn pun akhirnya menuruti permintaan Rosaline dan membawanya pergi dari tempat itu.
🐤🐤🐤
Golden Envo Mall
Merupakan mall terbesar di negaranya yang dimilik oleh Envo Group dan sudah mempunyai beberapa cabang. Mall ini sangat besar hingga mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menjelajahi seluruh isinya.
Di dalam mall ini terdapat banyak sekali toko dengan merk ternama dunia maupun merk lokal. Para konsumen yang berasal dari kalangan menengah keatas menjadikan mall ini sebagai pilihan utama mereka untuk berbelanja. Dan tentunya mall ini juga sangat terbuka untuk semua kalangan pengunjung.
Selain itu, mall ini juga menyediakan berbagai brand restaurant yang terkenal. Sehingga para pengunjung bisa menikmati dan memilih berbagai variasi kuliner.
🐤🐤🐤
• Di Golden Envo Mall •
Ketika di mobil tadi, Rosaline dan Glenn tidak banyak bicara. Karena Rosaline lebih memilih untuk mengistirahatkan dirinya sejenak karena merasa sedikit lelah. Jadi Glenn pun tidak mau bertanya atau mengganggunya lebih lanjut.
Saat ini Glenn dan Rosaline sudah memasuki Golden Envo Mall. Mereka berjalan beriringan menuju tempat yang diinginkan Glenn.
“Kenapa harus ke mall ini?” tanya Rosaline.
“Karena aku memang ingin kesini. Aku sedang ingin makan di salah satu tempat disini” jawab Glenn.
Rosaline hanya mengangguk dan ber-oh ria saja.
“Kak Glenn tahu? Menurutku mall ini sangat mengagumkan. Mall ini selalu menjadi tempat favoritku saat berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Aku juga bisa mencuci mata dengan melihat barang-barang yang ada disini. Bahkan kakiku nyaris patah saat berkeliling karena terlampau luasnya tempat ini. Jika aku tidak punya urat malu lagi, mungkin aku akan membawa otoped saat sedang kemari. Aku jadi ingin tahu siapa pemilik mall ini” ucap Rosaline dengan muka polosnya.
Glenn tertawa mendengar ucapan Rosaline dan melihat ekspresi wajahnya yang lucu. “Pffftttt...lalu setelah tahu siapa pemiliknya, apa yang akan kamu perbuat? Memangnya kamu tidak tahu mall ini milik siapa?” ucapnya terkekeh.
“Tentu aku tahu. Mall ini milik Envo Group. Hanya saja aku tidak begitu mengetahui siapa persisnya pemilik mall ini. Aku hanya sekedar ingin tahu saja. Siapa tahu pemilik mall ini mempunyai anak yang seumuran denganku” ucap Rosaline.
“Sayang sekali, pemilik mall ini tidak mempunyai anak seumuranmu...”
Rosaline menghentikan langkahnya. Glenn pun juga ikut berhenti. Kemudian Rosaline menatap ke arah Glenn. “Dari mana kak Glenn tahu? Apa kak Glenn mengenalnya?”
Glenn mengangkat bahunya dan berkata, “Yah begitulah...”
“Benarkah? Siapa dia? Apa kak Glenn dan kak Rayen berteman juga dengannya?” tanya Rosaline polos.
Glenn terkekeh geli karena merasa lucu dengan tingkah polos Rosaline. “Rayen bahkan berteman akrab dengannya”
“Ahh begitukah? Lalu apa kak Glenn juga akrab dengannya?”
Glenn sudah tidak dapat lagi membendung tawanya. Sepertinya dia harus memberitahu yang sebenarnya pada gadis di depannya itu. “Ros...kamu itu benar-benar sangat lucu. Kamu sudah lama kenal denganku. Tetapi masa kamu tidak mengenal baik siapa orang yang sedang jalan denganmu sekarang?” ucapnya terkekeh sambil mengacak lembut rambut Rosaline.
Rosaline bingung dengan maksud ucapan Glenn. “Heeh? Maksudnya? Aku tidak mengerti ucapan kak Glenn....”
“Rosaline, orang yang sedang jalan denganmu sekarang ini adalah anak dari pemilik Envo Group. Jadi mall ini adalah milik keluargaku. Dan aku adalah pewaris tunggalnya” jawab Glenn santai dengan tertawa.
Rosaline menampilkan wajah terkejutnya, membuka lebar mulutnya, membelalakkan matanya, dan berkata, “WHAATTT?!!”
🐥🐥🐥
.
.
EPILOG
- Sesaat setelah masuk ke dalam mobil Glenn -
“Sebenarnya ada apa kamu terburu seperti ini? Tingkahmu sangat mencurigakan Ros. Hei, kamu tidak sedang berbuat yang macam-macam kan?” ucap Glenn.
“Aku tidak pernah berbuat macam-macam. Percayalah...” jawab Rosaline.
“Lalu kenapa kamu memintaku untuk membawamu segera pergi?” – Glenn.
“Bisakah aku menjelaskannya nanti saja? Sekarang kepalaku terasa sedikit pening. Aku ingin menenangkan diriku sebentar” – Rosaline.
“Yah, baiklah kalau begitu. Lalu kamu ingin aku membawamu kemana?” – Glenn.
“Terserah” – jawab Rosaline yang sudah mulai memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
“Hmm...apa kamu tidak masalah jika aku mengajakmu untuk menemaniku makan? Karena kamu sudah mengacaukan acara makanku, dan sekarang aku sudah kelaparan” – Glenn.
“Ya ya...tidak masalah” – Rosaline.
“Kamu yakin?” – Glenn.
“Tentu saja. Aku akan menuruti permintaan dari orang yang sudah menolongku” – Rosaline.
“Bagaimana jika nanti kakakmu tahu lalu dia memarahiku karena sudah membawamu pergi tanpa izinnya?” – Glenn.
“Tenang saja, dia tidak akan marah. Jika dia berani seenaknya memarahimu, aku akan mengancamnya dengan mogok bicara selama seminggu. Cara ini sangat ampuh untuk menjinakkan kakakku yang protektif itu” – Rosaline.