
• Beberapa hari kemudian •
Di aula yang berada di dalam gedung sekolah, ada banyak orang berkumpul. Para siswa duduk mengenakan topi dan jubah mereka. Akhirnya perjalanan mereka sebagai siswa sekolah akan berakhir. Dan jalan menuju masa depan selanjutnya, sudah terbentang di hadapan mereka.
Di atas podium, seorang gadis cantik dengan gelar lulusan terbaik sedang memberikan pidatonya di hadapan teman-temannya.
(Pidato dalam bahasa inggris)
“Hidup mungkin menjatuhkanmu, tetapi jangan biarkan itu membuatmu menjadi ragu. Yakinlah selalu ada kesempatan kedua, dan kesempatan selanjutnya untuk merubah segala sesuatu menjadi lebih baik. Berjuanglah untuk sesuatu yang memang benar dan layak untuk diperjuangkan. Ingat, kamu tidak sendirian. Cobalah untuk lihat ke depan, ke belakang, dan ke samping. Ada banyak orang yang bersedia untuk membantumu. Hargai mereka yang berada disekitarmu, dan jangan sia-siakan waktumu untuk orang yang tidak bisa menghargaimu”
“Perjalanan kita sebagai siswa berakhir di sini, tetapi perjalanan baru akan segera dimulai. Begitu kita melangkahkan kaki ke luar sana, jalan yang kita tempuh tidak akan mudah untuk bisa mencapai masa depan yang cerah. Meskipun begitu, pastikan untuk menikmati rasa susahnya dan rasakan pasang surutnya, jangan justru menjadikannya sebagai beban dan menurunkan mentalmu. Jangan biarkan perasaan beban itu mengendalikan dirimu. Hidupmu adalah milikmu, dan hanya dirimu sendirilah yang berhak untuk mengendalikan hidupmu”
Ketika Rosaline meneruskan pidatonya, semua orang sudah berdiri dari tempat duduk mereka untuk menyetujui apa yang gadis itu katakan. Mereka bertepuk tangan untuknya. Pidato darinya benar-benar luar biasa hingga membuat hati semua orang tergerak, dan bahkan guru pun bangkit dari tempat duduk mereka.
“Saya bangga bisa berdiri tepat di depan kalian semua. Sebelum saya mengakhiri pidato ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah, para guru, staf, dan terutama kepada orang tua atau wali kita. Terima kasih atas dukungan abadi dari mereka terhadap kita semua hingga bisa berdiri di titik sekarang ini”
Dan kemudian acara perayaan kelulusan pun selesai.
🐤🐤🐤
Di halaman sekolah setelah semua acara kelulusan selesai.
“Katrina Lauren!”
“Baby Ros!”
Kedua gadis itu berlari untuk saling menghampiri. Setelah mendekat, keduanya langsung saling memeluk erat. Apalagi Lauren, dia tidak bisa menahan air matanya karena pada akhirnya dia harus berpisah dari sahabatnya itu.
“Come on, don’t cry Lauren. Kita kan masih bisa bertemu lagi, jadi jangan cengeng seperti ini” Rosaline mencoba menenangkan sahabatnya yang masih menangis di pelukannya.
“Ros, aku akan sangat merindukanmu. Seharusnya kan kita masih bisa melanjutkan kuliah di negara ini dan sama-sama menjalani karier sebagai model disini. Tetapi kamu malah memutuskan untuk kembali pulang”
“Lauren, kamu tahu kan kalau aku tidak bisa untuk tetap tinggal disini. Aku tidak akan sanggup jika harus berada di negara yang sama dengannya. Selama aku masih berada di negara Inggris, meskipun aku melanjutkan kuliah di Manchester ataupun London, cepat atau lambat aku pasti akan bertemu dengannya. Apalagi kami berdua berada di ruang lingkup kerja yang berhubungan, jadi aku tidak mau menciptakan kesempatan untuk bisa bertemu dengannya lagi”
“Tetapi bagaimana dengan kariermu disini? Kamu sudah sampai sejauh ini Ros...”
“Aku sudah menyerah dengan karierku disini, dan aku sudah menyelesaikan semua kontrak kerjaku. Jadi mulai sekarang, aku akan memulai kehidupanku yang baru”
Kemudian Lauren mengendurkan pelukannya untuk melihat wajah sahabatnya.
“Dasar gadis bodoh. Untuk apa kamu berkorban sampai sejauh ini...” ucap Lauren dengan muka cengengnya.
“Aku tidak mengorbankan apapun, Lauren. Aku hanya akan kembali kepada keluargaku saja”
“Baby, berjanjilah kita akan selalu berhubungan”
“Of course, I will...”
“Aku akan kembali pulang saat ada waktu senggang. Dan kamu harus menemaniku di saat aku kembali kesana. Jika membutuhkan bantuan, kamu juga jangan segan menghubungi kakakku. Kamu tahu kan kalau kita ini tidak sekedar bersahabat saja. Aku sudah menganggapmu sebagai saudariku...”
“I know, sister...” ucap Rosaline tersenyum.
“Dan lupakan si b*jing*n tua itu. Aku akan membantu ayahmu menghancurkan perusahaannya jika dia masih berani mendekatimu dan menyakitimu. And you, Rosaline! Jangan berani-beraninya kamu mengingat dia lagi. Mengerti?”
“Jangan konyol, Lauren. Apa kamu ingin menciptakan peperangan di dunia bisnis antar negara timur dan barat? Tenang saja, akan aku usahakan untuk melupakan dia...”
“Baby Ros, kamu tahu kan kalau pria di keluargamu itu diam-diam menghanyutkan. Ayahmu, kakakmu, kakekmu, ommu, sepupumu, mereka bisa menggila jika terjadi sesuatu padamu. Hanya tante Sandra dan nenekmu saja yang bisa berpikiran dengan waras. Jadi kamu harus berhati-hati, jika para pria itu sudah bersatu, peperangan tidak bisa terelakkan. Bersyukurlah karena kalian tinggal di negara yang berbeda...”
“Lauren, aku pikir kamu terlalu berlebihan. Perkataanmu itu sangat konyol” Rosaline terkekeh geli dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan sahabatnya yang tidak masuk akal.
“Hei hei, aku sedang tidak membual. Semua yang ku katakan ini benar dan bukan sekedar mitos. Apalagi ayahmu itu. Apa kamu tidak tahu betapa mengerikannya ayahmu itu? Meskipun perusahaan keluargamu dan keluarga si b*jing*n Golding itu sama kuatnya, tetapi ayahmu pasti tidak akan segan untuk menciptakan perang bisnis seperti itu. Ayahmu bisa melakukan apapun jika itu sudah menyangkut dirimu”
Rosaline merenungkan apa yang diucapkan Lauren. Ada benarnya juga apa yang dikatakannya. Ayahnya adalah pebisnis yang tangguh. Jadi bukan tidak mungkin hal seperti itu bisa terjadi.
“Yah, baiklah. Anggap saja aku percaya padamu. Kamu tenang saja, akan ku pastikan semua hal buruk tidak akan terjadi”
“Kamu...masih mencintainya?” Lauren menatap lekat sahabatnya itu. Sebenarnya tanpa dijawab pun, dia juga sudah tahu jawabannya.
Rosaline tidak bisa menjawabnya, dan dia juga tidak mau membenarkan ucapan Lauren. Tentu saja Rosaline masih sangat mencintai pria itu. Melupakannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Lauren hanya bisa menghela nafas beratnya. “Lupakan. By the way, kapan kamu akan berangkat?”
“Sore ini...”
“Secepat itu?!”
“Hm. Karena aku tidak ingin berlama-lama disini”
“Apa ayahmu mengirimkan pesawatnya kemari?”
“Kamu benar, itu memang keinginan ayahku, tetapi aku melarangnya. Aku akan pulang menggunakan maskapai biasa” jawab Rosaline terkekeh.
Lauren menatap menyelidik Rosaline. “Ros, kamu tidak sedang merencanakan sesuatu kan?”
“Sejauh ini tidak” jawab Rosaline dengan mengangkat bahunya.
Maaf karena sudah berbohong padamu, Lauren. Aku memang punya rencana lain – ucap Rosaline dalam hati.
“Ros, kita mungkin terpisahkan puluhan ribu kilometer, hidup berbeda antara siang dan malam. Tetapi kamu jangan segan untuk menelfonku kapan pun kamu merasa sendirian dan butuh teman bicara. Jangan paksakan dirimu untuk menahannya sendiri. Kamu tahu kan, aku akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi...” Lauren tersenyum tulus dan menggenggam erat tangan Rosaline.
🐤🐤🐤
• Heathrow Airport – International Airport in England, London •
“Baby, tante pasti akan sangat merindukanmu...”
“Aku juga tante Sandra. Terima kasih sudah merawatku dengan sangat baik selama disini...” Rosaline memeluk erat tantenya sebelum mereka berpisah. Kemudian mereka melepaskan pelukannya setelah beberapa saat.
“Kamu yakin tidak mau tante antarkan sampai ke dalam?”
“It’s okay, tante Sandra. Aku bisa masuk ke dalam sendiri. Tante bisa segera pergi, aku tahu kalau sekarang tante masih ada urusan lain...” ucap Rosaline sambil tersenyum. Dia tahu kalau tantenya itu menyempatkan untuk mengantarkannya ke bandara di saat jadwalnya yang sibuk. Bahkan dia baru saja pulang dari Milan tadi siang hanya demi mengantarkan Rosaline.
“Baiklah. Jangan lupa untuk menghubungi tante jika sudah sampai. Jika ayahmu yang menyebalkan itu menyulitkan hidupmu, kembali lagi saja kesini. Tante akan menampungmu dengan senang hati” ucap Sandra terkekeh.
“Akan aku pertimbangkan...” ucap Rosaline tersenyum.
“Baby, ingat pesan tante. Apapun yang terjadi nanti, itu semua kami lakukan karena kami sangat menyayangimu. Jangan pernah membenci keluargamu, mengerti...” ucap Sandra lembut sambil menatap sendu keponakannya.
Rosaline tidak begitu paham dengan maksud perkataan tantenya. Tetapi apapun itu, dia hanya akan menganggapnya sebagai nasihat saja. “Aku mengerti tante...” balas gadis itu dengan tersenyum.
Kemudian mereka berdua berpisah. Rosaline melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bandara dengan mendorong trolinya.
Saat sudah masuk di area bagian dalam bandara, Rosaline seperti enggan untuk melakukan check in. Dia terus memandangi tiket dan paspor yang ada di genggamannya. Pulang ke negaranya untuk melanjutkan studinya, sebenarnya bukanlah tujuan awalnya. Jauh sebelum ini, dia sudah mempunyai tujuan lain.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Gadis itu melihat siapa penelfonnya, kemudian mengangkatnya.
“Hello?”
“My baby girl, kamu sudah di bandara kan?” suara Rayen dari seberang telfon.
“Ya, aku sudah di bandara”
“Ayo cepatlah check in. Aku dan ayah sudah tidak sabar menunggumu pulang...”
“I know. Aku juga sudah tidak sabar bertemu kalian...”
“Ros, what happened to you? Kenapa suaramu terdengar lesu? Apa kamu sakit?”
Rosaline sedari tadi masih memandangi tiketnya. Gadis itu masih saja memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Setidaknya, sebelum dia benar-benar meninggalkan negara ini, dia akan melakukan satu hal untuk terakhir kalinya.
“Brother, I’m sorry. Aku tidak bisa pulang hari ini. Berikan aku waktu beberapa hari lagi. Aku butuh waktu sendiri. Jangan khawatirkan aku. Nanti aku pasti akan menghubungimu dan ayah. I’m so sorry. I love you...”
“What?!! Wait! Rosaline! Apa yang akan kamu lakukan---” belum sempat Rayen menyelesaikan ucapannya, Rosaline sudah terlebih dulu memutuskan telfonnya. Kemudian dia menonaktifkan ponselnya.
Setelah menyelesaikan urusan ponselnya, Rosaline dengan santainya merobek tiket pesawat business class untuk kepulangannya yang seharga puluhan juta itu. Lalu dia mengeluarkan tiket pesawat yang sudah dibelinya beberapa hari lalu dari dalam tas punggungnya. Ini memang adalah rencana terburuk yang sudah dia persiapkan di hari yang sama dengan kepulangannya. Dan dengan langkah mantap, dia akan menjalankan rencana buruknya ini.
🐤🐤🐤
• Di Manchester •
Disinilah Rosaline berada sekarang, Manchester. Dia menunda kepulangannya untuk mengunjungi terlebih dulu salah satu kota yang berada di Inggris. Tempat dimana sebenarnya dia ingin melanjutkan studinya, dan tempat dimana semua yang sudah dia rencanakan sebelumnya bersama dengan pria yang menghancurkan hatinya. Jauh di dalam hatinya, Rosaline ingin sekali untuk kuliah disini, bahkan dia sudah menyiapkan segalanya untuk melanjutkan studi disini. Namun pada akhirnya, takdir justru berkata lain.
Rosaline menginap di salah satu hotel disana. Selama di Manchester, dia mengunjungi berbagai tempat yang ingin dia kunjungi untuk terakhir kalinya, menikmati acara musik yang ada di kota itu, bahkan dia juga mengunjungi kampus yang ingin sekali dia masuki. Rosaline ingin menikmati waktunya untuk traveling sendirian. Dulu dia pernah ke kota ini bersama pria itu dengan perasaan bahagia. Namun sekarang, ketika terakhir kali dia menginjakkan kaki di kota ini, dia dalam perasaan hancur. Sesekali dia menangis jika mengunjungi tempat yang dulu pernah dia kunjungi bersama pria itu. Terlalu banyak kenangan manis yang mereka lakukan bersama dan membuat hati Rosaline tersiksa saat harus mengingatnya.
Setelah 3 hari berada di Manchester, Rosaline memutuskan untuk kembali ke negaranya. Kali ini, dia benar-benar akan pulang. Sebelumnya dia juga sudah mengabari keluarganya kalau dia berada di Manchester dan akan pulang hari ini.
🐤🐤🐤
• Manchester International Airport •
‘Attention please. Passengers for Qatar Airways on flight number....to....is now ready for boarding....’
Seorang gadis sedang menunggu di boarding lounge. Dia duduk terdiam dan termenung melihat keadaan sekitar bandara yang ramai. Meskipun dia berada di tempat yang ramai, namun hatinya terasa hampa. Sesekali matanya melihat ke arah ponsel yang sedang digenggamnya, melihat saat ini sudah pukul berapa. Panggilan boardingnya sudah diumumkan sejak tadi, namun tak dihiraukan. Entah kenapa Rosaline masih terasa berat melangkahkan kakinya.
“Rob, kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku...” ucap Rosaline dalam hati.
Tanpa terasa dia sudah meneteskan air matanya lagi. Meskipun kejadian itu sudah berlalu, tetapi rasa sakitnya benar-benar membekas di hati Rosaline. Tak pernah terpikirkan sebelumnya kalau dia harus melihat semua kejadian yang menyayat hatinya. Dia bahkan takut untuk merasakan jatuh cinta lagi. Gadis itu berencana untuk tidak ingin menyerahkan hatinya kepada siapa pun, karena dia tidak sanggup jika suatu saat akan merasakan rasa sakit yang seperti ini lagi. Pria itu adalah cinta pertamanya, orang yang sudah terlalu dalam memasuki hatinya. Namun dia juga sekaligus menjadi orang pertama yang meremukkan hatinya.
‘This is the last call for passengers traveling to....’
Menit demi menit pun sudah berlalu. Panggilan terakhir boarding juga mulai diumumkan, tetapi Rosaline masih saja duduk di tempatnya. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang membuat gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah ponsel.
“Hello?”
“Apa pesawatmu sudah boarding, Ros?” suara Rayen dari seberang telfon.
“Ya, baru saja diumumkan panggilan terakhir boarding”
“Rosaline...cepatlah masuk ke pesawatmu. Aku tahu kamu pasti sengaja menunggu hingga panggilan terakhir. Aku tidak ingin kamu menggunakan alasan tertinggal penerbangan dan menunda kepulanganmu”
‘.......any remaining passengers, please go immediately to gate....’
“Alright...alright. Don’t nag me. Aku tidak ingin kamu membuat telingaku mendengung lebih cepat sebelum menempuh penerbangan yang lama. Aku baru saja mendengarkan lagi panggilan untuk segera menuju gate. Aku akan segera masuk ke pesawatku. Jangan lupa untuk menjemputku tepat waktu. See you soon!”
Rosaline segera mematikan telfonnya. Dia melangkahkan kaki menuju ke gate yang sesuai dengan penerbangannya. Sebentar lagi dia harus meninggalkan negara ini. Keputusannya sudah bulat untuk kembali ke negaranya dan memulai kehidupan baru.
Sebelum memasuki pesawat, Rosaline melihat untuk terakhir kalinya langit di negara Inggris. Sekali lagi, dia meneteskan air mata perpisahannya. “Goodbye, England. Goodbye, Rob...” dan akhirnya Rosaline pun meninggalkan negara itu.