
• Di Eriston Group Company •
Dewan direksi perusahaan semua berkumpul, sibuk berdebat satu sama lain membahas tentang peristiwa yang terjadi di acara pelelangan beberapa minggu yang lalu. Kabar mengenai Tuan Theo yang diundang makan bersama oleh Tuan Rudy dan Tuan Anthoni dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru perusahaan. Bahkan orang-orang juga membuat gosip mengenai kedekatan William dan Rosaline.
“Tuan Theo, kita harus meminta tuan muda William bekerja di perusahaan.”
“Posisi apa yang akan diberikan untuknya? Kita sudah punya tuan muda Billy di perusahaan ini.”
“Tapi tuan muda William punya koneksi bagus dengan Heinan Group semenjak menolong putri Tuan Anthoni. Saya yakin Tuan Anthoni akan dengan senang hati melakukan investasi di perusahaan ini sebagai rasa terima kasihnya.”
“Tuan muda William hanya sekedar membantu nona muda Ros yang sedang terkilir. Ini tidak seperti menyelamatkan nona muda Ros yang sedang sekarat, jadi jangan berlebihan.”
“Coba anda pikirkan, Tuan Rudy bisa bersikap ramah dan memuji tuan muda William. Kita semua tahu betul Tuan Rudy dan Tuan Anthoni adalah pribadi yang tidak mudah didekati. Tidak sembarang orang bisa menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Tapi sekarang kedua orang hebat itu justru dengan mudahnya mengundang Tuan Theo untuk makan bersama keluarga mereka karena tuan muda William yang menolong nona muda Ros. Tidakkah ini cukup menjadi sinyal baik bagi hubungan Eriston Group dan Heinan Group.”
Selagi para dewan direksi saling berdebat, Tuan Theo hanya bisa mendengarkan secara seksama. Dia memilih diam karena tidak mau memperkeruh suasana. Lalu tiba-tiba asisten Tuan Theo masuk ke dalam ruang rapat dengan memperlihatkan ekspresi panik.
“Tuan Theo, maaf saya mengganggu. Tapi ini mendesak, ada panggilan penting di saluran 3” ucap sang asisten.
Tuan Theo tidak mempermasalahkan ataupun bertanya lebih lanjut. Dia langsung mengangkat panggilan telfon dengan di loudspeaker, mempersilahkan semua orang di dalam ruangan untuk mendengarnya juga.
“Halo” ucap Tuan Theo membuka percakapan.
“Tuan Theo, maaf jika sudah mengganggu anda. Saya Anthoni Heinanverero.”
Ketika semua orang mendengar siapa yang menelfon, mereka benar-benar shock dan speechless. Bahkan Tuan Theo sendiri tidak menyangka bisa ditelfon oleh Tuan Anthoni secara pribadi.
“Tuan Anthoni, maafkan karena sudah membuat anda menunggu...”
“Tidak masalah. Anda pasti sudah dikabari asisten ayah saya bahwa acara makan bersama kita ditunda sampai saya kembali dari luar negeri. Karena sekarang saya sudah pulang, tentu kita harus melaksanakan sesuai kesepakatan. Juga, saya mendengar anda sedang mempunyai proyek baru. Bagaimana kalau kita membicarakannya sekalian saat makan bersama?”
Tuan Theo bagai mendapat kejutan beruntun. Namun dia tetap harus merespon dengan sopan dan tenang.
“Tte-tentu Tuan Anthoni. Saya akan menuruti keinginan anda.”
“Baiklah. Kita adakan acara makannya dalam waktu dekat. Nanti asisten saya akan mengirimkan detailnya ke asisten anda.”
Setelah panggilan berakhir, semua orang di dalam ruangan masih terpaku. Mereka saling memandang, mencoba mencerna situasi yang terjadi.
“Tuan Theo, apakah benar Tuan Anthoni menyebutkan masalah investasi? Saya tidak salah dengar, kan?”
“Tuan Theo, apa itu tadi benar-benar Tuan Anthoni dari Heinan Group?”
“Ya, dia Tuan Anthoni yang kalian pikirkan. Dan ya, dia menyinggung tentang investasi” jawab Tuan Theo. Dia berpikir bahwa William sekali lagi telah membuktikan kehebatan dirinya. Siapa sangka putranya yang sedingin salju bisa membawa musim semi di perusahaan.
Tak lama kemudian rapat diakhiri, menyisakan Eriston bersaudara di dalam ruangan.
“Selamat, Theo. Sepertinya proyekmu akan disetujui lagi. Apalagi Tuan Anthoni menyampaikan sendiri dan menunjukkan ketertarikannya” Tuan Thomas memberi ucapan selamat kepada adiknya, meskipun tidak terdengar tulus.
“Kita belum dapat kepastian. Jangan terlalu dini mengambil kesimpulan” Tuan Theo menanggapi santai.
“Paman, aku harap paman tidak menyembunyikan apapun dari kami. Bagaimanapun juga kita adalah saudara” ucap Billy.
“Tentu saja. Aku tidak akan menyembunyikan apapun. Semua hal terkait perusahaan yang nanti dibicarakan dengan Tuan Anthoni, kalian dan para dewan direksi berhak mengetahuinya. Tapi jika mengenai pembicaraan pribadi atau yang berhubungan dengan William, aku tidak akan mengatakan sepatah katapun” ucap Tuan Theo tegas dengan memperlihatkan senyum penuh arti.
Tuan Thomas menyeringai. “Kau...apa ada maksud dibalik perkataanmu itu?”
Tuan Theo berdiri dari tempat duduknya, menghampiri kursi Tuan Thomas. Lalu Tuan Theo menepuk pundak kakaknya. “Tenanglah, kak. Jangan gampang tersinggung” ucapnya. “Aku perlu ingatkan satu hal. Seandainya Tuan Anthoni ingin menginvestasikan dana ke proyek Eriston Group, itu semua berkat putraku William, bukan atas usaha perusahaan. Dan jika memang sungguh terjadi, maka aku akan menyerahkan proyek ini kepada William.”
Usai mengatakan itu, Tuan Theo langsung keluar dari ruangan. Meninggalkan Tuan Thomas dan Billy yang terbakar api kecemburuan.
Tuan Thomas menggebrak keras meja. Menimbulkan suara nyaring di ruangan itu. “Sialan! B*jing*n kecil itu, huh! Beraninya dia mau melangkahkan kakinya ke perusahaan. Theo juga kurang ajar, bisa-bisanya dia memperlakukanku seperti ini!”
“Pa, sudahlah. Untuk masalah proyek, sekarang mau tidak mau kita harus mengalah. Tapi kita masih ada cara lain untuk menjegal William agar tidak masuk ke perusahaan” ucap Billy menenangkan ayahnya.
“Sekarang semuanya tambah berantakan karena ada campur tangan Heinan Group. Arrgghh!” teriak Tuan Thomas dengan mengusap kasar wajahnya.
Melihat sikap ayahnya yang emosional, Billy jadi takut sendiri. Lebih baik dia diam agar tidak kena semprot luapan amarah ayahnya.
🐤🐤🐤
Sementara itu, di sisi lain Tuan Theo sudah kembali ke dalam ruangan kantornya dan ambruk di kursinya. Keadaan Tuan Theo yang sedang kacau membuat asistennya merasa cemas, kemudian menghampirinya.
“Tuan Theo...”
Tuan Theo menghembuskan nafas berat, lalu membenarkan posisi duduknya. “Kau sudah bekerja denganku bertahun-tahun. Kau juga tahu rintangan apa yang kulalui selama ini agar bisa mencapai posisi sekarang.”
“Ya, saya tahu. Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
“Kau tahu apa yang kakakku dan Billy lakukan dibelakangku, terutama selama ayahku tidak berada di sini. Kau dan aku sama-sama bekerja keras untuk menutupi semua kesalahan yang mereka perbuat agar dewan tidak mengetahuinya.”
“Tuan, apakah anda khawatir saudara anda dan para sekutunya akan melakukan sesuatu kepada tuan muda William?”
“Ya, tebakanmu benar” ucap Tuan Theo dengan raut wajah khawatir. “Dan entah kenapa aku yakin Tuan Anthoni akan berinvestasi pada proyek ini. Tandanya Heinan Group mengharapkan William agar bisa menangani proyeknya. Berarti aku perlu mencari posisi yang tepat untuk William di perusahaan, meskipun nantinya akan ada yang menentang keputusanku ini.”
“Tuan Theo, bagaimanapun putra anda memiliki hak untuk bekerja di perusahaan. Hanya saja selama ini dia yang selalu menolaknya.”
“Anak itu...aku tidak tahu bagaimana lagi cara menghadapinya.” Tuan Theo memijat keningnya. “Sekarang tolong siapkan proposal presentasi proyek. Aku akan mengabari istriku sebentar.”
“Baik, tuan” asisten membungkukkan badan, lalu keluar dari ruangan Tuan Theo.
Tuan Theo mengambil ponselnya, dan menunggu panggilan telfon dijawab.
“Sayang, ada apa menelfonku?” wanita di seberang mengangkat telfon.
“Hubungi William, katakan padanya kita akan segera bertemu keluarga Heinanverero. Ingatkan dia supaya mengosongkan jadwalnya dalam waktu dekat.”