ME vs OM OM

ME vs OM OM
Kita Sudah Berkirim Pesan



Meja makan sudah tertata rapi dengan berbagai makanan. Hari ini meja makan juga terlihat berbeda karena Rosaline yang menatanya menjadi lebih indah.


Saat William memasuki ruang makan, dia merasa terkesan dengan meja makan yang terlihat berbeda dari biasanya. Dan tentu saja pria itu tahu siapa yang sudah melakukan hal itu. William merasa kagum dengan sosok Rosaline. Gadis itu tidak hanya cantik dan baik hati, tetapi dia juga mempunyai bakat table manner seperti ini.


Tak berselang lama, Rosaline juga memasuki ruang makan sambil membawa gadis kecil dalam gendongannya. Karena Rosaline saat ini masih menggunakan celemeknya dan juga menggendong gadis kecil, Rosaline benar-benar terlihat seperti seorang ibu yang sibuk mengurus urusan rumah tangga dan anaknya.


“Kamu yang menata semua ini?” tanya William sembari dia menarik kursi untuk duduk.


“Bisa dibilang seperti itu...” jawab Rosaline tersenyum sambil mendudukkan Adeline ke kursi.


Rosaline membantu Adeline mengambil makanannya, sedangkan William mengambil sendiri untuk dirinya. Gadis kecil dan ayahnya itu tidak tahu bahwa Rosaline tidak hanya menata mejanya, tetapi dia juga yang memasak makanan kali ini.


Saat William mulai makan makanannya, mulutnya serasa meleleh merasakan masakan yang rasanya lebih lezat dari biasanya. Pria itu mulai menyadari bahwa ini bukanlah masakan dari pelayan rumahnya.


“Apa kamu juga yang memasak semua ini?” tanya William.


Rosaline mengangkat bahunya dan menjawab, “Emm yah begitulah...” jawabnya malu-malu tidak mau mengakui.


Bahkan dia juga punya bakat memasak seenak ini. Sebenarnya apalagi yang bisa dilakukan gadis ini – ucap William sambil menatap Rosaline.


Kemudian ketiganya melanjutkan makan dengan tenang.


“Apa badanmu sudah terasa lebih baik?” tanya William.


Rosaline menganggukkan kepalanya. “Ya, aku sudah merasa baikan dan sepertinya juga memang sudah sehat”


“Kalau begitu, maukah kamu menemani Adeline untuk hari ini? Karena aku ada urusan”


Rosaline berpikir sejenak. Jika tidak salah ingat, hari ini dia ada jadwal pemotretan. “Sebenarnya aku tidak keberatan menemani Adeline. Tetapi hari ini sepertinya aku ada jadwal pemotretan. Nanti aku akan memastikannya lagi dengan managerku” jawabnya.


Mata Adeline berbinar-binar mendengar ucapan ayahnya yang mengijinkan dirinya ditemani oleh Rosaline. Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan ekspresi senang. Tatapannya mengatakan, “Apa Adel benar-benar boleh ditemani tante Raline seharian ini?”


William yang mengerti maksud tatapan gadis kecilnya itu langsung menjawab, “Tentu. Jika kamu butuh sesuatu, segera hubungi ayah”


Pria itu kini sudah selesai dengan sarapannya dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Lalu dia beralih menghampiri Adeline dan mencium kening gadis kecilnya sebagai salam perpisahan.


Sebelum William mencapai pintu untuk keluar dari rumahnya, Rosaline segera mengejar William. “Tuan William, apakah keberatan jika aku meminta nomer ponselmu? Untuk berjaga-jaga jika nanti Adeline membutuhkan sesuatu dan mengharuskan aku menghubungimu” ucap gadis itu.


William yang mendengar ucapan Rosaline, rasanya ingin sekali tersenyum, namun masih bisa dia tahan. Gadis itu masih belum menyadari bahwa nomer ponsel yang selama ini berkirim pesan dengannya adalah nomer ponsel milik William, bukan nomer ponsel pribadi milik Adeline, karena memang gadis kecil itu tidak punya. Jadi bisa dikatakan bahwa Rosaline secara tidak langsung sudah saling kontak dengan William.


Pria itu menatap Rosaline dan menjawab, “Kita bahkan sudah saling berkirim pesan sejak lama”


Setelah mengatakan itu, William langsung pergi berangkat bekerja, meninggalkan Rosaline yang masih terdiam tercengang di tempat akibat mendengar jawaban dari pria itu.


“Jja-jadi sse-selama ini aku sudah berkirim pesan dengan dia? Jadi itu adalah nomer ponselnya? Dd-dan bahkan aku mengirimkan foto selfieku yang sok imut itu kepadanya?” ucap Rosaline dengan wajah tak percaya dan mulut yang ternganga. Rosaline mengusap wajahnya lalu menjambak rambutnya, dia serasa tersambar petir setelah tahu kenyataan yang begitu memalukan.


“Ros...Ros! Ini sungguh memalukan Ros! Tentu saja itu tidak mungkin nomer pribadi Adeline. Kenapa hal semacam ini tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Stupid girl!” Rosaline merutuki kebodohannya yang memalukan.


🐤🐤🐤


Setelah selesai sarapan, kedua gadis itu duduk santai di sofa ruang keluarga, sembari Rosaline mencoba menghubungi managernya.


“Halo, ada apa Raline?” jawab Lisa setelah mengangkat telfonnya.


“Kak Lisa, apa jadwal pemotretan hari ini jadi?”


“Ahh...aku baru saja akan mengabarimu. Jadwal untuk hari ini diundur minggu depan, jadi akhir pekan ini jadwalmu kosong. Memang ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?”


“Baiklah kalau begitu. Aku baik-baik saja kak, aku hanya ingin memastikan saja”


“Ohh begitu rupanya... Jika terjadi sesuatu, jangan sungkan untuk memberitahuku. Mengerti?”


Rosaline terkekeh mendengar ucapan managernya itu. “Iya kak, tenang saja. Kalau begitu terima kasih kak infonya. Sampai jumpa minggu depan” kemudian Rosaline mengakhiri panggilan telfonnya.


Setelah mengkonfirmasi dengan managernya bahwa hari ini dirinya bebas, Rosaline langsung menatap gadis kecil yang duduk disampingnya. “Adeline sayang, ayo kita bersiap-siap dulu. Karena sekarang tante sudah merasa sehat, maka tante akan mengajakmu jalan-jalan” ucap Rosaline senang.


Adeline pun tak kalah senang dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.


🐤🐤🐤


Saat Rosaline kembali lagi ke kamar tamu, semuanya sudah kembali bersih dan rapi, seolah tak pernah terjadi apa-apa.


Sembari menunggu Adeline selesai bersiap dibantu oleh pengasuhnya, Rosaline melakukan browsing di media sosialnya untuk mencari tempat yang bisa dia kunjungi bersama dengan Adeline. Dia ingin membawa Adeline jalan-jalan mengunjungi tempat yang menarik.


[ Kids and Parents Event – Art For Children ]


Rosaline menyadari kalau sepertinya Adeline sangat suka menggambar atau hal yang berhubungan dengan seni. Maka dari itu dia memutuskan untuk membawa Adeline ke acara itu saja.


Adeline kini sudah siap dan menghampiri Rosaline yang sedang duduk di sofa kamar. Rosaline menatap gadis kecil itu dan berkata, “Adeline, apa kamu mau ke acara Art For Children?”


Adeline menganggukkan kepalanya dengan antusias. Tentu saja gadis kecil itu akan setuju dengan apapun yang diusulkan tantenya.


Rosaline tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengabari ayahmu dulu”


🐤🐤🐤


• Di ruangan meeting dengan suasana mendung dan tegang - MEGA Technology Corp •


William sedang duduk diam bagaikan patung buddha yang sama sekali tak bergerak sejak meeting dimulai. Meskipun ini akhir pekan, tapi perusahaannya memang sedang melakukan kejar target untuk menyelesaikan deadline proyek.


Melihat ponsel miliknya bergetar, akhirnya patung buddha itu bergerak dan bergegas mengangkat telfon setelah melihat nama si penelfon.


“Halo tuan William, apakah aku sedang mengganggumu saat ini?” ucap Rosaline dari telfon.


Kemudian William mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan dengan ekspresi datarnya, melihat saat ini dia memang sedang di tengah meeting yang serius. Lalu dia menjawab, “Sama sekali tidak”


“Aku ingin meminta ijin padamu untuk membawa Adeline pergi jalan-jalan ke acara Art For Children. Apakah kamu keberatan?” tanya Rosaline dari telfon.


“Tidak masalah. Tapi apa kamu benar-benar sudah sehat?”


“Tenang saja, aku sudah sangat sehat. Aku ingin mengajak Adeline jalan-jalan keluar rumah supaya dia tidak merasa bosan” jawab Rosaline dari seberang telfon.


“Hmm. Baiklah”


Semua orang di dalam ruangan meeting terkejut dengan mulut yang ternganga ketika mereka menyaksikan hal yang paling tak terduga yang pernah terjadi sepanjang sejarah mereka mengenal pria itu. Setahu mereka, pria itu tipikal orang yang benar-benar tidak mau diganggu saat sedang meeting serius seperti ini. Dan selama ini, pria itu sama sekali tidak pernah mengangkat telfonnya jika sedang meeting. Maka dari itulah mereka benar-benar menyaksikan peristiwa langka saat ini.


Orang-orang di dalam ruangan itu pun mulai saling pandang dan berbisik.


‘Apa bos kita benar-benar mengangkat telfon saat meeting? Tolong tampar aku sekarang’


‘Bos kita yang dingin itu bahkan mengabaikan panggilan telfon dari ibunya saat sedang meeting. Sial, apa esok matahari akan terbit dari barat’


‘Sebenarnya siapa orang yang bisa membuat bos kita mau mengangkat telfon di saat seperti ini?’


🐤🐤🐤


• Kembali lagi ke rumah pribadi William •


Rosaline memilih memakai dress selutut berlengan panjang berwarna putih, dia juga memilih menata rambutnya dengan dicepol. Saat Rosaline berpenampilan seperti itu, maka dia akan berubah menjadi sosok yang terlihat sangat dewasa, anggun, dan mempesona. Pakaian itu yang dibelikan oleh William kemarin malam dengan bantuan pelayannya. Kini Rosaline mengerti kenapa dibelikan berbagai macam pakaian oleh pria itu.


Adeline pun juga kebetulan memakai pakaian yang sama dengan Rosaline, dress berwarna putih. Karena keduanya memakai warna pakaian yang serupa, maka keduanya tampak seperti sedang memakai pakaian yang kembar.


“Nona muda Raline, mobil sudah siap” ucap kepala pelayan saat memasuki kamar. Kepala pelayan itu tersenyum senang melihat nona kecilnya dan nona muda yang tampak kompak.


“Terima kasih paman...” balas Rosaline tersenyum kepada kepala pelayan itu.


Kemudian Rosaline menggendong Adeline untuk membawanya ke dalam mobil.


🐤🐤🐤


• Di dalam mobil •


Adeline duduk dengan tenang dan hati yang berbunga-bunga karena hari ini dia akan bersenang-senang menghabiskan waktu bersama dengan tante kesayangannya.


“Adeline, kamu harus mendengarkan semua ucapan tante. Sekarang ini kita akan pergi ke tempat yang ramai dan banyak orang. Pastikan kamu untuk tidak pernah melepaskan gandengan tante Raline” ucap Rosaline lembut memberi pengertian Adeline.


Gadis kecil itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


“Apapun yang terjadi, kamu harus selalu berdekatan dengan tante Raline. Karena sekarang kita hanya pergi berdua saja. Tante juga akan selalu menjagamu. Jika butuh atau ingin sesuatu, kamu harus bilang pada tante. Mengerti?” ucap Rosaline mengedipkan matanya.


Adeline pun tersenyum girang memperlihatkan gigi susunya dan ikut-ikutan mengedipkan satu matanya.


Supir yang melihat interaksi kedua gadis yang sedang duduk di kursi belakang itu pun turut merasa bahagia. Karena akhirnya tuannya, William, bisa bertemu dengan seseorang yang benar-benar tulus mau menerima dan menjaga nona kecil Adeline.