
Esok harinya
• Di Orchard Residence •
“Pagi semua” sapa Rosaline pada keluarganya, dan sapaannya dibalas oleh keluarganya. Terlihat para pria sedang mengobrol masalah pekerjaan sembari sarapan. Sedangkan neneknya sedang minum secangkir teh sembari membaca majalah.
Rosaline duduk dan mengambil sarapan. Roti dan selai coklat menjadi menu pilihannya.
“Kau akan masuk kuliah hari ini?” tanya Rayen dengan menatap Rosaline heran.
“Ya, tentu. Ini ‘kan bukan hari libur.”
“Maksudku, apa kakimu sudah baikan? Apa tidak sebaiknya istirahat di rumah?”
“Kakiku hanya terkilir, bukan patah. Aku masih bisa berjalan. Lagi pula hari ini aku juga ada jadwal pemotretan yang tidak bisa ditunda” jawab Rosaline memberi pengertian.
“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kampus.”
Rosaline membelalakkan matanya. “Apa kakak ingin seluruh anak kampusku tahu identitasku yang sebenarnya? Mobil sport barumu itu sangat mencolok, kontras sekali dengan mobil yang biasa kugunakan untuk antar jemput ke kampus.”
“Mobil yang biasa digunakan supir untuk mengantarmu juga mahal.”
“Tapi tidak segila harga mobilmu, kak. Bagaimana jika ada anak kampus yang memergokiku keluar dari mobilmu itu...” ucap Rosaline tak ingin kalah.
“Aku bisa menurunkanmu di tempat yang agak jauh dari biasanya supir menurunkanmu. Gampang, kan?” ucap Rayen santai.
“Sudahlah tidak perlu repot-repot. Aku akan berangkat sendiri.”
“Aku tidak minta pendapatmu, Ros. Dengan atau tanpa persetujuanmu, aku akan tetap mengantarmu hari ini.”
“Tapi kak--“
“Keputusan final” sahut Tuan Anthoni menyudahi perdebatan. Dia tahu kalau Rayen ingin quality time dengan Rosaline walau hanya sebentar. Memang sudah lumayan lama sejak terakhir kali mereka berdua pergi bersama, karena kesibukan Rayen mengurusi perusahaan.
Sontak Rosaline menoleh ke ayahnya yang membela Rayen. “Ayah...” ucapnya memelas. Tetapi sayangnya Tuan Anthoni sama sekali tak bergeming.
“Grandpa...” Rosaline mencoba minta pertolongan ke kakeknya. Namun kakeknya hanya mengedikkan bahu, tanda dia pasrah dan tidak berani menentang keputusan Tuan Anthoni. Begitu pula dengan istri Tuan Rudy yang juga buru-buru mengalihkan fokusnya ke majalah sebelum Rosaline memelas padanya.
Rosaline memejamkan mata dan menghembuskan nafas kasar. “Fine, kalian menang.”
🐤🐤🐤
“Katakan, ada apa tiba-tiba ingin mengantarku?” Rosaline menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap garang Rayen yang sedang menyetir mobil.
“Memangnya salah? Kamu terlalu mencurigaiku, Ros...” jawab Rayen terkekeh.
Rosaline memutar bola matanya. “Kakak pikir aku gadis kecil yang bisa dibodohi? Come on, brother. Aku sudah mengenal sifat licikmu. Kakak selalu begini tiap kali ingin minta bantuanku. Katakan, kali ini perempuan mana lagi yang nekat mengganggumu?”
“Sungguh tidak ada” ucap Rayen. “Apa kamu cemburu dan takut kalau kakak berpaling darimu? Kamu pasti takut kasih sayangku terbagi ke perempuan lain, kan?”
Mulut Rosaline menganga dan matanya membelalak. “Apa otak kakak sudah terpenuhi karbondioksida hingga bicara melantur begini?”
“Emm sepertinya otakku hanya dipenuhi olehmu. Tenanglah baby, aku akan selalu bersamamu...” jawab Rayen. Dia melirik Rosaline, dan mengerlingkan sebelah matanya.
“Ya ampun, kelakuanmu membuatku merinding. Setan mana yang menggelayutimu sepagi ini, Rayen. Menjauhlah dariku...”
“Kenapa judes sekali dengan kakakmu sendiri. Apa kamu sudah bosan denganku dan ingin berpaling ke pria tua lain?”
“Demi Tuhan Rayen, segeralah cari kekasih dan menikah. Aku khawatir dengan kesehatan mentalmu.”
“Saat ini cukup ada kamu di sisiku saja sudah membuatku bahagia, Ros. Tidak perlu yang lain.”
Rosaline memijat keningnya. Masih pagi dan kelakuan Rayen seliar ini, membuat kepala Rosaline terasa pusing. “Kak Rayen, kau benar-benar gila dan menyebalkan...”
“Dan si gila menyebalkan ini sangat menyayangimu...” Rayen mencolek genit dagu Rosaline.
Rayen terus berlanjut melancarkan aksi menggoda Rosaline. Puas sekali Rayen bisa menggoda Rosaline sepanjang perjalanan. Sudah lama juga dia tidak berduaan dengan Rosaline seperti sekarang.
“Hentikan, kak. Kelakuanmu sekarang mirip seperti om-om girang yang menggoda gadis polos” Rosaline jengkel dan mencubit pinggang kakaknya.
“Pffft! Polos?” Rayen tertawa sambil mengelus bekas cubitan Rosaline. “Ayolah, aku tahu kamu tidak sepolos itu. Gadis polos tidak mungkin punya otak sepertimu yang selalu punya berbagai macam cara untuk menyembunyikan sesuatu dari keluarganya.”
Tubuh Rosaline mulai menegang. Perkataan Rayen seperti menyiratkan sindiran untuknya. Apakah Rayen mengetahui sesuatu? Sejauh apa yang diketahuinya? Berbagai pertanyaan bermunculan dan membuat Rosaline tidak tenang.
“Aa-apa yang kakak bicarakan?” mimik muka Rosaline cemas.
Saat berada di perempatan dan kebetulan mendapat lampu merah, Rayen menghadap ke Rosaline dan menatapnya menyelidik. Rosaline pun semakin dibuat berdebar.
“Katakan...” ucap Rayen menggantung. Rosaline makin menegang.
“Apa Kak Rayen tahu hubunganku dengan Jeffrin? Atau dia tahu hubunganku dengan William? Aku harus bagaimana ini....” batin Rosaline.
“Kamu dan Glenn dekat?” akhirnya Rayen menyelesaikan ucapannya.
“Hah?” Rosaline membeo, tampaknya sia-sia dia berpikir berlebihan. “Apa kakak bilang?” dia ingin memastikan sekali lagi bahwa tidak salah dengar.
“Ck, aku sudah tahu kalau hubunganmu dengan Glenn cukup dekat. Jangan pura-pura bodoh atau menyangkalnya, tidak berguna. Lagi pula Glenn juga sudah mengaku.”
“Kenapa Kak Rayen mendadak membahas tentang Glenn? Aku memang dekat dengannya sih, tapi hanya sebatas teman. Lain halnya dengan Jeffrin yang....ah sudahlah” batin Rosaline.
Entah Rosaline harus merasa lega karena tidak ketahuan atau malah akan memunculkan masalah baru dengan menyeret Glenn untuk menutupi kebohongannya.
“Aa-ah maaf karena menyembunyikan darimu. Aku cuma tidak mau kakak dan ayah membuat Kak Glenn kesulitan karena dekat denganku.”
“Apa Glenn memperlakukanmu dengan baik?”
“Hmm, selalu” Rosaline mengangguk senyum. “Dia baik, humoris, aku senang dan nyaman berteman dengannya” Rosaline berkata jujur, memang itulah yang dia rasakan saat bersama Glenn.
Rayen tersenyum. “Baguslah. Aku senang mendengarnya.” Lalu kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah hijau.
“Dengar Ros, aku mungkin bisa memahamimu dekat dengan pria mana saja. Sekalipun itu Glenn, aku tidak akan mempermasalahkan” ucap Rayen. Ini kabar baik untuk Rosaline, karena sekarang dia bisa terang-terangan berhubungan dengan Glenn. “Tapi aku tidak mengijinkan jika kamu dekat-dekat dengan Jeffrin, orang yang kemarin kukenalkan padamu.”
Seketika senyum di wajah Rosaline pudar, tergantikan dengan kerutan di kening. Kenapa kakaknya bisa dengan mudah mengijinkan dirinya dekat dengan Glenn, tetapi tidak dengan Jeffrin? Bukankah mereka bertiga berteman? Kenapa juga Rayen harus membedakan keduanya.
“Kenapa begitu? Apa ada yang salah dengannya?” tanya Rosaline.
“Tidak, tidak ada yang salah dengannya. Jeffrin juga pria yang baik” jawab Rayen. “Aku tidak mengijinkanmu dekat dengannya karena aku takut kamu akan menyukainya. Suka dalam artian seorang wanita ke pria” Rayen bicara to the point.
“Bukankah bagus jika pria yang kusukai temanmu sendiri? Katamu dia pria yang baik, lalu dimana letak kesalahannya jika aku menyukai dia?”
“Kesalahannya adalah Jeffrin terlalu tua untukmu. Meskipun wajahnya masih terlihat muda dan sialnya juga tampan, tapi tetap saja umur kalian terpaut sangat jauh. Bahkan dia lebih tua dariku.” Rayen tahu betul bagaimana selera pria Rosaline, dan Jeffrin termasuk pria matang yang masuk dalam kriterianya. Maka dari itu Rayen segera menentang di awal sebelum Rosaline terlanjur dekat atau menaruh hati pada Jeffrin.
Alasan Rayen lebih memilih Glenn, karena selain dia lebih muda dari Rayen, perusahaan Glenn tidak ada hubungan kerja sama dengan Heinan Group. Andaikan Glenn berani menyakiti Rosaline, Rayen bisa langsung memutuskan pertemanan dan memberi pelajaran pada pria itu tanpa beban apapun. Lain halnya dengan Jeffrin, selain dia lebih tua dari Rayen, perusahaannya juga banyak menjalin kerja sama dengan Heinan Group. Seandainya Rosaline berhubungan dengan Jeffrin lalu terjadi konflik dalam jalinan mereka, Rayen takut akan berdampak pada kerja sama kedua perusahaan. Sulit bagi Rayen untuk tetap profesional di saat adik sendiri disakiti oleh teman sekaligus rekan bisnisnya. Lebih baik Rayen menghindari hubungan complicated semacam itu.
Rayen mengambil nafas dan menghembuskannya. “Dulu Jeffrin pernah melontarkan candaan, jika suatu saat dia bertemu denganmu, Jeffrin akan mengejarmu sampai dapat. Aku tahu itu hanya sekedar candaan semata. Tapi sekarang aku mulai resah karena kalian berdua sudah saling bertemu” Rayen berhenti sejenak, dan melanjutkan. “Perlu kamu tahu Ros, dia sekarang menjalin hubungan dengan gadis seumuranmu. Benar-benar gila, kan? Bagaimana aku bisa tenang. Seandainya nanti Jeffrin tidak bersama gadis itu lagi, mungkin bisa saja Jeffrin beralih melirikmu dan mewujudkan candaannya.”
“Jeffrin sudah mewujudkannya, kak. Karena gadis yang kamu bicarakan adalah aku. Tuhan, takdir macam apa ini....” batin Rosaline.
Rosaline bisa mendengar suara Rayen yang mencemaskannya. Tidak tahu apa yang akan diperbuat Rayen pada Jeffrin jika tahu kebenarannya. Ini tidak bisa dibiarkan. Rosaline harus bertindak dan merubah pola pikir Rayen. “Kak, bukankah pemikiranmu itu agak picik?”
“Maksudmu Ros?”
Rosaline memalingkan wajahnya ke samping, memperhatikan jalanan dari balik kaca mobil. “Aku mengerti maksudmu yang tidak ingin aku punya pasangan dengan perbedaan usia terpaut jauh. Aku juga paham mungkin akan ada pandangan miring atau penolakan sosial yang kualami dengan pasanganku nanti. Entah berasal dari keluarga, teman, atau penilaian orang-orang sekitar yang bahkan tidak begitu mengenal kami berdua secara pribadi. Semua resiko semacam itu, aku memahaminya.”
Pikiran Rosaline menerawang jauh dalam keseriusan. Dia menundukkan wajahnya. “Tapi sekali lagi kuingatkan, kita tidak bisa memandang cinta hanya dari tampilan fisik, umur, status, atau yang lain. Kita tidak akan pernah tahu hati ini akan berlabuh ke mana. Kalau memang aku berjodoh dengan Jeffrin, kakak bisa apa?”
Rosaline berhasil membuat Rayen tercengang. Benar yang dikatakannya, Rayen bisa apa? Tidak ada yang bisa dilakukan Rayen selain memastikan kebahagiaan Rosaline bersama orang yang dicintainya.
“Dan jika ternyata jodohku adalah orang yang memenuhi semua kriteria yang tidak kakak suka dan harapkan, tapi aku mencintainya, lantas harus bagaimana? Apa kakak akan menentangku habis-habisan dan membuat kita berdua saling bermusuhan, tidak mungkin ‘kan?”
Perkataan Rosaline bagaikan pukulan telak bagi Rayen. Sama sekali tidak bisa bereaksi, Rayen hanya diam membisu.
“Bagiku usia bukanlah ukuran utama. Terlepas dari berapapun perbedaan usiaku dengan pasanganku, jika dia tulus mencintaiku, kami berdua memiliki kesamaan pemikiran, perasaan, saling percaya dan memahami kondisi masing-masing, maka tak ada yang tak mungkin bagi kami untuk membangun sebuah hubungan serius.”
Tak terasa mobil sudah berhenti di tempat tujuan. Namun gadis itu masih termenung dalam pikirannya hingga tidak menyadari.
Rayen menatap sendu Rosaline yang masih menunduk. Dia paham maksud Rosaline, dan tak ada satupun yang salah dari perkataannya. Rayen masih belum lupa bahwa Rosaline juga pernah menjalin hubungan secara backstreet. Sungguh ini bukan hanya karena masalah umur atau bisnis, tetapi ada banyak hal di kediaman Heinanverero yang tidak dapat dijelaskan dengan sederhana. Sayangnya Rayen juga tidak bisa memberitahu hal itu kepada Rosaline, dan tidak akan pernah bisa. Siapapun nanti pasangan Rosaline, pria itu haruslah sangat siap menerima segala kondisi Rosaline yang ‘istimewa’ dibalik fisiknya yang sempurna.
“Kita sudah sampai.” Rayen tidak mau membahas lebih lanjut. Dia tidak mau hanya karena pembahasan seperti ini, akan membuat hubungannya dengan Rosaline merenggang.
Sebelum keluar dari mobil, Rosaline memeluk kakaknya dari samping sembari berkata, “Berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi, kakak tidak akan melakukan sesuatu yang bisa mengecewakanku.”
“Hei, ada apa denganmu baby?” Rayen mengelus lengan Rosaline.
Rosaline mengendurkan pelukannya dan menatap mata Rayen lekat. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin kakak berjanji padaku. Bisa, kan?”
“Aku janji. Aku janji tidak akan melakukan sesuatu yang bisa mengecewakan atau membuatmu sedih. Dan kali ini aku juga tidak akan membiarkanmu terluka sedikit pun” ucap Rayen dengan mencium lama kening Rosaline. Tanpa diminta pun Rayen juga akan melakukannya.
“Maafkan aku, kak...” batin Rosaline.
Setidaknya Rosaline sudah membuat Rayen berjanji tidak akan melakukan sesuatu hal buruk jika nanti hubungannya dengan Jeffrin atau William diketahui olehnya.
“Maafkan kakak, Ros...” batin Rayen.
Kedua kakak beradik itu mengucapkan kata maaf secara bersamaan, menyesal dengan rahasianya masing-masing yang tidak diketahui.