
• Di Restaurant - The Heinan Hotel •
Glenn menatap bergantian ke arah kedua kakak beradik yang sekarang sedang duduk di depannya. Mereka bertiga sedang makan siang di restaurant yang ada di dalam hotel. Memang alasan inilah yang membuat Glenn datang menghampiri Rayen mendadak, untuk mengajaknya makan siang. Karena Glenn sangat menyukai masakan salah satu menu di restaurant hotelnya.
Masih ada sisa-sisa shock pada diri Glenn. Rayen sudah menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya saat tadi di ruangannya. Rayen juga menceritakan kalau dia dan adiknya memang sering melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti itu. Tunggu dulu. Apa katanya? Me-nye-nang-kan? Hal seperti tadi lebih tepat disebut hal-hal gila. Bisa-bisanya mereka menganggap ‘menyenangkan’ hal seperti itu. Mereka berdua sudah sangat cocok membuka bisnis penipuan, karena akting Rosaline yang meyakinkan.
Glenn tak percaya kalau dia akan berakhir konyol dan menjadi korban dalam permainan adiknya Rayen. Selama ini Glenn tidak pernah melihat Rosaline. Tetapi sekali bertemu dengannya, mereka dipertemukan dalam kondisi yang tidak biasa. Pertemuan pertama yang sangat kacau.
“Jadi Ros, kenapa kamu tumben sekali ikut kakakmu untuk pergi ke hotel?” tanya Glenn.
“Karena sedang merasa bosan di rumah. Aku memang sudah beberapa kali ikut kak Rayen saat dia melakukan pengecekan di hotel. Disini ada banyak orang, jadi membuatku merasa tidak merasa kesepian. Dan juga aku bisa bersenang-senang di sekitar hotel” Rosaline menjawab Glenn dengan wajah yang santai dan tersenyum.
“Ros memang sesekali datang kemari jika dia sedang merasa bosan. Kau saja yang tidak pernah tahu” ucap Rayen sinis.
“Bukankah selama ini kau selalu menyembunyikan Ros?”
“Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya melindunginya saja” balas Rayen dengan santai dan menaikkan bahunya.
“Lalu mengapa kau tidak pernah mengenalkan Ros kepada kami?” Glenn mengerutkan alisnya.
“Apa aku harus mengenal om Glenn dan teman kakak yang lainnya?” Rosaline menjawab santai pertanyaan dari Glenn. Dia menampilkan wajah innocentnya.
“Lihat, bahkan Ros tidak berminat untuk mengenal kalian” ucap Rayen dengan terkekeh dan tatapan mengejek Glenn.
Glenn menatap ke arah Rosaline. Glenn memang sudah berumur kepala tiga, tapi dia juga tidak setua itu untuk pantas dipanggil ‘om’ olehnya. Dia bahkan lebih muda beberapa bulan dari Rayen.
“Hei hei, siapa yang dari tadi kamu panggil om? Kenapa dari tadi kamu memanggilku dengan sebutan om? Aku tidak setua itu Ros. Aku bahkan masih terlihat tampan dan muda. Aku juga seorang pria single dan sukses. Sebutan om kurang pantas untukku. Terkesan seperti aku sudah berumur 40 tahun dan sudah memiliki anak. Panggil saja aku dengan sebutan ‘kakak’, seperti kamu memanggil kak Rayen. Lagi pula kan aku juga lebih muda dari kakakmu...” Glenn merajuk di hadapan Rosaline. Dia mencoba membujuk dengan wajah imut agar Rosaline tidak memanggilnya ‘om’ lagi.
Rosaline yang melihat tingkah Glenn sekarang merasa gemas. Pria di depannya ini sudah bukan anak muda lagi, tetapi dia bisa bertingkah seperti itu di hadapan adik temannya yang baru dia temui.
Rayen yang melihat ekspresi Glenn menjadi jijik dan merinding. Glenn tidak biasanya bersikap imut seperti sekarang.
“Ck! Jangan bersikap sok imut seperti seekor hamster. Image sebagai buaya lebih cocok disandingkan untukmu” ucap Rayen sinis kepada Glenn.
Glenn hanya berdecak kesal merespon ucapan Rayen. Ya, memang Glenn mengakui kalau dia sering bergonta-ganti pacar. Tetapi dia bukanlah seorang lelaki buaya. Dia tidak pernah bermain dengan wanita. Rayen memang selalu berlebihan jika sudah mencibirnya, meskipun Rayen juga tahu kebenarannya tentang hal itu.
Kemudian mereka kembali terdiam. Melanjutkan makan siang mereka yang belum habis.
Saat ini adalah jam makan siang. Suasana di restaurant hotel sangat ramai. Banyak pengunjung hotel yang makan siang disana. Suasana seperti inilah yang disukai Rosaline. Suasana yang bisa membuatnya tidak merasa sendiri ketika dia sedang merasa bosan.
Glenn yang sudah selesai dengan makanannya mencoba untuk bertanya lagi pada Rosaline. Dia ingin mengenal Rosaline lebih dekat.
“Bagaimana kehidupan kuliahmu Ros, apakah lancar-lancar saja?” ucap Glenn dengan menatap Rosaline yang masih belum selesai dengan makanannya.
“Apakah kamu tidak merasa kesulitan kuliah disini? Maksudku, aku pikir kamu akan merasa sedikit kesulitan karena kamu sudah lama tinggal di London dan bersekolah disana”
“Hmm sama sekali tidak. Bagiku semuanya sama saja. Aku merasa cukup percaya diri dengan kemampuanku” balas Rosaline dengan senyum kepada Glenn.
Senyum Rosaline memang sangat memikat hati. Glenn tidak memungkiri bahwa Rosaline sangat cantik dan menggemaskan. Pantas saja jika Rayen bersikap protektif padanya. Jika Glenn mempunyai adik seperti Rosaline, mungkin dia juga tidak akan pernah membiarkannya hidup jauh dari pengawasan Glenn.
“Lalu, apa kamu sudah mempunyai seseorang yang dekat denganmu? Kamu tahu kan maksudku...” Glenn menampakkan senyum jahilnya dan mengangkat keatas kedua alisnya.
Rayen yang mendengar perkataan itu langsung meletakkan garpu di tangan kirinya, dan jari telunjuknya diketuk-ketukan ke meja beberapa kali. Ditatapnya lekat wajah Glenn. “Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau menanyakan hal-hal pribadi pada Ros? Apa kau seorang wartawan?”
Rosaline memegang lembut tangan Rayen yang ada di sampingnya. Dia ingin menenangkan kakaknya agar tidak terbawa emosi. Ini hanyalah pertanyaan sepele, tidak ada yang perlu diributkan. Rosaline menampilkan senyumnya, tanda tidak masalah. “It’s okay brother. Aku tidak masalah jika teman kakak bertanya. Selama aku bisa menjawab pertanyaannya, aku pasti akan menjawabnya”
Rayen hanya bisa menghela nafas dan mengangkat bahunya pasrah. Adiknya ini memang selalu baik dengan orang lain. Selalu berusaha untuk tidak menyinggung siapapun yang sedang berhadapan dengannya.
Rosaline beralih menatap Glenn. Melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda. “Baiklah aku akan menjawab pertanyaannya. Aku sedang tidak dekat dengan siapapun. Sejauh ini tidak ada yang bisa membuatku tertarik. Lagi pula aku juga masih belum memikirkan hal seperti itu” jawab Rosaline santai.
Glenn meresponnya dengan mengangguk. Dia mengerti jika Rosaline belum dekat dengan siapapun. Jika ada, maka Rayen pasti akan seperti cacing kepanasan.
“Jika sekarang tidak ada yang dekat denganmu, lalu apakah kamu pernah menyukai atau dekat dengan seseorang?” Glenn menatap penuh rasa penasaran kepada Rosaline.
Mendengar pertanyaan dari Glenn, Rosaline seketika meremas sendok dan garpu yang ada di tangannya. Raut wajahnya masih terlihat tenang. Ini adalah pertanyaan yang paling tidak ingin dia dengar.
Rayen yang baru saja selesai dengan makanannya, sontak melirik ke arah Glenn saat pertanyaan itu dilontarkan, lalu dia langsung menoleh ke arah adiknya. Ditatapnya Rosaline yang sekarang sedang terdiam. Rayen penasaran dengan jawaban yang akan diberikan adiknya.
Rosaline masih saja terdiam. Matanya memang menatap ke arah makanan yang ada di depannya, tetapi bisa dipastikan bahwa sebenarnya tatapan mata Rosaline saat ini sangat kosong. Tubuhnya berada disini, tetapi pikirannya sedang menjelajah ke tempat lain.
Glenn merasa bingung dengan respon Rosaline sekarang yang malah terdiam. Dia mencoba melirik ke arah Rayen untuk mencari jawaban, tetapi ternyata Rayen juga sedang menatap adiknya dengan penuh tanda tanya.
Tak lama kemudian kesadaran Rosaline pulih kembali. Dia meletakkan sendok dan garpu yang tadi di genggamnya. Dia menghela nafas panjang dan tersenyum tipis. Lalu dia mengambil tasnya dan beranjak dari tempat duduknya.
“Aku sudah selesai makan, aku akan pergi sekarang. Aku sedang ada urusan. Aku akan pulang sendiri dengan taksi saja, kakak tidak perlu menelfon supir. Cepatlah pulang jika urusanmu sudah selesai” Rosaline tersenyum dan mencium sekilas pipi kakaknya. “Dan untuk kak Glenn, akan ku usahakan untuk memanggilmu dengan sebutan kakak seperti keinginanmu. Aku senang bisa berkenalan denganmu. Sampai jumpa lagi kak Glenn....” Rosaline menatap Glenn dengan mengedipkan sebelah matanya.
Kini hanya tinggal Rayen dan Glenn yang berada di meja makan. Rayen masih belum mengeluarkan suaranya semenjak Rosaline pergi. Glenn merasa sedikit bingung karena Rosaline tidak menjawab pertanyaan darinya, tetapi malah langsung berpamitan pergi.
“Ada apa? Apa aku ada salah bicara dengan Ros?” Glenn melirik ke arah Rayen.
“Tidak ada. Mungkin memang dia sedang ada urusan sekarang” balas Rayen datar.
Mendengar jawaban dari Rayen membuat Glenn merasa lega, dia takut jika sudah salah bicara. Tetapi sepertinya memang tidak ada yang perlu dikhawatirkannya.
Rosaline sayang, kakak berharap kamu bisa selalu merasa bahagia – dalam hati Rayen.