
• Di salah satu hotel mewah bintang lima - Singapore •
Di dalam sebuah kamar hotel mewah, seorang pria sedang sibuk mengurusi dokumen-dokumen mengenai proyek yang sedang dia tangani. Pria itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya, dan sesekali juga mengecek ponselnya untuk menghubungi rekannya.
Di dalam ruangan kamar hotel tersebut, pria itu juga sedang ditemani oleh asisten setianya.
“Astaga, aku harus segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Aku bahkan sudah dua bulan lebih menangani proyek disini” ucap pria itu sambil menyenderkan punggung dan kepalanya ke sofa. Dia juga mengusap kasar wajahnya yang sudah nampak lelah.
“Jeff, kau itu masih untung hanya berdiam saja di negara ini untuk mengurus proyek. Sedangkan aku? Aku harus bolak balik kesana kemari untuk membantumu disini dan mengurus perusahaanmu disana. Jika kau bukan teman baikku, mungkin aku sudah memakimu karena menyalahgunakan tenaga asisten. Bersyukurlah karena aku sudah rela meringankan bebanmu” ucap asistennya santai.
Jeffrin melirik tajam ke arah asistennya yang kurang ajar itu yang sekarang sedang bersantai tiduran di sofa sambil asik bermain game online di ponselnya. Sedangkan bosnya malah masih sibuk mengecek beberapa dokumen yang belum selesai.
Orang ini, sepertinya memang perlu aku beri pelajaran dengan ku kirim ke pedalaman supaya hidupnya bisa lebih menderita – ucap Jeffrin dalam hati.
“Hei, jika tak salah ingat, sepertinya salah satu kenalanku yang tinggal di Afrika sedang membutuhkan sukarelawan untuk membantunya disana. Apa kau tertarik untuk aku rekomendasikan?” ucap Jeffrin datar.
Andrew yang mendengar ucapan bosnya itu seketika langsung bangun, mematikan layar ponselnya, dan duduk sigap menghadap bosnya. “Ada lagi yang perlu saya bantu bos?” ucap Andrew dengan wajah seriusnya.
Jeffrin tersenyum tipis penuh kemenangan karena berhasil menjahili teman sekaligus asisten kurang ajarnya itu.
“Tidak ada. Semuanya sudah hampir beres. Aku juga sudah melaporkannya pada Rayen. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan disini” ucap Jeffrin sambil menatap langit-langit kamarnya.
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Andrew melihat Jeffrin yang saat ini sedang terdiam menatap ke atas langit-langit kamar, entah apa yang sedang dipikirkan orang itu. Andrew juga sebenarnya mengkhawatirkan Jeffrin, karena selama berada disini, Jeffrin terlihat sangat sibuk dan hampir tak ada waktu untuk bersantai.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Andrew.
“Mungkin....” jawab Jeffrin lemas.
Andrew merasa terheran dengan jawaban Jeffrin yang terkesan ambigu baginya. “Hei, kau yakin baik-baik saja? Aku rasa kau sudah terlihat sangat lelah. Jika sudah selesai, segeralah istirahat” ucap Andrew dengan perasaan khawatir.
Tak ada respon dari Jeffrin. Orang itu masih saja melamun menatap keatas. Membuat Andrew makin merasa terheran.
“Jeff, kau dengar tidak? Apa yang sedang kau pikirkan? Masalah pekerjaan lagi?”
“Raline” ucap Jeffrin.
Andrew mengerutkan keningnya. Takut jika dirinya salah mendengar. “H-hah? Apa katamu barusan?” ucap Andrew sambil memegang telinganya, memastikan bahwa telinganya saat ini memang berfungsi dengan baik.
Jeffrin melirik sinis Andrew. “Aku bilang Ra-line. Apa kurang jelas?” ucapnya dengan nada meninggi.
Sekuat tenaga Andrew menahan gejolak tawa di dalam dirinya. Tetapi apalah daya, suara tawa akhirnya berhasil lolos juga dari mulutnya. Ini sangat lucu baginya, karena sebelumnya Jeffrin tidak pernah terlihat sekonyol ini.
Jeffrin merasa tambah geram karena Andrew yang meresponnya dengan tidak serius dan justru menertawakannya.
“Sudah puas menertawakanku?” ucap Jeffrin dingin dengan tatapan lasernya.
Andrew yang ditatap seperti itu langsung menghentikan tawanya. Dia akan mulai serius menanggapi temannya yang sedang resah itu.
“Jeff, tidakkah kau merasa kalau tingkahmu sekarang terlihat seperti anak abg?” ucap Andrew dengan mengatupkan bibirnya, sekuat tenaga dia menahan agar tidak tertawa lagi. Lalu dia menghembuskan nafas panjang.
“Jeffrin oh Jeffrin. Kau itu kan pria dewasa dan juga sudah.....ehemmtua” ucap Andrew menyamarkan kata tua dengan batuk. “Aku rasa tidak pantas jika kau hanya memikirkannya saja tapi tidak ada usaha untuk mendekatinya” lanjut Andrew.
“Andrew, kau tahu sendiri kan setelah kita makan bersama saat itu, Rayen langsung memintaku untuk mengurus proyek disini. Dan aku tak bisa membantah, karena perusahaannya adalah investor utama. Kau pasti juga tahu bahwa om Anthoni bukanlah orang sembarangan, jadi kita harus benar-benar serius saat menjalin kerja dengan Heinan Group. Maka dari itu aku tidak ada kesempatan lagi untuk bisa mendekati Raline” ucap Jeffrin dengan mengusap kasar wajahnya.
Andrew tersenyum senang karena akhirnya Jeffrin mau membuka hatinya untuk orang lain. Siapa yang menyangka kalau orang yang berhasil membobol pertahanan hatinya adalah seorang gadis yang umurnya berbeda jauh dengannya.
“Jadi, apa kau sudah mengakui perasaanmu?” tanya Andrew.
Jeffrin terdiam sesaat, matanya sedang menatap kosong pada satu titik. Kemudian dia kembali menatap Andrew dan berkata, “Aku mengakuinya”
Andrew mengangguk senang mendengar jawaban Jeffrin. “Baiklah. Karena kau sudah mengakuinya, aku akan memberikan sedikit informasi yang ku ketahui tentang Raline. Apa kau tertarik?”
Jeffrin membenarkan posisi duduknya agar bisa lebih fokus menyimak informasi yang diberikan Andrew. “Cepat katakan apa yang sudah kau ketahui”.
“Sebenarnya saat itu, aku mendapatkan beberapa informasi tentang Raline melalui anak-anak kampus itu. Raline terkenal di kalangan teman-temannya karena pribadinya yang ramah dan baik. Dia juga golongan anak pintar di kampusnya. Raline tidak pernah berpacaran dengan anak kampus, bahkan menjalin kedekatan pun sejauh ini tidak ada, sebatas berteman saja. Lalu sebelumnya aku juga diberitahu oleh dosennya Raline, bahwa sebenarnya....” Andrew menggantung ucapannya. Kemudian dia melanjutkan ucapannya, “Raline adalah lulusan sekolah dari London” Andrew menatap serius Jeffrin.
“London?” Jeffrin terheran.
“Ya, London. Menurut informasi yang diketahui dari dosen itu, Raline sekolah disana dengan beasiswa. Dan itu adalah salah satu sekolah terbaik disana. Jadi dia baru kembali kesini kira-kira dua tahun lalu. Kemudian aku meminta orang untuk memeriksa Raline, tapi informasi pribadi tentangnya benar-benar sulit di dapat. Hanya tertulis nama ayahnya Anton dan kakaknya Bernad, mereka karyawan di Heinan Group. Yah, hanya sebatas itu saja informasi yang ku dapatkan. Aku rasa dia memang orang biasa saja, sehingga tidak banyak informasi yang bisa di dapatkan” ucap Andrew.
Tidak ada respon dari Jeffrin. Dia masih diam saja setelah mendengar informasi dari Andrew.
“Hei Jeff, kau tidak berubah pikiran kan setelah mengetahui dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja?” tanya Andrew.
Kemudian Jeffrin tersenyum menatap temannya itu. “Kau kan sudah mengenalku dengan baik. Tentu saja aku tidak akan berubah pikiran hanya karena hal seperti itu. Justru aku semakin bangga dengan Raline. Sejak awal aku memang sudah tertarik dengannya, dan aku juga tidak akan mempermasalahkan dia berasal dari keluarga yang seperti apa. Toh dia waktu itu juga sudah mengatakannya padaku, dan aku mempercayainya. Andrew, terima kasih karena sudah memberitahuku tentang ini. Kau memang teman yang paling mengerti aku”
Andrew tersenyum senang mendengar jawaban dari teman baiknya itu. Selama ini Jeffrin tidak pernah memandang seseorang dari statusnya. Dari luar dia memang tampak ketus, angkuh, dan semena-mena, terlebih jika sudah menyangkut pekerjaan, dia akan menjadi orang yang sangat tegas. Tetapi sebenarnya, Jeffrin adalah orang yang berhati hangat. Dia sama sekali tidak pernah membedakan dalam berteman. Karena nyatanya Jeffrin bersedia berteman baik dengan Andrew yang hanya anak dari orang biasa.
“Jeffrin, kau jangan tersenyum seperti itu padaku. Aku tidak terbiasa dengan senyumanmu yang memabukkan itu. Kau tidak mau kan jika aku membangkitkan jiwa lain dari dalam diriku ini” ucap Andrew dengan nada menggoda. Dia mengedipkan matanya dan mengusap bibir menggunakan jempolnya.
Jeffrin mengambil nafas dalam, memejamkan matanya, dan menjambak rambutnya sendiri. “Andrew...kau...benar-benar temanku yang paling sint*ng dan kurang ajar yang pernah aku kenal!” ucapnya dengan sangat geram.
Andrew pun tertawa terpingkal-pingkal melihat respon yang diberikan oleh Jeffrin. Sangat lucu jika melihat Jeffrin merasa kesal seperti itu.
“Oh ya ngomong-ngomong, saat pertama kali aku melihat Raline, entah kenapa aku merasa familiar dengan mukanya” ucap Andrew sambil mengusap dagunya.
“Ya benar. Entah kenapa aku yakin kalau pernah bertemu dengan Raline sebelumnya. Tapi dimana ya...” Andrew merasa penasaran. Dia yakin pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.
“Cih, kau saja hampir tidak pernah kenal dekat dengan wanita mana pun. Jadi mana mungkin kau pernah melihat Raline sebelumnya. Apalagi dia juga baru kembali lagi ke negara ini dua tahun lalu”
“Hei hei, kau pikir aku tidak bisa dekat dengan wanita karena siapa huh? Itu semua karena kau. Kau itu selalu saja mengandalkan asisten terbaikmu ini hingga aku tidak ada waktu untuk diriku sendiri” ucap Andrew dengan berakting sedih memukul dadanya.
“Baiklah aku akan mencari asisten lain” ucap Jeffrin dengan menyeringai.
Seketika mendengar itu, Andrew langsung duduk tegap dan hormat pada Jeffrin. “Aku siap menjalankan tugas apapun darimu bos” kemudian dia tertawa geli. Jeffrin pun juga terkekeh geleng-geleng kepala melihat sikap Andrew.
“Kita kembali lagi ke topik tadi. Aku jadi semakin penasaran, sebenarnya dimana aku pernah melihatnya. Selama dua tahun ini aku hanya melihat wanita dari kalangan rekan kerja saja, dan Raline baru kembali kemari dua tahun lalu. Jika aku memang pernah melihat Raline sebelumnya, maka.....” ucap Andrew menggantung. Kemudian otaknya mulai berpikir keras mengingat dimana pernah bertemu Raline.
Cukup lama Andrew berpikir, lalu tiba-tiba dia membelalakkan matanya, membuka lebar mulutnya, dan menatap melotot ke arah Jeffrin. “YA BENAR! DUA TAHUN LALU!!! ITU JAWABANNYA!” ucapnya dengan berteriak.
Jeffrin menutup telinganya mendengar teriakan itu. “Bicaralah dengan pelan. Ada apa dengan dua tahun lalu?”
“Aku bertemu dengan Raline dua tahun lalu!” ucap Andrew semangat. Kemudian dia menggelengkan kepala, sepertinya dia perlu merevisi perkataannya. “TIDAK TIDAK, SALAH. YANG BENAR, KITA PERNAH BERTEMU RALINE DUA TAHUN LALU DI BANDARA!!” ucap Andrew dengan semangat yang makin berapi-api dan menepuk-nepuk pahanya sendiri.
Jeffrin semakin bingung dengan perkataan Andrew. “Kita? Berarti aku juga pernah bertemu dia sebelumnya?”
“YA! KAU PERNAH BERTEMU DENGANNYA. BAHKAN DIA JUGA MEMAKIMU. APA KAU INGAT? GADIS MUDA YANG CANTIK ITU!” jawab Andrew dengan masih tetap bersemangat.
Jeffrin masih bingung dan belum bisa mengingat. Kejadian itu sudah sangat lama berlalu. Hal-hal sepele mana mungkin bisa dia ingat.
“Ck, kau ini. Coba kau ingat lagi. Dua tahun lalu saat kita di bandara, yang kau sedang jalan terburu-buru kemudian menabrak seorang gadis hingga membuat layar ponselnya retak. Gadis muda cantik yang saat itu menggunakan topi baret hitam, jumpsuit jeans pendek, dan sweater hitam lengan panjang. Kau ingat tidak?!” ucap Andrew mengotot. “Astaga, bahkan aku saja masih bisa mengingat pakaian yang dia kenakan waktu itu. Aku mengingatnya dengan baik karena dia satu-satunya gadis cantik yang berani memakimu hingga membuatku tercengang” lanjut Andrew.
Jeffrin perlahan mulai ingat setelah mendengar semua penjelasan Andrew. Kemudian Jeffrin mencoba mengingat-ingat lagi kejadian saat itu.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Flashback kejadian di bandara dua tahun lalu •
Jeffrin yang sedang melangkah terburu-buru dan tanpa melihat jalan dengan benar karena sedang menelfon, tanpa sengaja menabrak seorang gadis. Dia sadar jika sudah menabrak orang. Sebenarnya dia bisa saja langsung meminta maaf, tetapi saat itu dia masih tersambung dengan telfonnya. Kemudian gadis itu sudah terlebih dahulu menegur Jeffrin.
“Excuse me, sir. You just hit me and made my stuff fall ” - Jeffrin menatap gadis yang tampak kesal itu. Ternyata dia sudah menabrak gadis itu lumayan keras hingga ponsel dan tasnya terjatuh.
“Sir, shouldn't you apologize to me? Setidaknya bertanggung jawablah karena sudah melakukan kesalahan terhadap orang lain ” - Jeffrin terkejut mendengar ucapannya dan gadis itu pun juga manatap tajam ke arahnya.
Akhirnya Andrew turun tangan dan menengahi percekcokan mereka berdua. Jeffrin masih terkejut karena gadis itu sepertinya tidak begitu ramah dengannya. Padahal wajah gadis itu terlihat sangat cantik. Dia hanya bisa terdiam sambil memegang ponselnya yang masih tersambung. Kemudian Jeffrin langsung mematikan sambungan telfonnya sepihak karena tidak mau percekcokannya terdengar orang lain.
“Tsk! Lihat, ponselku retak om. Aku bahkan belum lama menggunakan ponsel ini, tapi om ini sudah berhasil membuatnya cacat sekarang ” - bahkan gadis itu sangat berani dan terlihat tidak takut sama sekali menghadapi Jeffrin. Sebenarnya mata Jeffrin membelalak terkejut saat itu, tetapi karena dia memakai kaca mata hitam pekat, jadi gadis itu tidak mengetahuinya.
“Sudahlah lupakan saja. Aku tidak butuh uang ganti rugi. Aku tidak berminat bertemu lagi dengan kalian hanya karena urusan sepele seperti ini ” - gadis itu menatap Andrew dengan tatapan yang ramah, sangat berbeda ketika gadis itu sedang menatap Jeffrin.
“Lagi pula aku juga tidak ingin berurusan dengan om-om yang tampak bisu seperti dia. Aku hanya butuh permintaan maafnya saja. Tapi sepertinya itu mustahil. Sudahlah, aku akan berbaik hati dan mengabaikan kejadian ini ” - gadis itu bahkan sekarang memaki Jeffrin. Baru beberapa detik yang lalu gadis itu menatap Andrew dengan ramah, tetapi sekarang dia sudah menatap Jeffrin dengan sinis. Sebenarnya Jeffrin sadar bahwa dialah yang memang sudah salah hingga membuat ponsel gadis itu retak. Jadi wajar jika gadis itu marah padanya.
Kemudian gadis itu mengangkat telfonnya dan meninggalkan Jeffrin begitu saja. “Apa-apaan gadis itu? Aku baru saja mau minta maaf tapi dia sudah pergi begitu saja. Baru kali ini aku dimaki seorang gadis muda. Meskipun dia sedang marah-marah, tapi kenapa justru terlihat sangat menggemaskan” ucap Jeffrin dalam hati sambil menatap punggung gadis itu.
Jeffrin sama sekali tidak merasa marah, justru dia tidak menyangka kalau gadis itu tidak takut sama sekali dengannya. Jeffrin merasa sangat lucu dengan kejadian yang baru pertama kali dia alami ini. Dia pun tersenyum miring mengingat tingkah gadis tadi. “Enak saja aku dipanggil om. Dasar gadis kecil liar” gumamnya.
🐤🐤🐤🐤🐤
• Kembali lagi ke masa saat ini •
Akhirnya Jeffrin teringat sepenuhnya dengan semua kejadian dua tahun lalu itu. Saat itu dia mengatakan Rosaline ‘gadis kecil liar’ karena gadis itu jauh lebih muda dari dia. Penampilannya juga tampak begitu cantik dan menggemaskan seperti gadis kecil di mata Jeffrin, padahal gadis itu jelas sudah dewasa. Dan dia menambahkan kata ‘liar’ karena gadis kecil menggemaskan seperti dia ternyata mempunyai keberanian menghadapi seorang Jeffrin tanpa rasa takut sedikit pun. Jadi bisa dibilang bahwa kalimat ‘gadis kecil liar’ bukanlah arti yang buruk. Tetapi arti tersebut justru penggambaran rasa ketertarikan Jeffrin terhadap gadis yang sudah memakinya.
Tak disangka, ternyata selama ini Jeffrin telah merasa tertarik dua kali dengan gadis yang sama, Rosaline. Sama seperti pertemuan pertamanya, di saat pertemuan kedua kalinya dengan Rosaline, Jeffrin pun kembali tertarik dengannya. Dua tahun berlalu, menjadikan Rosaline lebih cantik dan lebih dewasa dari sebelumnya. Dan karena pertemuan kedua itulah Jeffrin benar-benar terpikat sepenuhnya oleh Rosaline. Jeffrin akhirnya menyadari bahwa dirinya ternyata memang sudah menyukai Rosaline.
Sangat melegakan karena takdir kembali mempertemukan Jeffrin dan Rosaline dengan cara yang lebih baik. Siapa yang menyangka, bahwa sebuah perjumpaan biasa yang tak disengaja antara dirinya dengan Rosaline dua tahun lalu, akan berubah menjadi sebuah awal dari hubungan mereka di masa ini.
“Bagaimana, apa kau sudah mengingatnya?” Andrew kembali bertanya untuk memastikan.
Jeffrin tersenyum senang karena kini dia sudah benar-benar menemukan pilihan yang tepat, Rosaline. “Ya, aku mengingatnya”
Andrew menatap serius Jeffrin. Dia ingin temannya itu bisa menemukan kebahagiaannya bersama orang yang tepat. “Hei, aku rasa Raline memanglah orang yang tepat untukmu. Dia berbeda dari yang lainnya, dia begitu istimewa. Pasti ada alasan kenapa takdir mempertemukan lagi kalian berdua. Jadi aku harap, kali ini kau bisa membuka hatimu sepenuhnya untuk Raline. Kejarlah dia, jangan pernah membuang kesempatan yang ada. Siapa tahu dia memanglah takdirmu yang sesungguhnya” ucap Andrew tersenyum hangat sambil menepuk bahu Jeffrin.
Jeffrin menatap lekat mata Andrew. Dia benar-benar mendengarkan nasihat temannya itu. Apa yang dikatakan Andrew benar, dia tidak boleh membuang kesempatan begitu saja setelah dipertemukan kembali dengan Rosaline.
“Aku akan menyelesaikan semua secepatnya” ucap Jeffrin tiba-tiba.
“Hah?” Andrew merasa terheran dengan ucapan Jeffrin yang tidak nyambung dengan nasihat darinya barusan.
“Aku akan secepatnya menyelesaikan semua urusan disini, setelah itu segera kembali pulang”
Andrew masih terheran karena belum paham dengan maksud Jeffrin.
“Aku ingin segera kembali pulang untuk menemui Raline” Jeffrin menatap serius Andrew.
Sekarang barulah Andrew paham dengan maksud semua perkataan Jeffrin. “Ahh begitu....” Andrew makin tersenyum lebar mendengar ucapan temannya.
Jeffrin beranjak dari duduknya dan berkata, “Segera pesan tiket untuk kepulangan kita”
Aku akan segera datang menemuimu, Raline.... – ucap Jeffrin dalam hati.