ME vs OM OM

ME vs OM OM
Dia Kekasihku



“Biarkan aku untuk mengenalmu lebih dekat lagi...” ucap Jeffrin mengulangi perkataannya. Dia menatap gadis di depannya dengan penuh keyakinan.


Rasanya bibir Rosaline membeku, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab perkataan Jeffrin. Bukankah selama ini mereka memang dekat? Lantas harus seberapa dekat lagi? Apakah harus sedekat seperti hubungan adik kakak? Atau harus saling berbagi rahasia? Rosaline sama sekali tidak paham apa yang diinginkan pria itu.


Saat gadis itu hanyut dalam perasaan bingungnya, tiba-tiba saja terdengar suara dari arah belakang Rosaline. Namun dia merasa ada yang aneh, karena sepertinya suara itu terasa tidak asing untuknya.


“Yo! Jeffrin! Lama tidak berjumpa” suara pria yang terdengar menyebalkan tetapi terasa familiar di telinga Rosaline.


Jeffrin menoleh ke arah yang memanggilnya. Dia melihat sosok teman yang sudah lama tidak ditemuinya.


Setelah beberapa detik, Rosaline mulai ingat. Seketika dia membelalakkan matanya dan mulai panik. “GLENN?!!” ucapnya dalam hati.


“Glenn?” ucap Jeffrin bersamaan dengan Rosaline yang mengucapkan dalam hati.


“Tumben sekali kau bisa datang”


“Aku mana mungkin melewatkan pesta ulang tahun temanku sendiri. Tapi aku hanya mampir sebentar saja, tidak bisa lama-lama disini” Glenn menjawab pertanyaan dari Jeffrin.


Lalu pandangan Glenn beralih ke arah perempuan yang berdiri di depan Jeffrin. Tetapi dia tidak bisa melihat wajahnya, karena posisi perempuan itu membelakangi Glenn. Apalagi posisinya dengan Jeffrin dan Rosaline memang masih agak jauh. Namun entah mengapa, Glenn merasa familiar dengan sosok perempuan itu.


“Ngomong-ngomong, siapa perempuan yang bersamamu ini?” Glenn mulai mendekati kedua orang itu.


Mendengar suara yang semakin mendekat, membuat Rosaline semakin menegang.


“Ohh, dia ini---“ belum sempat Jeffrin menjawab pertanyaan, dia dikejutkan dengan tingkah Rosaline.


Tanpa pikir panjang, Rosaline langsung menubruk tubuh Jeffrin dan memeluk erat lehernya seakan tak mau melepaskan pria itu. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan memeluk pria di depannya itu, karena dia sudah terlambat untuk melarikan diri. “Jangan sebutkan namaku” bisik Rosaline di telinga Jeffrin.


Glenn melongo melihat tingkah perempuan di depannya. “Apa yang sedang dilakukannya?” ucapnya dalam hati.


Entah alasan apa yang membuat gadis di pelukannya itu tidak mau menyebutkan namanya, Jeffrin akan menuruti saja. Dan sayangnya, Jeffrin tidak ingin menyia-nyiakan momen ini begitu saja. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya untuk menggoda gadis yang sudah seenaknya memeluknya dan membuat jantungnya berdebar tidak beraturan.


“Dia kekasihku” jawab Jeffrin dengan seringai di wajahnya. Lalu dia pun juga memeluk pinggang gadis yang sudah dengan sukarela memeluknya.


“Awwhhh!” erang Jeffrin kesakitan saat Rosaline menarik rambut bagian belakang pria itu dengan kasar. Rosaline merasa kesal dengan jawabannya yang sembarangan.


Dua kali sebelumnya Rosaline masih bisa memaklumi perkataan Jeffrin. Tetapi sekarang, orang yang dihadapi itu adalah seseorang yang sangat dikenalnya dan juga teman dari kakaknya.


“Sakit baby!” Jeffrin semakin gencar menggoda Rosaline. Kapan lagi dia bisa menjahili gadis itu jika bukan sekarang.


“Oh my God! Wait wait! Aku sudah lama tidak melihatmu, dan sekarang aku dikejutkan dengan semua ini? Apa sekarang kau sudah kembali normal? Aku pikir selamanya kau akan menjadikan Andrew sebagai simpanan terlarangmu” ucap Glenn terkekeh.


“Dasar buaya brengs*k. Dari dulu aku memang normal. Enak saja kau bicara” jawab Jeffrin dengan tersenyum sinis.


“Kau benar-benar brengs*k dan sint*ng Glenn. Bisa-bisanya kau bawa nama papaku dan juga leluhurku ke dalam pembicaraan kotormu itu” Jeffrin geleng-geleng kepala. Pria itu tentu saja tahu apa maksud dari ucapan temannya itu.


“Emmm...sepertinya sekarang aku sedang mengganggu waktu kalian berdua”


“Sadar juga kau rupanya. Kalau begitu segera pergilah dan biarkan aku melanjutkan aktivitas bersama kekasihku” ucap Jeffrin dengan tersenyum jahil. Dipelukannya, Rosaline sudah beraksi dengan menggigit lehernya. Gadis itu sudah sangat geram dengan perkataan Jeffrin yang semakin asal-asalan.


Bedebah. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Hentikan bercandaanmu ini Jeff. Bagaimana nanti jika kak Glenn berpikir yang macam-macam? Apa ini karmaku yang waktu itu mengerjai kak Rayen dengan skenario yang mirip seperti ini? Dan sialnya, kenapa korbannnya harus kak Glenn lagi sih – ucap Rosaline dalam hati.


“Arrrkkhh baby! Jangan menggigitku!” Jeffrin mengerang kesakitan lagi karena kali ini lehernya digigit. Dia ingin sekali merutuki Rosaline atas apa yang dilakukannya. Perbuatan gadis itu sudah membuat wajah Jeffrin berubah merah padam. Bagaimana pun dirinya adalah pria yang sehat dan normal, tindakan seperti itu bisa saja membuat ‘temannya’ dibawah sana merasa tidak nyaman. Untung saja Jeffrin sangat pintar mengontrol dirinya. Jika dia lepas kontrol, mungkin hari ini dia akan segera mewujudkan ucapan Glenn untuk meneruskan pohon silsilah leluhurnya.


Glenn menatap kedua orang di depannya dengan tatapan liarnya. Skenario mengerikan Jeffrin benar-benar sukses membodohi Glenn. Dan sekali lagi, dia menjadi korban permainan kegilaan. Tetapi bedanya, kali ini dia menjadi korban dari Jeffrin.


Wow, ternyata baby yang agresif – racau Glenn dalam hati.


Glenn mengangkat kedua tangannya ke atas lalu berkata, “Alright. Sepertinya aku memang harus segera pergi. Silahkan lanjutkan aktivitas kalian. Aku masih ada urusan lain. Kau berhutang cerita padaku. Bye...” kemudian dia pergi meninggalkan kedua orang itu. Glenn pergi tanpa tahu kebenaran hubungan antara kedua orang tadi.


Setelah kondisi dirasa aman, Rosaline langsung melepaskan pelukannya dan memukul berulang kali lengan Jeffrin sambil merutuki pria itu. “Dasar menyebalkan! Om om sialan! Kenapa aku harus kenal orang sepertimu sih! Bisa-bisanya mengatakan aku kekasihmu. Kamu bahkan juga mengatakan hal yang sembarangan. Bagaimana jika temanmu tadi berpikiran liar? Bagaimana jika aku dituduh yang tidak-tidak? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku, huh?!”


“Raline, pukulanmu ini bisa membuat lenganku memar” ucap Jeffrin sambil mengelus lengannya.


“Kau membuatku kesal dan ketakutan Jeff. Asal kau tahu itu! Maksudku bertindak memelukmu seperti tadi karena aku tidak mau bertemu dan berkenalan dengan temanmu itu, karena aku sudah merasa tidak nyaman jika harus berhadapan dengan orang asing lagi. Tapi kau justru mengacaukannya. Hari ini sudah tiga kali kau bercanda dengan mengatakan aku sebagai kekasihmu atau milikmu. Kau keterlaluan!” Rosaline mencibir dan menatap sebal Jeffrin. Yah, meskipun alasan yang diucapkannya bohong, karena faktanya adalah dia ingin bersembunyi dari Glenn.


Jeffrin bukannya marah diperlakukan seperti itu oleh Rosaline, tetapi justru tertawa geli melihat tingkah gadis itu yang semakin menggemaskan saat sedang kesal.


“Kau malah tertawa?!!” ucap Rosaline ngotot, dia makin geram melihat Jeffrin yang malah menertawakan kekesalannya.


“Baiklah, aku mengaku salah. Aku minta maaf jika sudah bercanda kelewatan saat bersama temanku tadi. Maafkan aku Raline...” Jeffrin memegang kedua bahu gadis di depannya. Membuat jarak diantara keduanya menjadi sangat dekat. Pria itu mencoba membujuknya untuk tidak merajuk lagi.


Rosaline tidak mau menjawabnya. Dia masih merasa kesal dengan Jeffrin. Maka dari itu dia lebih memilih memalingkan wajahnya.


“Aku sedang minta maaf. Jangan palingkan wajahmu dariku...” bujuk Jeffrin lembut. Tetapi tidak ada respon dari gadis itu. Dia masih saja enggan menatap Jeffrin.


“Raline Vero, aku sungguh minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ku mohon maafkan aku...”


Mendengar suara Jeffrin yang lembut dan tulus, membuat Rosaline terenyuh. Dia tidak tega membiarkan pria itu terus merasa bersalah. Bagaimana pun Jeffrin tidak sepenuhnya salah, karena pria itu tidak tahu kalau dirinya juga mengenal Glenn. Dan juga sebenarnya Rosaline tidak serius marah dengan pria itu. Dia hanya merasa kesal sesaat saja.


Rosaline menghela nafasnya. “Yaah, baiklah. Aku maafkan. Lain kali jangan lagi bercanda dengan mengatakan aku kekasihmu atau semacamnya di depan temanmu. Jika itu dalam keadaan terdesak seperti sebelumnya, aku masih bisa memakluminya. Tapi barusan kondisinya berbeda, makanya aku kesal. Itu tidak lucu dan benar-benar membuatku panik. Jadi kamu jangan mengulanginya lagi” kemudian Rosaline tersenyum menatap pria di hadapannya.


“Bagaimana jika aku tidak bercanda?”