
“Maksudmu? Bukankah dari tadi kamu memang bercanda?” Rosaline bingung dengan ucapan Jeffrin.
“Memang. Tapi tidak dengan bagian ‘kekasihku’. Aku serius dengan semua bagian itu”
Rosaline masih tetap saja tidak mengerti tentang maksud perkataan Jeffrin. Wajah bingungnya tidak bisa disembunyikan dari pria di hadapannya itu. Membuat Jeffrin menghela nafasnya berat, karena sepertinya dia harus mengucapkannya lebih jelas lagi.
“Raline, mengapa aku selalu harus menjadi orang yang mengungkapkannya lebih dulu? Tidak bisakah kamu memahami maksudku selama ini?”
Rosaline bisa mendengar suara pria itu yang terdengar lirih dan lembut.
“Apa maksudmu Jeff? Tapi aku memang benar-benar tidak mengerti. Semua perkataanmu ini justru semakin membuatku bingung”
“Bukankah tadi aku sudah memberitahumu? ‘Mulai sekarang biarkan aku untuk mengenalmu lebih dekat lagi’. Itu yang aku katakan, dan aku serius akan hal itu”
Akhirnya setelah beberapa saat memikirkannya, Rosaline perlahan mulai paham maksud dari semua perkataan Jeffrin. Selama ini dia hanya menganggap Jeffrin sebagai teman saja, sama seperti dia menganggap Glenn. Pikiran gadis itu benar-benar polos dan tidak pernah berpikiran macam-macam tentang Jeffrin.
Lalu tiba-tiba, Jeffrin langsung menangkup wajah Rosaline dan mendaratkan bibirnya di kening gadis itu. Dia mencium lembut dan penuh kasih sayang gadis di depannya yang masih tidak paham dengan maksudnya selama ini.
“Apa kamu mengerti sekarang?” Jeffrin menanyakan setelah memberi ciuman yang lama di kening gadis itu.
“Wh-what?” Rosaline masih dalam perasaan shocknya. Peredaran darahnya sedang macet sehingga membuat otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik untuk menjawab pertanyaannya. Wajahnya juga sudah benar-benar menghangat akibat ulah pria itu.
“Apa kamu bisa mengerti maksudku selama ini?” pria itu mengulangi lagi perkataannya.
“A-aku-aa-aku-aku” tentu saja Rosaline sudah tahu maksudnya. Namun tindakan Jeffrin barusan sungguh membuatnya seperti terkena serangan jantung.
“Hm?” Jeffrin mencoba menggoda Rosaline yang wajahnya terlihat merona dan shock di saat yang bersamaan. Dia menampilkan seringai jahilnya di depan wajah gadis itu.
“Jangan menyeringai kepadaku seperti itu” akhirnya Rosaline bisa berbicara dengan lancar. Gadis itu memalingkan wajahnya, dia menolak untuk menatap wajah Jeffrin saat ini.
“Kenapa tidak boleh?” seringai Jeffrin semakin lebar. Dia sangat senang menggoda singa kecilnya yang terlihat menggemaskan saat sedang kesal. Apalagi saat malu-malu seperti ini, membuatnya ingin sekali mencium bagian lain dari wajah Rosaline.
“Tak ada alasannya” jawab Rosaline kekanak-kanakan sambil menyilangkan lengannya.
“Kalau begitu aku akan terus menyeringai padamu” Jeffrin masih saja lanjut menggodanya. Menunjukkan seringaiannya di depan gadis itu. Namun Rosaline masih tetap menolak untuk menatap pria di depannya. Dia tidak siap menatap wajah pria menyebalkan itu, karena Rosaline takut membahayakan kesehatan jantungnya.
Karena tidak ada respon dari gadis di depannya, Jeffrin semakin ingin menggodanya. “Sangat menggemaskan” bisik Jeffrin di telinga Rosaline sambil tangannya mengelus pipi gadis itu.
“No! Aku tidak menggemaskan” jawab Rosaline kesal.
“Sangat cantik” lanjut Jeffrin berbisik.
“Hentikan Jeffrin Ferdinand Avicena! Aku akan menendangmu jika kamu terus melanjutkannya” Rosaline menatap kesal pria yang suka sekali menggodanya. Setengah mati dia menahan rasa malunya. Wajahnya pasti sudah sangat memerah, dan pria di depannya itu pasti juga menyadarinya.
Jeffrin sangat senang hingga tertawa lepas ketika melihat Rosaline merasa kesal akibat menahan malu seperti itu. Entah kapan Jeffrin terakhir kali bisa tertawa lepas seperti sekarang ini. Bersama Rosaline, membuat dia menjadi orang yang apa adanya, dan waktu seakan terasa sangat menyenangkan ketika bersama dengan gadis itu.
“Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Aku rasa hari ini cukup sampai disini saja aku menggodamu” ucap Jeffrin terkekeh.
“Apa kamu tahu Raline? Kamu adalah satu-satunya orang yang berani denganku dan aku ijinkan. Kamu pernah mengolokku, berteriak padaku, menolak perintahku, bertingkah semaumu, marah padaku, memberiku perintah, membuatku melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan, menyentuhku, dan bahkan memukulku. Jika kamu ingin cemburu, maka kamu adalah satu-satunya orang yang aku ijinkan” Jeffrin menyelipkan rambut tergerai Rosaline ke belakang telinganya. Lalu mengusap lembut pipi Rosaline sembari menatapnya dengan ekspresi teduh, lembut dan penuh kasih sayang.
Rosaline tidak bisa berkedip diperlakukan seperti itu oleh Jeffrin. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia merasakan tatapan dan perlakuan yang penuh kasih sayang seperti itu dari seseorang yang bukan keluarganya.
“Kenapa harus aku?” Rosaline dengan lembut bertanya pada Jeffrin dan menatap lekat mata pria itu.
“Bukankah sudah jelas alasannya apa?” kemudian Jeffrin menggerakkan tangannya untuk memeluk gadis di depannya. Rosaline tidak mendorongnya menjauh, sebaliknya, dia justru bersandar padanya dan membiarkan dirinya dipeluk oleh Jeffrin.
“Apa perlu aku perjelas lagi supaya kamu benar-benar mengerti?” ucap Jeffrin dengan lirih, lebih terdengar seperti berbisik. Mereka berdua tidak tahu, sudah berapa lama waktu yang telah mereka habiskan untuk saling berpelukan seperti itu. Bahkan mereka sama sekali sudah tidak menghiraukan acara yang berada di dalam ballroom.
“Tidak perlu. Aku sudah tahu Jeff” jawab Rosaline dalam hati.
“Jadi?” ucap Jeffrin lirih.
Kedua orang itu masih saja berpelukan. Jeffrin yang enggan untuk melepaskan, dan Rosaline yang merasa tidak keberatan.
Rosaline menarik nafas panjang. Dia tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. “Jeff, entah apa yang kamu inginkan, tapi sepertinya aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu itu”
Rosaline tahu bahwa ini bukanlah jawaban yang ingin pria itu dengar. Tetapi inilah kenyataan yang memang harus dia dengar. Sebanyak apapun Rosaline berusaha, saat ini memang hatinya masih belum siap untuk menerima orang baru. Rosaline memang merasa nyaman bersama Jeffrin, tetapi hatinya tetap tidak bisa dibohongi.
“Kenapa Raline?” Jeffrin bingung dengan perkataan gadis itu. Jika dia butuh waktu, maka Jeffrin pasti akan dengan senang hati memberikannya. “Apa kamu perlu waktu?”
“Ya, itu salah satunya. Tetapi aku juga punya alasan lain...” jawab Rosaline lirih.
Aku masih merasa bingung dengan diriku sendiri. Jadi mana mungkin sekarang aku menambah beban dengan menerima kehadiran orang lain di hidupku. Selain itu, sejauh ini aku tidak ada perasaan lebih kepadamu. Meskipun aku akui, kalau aku merasa nyaman saat bersamamu - ucap Rosaline dalam hati.
“Apa alasanmu karena orang di masa lalumu?”
“Jeffrin, kamu tidak berada di posisiku. Jadi jangan pernah ungkit tentang masa laluku” Rosaline sedikit kecewa karena Jeffrin berkata seperti itu dan membuat dadanya merasa sesak lagi. Kemudian Rosaline melepaskan pelukannya dari pria itu.
“Bagaimana jika aku pernah berada di posisimu? Aku yakin, kalau aku pernah berada di posisimu” kini Jeffrin menatap lekat gadis yang dicintainya itu.
Kemudian Jeffrin menggenggam kedua tangan Rosaline. “Jika aku memang tidak pernah berada di posisimu, maka ceritakanlah padaku. Supaya aku tahu, bagaimana rasanya kamu saat berada di posisi sulit itu” ucap Jeffrin lembut dan tulus.
“Aku sudah menceritakan kepadamu tentang masa laluku. Tidakkah kamu bisa sedikit percaya padaku?” sekali lagi Jeffrin berusaha meyakinkan Rosaline.
“Oh for goodness’ sake. Jeffrin, I'm begging you, don't ever force me. Aku memang percaya padamu dan aku merasa sangat nyaman saat bersamamu. Tetapi tidak lantas itu bisa membuatku terbuka padamu. Jadi jangan pernah memaksaku lagi. Tolong hargai keputusanku ini. Aku mohon...” ucap Rosaline memelas dan putus asa. Dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa sesak di dadanya.
Jeffrin merasa down saat mendengar perkataan Rosaline. Perkataan gadis itu sangat berkebalikan dari apa yang dia harapkan untuk didengarkan. Dia menghela nafas lelah dan mengusap lembut rambut Rosaline. Jeffrin tahu bahwa faktanya gadis di depannya itu masih belum mau mencoba hubungan mereka. Namun mendengar Rosaline yang mengatakan sudah mempercayai dan merasa nyaman saat bersamanya, itu sudah merupakan suatu langkah besar bagi Jeffrin.
“Apa kamu ingin aku menunggumu?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak. Jangan menungguku dan menyia-nyiakan waktumu”
Bukan itu juga jawaban yang diinginkan Jeffrin. Lagi-lagi dia hanya bisa menghela nafas beratnya. “Terserah apapun yang kamu katakan, aku tidak peduli. Kamu tidak bisa memerintahku. Kamu juga tidak perlu khawatir jika aku akan menyia-nyiakan waktuku, karena waktu yang kuhabiskan untukmu, akan sangat sebanding selama aku bisa bersamamu”
“Aku akan tetap menunggumu, dan kamu tidak diijinkan untuk mendorongku menjauh darimu. Aku akan selalu membantumu dan kamu harus mengijinkanku untuk lebih dekat denganmu. Aku ingin kamu percaya bahwa aku akan tetap berada di sisimu, apa pun yang terjadi” Jeffrin mengatakannya dengan tegas, dia kembali lagi ke mode tukang perintah dan tidak suka ditolak. Dia tidak mau meninggalkan ruang untuk berargumen lagi dengan Rosaline.
Rosaline tidak tahu harus berkata apa lagi. Jeffrin bukanlah orang yang mudah untuk diajaknya berdebat, dan dia sudah hafal dengan sifat pria itu.
Dia memikirkannya sebentar, lalu mengangguk. “Baiklah. Tetapi aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu” sepertinya hanya ini jawaban yang bisa diberikan Rosaline untuk Jeffrin.
Akhirnya Jeffrin bisa lega setelah mendengar persetujuan dari Rosaline. Karena sekarang perasaannya sudah diungkapkan dengan jelas, maka Jeffrin bisa lebih leluasa untuk mendekati gadis itu. Meskipun dia tidak bisa mengklaim Rosaline sebagai miliknya, setidaknya saat ini hanya dialah orang yang berada di barisan terdepan untuk mendekatinya. Yah, begitulah yang dia pikirkan, tanpa tahu kenyataannya.
Karena Rosaline telah menerima permintaannya, Jeffrin memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan untuk mencairkan suasana.
“Jadi, kamu masih ingin berada disini, atau kita akan masuk ke dalam dan mengikuti acaranya?”
“Bisakah aku pulang saja? Karena aku sudah mulai lelah” Rosaline menjawab dengan tersenyum tipis.
“Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang” Jeffrin menggandeng tangan Rosaline untuk beranjak dari tempat mereka.
Rosaline menghentikan langkah mereka sejenak. “Tunggu! Aku akan pulang sendiri saja. Kamu tidak perlu untuk mengantarku”
“Raline, mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian...”
“Jeffrin, aku sudah banyak menuruti keinginanmu hari ini. Jadi setidaknya, tolong turuti keinginanku ini. Biarkan aku pulang sendiri” ucap Rosaline lembut memberi pengertian pada pria itu. Dan Jeffrin hanya bisa menghela nafasnya dan menuruti keinginan Rosaline.
“Okay, apa boleh buat. Aku akan mengantarmu ke lobby” jawab Jeffrin tersenyum. Lalu mereka berdua meninggalkan tempat acara itu.
🐤🐤🐤
• Larut malam - Di Orchard Residence •
Rosaline mengambil ponsel miliknya dan menekan nomer kontak yang ingin dihubunginya. Setelah menunggu beberapa saat, orang yang di hubungi mengangkat telfonnya.
“Hello baby Ros, what’s up?” suara orang dari seberang.
“Lauren...”
“Wait. Baby, are you drunk?! D*mn! Rosaline, what are you doing now?! What happened to you?!” suara orang dari seberang terdengar berteriak.
“Is that the way you should be talking to your bestfriend?”
“Kamu sekarang sedang mabuk Ros! Bagaimana aku tidak panik mendengar suaramu yang seperti itu?! Apalagi sekarang aku tidak berada di negara yang sama denganmu. Bagaimana jika kamu lepas kontrol? Bagimana jika kamu kambuh--- lupakan! Kamu dimana?! Apa kamu masih sadar? Apa yang terjadi padamu? Katakan padaku!”
“Aku di rumah. I’m sorry, Lauren. Aku hanya tidak bisa menahannya lagi...”
“Baby, ada apa denganmu? Ceritakan padaku. Jangan membuatku khawatir”
“Ini sakit sekali, Lauren. Ini sangat menyakitkan...” ucap Rosaline yang terisak-isak.
Rosaline menangis dalam keadaan mabuk di dalam kamarnya. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan rasa sakitnya hari ini. Gara-gara tadi Jeffrin membahas tentang masa lalunya dan memintanya untuk menceritakan, membuat Rosaline terpaksa harus mengingatnya lagi dan menjadikan dirinya kacau seperti ini.
“Baby Ros, kumohon berhentilah menangis. Apanya yang sakit? Apa kamu terluka? Tunggu sebentar! Sepertinya terakhir kali kamu begini, itu dua tahun lalu. Ros! Don't tell me you are crying for that b*stard again?!”
“......” tidak ada jawaban dari Rosaline.
“Jadi tebakanku benar?! Astaga, Rosaline bangunlah! Untuk apa kamu menangisi b*jing*n itu lagi. Lupakan dia!” ucap Lauren dengan suara meninggi.
“Lauren, kenapa aku bodoh sekali...”
“Baby, kamu tidak bodoh. Hanya saja kamu terlalu baik, dan dia yang terlalu brengs*k”
“Tapi aku masih mencin---“ belum sempat Rosaline menyelesaikan perkataannya, dia sudah pingsan terlebih dulu.
“Hello hello? Baby? Ros? Apa kamu mendengarku?! Rosaline?!” suara Lauren di seberang mulai panik. Karena tak ada jawaban dari Rosaline, Lauren segera memutuskan sambungan telfonnya.