ME vs OM OM

ME vs OM OM
Tak Mau Berhenti



Beberapa menit kemudian, William sampai di tempat Rosaline berada.


“Maaf karena harus merepotkan. Saya serahkan Raline pada anda, Tuan William. Dia sudah terlalu banyak minum, tapi sampai sekarang tetap tidak mau berhenti. Saya harap anda bisa sabar menghadapinya” ucap Lisa, lalu dia pamit pulang.


Pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan dan duduk di samping Rosaline yang sedang memegang gelas dan menatap kosong ke depan. Rosaline masih belum menyadari kehadiran orang lain disampingnya.


Pria itu merebut gelasnya dari Rosaline dan menjauhkan dari gadis itu.


“Sudah cukup”


Akhirnya Rosaline menengok ke pria itu. “Kenapa kamu bisa disini?”


“Kamu menelfonku”


“Aku?”


“Hmm. Managermu yang memintaku untuk menjemputmu”


“Ahh benarkah? Kalau begitu aku minta maaf karena sudah mengganggumu”


Rosaline kembali teringat dengan kotak kecil tadi.


“Aku menemukan ini di jasmu. Maaf kalau aku mengacaukannya, sepertinya ini hadiah penting untuk seseorang” Rosaline menyerahkan kotaknya.


Pria itu memperhatikan kotaknya masih terpita rapi. “Kamu tidak menyukainya?”


Rosaline bingung dengan perkataan pria itu. Kepalanya saja sudah terasa pusing akibat banyak minum, masa dia harus berpikir keras mencerna perkataan pria itu. “Maaf tuan William, tapi aku tidak mengerti maksudmu”


Pria itu tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya ada kalung berliontin bunga sakura dengan berlian warna pink di bagian tengah. Meskipun desainnya terlihat sederhana, tetapi harganya cukup mahal karena itu adalah berlian murni.


William mengambilnya dari dalam kotak dan mendekat ke Rosaline. Dia menyibakkan rambut Rosaline dan memasangkan kalung tersebut ke lehernya.


Rosaline terkejut dengan tindakan tiba-tiba pria itu. Dia tidak berani bergerak sama sekali dan terpaku di tempat.


Setelah kalungnya terpasang, William merapikan kembali rambutnya. Sekarang mereka saling pandang dalam jarak yang sangat dekat. William bisa melihat kalau gadis itu sedang merona, membuatnya ingin sekali menggoda Rosaline.


“Kenapa melihatku seperti itu? Ada yang salah?” tanya William.


“Ee-eehm aku hanya haus...” Rosaline tidak tahu harus berkata apa, lalu dia menyambar gelas yang tadi disingkirkan William. Namun saat Rosaline akan meminumnya, William mengambilnya lagi secara paksa. Akibatnya, dress yang dipakai gadis itu ketumpahan minuman dan menjadi basah.


“Jangan minum lagi” perintah pria itu.


Karena tak terima, Rosaline menarik kemeja William. “Apa hakmu? Kau itu bukan siapa-siapaku. Dasar pria tua menyebalkan”


Tentu William kaget mendengarnya. Ini pertama kali Rosaline berani mengomel padanya.


“Huh, kau itu tidak boleh terlalu baik padaku dan jangan pernah pedulikan aku. Bisakah kau melakukannya?” ucap Rosaline dengan wajah memelas.


William tidak mau menjawabnya.


“Jawab aku, kenapa diam saja?” Rosaline menggoyang-goyangkan tubuh William. Jika yang melakukan itu adalah orang lain, William pasti akan menghajarnya. Namun karena yang melakukan Rosaline, dia hanya bisa menghadapinya dengan cara lembut.


“Ayo kita pulang”


“Tidak mau” setelah mengatakan itu, kepala Rosaline terhuyung menyandar ke dada William.


Pria itu harus ekstra sabar menghadapi sikap Rosaline.


Seketika suasana berubah hening. Tidak ada ocehan ataupun pergerakan lagi dari gadis itu.


“Raline?”


Tak ada jawaban dari gadis itu.


William mengangkat wajah Rosaline, ternyata gadis itu sudah pingsan. William menghela nafasnya berat, sepertinya dia harus membawa Rosaline pulang ke rumahnya.


🐤🐤🐤


• Di kediaman William •


William menggendong Rosaline menuju kamar tamu yang pernah dipakai olehnya. Dia membaringkan gadis itu perlahan ke tempat tidur. Perhatian William kini beralih pada dress yang dikenakan Rosaline. Dressnya cukup basah karena tadi ketumpahan minuman.


William dilanda dilema besar, apakah dia harus melakukan apa yang perlu dilakukan? Sekarang semua pelayan di rumahnya sudah tidur. Jika dibiarkan saja, mungkin gadis itu akan kedinginan dan tidak nyaman karena pakaiannya basah. Setelah menimbang-nimbang, William memutuskan untuk mengambil baskom dan mengisinya dengan air hangat.


Dengan tangan yang gemetar, perlahan William melepaskan dress yang dikenakan Rosaline. Gadis itu masih mengenakan celana pendek, namun tidak dengan bagian atas tubuhnya yang hanya mengenakan dalaman. Melihat tubuh gadis itu yang putih mulus, membuat wajah William memerah dan tubuhnya mulai bereaksi.


Sebelum memakaikan Rosaline pakaian tidur, William mengelap tubuh dan wajah gadis itu dengan menggunakan handuk kecil yang hangat.


“Sial. Bahkan tidur pun aku memimpikanmu”


Suara tiba-tiba itu mengagetkan William yang baru saja meletakkan handuk ke dalam baskom yang diletakkan di meja samping tempat tidur. Dia melihat Rosaline sedang menatap dirinya. Tetapi jika dinilai dari ucapannya, sepertinya gadis itu masih dibawah pengaruh alkohol dan mengira sedang bermimpi.


“Karena ini cuma mimpi, aku akan mengatakan semua yang ingin kukatakan” Rosaline bangun dari tidurnya dan memposisikan duduk.


“Kau tahu William, aku sangat membencimu”


Mendengar gadis itu membencinya, membuat William tersentak. Apa yang membuat gadis itu membencinya?


“Kau sudah mengacaukan pikiranku dan menghancurkan pertahananku”


William masih belum bisa menangkap maksud ucapannya.


“Aku...aku selalu menjaga diriku dari pria manapun, karena aku takut merasakan sakit hati. Itu sebabnya aku memutuskan untuk tidak menyukai siapapun sampai sekarang”


William masih setia mendengarkan gadis itu dan mencoba memahami ucapannya.


“Aku tidaklah sesempurna yang orang-orang pikirkan. Mereka semua tidak tahu apa yang sudah aku lalui, dan tidak tahu kegelisahan yang aku rasakan. Mungkin mereka mengira segala sesuatu di hidupku berjalan dengan mudah, tapi nyatanya mereka salah. Aku hanyalah manusia biasa yang juga pernah merasakan kegagalan dan dicampakkan”


Kali ini William bingung. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan gadis itu hingga membuatnya berkata begitu.


“Sejauh ini aku sudah menata hidupku dengan cukup baik. Perlahan aku berusaha bangkit dan memulai kehidupan yang baru. Aku pikir aku bisa menjaga perasaanku dalam waktu yang sangat lama. Tapi sepertinya tidak mungkin. Dan itu semua karena kau, William”


William masih menjadi pendengar yang baik. Namun hatinya mulai goyah mendengar perkataan gadis itu. Andai dia tahu, sebenarnya tidak hanya dia saja yang merasakan hal itu, William pun juga merasakannya. Kehidupan William berubah semenjak bertemu dengan gadis muda itu.


“Bagaimana bisa aku hidup dengan tenang jika kau terus muncul dihadapanku? Bagaimana bisa aku menjaga perasaanku jika kau terus perhatian padaku? Kau selalu saja membuatku berdebar dengan segala tindakanmu” Rosaline memajukan badannya mendekat ke William, dan melanjutkan perkataannya. “Seperti ini” Rosaline spontan menarik kemeja William lalu mencium pipinya. “Dan seperti ini” lalu dia mencium kedua kelopak mata William.


Setelah itu dia melepaskan William. “Aku bisa gila kalau kau terus-terusan memperlakukanku seperti tadi. Itu sebabnya aku membencimu”


Demi apapun, William sudah sedari tadi menjaga dirinya agar tetap tenang. Ini bukanlah saat yang tepat untuk gadis itu mengomel dan memberikan serangan dadakan padanya. Bagaimana bisa dia melakukan semua hal tadi kepadanya, terlebih dalam keadaan memakai pakaian yang sangat minim, dan juga hanya berduaan di kamar. Situasi yang sangat sempurna. Bagaimanapun William adalah seorang pria. Bahkan ‘aset berharganya dibawah sana’ masih berfungsi dengan baik dan semakin ‘bersemangat’.


William menarik nafas dalam dan menghembuskannya. “Tenangkan dirimu William, tenang...” ucapnya dalam hati.


“Aku tidak mau mengakuinya, tapi Angel benar. Wajah ini memang menggoda dan seksi” Rosaline sudah mulai ke mode cabul dan gilanya. Lagi-lagi dia bertindak bodoh dengan menangkup wajah pria itu. Pengaruh alkohol di tubuhnya berdampak menjadi mimpi buruk bagi siapapun orang yang dihadapinya.


“Kau adalah pria yang baik, William”


“Raline...” ucap William dengan suara seraknya.


“Woaah, apa di dalam mimpi kau juga bisa bicara? Aku kira kau hanya akan diam mematung dan tidak menanggapi perkataanku”


“Bisa lepaskan tanganmu dari wajahku?” suara William semakin berat dan serak. Sekuat tenaga dia mempertahankan kewarasannya. Sentuhan tangan Rosaline bagaikan sengatan listrik yang membangkitkan dirinya.


“Tidak mau” si bodoh Rosaline masih belum menyadari tindakannya.


William semakin tersiksa karena jarak wajah mereka sangat dekat. Hilang akal sekejap saja, William akan langsung menerjang gadis di depannya. “Oh God, sampai kapan aku harus menahannya” ucapnya dalam hati.


“Lepaskan Raline...”


“Tidak mau ya tidak mau!” ucap Rosaline cemberut dan makin mempererat tangannya di wajah pria itu.


Dengan batin yang tersiksa, mau tak mau William harus bisa sabar menghadapi segala kelakuan gadis itu.


“Maukah kamu membantuku?” ucap Rosaline tiba-tiba.


“Membantumu?” William terheran.


“Cium aku”


“APA?!”


“Cium aku!” Rosaline mengulangi perkataannya. Ini memang gila. Tetapi inilah kegilaan yang dipilih Rosaline untuk melupakan masa lalunya.


“Kamu tahu apa yang kamu ucapkan?” William berusaha menahan gejolak dalam dirinya.


“Ini hanya mimpi. Setidaknya dalam mimpi ini kamu bisa membantuku untuk melupakan semuanya” suara Rosaline terdengar putus asa.


“Melupakan semuanya?” ucap William dalam hati.


William menatap gadis itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.


“Please...” ucap Rosaline memelas.


William memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas panjang. Dia harus kuat menghadapi cobaan ini.


“Aku pria yang baik. Abaikan saja ucapannya” William mensugesti dirinya dalam hati.


“Jadi kamu tidak mau?” Rosaline mulai mengendurkan tangannya yang masih di wajah William.


“Aku tidak akan tergoda. Bertahanlah, Will...” William masih mensugesti dirinya dalam hati.


Merasa diabaikan oleh pria itu, Rosaline tersenyum miris. “Aku memang orang yang menyedihkan...” lalu dia manarik tangannya menjauh dari pria itu.


“Oh ****. Persetan dengan akal sehat. Lupakan! Aku tidak peduli lagi” ucap William dalam hati.


Kesabaran William sudah habis. Akal sehatnya dikalahkan oleh godaan gadis itu.


“Ingat, saat ini kamu sedang bermimpi”


Setelah mengucapkan itu, William langsung maraih tengkuk Rosaline dan mencium bibirnya yang sudah sedari tadi didambakannya. Bibir lembut Rosaline yang menempel di bibirnya terasa dingin dan manis. Dia mencondongkan tubuhnya ke gadis itu untuk mempersempit jarak.


Sudah tidak ada lagi yang namanya legenda ketenangan si patung buddha William. Sekarang patung buddha itu tidak bisa mengendalikan dirinya.


Rosaline hanya bisa pasrah. Perlahan dia menutup matanya dan membalas ciuman William.


Setelah beberapa menit, William melepaskan pagutannya dari Rosaline untuk bernafas. Dengan kening yang ditempelkan, mereka saling bertatap mesra dalam degup jantung yang bergemuruh. Mata tajam William seolah menghipnotis Rosaline. Sebaliknya, mata coklat Rosaline membuat William semakin hilang akal dan menginginkan lebih.


Mereka berdua tak mau berhenti begitu saja. Seolah memilki daya magnet, bibir mereka kembali beradu. Rosaline mengalungkan tangannya di leher pria itu. Perlahan William membaringkan tubuh Rosaline ke kasur tanpa melepaskan pagutan mereka.


Keduanya merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuh mereka. Lalu ciuman itu perlahan turun menyusuri leher dan pundak mulus Rosaline. Tubuhnya yang terekspose memudahkan William untuk mengeksplore ciumannya.


Rosaline sudah lemah dan makin terhanyut. Dia tidak bisa menahan dirinya dan mendesah kecil. Karena memang Rosaline dibawah pengaruh alkohol, tentu dia tidak akan mengingat kejadian ini.


Beberapa saat sudah berlalu. Karena tak ada pergerakan atau suara dari Rosaline, William mengecek gadis itu. Ternyata dia sudah tertidur, William hanya bisa tersenyum karena ditinggalkan begitu saja.


“Beraninya dia tidur duluan setelah membangkitkanku” gumam William.


Setelah itu dia turun dari tempat tidur dan mengambil pakaian tidur di lemari. Untung saja dia masih menyimpan pakaian yang dulu pernah dibelinya untuk Rosaline. Kemudian William memakaikan gadis itu pakaian tidur dengan hati-hati karena tidak ingin membangunkannya.


“Tidurlah yang nyenyak. Maafkan aku...” William mencium kening Rosaline, lalu menarik selimut agar gadis itu tidak kedinginan.


🐤🐤🐤


Saat William akan masuk ke dalam kamarnya, dia dikagetkan dengan gadis kecil yang menarik bajunya. Seorang gadis kecil dengan mata mengantuk dan membawa boneka beruangnya.


“Terbangun?”


Gadis kecil itu menjawab dengan mengangguk.


“Mau tidur dengan ayah?”


Gadis kecil itu menjawab lagi dengan mengangguk.


“Tantemu ada disini. Apa kamu mau tidur menemaninya?”


Meskipun Adeline mengantuk, tetapi mendengar tantenya disini, membuatnya tersadar dari rasa kantuknya. “Tante Raline menginap disini?” tanyanya.


“Hmm. Dia sudah tidur di kamar tamu. Tantemu sedang tidak enak badan, jadi saat tidur dengannya, usahakan jangan mengganggunya” ucap William dengan mengelus rambut gadis kecil itu.


“Tante sakit?” ucap Adeline dengan ekspresi wajah khawatir.


“Tidak perlu cemas, tantemu hanya sedikit pusing karena tadi pergi dengan teman-temannya”


Adeline mengangguk mengerti dan berjalan menuju ke kamar Rosaline berada.


Setelah Adeline pergi, William menutup pintu kamarnya. Dia segera ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya. William bersumpah, dia sudah berusaha yang terbaik untuk mengontrol dirinya. Namun apa daya, dia hanyalah seorang pria normal biasa. Mengingat kembali kejadian tadi bersama Rosaline, membuat wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.


🐤🐤🐤


Di sisi lain, ada sahabat Rosaline yang sedang tidur terlelap dalam posisi tidur yang tidak anggun.


Angel dalam tidurnya senyum-senyum sendiri, sepertinya dia sedang memimpikan sesuatu yang menarik.


“Raline...ehehe. Dasar nakal” gumam Angel dengan mata tertutup dan cengiran di wajahnya.