ME vs OM OM

ME vs OM OM
Membangun Sebuah Keluarga



• Di Leisure Farmhouse •


Saat mereka bertiga sampai di tujuan, ada banyak anak dan orang tuanya yang disana untuk jalan-jalan juga.


“Ini, coba beri makan ke sapinya. Tidak perlu takut, tante akan menjagamu” Rosaline mencoba membujuk Adeline supaya berani untuk memberi makan hewan ternak di tempat itu.


Adeline mengulurkan tangannya untuk memberi makan, dan sapi itu langsung mengambilnya. Dia kegirangan karena ternyata memberi makan hewan tidak menakutkan.


Melihat Adeline yang berani memberi makan hewan, anak-anak lain pun jadi berani ikut-ikutan memberi makan. Mereka menghampiri Rosaline dan meminta bantuannya. Mendadak Rosaline menjadi ibu yang mengurus anak-anaknya karena sekarang dikelilingi oleh banyak anak kecil. Tetapi Rosaline tidak mengeluh setelah melihat Adeline yang terlihat ceria saat bergaul dengan anak-anak lain.


Waktu pun semakin berlalu. Seorang pria dengan perawakan gagah dan tampan datang ke tempat itu. Tak butuh waktu lama untuk menemukan orang yang dia cari. Namun yang menjadi pertanyaan adalah dimana dua orang yang lainnya.


“Mama” sapa pria itu.


Nyonya Martha melihat putranya datang. Dia tidak menyangka karena putranya mau jauh-jauh kesini. “Oh Will, kamu menyusul kemari juga. Apa urusanmu sudah selesai?”


“Hmm. Dimana Adeline dan Raline?”


“Mereka berdua sedang bersama anak-anak yang lain untuk belajar berkebun” jawab Nyonya Martha. Kemudian dia memperkenalkan putranya ke para orang tua yang lain. “Semuanya perkenalkan, ini anakku William.”


Para orang tua dan wanita lain terpesona melihat William. Meskipun penampilannya tampak dingin, namun dia masih sangat tampan.


“Tuan William, anda sungguh beruntung memiliki istri yang baik hati.”


“Nyonya Martha, putramu benar-benar tampan. Tidak heran jika menantumu juga sangat cantik.”


“Anak muda, kami semua berterima kasih pada istrimu. Karena berkat dia, cucu dan anak-anak kami bisa bersenang-senang.”


Nyonya Martha tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah mendengar pujian semua orang untuk putranya dan yang disebut sebagai menantunya. Meskipun putranya dan gadis itu bukan suami istri, tetapi Nyonya Martha tidak berniat untuk mengklarifikasi kepada orang-orang.


Sedangkan William hanya mengabaikan komentar mereka. Pikirannya sekarang tertuju untuk menyusul Adeline dan Rosaline.


Tiba-tiba sekelompok anak-anak yang tertawa riang berlarian dengan membawa keranjang yang berisi sayuran. Dibelakang anak-anak tersebut ada Rosaline yang mengejar mereka dengan bertingkah seperti monster yang ingin menangkap mereka.


Para orang tua tersenyum melihat anak dan cucunya bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Mereka bersyukur karena Rosaline bersedia menjaga anak-anak.


Melihat sosok pria yang familiar diantara para orang tua, membuat Rosaline kaget. Mendadak dia salah tingkah dan berbalik badan untuk menghindari kontak mata dengan pria itu.


“Kenapa dia bisa datang kemari. Bukankah dia ada urusan pekerjaan. Sebenarnya apa yang salah denganku, mengapa aku malu bertemu dengannya...” gumam Rosaline.


William memperhatikan dari kejauhan ekspresi dan tingkah gadis itu sungguh menggemaskan. Tanpa sadar sebuah senyuman sudah terukir di wajahnya saat memandangi Rosaline. “Gadis bodoh, untuk apa menyembunyikan wajahmu dariku” ucap William dalam hati.


Nyonya Martha mengamati sikap putranya yang menatap Rosaline dengan tatapan lembut dan hangat. “Oh Tuhan, aku senang karena akhirnya putraku bisa membuka hatinya untuk Raline. Dia memang perempuan yang luar biasa, tapi bagaimana jika ayah mertuaku tidak menyetujuinya. Meskipun Raline punya karier yang menjanjikan, tapi dia adalah seseorang yang dianggap kurang pantas di mata mertuaku. Apa yang harus kulakukan...” ucap Nyonya Martha dalam hati.


Rosaline perlahan memberanikan untuk balik badan. Namun dia tersentak melihat William yang telah berdiri tepat di belakangnya. Sebelum dia bisa bereaksi, William sudah lebih dulu menyelipkan rambut Rosaline yang berantakan ke belakang telinganya. Lalu William juga mengelap keringat di wajah Rosaline dengan sapu tangan miliknya.


“Ya ampun, sungguh suami yang pengertian. Pasti dia sangat menyayangi istrinya.”


“Romantis sekali. Semoga kelak putriku bisa mendapatkan suami sebaik dan setampan itu.”


Rosaline serasa ingin mengubur kepalanya ke tanah karena diperlakukan semanis itu oleh William di depan umum. Wajahnya tak kuasa menahan malu. Apalagi setelah mendengar omongan orang lain yang salah sangka menganggap mereka berdua sebagai pasangan suami istri.


“Ap-apa yang kamu lakukan? Sebaiknya hentikan, aku tidak enak karena orang lain salah mengartikan hubungan kita” ucap Rosaline.


“Abaikan saja mereka.”


“Tapi...”


“Pasti kamu lelah. Biar aku yang membawa keranjangnya” sahut William. Tangan kanannya mengambil keranjang yang dibawa Rosaline. Lalu tangan kirinya yang menganggur, dengan santainya menggandeng Rosaline untuk menghampiri para orang tua yang berkumpul.


Rosaline heran dengan sikap William yang semakin aneh. “Tuan William, sebenarnya ada apa denganmu? Orang lain sedang melihat kita, bahkan mamamu juga. Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan sekarang?”


William memperhatikan ekspresi gadis itu. Dia berusaha menahan tawa karena melihat betapa panik dan frustasinya Rosaline sekarang akibat tindakannya.


“Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman. Tapi kamu juga sama telah membuatku merasakan hal seperti ini, bahkan lebih parah. Hanya saja kamu tidak menyadarinya” jawab William. Dia masih ingat betapa tersiksa dirinya semalam karena ulah Rosaline.


“Ee-huh? Aku tidak mengerti maksudmu. Apa kamu masih dendam padaku soal semalam yang aku menelfonmu?” Rosaline mencoba menerka-nerka maksud perkataan William.


“Bukan tentang itu.”


“Lantas apa? Apa mungkin terjadi sesuatu saat semalam aku tidak sadar?”


“Lupakan.”


“Ayolah, beritahu aku. Jangan membuatku penasaran...” rengek Rosaline. Mereka berdua sekarang tampak seperti pasangan yang sedang bercekcok.


“Tidak perlu dipikirkan. Jika dipikirkan, mungkin kamu akan semakin frustasi setelah mengingatnya.”


“Ck, menyebalkan. Kenapa harus main rahasia-rahasian segala” cibir Rosaline dengan melirik kesal William.


William menghentikan langkahnya. Dia mendekati Rosaline dan berkata lirih di telinganya. “Sebaiknya jangan menguji kesabaranku jika tidak ingin aku melakukan hal yang lebih dari sekedar bergandengan tangan di depan umum. Berhenti mengeluh dan jangan bertanya lagi.”


Perkataan William membuat Rosaline merinding. William benar-benar berubah, dia tidak seperti biasanya. Lebih baik Rosaline diam dan menuruti keinginan pria itu.


“Dasar tukang perintah. Memang dia siapaku. Hari ini sikapnya juga aneh sekali. Kau bodoh sekali Ros kalau terbuai perhatian manis dari pria seketus dan sedingin ini” gerutu Rosaline dalam hati.


🐤🐤🐤


Sebelum pulang, Rosaline, Adeline, William, dan Nyonya Martha makan bersama di restaurant yang berada di dalam Leisure Farmhouse. Mereka berempat juga makan dengan orang-orang yang tadi ikut berkumpul.


“Nyonya Martha, anda beruntung sekali punya menantu dan cucu yang cantik.”


Nyonya Martha meresponnya dengan senyuman.


“Adeline, apa mommy kamu sering memasak di rumah?” tanya bocah kecil laki-laki teman baru Adeline.


Adeline yang mendengar temannya menyebut ‘tantenya’ dengan sebutan ‘mommy’, gadis kecil itu menjawab dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.


Di lain sisi, Rosaline hampir saja tersedak mendengar dirinya disebut sebagai ‘mommy’.


“Aku? Menjadi mommy Adeline? Yang benar saja, itu sangat mustahil. Aku bahkan tidak punya perasaan sedikit pun untuk William. Iya kan? Benar begitu kan...” ucap Rosaline dalam hati.


“William, Raline, sekarang Adeline sudah besar. Seharusnya kalian berdua mulai memikirkan untuk memberikan adik untuknya agar dia tidak kesepian” ucap salah satu sesepuh wanita yang juga disana untuk mengantar cucunya jalan-jalan.


Rosaline hanya merespon dengan senyum yang dipaksakan. Jiwanya terguncang. Bagaimana mungkin dia bisa memberikan Adeline adik? Jangankan menikah, Rosaline bahkan tidak terikat hubungan apapun dengan William.


Sedangkan William, seketika wajahnya berubah memerah. Pikirannya otomatis mengulang lagi aktivitas panas semalam bersama Rosaline. William segera menjernihkan pikirannya karena dia merasakan sesuatu yang mulai sesak di dalam celananya.


Rosaline memperhatikan perubahan wajah William dan bertanya, “Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu sakit?”


William tidak tahu harus bereaksi bagaimana, mengingat Rosaline yang malah memegang wajahnya untuk mengecek suhu tubuhnya. Situasi ini benar-benar membuatnya kelabakan. Tubuh William menegang kala Rosaline makin mendekat padanya.


“Tenangkan dirimu, William. Ini bukan waktu yang tepat untuk kau menyerang Raline” ucapnya dalam hati.


“Aku tidak apa-apa”


“Yakin? Tapi wajahmu merah sekali dan juga hangat” tanya Rosaline polos.


“Hmm” sekuat tenaga William menekan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan.


Rosaline hanya mengangguk mengerti.


Nyonya Martha menahan air mata bahagianya melihat kedekatan putranya dengan Rosaline. Bertahun-tahun lamanya dia mengharapkan moment seperti ini bisa terjadi. Sebagai ibu, Nyonya Martha akan selalu mendoakan agar hubungan keduanya bisa berjalan dengan baik.


🐤🐤🐤


Akhirnya jalan-jalan mereka selesai. Rosaline dan Adeline duduk di kursi belakang mobil. Kedua gadis itu masih asik bermain dan tertawa bersama. Interaksi antara kedua gadis itu tak lepas dari penglihatan Nyonya Martha yang duduk di kursi samping kemudi.


Beberapa saat kemudian, suasana mobil berubah hening. Tak terdengar suara lagi dari arah belakang.


Nyonya Martha menoleh ke belakang untuk mengecek. Dia melihat pemandangan indah dan mengharukan yang pernah dia lihat. Adeline kesayangannya sedang tertidur lelap dengan wajah yang tersenyum di dalam pelukan Rosaline. Kedua gadis itu sudah tertidur dengan saling memeluk.


“Will, lihatlah...” Nyonya Martha memanggil putranya untuk menengok sejenak ke kursi belakang.


William melihat ke kaca spion untuk memeriksa. Ketika William melihat apa yang dimaksudkan mamanya, dia tersenyum dan berkata, “Aku tahu, pemandangan yang indah.”


“Apa kamu tidak mau mengatakan yang sebenarnya ke Raline?” tanya Nyonya Martha.


“Tidak. Biarkan terus berjalan apa adanya.”


William tak bisa memungkiri hatinya yang bahagia melihat Adeline dan Rosaline yang saling menyayangi.


🐤🐤🐤


Hari sudah mulai petang saat mereka tiba di kediaman William. Karena Adeline masih tertidur, Rosaline menggendongnya untuk ditidurkan di kamar gadis kecil itu. Setelah selesai mengurus Adeline, Rosaline mengambil barangnya dan bersiap pulang.


“Tante Martha, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan. Aku sungguh menikmati hari ini” ucap Rosaline.


“Sama-sama. Aku juga senang bisa mengajakmu. Aku harap kita bisa lebih sering pergi bersama” ucap Nyonya Martha.


Kemudian Rosaline pergi meninggalkan rumah itu.


“Kenapa kamu tidak mengantarnya pulang?” tanya Nyonya Martha. Dia melihat putranya yang hanya berdiri memandangi perginya gadis itu.


“Tidak perlu. Kami pasti akan bertemu lagi.”


“Kalian berdua sering bertemu?”


“Tidak juga.”


“Sampai kapan kamu akan memendam perasaanmu?” tanya Nyonya Martha serius.


“......” William tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya.


Nyonya Martha menghela nafasnya. “Anakku, mama tahu selama ini kamu menjalani hidup yang berat. Tapi satu hal yang mama inginkan, mulailah kehidupan yang baru. Lupakanlah semua yang pernah terjadi. Bagaimanapun kamu tidak bisa selamanya hanya hidup berdua bersama Adeline.”


William memikirkan serius apa yang diucapkan mamanya. Tentu dia sebenarnya ingin membangun sebuah keluarga sendiri, apalagi umurnya sudah sangat matang. Namun dia terlalu takut untuk melangkah maju. William takut jika Rosaline tidak bisa menerimanya jika tahu siapa dia sebenarnya.


🐤🐤🐤


• Di Orchard Residence •


Ketika Rosaline sampai di rumahnya, dia melihat dua singa yang tampak marah berdiri di depan pintu rumah menunggunya.


“Rosaline Heinanverero, dari mana saja kamu?!” ucap Tuan Anthoni dengan nada tegas.


“Rosaline, kenapa kamu sama sekali tidak mengabari kami?” ucap Rayen.


Sudah lama sekali Rosaline tidak mendengar ayahnya memanggil nama lengkapnya. Hanya ada dua keadaan ayahnya memanggilnya begitu. Pertama ketika bicara serius, kedua ketika dia marah dan kecewa. Dan jelas sekali sekarang ini Rosaline berada di keadaan kedua.


Ini juga hal yang jarang terjadi melihat kakaknya marah. Selama ini Rayen selalu santai dengannya. Sepertinya sekarang Rosaline sudah melakukan kesalahan serius.


“Ayah, kakak, maaf karena aku tidak mengabari kalian. Ponselku mati dan aku lupa mencharge. Aku ada urusan pekerjaan seharian ini, jadi lupa untuk memberi kabar kalian. Aku menyesal, maafkan aku...” ucap Rosaline memelas. Dia harus berbohong agar tidak memperkeruh keadaan.


Rayen tidak bisa berlama-lama marah dengan adiknya, dan dia pun memeluk Rosaline. “Kamu tahu kan kami pasti akan panik jika tidak mendapat kabar darimu. Jangan pernah sembarangan pergi kemana pun tanpa mengabari kami. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu lagi padamu, Ros...”


Rosaline mengerutkan keningnya karena merasa sedikit aneh dengan perkataan kakaknya. Tetapi dia tidak memikirkan lebih lanjut, mungkin saja Rayen hanya berlebihan mencemaskannya.


“Maafkan aku, kak. Lain kali aku tidak akan mengulanginya.”


Rosaline menatap ayahnya dengan jurus tatapan puppy face yang memelas. Dia tidak mau ayahnya terus marah padanya. “Daddy, I’m sorry. Aku janji tidak akan membuat daddy cemas lagi” ucap Rosaline manja.


Tuan Anthoni tidak tahan melihat wajah putrinya yang menggemaskan. Bagaimanapun Rosaline adalah putri berharga yang sangat disayanginya. Dalam sekejap singa jantan yang marah itu akhirnya luluh juga.


“Kemarilah, peluk ayah” ucap Tuan Anthoni dengan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan Rosaline. Dan gadis itu pun beralih ke pelukan ayahnya.


Rosaline menghela nafasnya lega. “Untung saja aku berhasil lolos kali ini. Sepertinya aku harus melakukan berbagai cara untuk memulihkan mood dan menyenangkan hati kedua pria overprotektif ini. Oh sial, semuanya gara-gara William. Dasar om om menyebalkan” ucap Rosaline dalam hati.


Sejujurnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan William. Ini murni kesalahannya sendiri. Tetapi Rosaline butuh seseorang untuk disalahkan mengingat dia memang masih sedikit jengkel dengan pria itu.