
Hari berikutnya
Keesokan paginya, Rosaline membuka mata dan merasakan kepalanya yang terasa berat untuk bangun dari tempat tidur. Rosaline membalikkan badan, dia melihat seorang gadis kecil yang sedang berbaring tengkurap sambil membaca buku. Rosaline menduga sekarang dirinya masih bermimpi. Dia merentangkan salah satu tangannya untuk mencubit tangan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu mulai merengek dengan ekspresi kesakitan karena dicubit. Mendengar rengekannya, Rosaline akhirnya tersadar bahwa gadis kecil itu memang Adeline asli dan nyata. Rosaline langsung memeluk dan menenangkannya. “Astaga, Adeline. Tante pikir sekarang tante sedang bermimpi. Maaf tante menyakitimu, sayang.”
Ketika dia melepaskan Adeline dari pelukannya, rambut gadis kecil itu tersangkut dengan sesuatu yang melingkar di lehernya. Rosaline perlahan mengurai sangkutannya. Ternyata yang melingkar di lehernya adalah sebuah kalung berlian berbentuk bunga sakura yang sangat indah.
Rosaline melihat ruangan sekitar dan menyadari sedang tidak berada di rumahnya sendiri. Dia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi dengannya.
Semalam dia pergi merayakan ulang tahun Nexon. Dia kalah dalam permainan dan harus minum. Lisa mencoba mengantarnya pulang, tetapi dia menolak. Rosaline justru menelfon orang lain, dan sialnya orang yang ditelfon adalah pria yang sangat ingin dia hindari. Mengenai kalungnya, samar-samar Rosaline ingat kalau kalung itu berasal dari kotak yang ditemukan oleh pelayannya. Saat dikembalikan, William malah memasangkan kalung tersebut ke lehernya. Setelah itu Rosaline tidak mengingat apapun lagi. Tamat sudah riwayat Rosaline.
“Ya ampun! Apa yang sudah kau lakukan Ros bodoh?!” ucap Rosaline histeris dengan melotot dan menjambak rambutnya.
Wajah Rosaline merona mengingat William memberinya kalung. Jadi ternyata kotak kecil itu adalah hadiah untuknya. Namun Rosaline takut jika sudah mengatakan atau melakukan sesuatu yang macam-macam ke pria itu. Semoga saja semalam tidak terjadi sesuatu hal yang memalukan.
“Adeline, menurutmu apakah ayahmu akan mencekikku karena semalam aku sudah mengganggunya?” si bodoh Rosaline dengan polosnya bertanya kepada seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa.
Adeline kebingungan mendengar perkataan tantenya. Yang dia lakukan hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak.”
“Kamu yakin tante akan baik-baik saja?”
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Meskipun dia tidak paham dengan maksud ucapan tantenya, tetapi dia yakin kalau ayahnya tidak akan menjahati tantenya.
Rosaline menyadari pakaiannya berbeda dari yang dikenakan semalam, berarti ada yang sudah menggantinya. Dia penasaran siapa yang menggantikan pakaiannya. Tetapi siapapun yang menggantikan, yang jelas bukan William, pasti salah satu pelayan perempuan yang melakukannya. Rosaline berusaha berpikir positif dan tak ingin menduga hal yang tidak-tidak.
“Adeline, lebih baik sekarang kita turun ke bawah dan sarapan” Rosaline menggendong gadis kecil itu dan bersama turun ke bawah.
Saat mereka berdua memasuki dapur, seorang pria dengan pakaian kasualnya sedang minum segelas air putih. Rambutnya berantakan, wajahnya juga tampak lelah seolah-olah dia belum tidur.
“Tuan Willian, selamat pagi” sapa Rosaline.
Pria itu menghampiri mereka berdua dan mencium Adeline yang sedang digendong Rosaline.
“Tuan William, tentang semalam, maaf karena aku menelfonmu...” tak sempat Rosaline menyelesaikan ucapannya, dia sudah dikejutkan dengan William yang mengelus kepalanya lalu mencium keningnya. Seketika Rosaline membatu.
“Tentang semalam tidak perlu dipikirkan. Apa kamu merasa pusing atau butuh sesuatu?”
“Ee-eeh aku baik-baik saja” balas Rosaline terbata-bata. Suatu hal yang mencengangkan karena tidak hanya Adeline saja yang mendapatkan morning kiss, tetapi dirinya pun juga. Rosaline merasa ada yang tidak beres dengan William.
“Baiklah. Ayo kita sarapan” ucap William. Dia merasa malu mengingat apa yang telah terjadi semalam. Jika dilihat dari ekspresi gadis itu, sepertinya dia tidak mengingat apapun. Bila mengingatnya, tentu dia tidak mungkin bisa setenang itu berhadapan dengan William sekarang.
William memperhatikan kalung pemberiannya masih di leher Rosaline. Dia tersenyum tipis dan merasa lega karena gadis itu tidak melepasnya.
Adeline melongo tak percaya melihat ayahnya bisa mencium tantenya tepat di depan matanya. Gadis kecil itu merasa sikap keduanya mulai berubah satu sama lain. Namun Adeline justru gembira, karena sepertinya sesuatu yang lebih menarik lagi akan segera terjadi diantara ayah dan tantenya.
🐤🐤🐤
Saat mereka bertiga ke meja makan, seorang wanita paruh baya yang baru saja tiba di rumah William juga langsung menuju ke meja makan. Wanita itu terkejut melihat putranya sedang bersama seorang perempuan. Apalagi perempuan itu sudah tidak asing lagi baginya.
“Kenapa mama datang lebih awal?” tanya William.
Tanpa disangka Rosaline mendapat kejutan dengan kedatangan mamanya William. Tak pernah terbayangkan dia akan bertemu dengan Nyonya Martha sepagi ini di rumah William.
“Mama mau membantu Adeline bersiap untuk jalan-jalan” balas Nyonya Martha. Dia memberikan tatapan menyelidik ke putranya. Dia ingin tahu kenapa ada Rosaline di rumahnya.
“Semalam aku yang membawa Raline untuk menginap disini” ucap William santai. Dia seolah tahu apa yang dipikirkan mamanya.
Nyonya Martha antara shock dan gembira mendengar pengakuan William. Dia shock karena tak menyangka putranya bisa sedekat itu dengan Rosaline, dan gembira karena akhirnya hati putranya yang dingin perlahan telah mencair.
“Tante Martha, maaf karena aku sudah menginap disini” Rosaline gugup menghadapi wanita itu. Dia takut jika Nyonya Martha akan memarahinya.
Nyonya Martha tersenyum memandang Rosaline dan menjawab, “Tidak masalah, Raline. Kamu tidak perlu sungkan dan takut. Aku justru senang kalau kamu bisa lebih sering bersama dengan William dan Adeline.”
Rosaline terperangah dengan jawaban Nyonya Martha. Tak disangka dia akan mendapatkan tanggapan yang positif sampai membuatnya speechless.
Ketika Nyonya Martha hendak membuka mulutnya untuk bertanya dan menyelidiki hubungan antara putranya dengan Rosaline, putranya yang cerdik itu segera menyela. “Lebih baik kita segera sarapan” sahut William.
Lalu William beralih menatap Rosaline. “Semalam kamu pasti kelelahan dan perutmu juga kosong. Jadi sekarang segera pulihkan tenagamu.”
Rosaline semakin merasa terpukul. Situasinya sudah cukup canggung karena Rosaline ketahuan menginap di rumah William. Sekarang pria itu tambah memperburuk keadaan dengan mengucapkan kata-kata ambigu dan mengundang prasangka yang tidak-tidak.
“Aku ingin sekali memukul dan mengutuk William. Tidak bisakah dia bicara dengan bahasa yang lebih jelas supaya mamanya tidak salah sangka” ucap Rosaline dalam hati.
🐤🐤🐤
“Raline, jika kamu tidak sibuk, kenapa kamu tidak ikut saja? Kami akan membawa Adeline ke Leisure Farmhouse supaya dia bisa bermain sekaligus belajar pengalaman baru” ucap Nyonya Martha.
“Aku? Ikut dengan kalian?” tanya Rosaline memastikan.
“Ya, kita berempat bisa jalan-jalan bersama” ucap Nyonya Martha antusias.
Saat Nyonya Martha lanjut menjelaskan, Rosaline mulai tertekan. Bahkan seandainya Rosaline mangatakan ‘tidak’, Nyonya Martha pasti akan bersikeras membujuk dan menyeretnya agar mau ikut. Ditambah lagi dengan sifat Adeline, Rosaline yakin sekali kalau ‘tidak’ bukanlah jawaban yang bisa dia ucapkan. Bagaimanapun Rosaline tidak punya pilihan lagi selain menerimanya.
🐤🐤🐤
Dalam perjalanan menuju Leisure Farmhouse, Adeline terlihat sangat bahagia duduk dipangkuan tantenya. Lain halnya dengan Rosaline, dia bagai manusia lemah tak berdaya karena harus pasrah menuruti Nyonya Martha dan Adeline. Meskipun Rosaline dan Nyonya Martha pernah bertemu sebelumnya, tetapi Rosaline masih belum terlalu dekat dengannya. Entah kenapa Rosaline malah mengharapkan William bisa ikut juga dengan mereka bertiga. Namun sayangnya karena ada meeting mendadak, William tidak bisa ikut pergi bersama.
“Ngomong-ngomong, sekarang kamu sudah menjadi model ya?” Nyonya Martha memecahkan keheningan diantara mereka.
“Iya tante. Sekarang aku menjadi model di agensi SJ Management” balas Rosaline.
Hal itu mengherankan Nyonya Martha karena mengetahui Rosaline berada di agensi yang bergengsi. “Pantas saja. Sepertinya kariermu sebagai model juga semakin bagus.”
“Ahh tidak juga. Mungkin aku hanya sedang beruntung saja” jawab Rosaline malu-malu.
“Tidak perlu merendah. Aku yakin pasti kamu sudah bekerja keras” ucap Nyonya Martha tersenyum memandang Rosaline.
Mereka berdua pun lanjut mengobrol. Tetapi seiring waktu berlalu, Rosaline merasa semakin sekarat karena pertanyaan dari Nyonya Martha perlahan berubah menjadi interogasi yang mendalam dan pribadi.
“Aku penasaran, sejak kapan kalian berdua mulai dekat? William tidak pernah cerita padaku kalau kalian saling bertemu” tanya Nyonya Martha.
“Sebenarnya sudah lumayan lama. Tapi kami bertemu pun itu juga karena Adeline.”
“Apa kekasihmu tidak marah?”
“Kekasih? Aku tidak punya.”
Hati Nyonya Martha bersorak-sorai mengetahui Rosaline tidak terikat hubungan dengan siapapun.
“Lalu apa kamu tidak keberatan kalau harus sering bertemu dengan Adeline dan William?”
Rosaline tersenyum dan berkata, “Kenapa harus keberatan? Selama ini aku senang saat bersama Adeline. Aku sama sekali tidak pernah menganggap Adeline sebagai beban, karena aku benar-benar menyayanginya. Dan tentu aku juga tidak masalah dengan Tuan William.”
Akhirnya Nyonya Martha punya kesempatan leluasa bertanya ke Rosaline karena William sudah tidak ada lagi di sekitarnya. Ini saatnya Nyonya Martha menjurus ke pembicaraan inti.
“Raline, apa hubunganmu sekarang dengan putraku?”
Rosaline berdebar mendengar pertanyaan dari Nyonya Martha. Rosaline sendiri juga tidak tahu pasti hubungannya dengan William seperti apa. Dengan perasaan yang campur aduk, dia memberanikan diri untuk menjawab.
“Antara aku dan Tuan William tidak ada hubungan apapun. Jujur, aku senang bisa mengenal pria sebaik dia. Kami berdua bisa kenal karena Adeline. Jadi secara otomatis kami harus berteman karena Adeline yang dekat denganku.”
“Tapi seandainya putraku menyukaimu, apa kamu juga tidak masalah?”
Seketika tubuh Rosaline menegang. Dia bingung harus mengatakan apa. Salah bicara sedikit, mungkin Nyonya Martha akan tersinggung.
“Aku rasa Tuan William tidak mungkin menyukai orang biasa sepertiku” jawab Rosaline. Entah kenapa hatinya terasa nyeri saat mengucapkannya.
Nyonya Martha memandang serius Rosaline. Dia memang belum dekat dengan Rosaline, tetapi sejak pertama kali bertemu, hatinya mengatakan bahwa Rosaline perempuan yang baik untuk putranya. “Kamu salah, Raline. Dia sudah jatuh cinta denganmu” ucap Nyonya Martha dalam hati.
Dia tidak berencana untuk memberitahu kebenarannya ke Rosaline. Dia akan memendam untuk dirinya sendiri. Biarkan saja putranya dan Rosaline yang mengurus perasaan mereka masing-masing.
“Aku perhatikan kalung yang kamu pakai sangat indah. Boleh aku tahu dimana kamu membelinya?” Nyonya Martha lanjut menginvestigasi Rosaline.
“Ohh, aku tidak membelinya. Tuan William yang memberikannya padaku...” Rosaline tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena tersadar kalau dia telah jatuh ke jebakan pertanyaan Nyonya Martha. Sekarang secara tidak langsung, Rosaline seperti mendeklarasikan bahwa dirinya memang ada sesuatu dengan William.
Rosaline berdehem dan merevisi perkataannya. “Emm maksudku, Tuan William memberikan kalung ini sebagai hadiah keberhasilanku menjadi ambassador Lencom dan sebagai rasa terima kasihnya padaku yang sudah menjaga Adeline.”
“Ini sungguh membuatku gugup. Kenapa aku tiba-tiba merasa seperti di wawancarai calon mertua” gumam Rosaline dalam hati.
Segera Rosaline menghapus pikiran konyolnya. Bisa-bisanya dia berpikiran begitu hanya karena dihujani berbagai pertanyaan oleh Nyonya Martha.
Nyonya Martha hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia tidak bertanya lebih lanjut karena dia sudah mendapatkan jawaban yang diinginkan. Memikirkan putranya yang berhati dingin bersedia membeli hadiah untuk Rosaline, membuatnya senang. Padahal selama ini putranya tidak pernah berinisiatif sendiri membelikan dirinya apapun jika bukan Nyonya Martha yang meminta kepada putranya.
“Jika Raline tahu perasaan William, apa dia bersedia menerimanya atau justru menjauhinya...” ucap Nyonya Martha dalam hati.