
Di Golden Envo Mall
Di luar mall, dua mobil mewah berhenti di depan lobby pintu masuk. Keluarlah beberapa bodyguard dari mobil pertama. Salah satu bodyguard membuka pintu di mobil kedua. Keluarlah Tuan Rudy dari mobil itu. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Rosaline keluar.
Orang-orang mulai penasaran karena melihat beberapa pria mengenakan jas hitam di luar mall. Pandangan mereka tertuju pada mobil kedua yang ditumpangi Rosaline dan Tuan Rudy. Setelah Tuan Rudy keluar dari mobil, mata mereka kini terfokus pada sosok perempuan cantik dengan rambut berwarna golden highlight yang tergerai, mengenakan dress dari brand ternama dunia, tas keluaran terbaru, jam tangan bermerk, dan heels setinggi 5 cm. Perempuan itu sangat mempesona meskipun tidak memakai aksesoris mencolok dan makeup tebal.
Rosaline memegang erat lengan kakeknya saat masuk ke dalam mall. Karena dia sedang pergi dengan kakeknya, dia tidak akan menggunakan penampilan ketika menjadi ‘Raline’. Rosaline akan berpenampilan layaknya cucu dari Heinan Group. Dia merubah total penampilannya hingga tidak akan ada orang yang mengenali bahwa sebenarnya dia adalah ‘Raline Vero’.
Saat berkeliling mall, Tuan Rudy bisa mendengar komentar orang-orang yang memuji cucunya.
“Lihat, perempuan itu sangat cantik dan penampilannya sungguh mempesona.”
“Kakeknya pasti bangga mempunyai cucu seperti dia.”
“Bidadari secantik itu harusnya tidak tinggal di bumi, melainkan di surga.”
Tuan Rudy tersenyum mendengar berbagai komentar mereka. “Tentu saja aku bersyukur memiliki cucu secantik ini. Rosy memang dikirim dari surga” ucapnya bangga dalam hati.
🐤🐤🐤
Di salah satu store, Tuan Rudy sedang mencoba pakaian. Rosaline menunggu kakeknya sembari melihat barang-barang di dalam store. Tiba-tiba dia teringat kalau tadi sempat melewati toko perhiasan. Rosaline ingin membelikan hadiah untuk neneknya di rumah. Tanpa memberitahu siapapun, dia pergi sendirian ke toko tersebut.
Ketika Rosaline memasuki toko perhiasan, sudah ada sekelompok pria elit yang sibuk mengesankan para wanitanya. Ketiga pria berjas mewah itu membebaskan wanitanya memilih perhiasan yang diinginkan. Rosaline berkeliling melihat-lihat perhiasan di tempat itu tanpa ada seorangpun yang memedulikannya. Cukup lama dia diabaikan oleh pelayan toko tersebut. Hingga akhirnya ada salah satu pelayan perempuan yang menghampirinya.
“Selamat datang, nona. Adakah yang bisa saya layani untuk anda?” ucap pelayan toko itu dengan ramah.
Rosaline tersenyum melihat ada pelayan yang akhirnya datang melayaninya. “Ya, tentu. Aku ingin membeli sebuah gelang.”
Kumpulan wanita menyadari kalau ada salah satu pelayan toko yang melayani orang lain dan mereka menjadi jengkel. “Apa maksudnya ini? Kenapa dia tidak di sini melayani kita?” ucap salah satu wanita. Dia tidak terima karena pelayan perempuan itu lebih memilih melayani Rosaline.
Manager toko yang berada di tempat itu langsung meminta maaf kepada kumpulan wanita tadi dan segera menyeret lengan pelayan perempuan yang melayani Rosaline. “Apa yang kau lakukan? Mereka itu pelanggan terhormat. Cepat minta maaf sekarang!”
Pelayan perempuan itu merasa bimbang, rasanya tidak benar jika mengabaikan pelanggan lain hanya untuk melayani sekumpulan orang elit yang bahkan sudah dilayani juga. “Tapi tuan, nona muda ini juga pelanggan kita. Jadi biarkan saya melayani nona ini.”
Manager terus menyeret gadis itu menjauh dari Rosaline. “Tidak masalah, lupakan dia. Sekarang layani para tuan muda dan wanitanya.”
Rosaline sangat marah karena diperlakukan tidak pantas. Dia tidak bisa diam saja diremehkan oleh manager itu. “Beraninya! Kau membuatku jijik! Apakah begini cara Glam Jewelry dikelola? Benar-benar konyol dan tidak berkelas. Untuk sekelas toko perhiasan yang berada di Golden Envo Mall, toko ini sungguh memalukan!”
“Kau gadis bodoh! Jangan berakting lagaknya putri dari seorang pimpinan perusahaan besar atau putri raja. Kau itu hanya gadis biasa yang tidak punya sopan santun. Aku yakin kalau apa yang menempel di badanmu itu pasti berkat menjadi simpanan om-om kaya. Jadi jangan sok bertindak tinggi dan berkuasa.” ujar salah satu dari kumpulan wanita.
Rosaline menatap tajam wanita yang sudah merendahkannya. “Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri? Aku rasa wanita parasit dan tak bermoral sepertimu tidak layak bicara denganku.”
Kemudian Rosaline beralih menatap manager toko. “Sedangkan kau, tuan manager tidak tahu diri. Kau sungguh tidak layak mengelola toko perhiasan ini. Dengan karakter angkuh dan ketidakprofesionalanmu, toko ini hanya tinggal menunggu waktu kebangkrutannya saja. Sikapmu benar-benar membuatku muak!”
“Dasar j*lang! Kau pikir kau itu siapa?!” si wanita menghampiri Rosaline dan mencoba menamparnya.
Namun dengan sigap Rosaline menangkap tangan wanita itu sebelum menyentuh wajahnya. Rosaline menghempaskan tangan wanita itu dengan keras, menyebabkan si wanita terhuyung hingga jatuh ke lantai.
“Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan sialanmu itu” ucap Rosaline dengan nada dingin dan lirikan mematikan. Sama sekali tak ada raut keramahan di wajahnya.
Beberapa pelayan toko dengan cepat membantu si wanita berdiri. Sedangkan dua wanita yang lain, mereka meluapkan amarahnya ke Rosaline yang sudah berani mempermalukan temannya.
“Perempuan brengs*k, kau sudah menggertak temanku! Memangnya kau siapa, huh?!”
“Hei, j*lang! Kau itu siapa, beraninya memperlakukan temanku semena-mena! Apa kau sadar dengan yang kau lakukan?!”
Rosaline menatap sinis mereka. “Hmph, jika kuberitahu siapa aku sebenarnya, apa kalian mau datang merangkak meminta maaf padaku?”
Si pria kekasih dari wanita yang dipermalukan Rosaline, dia merasa geram dan mendekati Rosaline. “Aku benar-benar tidak ingin memukul gadis cantik sepertimu. Tapi mulutmu terlalu pedas, nona.”
Rosaline memandang pria itu dari atas sampai bawah. “Ahh, sekumpulan pria bodoh yang bisanya hanya membuang uang untuk menyenangkan kekasihnya. Sayangnya aku juga tidak ingin mengotori tanganku untuk memukul pria semacam dirimu. Tapi jika terpaksa, apa boleh buat.”
“Kau...” pria itu semakin murka. Dia melayangkan tangannya ke arah Rosaline. Tetapi sebelum terjadi, tiba-tiba seseorang muncul dan langsung menendang perut pria itu hingga terpental ke belakang. Teman-teman pria itu sontak kaget menyaksikannya. Mereka menghampiri pria itu yang tersungkur kesakitan di lantai.
“Nona muda, apa anda baik-baik saja?” ucap John panik. Dia memeriksa nona mudanya terluka atau tidak. Setelah dipastikan tak ada goresan di tubuh nona mudanya, John memelototi penuh amarah pria yang ditendangnya. “Kau! Lancang sekali kau mau melukai nona muda!”
Wanita yang tadi mencoba menampar Rosaline, dia semakin emosi dan meneriaki John. “Bangs*t! Beraninya pria rendahan sepertimu memukul kekasihku! Si j*lang itu yang mulai duluan. Jadi dia pantas untuk dipukul!”
“Siapa yang berani melukai cucuku?!!” suara geram yang kuat bergema menggelegar di toko perhiasan itu.
Mereka yang berada di toko itu seketika menoleh ke arah pintu masuk dan melihat seorang pria tua yang wajahnya tampak sangat marah dan menakutkan. Dibelakangnya juga ada beberapa bodyguard.
Tuan Rudy mendekati Rosaline dan memindai tubuh cucunya layaknya mesin pemeriksaan. Dia ingin memastikan bahwa cucunya tidak tergores sedikit pun dan tak ada sehelai rambutnya yang dicabut.
“John, apa yang terjadi disini?” tanya Tuan Rudy kepada orang kepercayaannya.
Tuan Rudy menatap John dengan ekspresi kecewa. “John, kali ini kau sudah mengecewakanku.” Lalu Tuan Rudy beralih memelototi tajam pria yang mencoba menyakiti cucunya. “Seharusnya kau patahkan saja tulang pria bajing*n ini hingga berkeping-keping tanpa ampun!” teriaknya. Tuan Rudy ternyata kecewa karena John hanya sekedar menendangnya.
Ketika para pria elit dan wanitanya mendengar Tuan Rudy yang kecewa dengan John karena tidak mematahkan tulang, mereka mulai takut dan berkeringat dingin. Mereka ingin tahu identitas pria tua yang terkesan sadis, tetapi wajahnya terasa familiar. Aura pria tua itu serasa mengintimidasi dan membuat merinding.
John malu dengan dirinya yang sudah mengecewakan tuannya, dan dia membungkuk ke Tuan Rudy. “Maafkan saya, tuan besar. Saya pastikan tidak akan mengecewakan keluarga Heinanverero lagi.”
Ekspresi wajah Tuan Rudy kembali melunak saat menatap cucunya. “Rosy, apa kamu baik-baik saja?”
“Jangan khawatir, grandpa. Jika dia benar-benar memukulku, maka aku akan melawannya. Bahkan kalau mau aku sendiri bisa membuatnya patah tulang.”
Ketiga pria elit itu mulai menerka-nerka siapa orang yang sedang mereka hadapi. Mereka mengumpulkan kepingan petunjuk yang didengarnya. Tuan besar, Keluarga Heinanverero, Grandpa. Setelah beberapa saat berpikir, para pria elit itu mulai menyadari siapa pria tua yang berdiri dihadapannya. Hanya ada satu keluarga Heinanverero di negara mereka. Bisa dipastikan bahwa pria tua itu adalah Tuan Rudy Heinanverero. Seketika wajah mereka berubah pucat dan panik. Mereka sadar telah menyinggung orang yang berpengaruh di negaranya. Sebagai anak dari pengusaha, tentu mereka tahu betapa kuatnya pengaruh Heinan Group.
Pandangan mereka pindah ke sosok perempuan yang berdiri di samping Tuan Rudy. Tanpa diragukan lagi, jelas perempuan cantik itu adalah cucu dari Heinan Group. Cucu perempuan misterius yang tidak pernah muncul di publik. Tidak ada satu orang pun yang benar-benar pernah melihat cucu perempuan dari Heinan Group. Tetapi semua orang tahu bahwa keluarga Heinanverero sangat melindungi dan memanjakannya.
Mereka bertiga mulai bergumam dalam hati.
“Apakah kita baru saja membuat masalah dengan cucu Heinan Group?”
“Aku pasti sudah gila karena hampir memukul putri Tuan Anthoni.”
“Apa aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan sehat dan hidup?”
Menyadari siapa yang dihadapinya dan telah membuat kesalahan besar, manager toko perhiasan itu ketakutan. Dia langsung berlutut di depan Rosaline dan Tuan Rudy. “Nona muda, Tuan Rudy Heinanverero, tolong maafkan kesalahan kami.”
Melihat manager toko perhiasan yang berlutut, para pelayan toko juga ikut berlutut, termasuk ketiga pria elit dan wanitanya. Mereka sadar telah membuat masalah besar dengan Heinan Group.
Rosaline berjalan menghampiri pelayan perempuan yang tadi bersikeras ingin melayaninya. Dia membantu perempuan itu untuk berdiri. “Kenapa harus berlutut padahal kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan? Kamu adalah satu-satunya orang pintar di ruangan ini, karena bisa membedakan mana yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan.”
Mata pelayan toko itu berkaca-kaca mendengar perkataan Rosaline. Dia merasa lega karena tidak melakukan kesalahan. “Nona muda, terima kasih banyak...”
John menghampiri Tuan Rudy setelah menyelesaikan panggilan telfonnya. “Tuan besar, saya sudah menghubungi CEO Glam Jewelry dan menginformasikan apa yang terjadi disini.”
“Kerja bagus, John” ucap Tuan Rudy sembari melirik tajam bergantian orang-orang yang berlutut di hadapannya.
“Tuan besar, biarkan saya menebus rasa bersalah saya dengan mematahkan tulang pria yang sudah membahayakan nona muda” ucap John.
Tuan Rudy menyunggingkan senyum menatap John. “Jika memang harus, maka silahkan lakukan.”
“Ttu-tuan Rudy, maafkan saya. Mohon ampuni kesalahan saya...” pria yang merasa terancam itu berusaha memohon ampunan. Lalu dia menatap Rosaline. “Nona, saya minta maaf karena sudah kurang ajar.”
“Nona muda, maafkan kesalahan kami semua yang sudah lancang. Tolong jangan apa-apakan kami” ucap wanita si kekasih dari pria itu.
Rosaline segera menghampiri John sebelum dia beraksi dan meremukkan pria itu. “Sudahlah, tidak perlu. Mereka semua hanyalah sekumpulan orang yang membuang-buang waktu kita.”
Kemudian Rosaline melirik dingin satu per satu orang-orang yang sudah mengusiknya. “Aku masih ingin berada disini. Kalian semua cepat tinggalkan tempat ini, karena kehadiran kalian membuatku malas dan muak.”
“Terima kasih, nona. Kami semua akan segera pergi” dalam sekejap mata, mereka pun pergi meninggalkan toko perhiasan itu.
Pandangan Rosaline beralih lagi ke pelayan toko yang tadi melayaninya. “Ayo, kita lanjutkan lagi urusan kita” ucapnya dengan tersenyum
Pelayan toko itu dengan senang hati melayani Rosaline. Dia tidak menyangka perempuan yang tampak anggun dan lembut dari luar, ternyata memiliki sisi yang mengintimidasi. Setelah kekacauan barusan, keadaan kembali seperti semula.
🐤🐤🐤
Tak lama kemudian, CEO Glam Jewelry datang dengan langkah terburu-buru untuk menemui Tuan Rudy. Dia benar-benar takut jika sudah membuat masalah dengan Heinan Group. Setelah mendengar semua penjelasan, dia meminta maaf pada Tuan Rudy dan Rosaline atas apa yang terjadi.
“Beri pelajaran ke semua karyawanmu! Beraninya mereka meremehkan cucu kesayanganku. Terutama untuk manager bodohmu, pecat dia!” ujar Tuan Rudy tegas ke CEO Glam Jewelry.
Sebelum Rosaline dan kakeknya meninggalkan tempat itu, Rosaline berkata, “Tuan CEO Glam Jewelry, tolong beri penghargaan untuk karyawan yang sudah melayaniku. Karena dialah satu-satunya orang yang menjunjung martabat toko perhiasan anda.”
Setelah Rosaline dan Tuan Rudy pergi, CEO Glam Jewelry mempromosikan pelayan tadi sebagai manager. Lalu untuk manager yang lama, tentu langsung dipecat karena sudah mencoreng nama baik Glam Jewelry. Untuk karyawan yang lain, CEO Glam Jewelry memberikan surat peringatan terakhir, sekali lagi mereka melakukan kesalahan maka akan otomatis dipecat.
🐤🐤🐤
Dari kejauhan, seorang wanita tercengang menyaksikan kejadian di toko perhiasan itu. Apalagi dia melihat sosok familiar disana. “Bukankah perempuan yang di Glam Jewelry itu adalah Raline?”
“Regina, tidak mungkin dia Raline. Perempuan itu jelas sekali berasal dari keluarga terhormat dan berpengaruh. Dia mengenakan dress branded, tas keluaran terbaru, apa yang menempel di tubuhnya semua mahal. Terlebih warna rambut perempuan itu adalah golden highlight, sedangkan Raline berambut coklat. Dari segi penampilan saja keduanya sangat berbeda jauh.”
Regina mengernyitkan alisnya. Dia masih meragukan yang dikatakan managernya. “Tapi aku yakin wajah perempuan itu mirip dengan Raline...”
“Apa kamu pikir perempuan biasa seperti Raline mampu menggunakan barang-barang mewah, belanja di Glam Jewelry, dan dikelilingi dengan full bodyguard?”
Regina merenungkan perkataan managernya. Dia menghela nafasnya dan berkata, “Kamu benar. Aku pasti tidak waras karena sempat mengira dia adalah Raline. Perempuan itu bagaikan putri mahkota, sedangkan Raline hanyalah perempuan kampungan. Lupakan, ayo kita lanjutkan belanja...”