
"Tante Rosaline...."
Suara imut khas anak kecil perempuan terdengar oleh Rosaline. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
Dilihatnya seorang gadis kecil yang sangat menggemaskan sedang mendongakkan kepalanya untuk menatap Rosaline. Wajah gadis itu dipenuhi dengan ekspresi rasa senang dan senyum yang merekah.
Dia berusaha mengingat siapa gadis kecil ini yang sudah memanggil namanya. Lalu dia teringat kejadian kala itu.
Rosaline berlutut mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu. "Ahh...kamu gadis kecil yang waktu"
Gadis kecil itu mengangguk senang.
Rosaline mencoba mengingat siapa nama gadis kecil itu. "Coba aku ingat. Kalau tidak salah namamu yang sama dengan namaku bukan? Adeline..." ucapnya tersenyum.
Adeline kembali mengangguk dengan semangat.
Rosaline melihat Adeline yang begitu menggemaskan menggunakan baju model dress dengan motif bunga berlengan panjang yang berwarna soft pink. Kali ini rambut berponi sebahunya dibiarkan tergerai dan ditambahi bando dengan pita kecil bewarna putih.
"Adeline tidak sakit kan setelah kejadian itu?" ucap Rosaline lembut.
Adeline menggelengkan kepalanya untuk menjawab.
"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang" Rosaline tersenyum hangat menatap gadis kecil itu. Rosaline tidak menyangka bahwa takdir akan mempertemukan mereka berdua lagi setelah kejadian itu. Bahkan gadis kecil itu masih mengingat baik wajah dan namanya.
"Apa kamu kesini bersama dengan orang tuamu?" tanya Rosaline lembut.
Gadis kecil itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Sebelum bertanya lagi, Rosaline baru menyadari kalau ada anak kecil laki-laki juga yang berdiri mematung tidak jauh dari Adeline. Tak jauh darinya juga ada dua sosok pengasuh yang sekarang sedang menatapnya. Kemudian anak laki-laki itu mendekat ke tempat Rosaline dan Adeline.
"Halo. Apa kamu datang bersama dengan Adeline?" Rosaline tersenyum ramah kepada anak laki-laki itu.
"Ya tante, aku bersama dengan Lin kecil" anak kecil itu menjawab dengan sopan.
"Ahh begitu rupanya. Siapa namamu?"
"Namaku Zeno. Salam kenal tante..." jawab Zeno dengan menampilkan senyumnya.
"Salam kenal juga Zeno. Kamu sungguh tampan dan imut sekali" Rosaline merasa gemas melihat wajah Zeno yang imut dan tampan. Apalagi sikapnya juga sangat ramah.
Zeno merespon dengan tersenyum lebar menampilkan gigi susunya. “Terima kasih...”
Dilihatnya kedua pengasuh yang sekarang berdiri tak jauh dari Rosaline. Dia mengenali salah satu pengasuh, yaitu pengasuhnya Adeline.
"Kamu pengasuh Adeline bukan? Apa kalian hanya jalan-jalan berempat saja?"
"Tidak nona. Kami datang kesini bersama dengan omanya nona Adeline. Beliau sekarang sedang ke kamar kecil" jawab pengasuh Adeline.
Masih dalam keadaan berlutut dari tadi, Rosaline kembali menatap Adeline. "Kamu sedang jalan-jalan dengan omamu? Pasti kamu sangat senang kan...." canda Rosaline sambil mencubit lembut pipi tembam Adeline. Adeline meresponnya dengan menampilkan gigi susunya yang rapi.
Tak lama kemudian datanglah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik mendekat ke arah mereka. "Adeline, Zeno, kalian sedang apa?" wanita itu menatap bergantian ke arah kedua anak kecil itu kemudian ke arah Rosaline.
Rosaline kembali berdiri ketika melihat kedatangan wanita yang sepertinya oma dari Adeline.
Adeline langsung berlari mendekat ke arah omanya yang berdiri tak jauh dari mereka. Adeline memberikan isyarat dengan menunjuk-nunjuk ke arah Rosaline dan berkata, "Tante"
Omanya yang tak paham hanya bisa mengernyitkan alis melihat tingkah Adeline.
Kemudian pengasuh Adeline menjelaskan maksud dari Adeline. "Nyonya, nona muda yang ditunjuk nona kecil ini adalah orang yang menolongnya saat itu di hotel. Dia ini nona Rosaline"
Nyonya Martha langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rosaline. "Astaga, jadi kamu adalah Rosaline penolong Adeline? Pemilik dari blazer yang selalu disimpan baik oleh Adeline?" ucapnya terkejut.
Rosaline yang tidak paham dengan situasinya saar ini, hanya bisa menampilkan wajah bingungnya saja.
Nyonya Martha berjalan mendekat ke arah Rosaline. Seketika dipeluknya erat Rosaline. "Terima kasih karena sudah menolong Adeline. Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu" ucapnya lembut sambil mengusap punggung Rosaline.
Rosaline masih merasa bingung karena sekarang dipeluk tiba- tiba seperti ini. "Tidak masalah nyonya. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan" Rosaline pun membalas pelukan nyonya Martha.
Kemudian pelukan mereka terlepas.
"Kamu sungguh gadis yang baik dan juga cantik. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih..." ucap nyonya Martha dengan tersenyum haru. Entah kenapa dia merasa senang karena sudah bisa bertemu dengan orang yang selama ini dirindukan oleh Adeline.
"Sama-sama nyonya..." Rosaline tersenyum malu-malu. Dia merasa sungkan jika dipuji berlebihan seperti itu.
Kemudian nyonya Martha teringat jika dia belum berkenalan secara resmi. "Perkenalkan, aku omanya Adeline. Namaku Martha" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Rosaline pun menyambut dengan menjabat tangannya. "Senang bertemu denganmu nyonya Martha. Namaku Rosaline, tapi panggil saja Raline..." balasnya dengan senyuman yang ramah dan sopan. Dia juga sedikit menundukkan kepala dan badannya untuk tanda menghormati.
Tidak hanya baik dan cantik, tetapi dia juga sangat sopan. Penampilannya pun juga anggun. Raline memang gadis yang mengesankan - ucap nyonya Martha dalam hati.
"Baiklah, aku akan memanggilmu Raline. Kalau begitu, kamu juga harus memanggilku tante Martha, mengerti?” nyonya Martha tersenyum.
Rosaline mengangguk dan tersenyum. "Baik tante Martha..."
“Ngomong-ngomong, apa kamu sendirian saja disini?" Nyonya Martha kembali bertanya pada gadis itu.
"Tidak, aku kemari bersama dengan temanku untuk menemaninya membeli sesuatu" jawab Rosaline.
Adeline kemudian mendekat lagi ke arah omanya. Dia menarik-narik ujung bawah pakaian omanya.
Gadis kecil itu menatap semangat ke arah omanya dan berkata, "Ajak tante"
Nyonya Martha terkejut mendengar permintaan dari gadis kecil itu. Tak disangka kalau Adeline begitu menginginkan untuk bisa terus bersama dengan penolongnya ini. "Kamu ingin tante Raline ikut kita jalan-jalan?"
Adeline menganggukkan kepalanya dengan semangat dan senyum yang lebar.
Rosaline hanya menatap dengan bingung secara bergantian ke arah pasangan oma dan cucu itu.
"Adel sayang, kenapa harus mengajak tante? Tante Raline kan datang kesini bersama dengan temannya. Kita mana boleh mengganggu tante..." ucap Nyonya Martha lembut, mencoba memberikan pengertian pada cucunya.
Adeline menaikkan tangan kanannya, menjulurkan jari kelingking kanannya, dan berkata, "Janji oma"
Seketika nyonya Martha pun teringat dengan janjinya pada cucunya kala itu. Sungguh takdir sangat berpihak pada Adeline hingga bisa mempertemukannya kembali dengan orang yang dirindukannya selama ini.
Nyonya Martha hanya bisa menghela nafas panjangnya. Apa boleh buat, dia harus berusaha menepati janjinya. Ditatapnya lagi Rosaline. "Raline...apa kamu sekarang sedang sibuk?"
Rosaline mengernyitkan alisnya, dia bingung dengan maksud pertanyaan itu. "Aku tidak sibuk tante..." jawabnya.
"Kalau tidak sibuk, apakah kamu bersedia untuk ikut kami jalan-jalan? Kami berencana untuk berbelanja dan setelah itu mungkin akan makan juga. Jika kamu tidak keberatan, maukah kamu ikut bersama kami?"
Adeline kemudian berjalan ke arah Rosaline, dan memegangi kedua kakinya. Adeline juga menampilkan wajah anak anjingnya. Tatapan matanya mengatakan, "Aku mohon ikutlah tante"
Rosaline tersenyum sambil mengelus perlahan rambut Adeline. Dia mengerti apa yang sedang dikatakan gadis kecil itu.
"Ada apa Ros?" Glenn tiba-tiba datang menghampiri setelah selesai dengan panggilan telfonnya. Glenn juga mendaratkan tangannya di pundak Rosaline.
"Tidak ada apa-apa. Kami hanya sedang mengobrol biasa saja. Mereka adalah kenalanku. Apa kamu sudah selesai dengan telfonnya?" Rosaline menengok ke arah Glenn yang berdiri dekat disampingnya.
"Yah, aku sudah selesai menelfon. Apa kamu sudah merindukankanku?" ucap Glenn dengan menyeringai jahil. Tangannya kini sudah berpindah untuk memeluk pundak Rosaline dari samping.
"Kamu itu jangan bermimpi pria tua" balas Rosaline dengan terkekeh geli mendengar ucapan Glenn yang terdengar centil.
Pandangan Glenn mengarah pada sosok gadis kecil yang sedang memegangi kaki Rosaline. "Gadis kecil ini siapa?"
"Ahh...namanya Adeline. Dia cucu dari tante Martha ini" Rosaline memperkenalkan kepada Glenn. Lalu dia menatap ke arah Adeline dan nyonya Martha secara bergantian. "Dan anak kecil laki-laki itu namanya Zeno, teman Adeline. Dua orang yang dibelakang itu pengasuh mereka" sambungnya menjelaskan pada Glenn.
"Dan ini adalah temanku, Glenn" Rosaline memperkenalkan Glenn sambil menatap ramah bergantian ke arah semuanya.
Glenn menundukkan sedikit kepalanya. Lalu menatap tersenyum ramah bergantian ke arah orang yang dikenalkan tadi. Dan mereka pun juga meresponnya sama seperti Glenn.
Tapi berbeda dengan Adeline. Dia menatap sinis dan tajam ke arah Glenn. Sudah bisa dipastikan kalau tatapan dan raut wajahnya saat ini bukanlah seperti si Adeline yang menggemaskan lagi. Dia melirik bergantian ke arah tangan Glenn yang sedang memeluk pundak Rosaline dan kemudian melirik ke arah wajah Glenn.
Glenn yang merasa ditatap tidak ramah oleh gadis kecil itu mulai merasa merinding. Pasalnya mereka baru saja bertemu. Tetapi gadis kecil di depannya ini seolah sedang menatap tajam musuh bebuyutannya.
Nyonya Martha yang melihat tingkah Adeline sekarang, sudah paham dengan maksud tatapan itu. Dia hanya bisa menghela nafas. "Sepertinya Adeline tidak suka jika ada pria lain yang mendekati tante penolongnya" - ucapnya dalam hati.
Zeno yang juga sudah tahu dengan sifat Adeline itu pun tak kalah terkejut melihat respon yang diberikan Adeline terhadap Glenn. "Om itu akan celaka jika tidak segera melepaskan tangannya dari pundak tante itu" - ucapnya dalam hati.
Suasana seketika berubah canggung karena kehadiran Glenn. Membuat Rosaline merasa tidak enak dengan yang lainnya. Apalagi Rosaline juga menyadari kalau gadis kecil yang sekarang sedang memegang kakinya itu tidak begitu nyaman dengan kehadiran Glenn. Dan dia tidak mau suasana ini berlarut lebih lama.
Kemudian Rosaline berlutut menghadap Adeline. "Baiklah. Tante setuju ikut jalan-jalan bersama Adeline" ucapnya sambil mencolek hidung gadis kecil itu.
Seketika itu juga Adeline memeluk leher Rosaline. Dia sangat senang karena bisa jalan-jalan bersama dengan tante penolongnya. Tak henti-hentinya dia mengumbar senyum cerianya itu.
Tapi kemudian senyuman itu sekejap menghilang ketika Adeline melirik lagi sekilas ke arah Glenn. Dalam lirikan tajam Adeline itu, sebenarnya dia mengatakan, "Cepat menyingkirlah dari sini. Tante ini milkku"
Glenn menelan ludahnya berat melihat tatapan gadis kecil yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Wajah menggemaskannya sangat tidak selaras dengan ekspresinya.
Apa aku sudah berbuat salah pada gadis kecil ini? Sepertinya dia ingin sekali menikamku - ucap Glenn dalam hati.
🐤🐤🐤
• Disisi lain, di waktu yang sama saat Rosaline sedang jalan-jalan bersama Adeline •
Di dalam sebuah ruangan kantor, seorang pria baru saja menerima notifikasi di ponselnya. Begitu melihat isinya, betapa itu mengejutkan si pria tersebut karena melihat notifikasi tagihan dari bank. Dia penasaran dengan apa yang terjadi pada orang yang dia berikan kartu itu. Orang yang diberikan kartu itu tidak pernah sekalipun menggunakannya. Tetapi sekalinya digunakan seperti sekarang ini, benar-benar mengejutkannya. Pria itu penasaran, untuk apa dia menggunakan kartunya.
🐥🐥🐥
.
.
EPILOG
- Setelah menyetujui untuk ikut jalan-jalan bersama Adeline, Rosaline ijin sebentar untuk bicara berdua dengan Glenn -
“Kak Glenn pulang saja duluan, tidak usah ikut dengan kami” ucap Rosaline.
“Yaa, tidak masalah. Tapi memang kenapa aku tidak boleh ikut?” jawab Glenn heran.
“Apa kakak tadi tidak lihat? Adeline sepertinya tidak begitu nyaman denganmu. Dan aku juga tidak mungkin kan untuk mengajakmu. Jadi lebih baik jika kamu pulang saja”
“Ahh benar juga, baiklah. Hmm ngomong-ngomong, ini aneh. Aku merasa tidak pernah bertemu dengan gadis kecil itu sebelumnya, tetapi kenapa tadi seolah dia ingin menikamku ya... Tatapannya benar-benar membuatku merinding” ucap Glenn dengan mengelus kedua lengannya.
Rosaline menghela nafas. “Mungkin di mata gadis kecil itu, kak Glenn terlihat seperti binatang buas....” Rosaline berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, "mungkin sejenis buaya"