ME vs OM OM

ME vs OM OM
Kambing Hitam



Setelah beberapa hari berlalu, Rosaline akhirnya bisa mengembalikan keadaan menjadi normal. Akibat insiden dirinya yang tidak mengabari ayah dan kakaknya, Rosaline harus berusaha keras agar kedua pria itu tidak mengungkitnya lagi.


Dia menghela nafas berat, memikirkan segala hal gila yang telah terjadi di hidupnya.


“Mungkin aku perlu menemui psikolog secepatnya. Aku pasti sudah mulai gila karena selalu memikirkan William belakangan ini. Kenapa aku tidak bisa mengeluarkannya dari kepalaku....” gumam lirih Rosaline.


“Hah, apa katamu?” tanya Angel.


“Ohh, tidak ada” jawab Rosaline dengan tersenyum canggung.


“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Cheryl.


“Sangat baik.”


“Aku lihat akhir-akhir ini kamu tampak sedang memikirkan sesuatu. Kalau ada hal yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa cerita dengan kami berdua” ucap Cheryl.


“Cheryl, I’m fine. Mungkin aku hanya kelelahan.”


“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar om Rayen?” dengan wajah centilnya, Angel menautkan kedua tangannya di dagu.


“Berhentilah menanyakan kakak Raline. Kamu itu hanya berani dibelakang, tapi saat bertemu langsung dengannya, kamu seperti tikus yang ketakutan” Cheryl meledek Angel.


“Aku hanya ingin memastikan keadaan om idolaku baik-baik saja. Lagi pula bukannya aku takut berhadapan dengannya, tapi aku terlalu gugup karena harus menatap wajahnya yang tampan. Lidahku seakan kelu tak mampu mengucapkan kata-kata.”


Jari telunjuk Rosaline menekan kening Angel agar menjauh darinya. “Aku tidak mau punya saudari ipar yang stres. Lagi pula kak Rayen tidak akan tertarik dengan gadis bar-bar sepertimu.”


“Sahabatku, kamu tidak boleh begitu. Sebagai sesama penggemar om-om kita harus saling mendukung. Benar, kan?”


“Apa aku datang ke apartemenmu hanya untuk mendengarkan ocehanmu? Tidakkah kamu sadar kalau kita harus segera menyelesaikan tugas kuliah kita?” sindir Cheryl dengan melirik jengah Angel.


“Oh ya ampun, maafkan pembantumu yang cantik ini nyonya” Angel menatap Cheryl dengan senyum dipaksakan. “Ini rumahku, tapi kenapa aku yang tertindas. Ck, dasar cerewet” cibir Angel lirih.


“Hei, aku masih bisa mendengar kau mengumpatku” ucap Cheryl.


Angel melanjutkan lagi pembicaraannya dengan Rosaline. “Tapi serius, tadi sebenarnya aku tidak sengaja mendengarmu menyebut nama William. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?”


Rosaline berusaha bersikap normal. Dia tidak mau menunjukkan reaksi yang dapat menimbulkan kecurigaan. “Tidak ada. Mungkin kamu salah dengar.”


“Ah, aku ingat. Ral, masa aku pernah memimpikanmu melakukan hal yang iya-iya dengan si daddy itu” ucap Angel dengan muka tanpa dosanya.


“Astaga, Angel!!!” teriak Cheryl.


“Ada apa nyonya besar? Biarkan aku menyelesaikan perkataanku dulu” Angel tidak gentar dengan teriakan Angel. Lalu dia kembali menatap Rosaline. “Kamu tahu bukan maksudku apa? Rasanya konyol sekali aku bisa memimpikan kalian berdua. Apa mungkin karena waktu itu aku pernah asal bicara, ya? Atau mungkin aku punya bakat bisa memprediksi masa depan? Raline, kamu dan William tidak pernah melakukannya, kan?”


Rosaline yang sedang minum, seketika tersedak mendengar perkataan vulgar Angel. Mana mungkin dirinya melakukan hal yang dituduhkan Angel. “Tentu saja tidak! Antara aku dan William sama sekali tidak ada hubungan khusus. Kami hanya berteman karena Adeline. Jadi hentikan pikiran anehmu itu.”


“Seandainya kalian memang melakukannya aku akan memaklumi. Toh kita sudah dewasa. Siapa juga yang bisa menolak hidangan selezat dan sepanas William. Pikiranmu saat sadar mungkin bisa menolaknya. Tapi saat sudah hilang kesadaran, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu. Terlena sedetik saja, hanya kau, William, dan Tuhan yang tahu adegan selanjutnya...” ucap Angel jahil lalu dia tertawa terpingkal-pingkal.


“Kau tahu Angel, rasanya aku ingin melemparmu dari balkon apartemenmu ini...” ucap Cheryl yang sudah tidak kuat dengan perilaku Angel.


Rosaline geleng-geleng kepala memikirkan betapa tidak masuk akalnya perkataan Angel. Tapi tunggu, sepertinya dia memang pernah mimpi aneh. Entah kenapa Rosaline tiba-tiba merasa kalau pernah bermimpi melakukan ‘aktivitas panas’ bersama William. Apa mungkin pikirannya mulai tercemar akibat mendengar ucapan Angel? Membayangkannya saja membuat Rosaline malu. Tak mau hanyut dalam kegilaan, Rosaline segera menghapus pikiran kotornya.


Masih belum puas menjahili Rosaline, sekelebat ide muncul di otak Angel. Dia ingin mengulik lebih jauh hubungan kedua manusia itu.


“Raline, kamu yakin kalau hanya sekedar berteman dengan William?” tanya Angel cepat.


“Ya, tentu” jawab Rosaline cepat.


“Semuanya karena Adeline?”


“Ya, benar”


“Apa kamu pernah menginap di rumahnya?”


“Ya, pernah”


“Apa kamu pernah di dalam kamar bersama ayahnya?”


“Ya, pernah”


“Apa kamu pernah mencium Adeline?”


“Ya, pernah”


“Apa ayahnya pernah menciummu?”


“Ya--”


Angel menyeringai setelah mendapat pengakuan dari Rosaline. Tanpa sadar Rosaline telah terjebak dan jatuh ke perangkap tanya jawab cepatnya.


Rosaline berpikir sejenak. Tampaknya ada yang ganjil dengan pertanyaan dan jawaban barusan. Setelah tersadar, Rosaline merutuki kecerobohannya. “Sial, lagi-lagi aku dibodohi dengan pertanyaan seputar William” gerutunya dalam hati.


Cheryl melongo dan mengerjapkan matanya berkali-kali. “Aa-apa kalian berdua...” ucapnya terbata-bata.


“Dengarkan penjelasanku” sahut Rosaline. “Ini tidak seperti yang kalian pikirkan.”


Rosaline menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Terpaksa dia harus mengaku. “Kami berdua tidak pernah melakukan sesuatu yang aneh-aneh. Ya, aku memang pernah menginap di rumahnya, tapi itu karena suatu alasan. Menginap disana pun aku tidur berdua dengan Adeline. Dan yah, William memang pernah menciumku. Tapi itu hanya di kening dan pipi saja.”


“Dan sampai sekarang kalian juga masih tetap berhubungan?” tanya Angel. Rosaline pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Angel melotot tak percaya dan mengatakan, “Begitu masih bilang hanya berteman? For goodness’ sake, apa kalian berdua buta? Kamu dan William saling menyukai! Jika tidak punya perasaan, William tidak mungkin menciummu, dan kamu pasti akan keberatan diperlakukan seperti itu olehnya. Berhentilah menggunakan Adeline sebagai alasan kedekatan kalian berdua.”


Rosaline terkekeh dan menjawab, “Kamu itu bicara apa, sih? Sudahlah jangan bercanda...”


“Tapi aku--“


“Cukup!” sahut Cheryl. Dia tidak mau meneruskan pembiraan yang bisa merusak suasana ketentraman mereka bertiga. “Berhenti berdebat. Sebaiknya sekarang kita fokus melanjutkan tugas kita. Jangan lagi membahas hal yang tidak penting, okay?”


Akhirnya ketiga orang itu pun melanjutkan kegiatannya. Namun di lain sisi, Rosaline masih tenggelam dalam pikirannya. Perkataan Angel benar-benar menggelitik hatinya untuk segera mencari tahu kebenaran perasaannya sendiri.


🐤🐤🐤


Orang-orang penasaran karena mendadak penjagaan di bandara diperketat.


“Ada apa ini?”


“Kabarnya tuan Rudy Heinanverero dan istrinya sedang berada di negara ini.”


“Akhirnya setelah sekian lama mereka pulang juga. Pasti sebentar lagi akan ada banyak pengusaha penjilat yang berusaha mendekatinya.”


“Tentu saja. Meskipun beliau sudah tidak menjabat di perusahaan, tapi jika tuan Rudy berkehendak, maka Heinan Group pasti akan menggelontorkan investasi besar-besaran.”


Tuan Rudy Heinanverero adalah pendiri dari Heinan Group dan sosok yang sangat disegani oleh semua kalangan pebisnis. Setelah lepas dari jabatannya, dia memutuskan untuk tinggal di luar negeri bersama istrinya dan menyerahkan bisnis kepada anak dan cucunya. Meskipun begitu, dia masih mempunyai kuasa untuk mengambil keputusan di Heinan Group.


🐤🐤🐤


• Di Orchard Residence •


Rosaline baru sampai di rumahnya menjelang malam. Dia bisa mendengar suara orang bercengkrama dari luar rumah. Dia berpikir mungkin sedang kedatangan tamu. Saat masuk ke dalam rumah, Rosaline melihat dua orang yang sangat dirindukannya sedang duduk santai bersama ayah dan kakaknya.


“Grandpa, grandma!” teriak Rosaline.


Melihat senyum cerah di wajah Rosaline, mereka berdua meleleh karena sudah lama sekali tidak bertemu dengan cucunya.


Rosaline memeluk keduanya dan mencium pipi mereka. “Aku sangat merindukan kalian berdua.”


“Oh my dear, grandma sangat merindukanmu.”


“Grandpa juga sangat merindukanmu, Rosy.”


Rosaline melepaskan pelukannya. “Kapan grandpa dan grandma datang? Kenapa tidak mengabariku?”


“Baru datang tadi siang. Kami sengaja ingin mengejutkanmu” ucap istri Tuan Rudy.


“Grandpa juga melarang kakak dan ayahmu untuk memberitahumu” ucap Tuan Rudy.


“Kalian berdua benar-benar tega. Tahu begitu aku akan pulang ke rumah lebih awal” ucap Rosaline cemburut.


“Rosy, lebih baik sekarang kamu ganti baju dan membersihkan diri. Setelah itu kita makan malam bersama” Tuan Rudy membelai lembut rambut cucunya.


Gadis itu hormat ke kakeknya dan menjawab, “Yes, sir!”


Saat Rosaline sudah masuk ke dalam kamarnya dan keadaan dirasa aman, keempat orang di ruang keluarga itu kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.


“Kamu yakin Rosy akan baik-baik saja disini?” tanya Tuan Rudy kepada Tuan Anthoni.


“Ya. Sebelum Ros kembali ke negara ini, aku sudah menyembunyikan semuanya dan memastikan aman” jawab Tuan Anthoni.


“Apa tidak sebaiknya dia tinggal di luar negeri saja? Mungkin tidak buruk juga kalau Rosy terus tinggal dengan Sandra. Setidaknya disana dia tidak akan menemukan berita apapun. Atau Rosy bisa tinggal dengan kami berdua” ucap istri Tuan Rudy.


“Mom, Ros adalah anakku. Cukup sekali aku hidup terpisah dengannya. Aku tidak akan biarkan dia lepas lagi dari jangkauanku. Ros sudah dewasa, kita tidak bisa terus mengekangnya. Jika kita terlalu ketat, dia akan curiga. Birkan saja dia menjalani apa yang dia inginkan. Lagi pula Rayen juga akan selalu menjaganya” ucap Tuan Anthoni.


“Apa dia pernah kambuh lagi?” tanya istri Tuan Rudy.


“Sejauh ini tidak.”


“Bagaimana dengan pria yang dekat dengan Rosy?” tanya Tuan Rudy.


“Mereka bertemu hanya saat urusan pekerjaan. Mungkin karena sama-sama sibuk, mereka berdua tidak bisa pergi jalan-jalan santai” ucap Rayen.


“Semoga tidak ada lagi hal buruk yang menimpa Rosy...” ucap istri Tuan Rudy.


🐤🐤🐤


Saat makan malam


“Apa kegiatanmu besok? Apa ada pekerjaan?” tanya Tuan Rudy kepada Rosaline.


“Tidak ada, grandpa. Aku hanya kuliah pagi, setelah itu bebas.”


“Bagaimana jika kita jalan-jalan? Sudah lama sekali kita tidak pergi bersama.”


“Kalian pergi berbelanja saja. Nanti Rosy bisa membeli beberapa pakaian baru.” usul istri Tuan Rudy.


Sejak kapan Rosaline butuh pakaian baru? Dia bahkan memiliki walk in closet penuh dengan pakaian dan barang bermerk yang sebagian besar belum sempat dikenakan. Jika dia butuh pakaian, maka yang dibutuhkan adalah pakaian model biasa yang bisa mendukung penyamarannya.


“Baiklah, aku setuju. Apa grandma tidak ikut?”


“Grandma mau istirahat di rumah. Lagi pula grandpamu pasti hanya ingin pergi berdua denganmu” ucap istri Tuan Rudy terkekeh.


Tiba-tiba pandangan Rayen teralihkan pada kalung berlian yang melingkar di leher adiknya. Sebuah kalung yang entah dari mana asalnya, karena jelas bukan dia ataupun ayahnya yang membelikan untuk Rosaline. “Baby, apa kamu baru membeli kalung?” tanyanya.


Rosaline gemetaran mendengar pertanyaan dari kakaknya. Bodohnya dia tidak menyembunyikan kalung itu di dalam bajunya. Dia juga tidak mungkin mengatakan bahwa kalungnya adalah pemberian dari William.


Dengan senyum palsu, Rosaline menjawab, “Ini dari kak Nexon. Dia memberikanku kalung sebagai hadiah karena mendapatkan kontrak ambassador.”


“Maafkan aku, kak Nexon. Lebih baik kamu yang menjadi kambing hitam karena kita juga sudah pernah digosipkan berkencan. Selain itu akan lebih mudah menjelaskan hubunganku dengan kak Nexon daripada menjelaskan hubungan rumitku dengan William...” ucap Rosaline dalam hati.


Seketika kedua singa jantan kembali meraung saat mendengar nama Nexon. Sekarang kedua singa itu bertambah satu kawanan lagi dengan datangnya Tuan Rudy. Sepertinya hidup Rosaline akan semakin susah karena ada tiga singa yang mengawasinya.


“Baby, kalau butuh sesuatu kamu bisa minta padaku. Aku pasti akan membelikanmu kalung yang lebih bagus dari itu. Bagaimana kalau besok aku membawamu ke toko perhiasan dan kamu bisa memilih sendiri yang kamu inginkan?” ucap Rayen.


“Tidak perlu repot-repot, kak. Aku menyukai kalung ini” ucap Rosaline tulus dan tersenyum.


Rayen menahan kesalnya karena kalah saing dengan bocah tengil yang sekarang dekat dengan adiknya.


“Sudahlah, jangan diributkan masalah sepele begini. Rayen, Rosy, lebih baik kita lanjut makan” istri Tuan Rudy menengahi kedua kakak beradik itu.


Dalam diamnya, Tuan Anthoni memandang serius putrinya. Dia bukanlah orang bodoh. Tuan Anthoni tahu kalau putrinya tidak hanya menyukai kalungnya, tetapi juga mungkin orang yang memberikannya. Namun dia tidak akan berkomentar dan hanya akan memantaunya dari jauh. Selama tidak terjadi hal buruk pada Rosaline, maka Tuan Anthoni akan membiarkannya.