ME vs OM OM

ME vs OM OM
Tidak Salah Menilai



Akhirnya Rosaline bisa bernafas lega setelah kabur dari Jeffrin. Betapa bodohnya Rosaline tak memperkirakan hal semacam ini akan terjadi, yaitu bertemu Jeffrin ketika dirinya harus menjadi ‘Ros’. Sialnya lagi Jeffrin juga berteman dengan Rayen. Tetapi tampaknya Rayen tidak terlalu suka jika Jeffrin mendekatinya. Andai kakak tersayangnya itu tahu bahwa ia sudah sangat terlambat. Karena kenyataannya, Jeffrin dan Rosaline sudah menjalin kedekatan sejak lama.


Kemudian Rosaline teringat sesuatu. Mengenai obrolannya bersama ayah dan kakaknya kala itu. Rosaline ingat betul ayahnya tidak begitu setuju dengan teman Rayen yang menjalin hubungan dengan gadis yang umurnya terpaut jauh dengan orang itu, begitupun dengan Rayen.


Sekarang Rosaline baru sadar, jika diingat lebih teliti, sepertinya pria yang dibicarakan ayah dan Rayen adalah Jeffrin. Jelas sudah, semua petunjuk mengarah pada Jeffrin. Entah apa yang akan terjadi pada Rosaline apabila keluarganya tahu bahwa gadis muda yang dekat dengan Jeffrin adalah dirinya.


Rosaline duduk lemas di kursi taman. Pikirannya kalut mengingat segala hal yang baru menimpanya. “Apa yang harus aku lakukan? Semuanya berubah jadi makin runyam. Bagaimana caraku menjelaskan pada Kak Rayen dan yang lain? Lalu bagaimana caraku menghadapi Jeffrin? Astaga, ini membuat kepalaku pusing...”


Setelah dirasa cukup lama berada di luar, Rosaline memutuskan untuk kembali. Namun baru beberapa langkah beranjak dari kursinya, Rosaline kehilangan keseimbangan karena tak sengaja tersandung batu dan membuat dirinya terjatuh. Sontak ia memekik kesakitan merasakan kakinya yang berdenyut nyeri.


🐤🐤🐤


Di sisi lain


Seorang pria sedang jalan-jalan di sekitar resort. Berada di keramaian acara membuatnya sesak, terlebih jika harus berlama-lama bersama saudara yang bermuka dua, membuatnya semakin muak saja.


Saat jalan ke arah taman, dia tak sengaja melihat seorang perempuan duduk melamun sendirian di kursi. Tak ada niatan sama sekali untuk mendekat. Dia lebih memilih arah lain agar menjauh dari perempuan itu.


Baru saja akan balik badan, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan. Sepertinya suara itu berasal dari perempuan yang duduk di taman. Sebenarnya dia bukan tipe pria yang mau merepotkan diri untuk berurusan dengan perempuan. Tetapi karena melihat keadaan sekitar yang sepi, dan demi rasa kemanusiaan, terpaksa dia menghampiri perempuan itu. Siapa tahu perempuan itu memang perlu bantuan.


🐤🐤🐤


“Kau ceroboh sekali, Ros. Sekarang bagaimana caranya aku bisa kembali, berdiri saja tidak kuat...” ucap Rosaline. Dia masih duduk di bawah, merasakan kakinya yang sakit. Rosaline melihat sekelilingnya sepi, tak ada yang bisa dimintai tolong. Apalagi area taman ini jauh dari keramaian, tepatnya dekat pantai. Mau teriak pun percuma, karena kalah dengan suara ombak. Celakanya lagi Rosaline juga lupa membawa ponsel.


“Siapapun tolong selamatkan aku...” ujar Rosaline penuh harap. “Apa hari ini adalah hari burukku? Tidak cukup dikejutkan dengan bertemu Jeffrin, sekarang aku harus terkapar sendirian di sini. Nice! Apa ada lagi yang lebih buruk dari ini?” Wajah Rosaline memelas bagai orang yang menanggung beban berat.


Lalu tiba-tiba Rosaline melihat sepasang sepatu di depannya. Mungkin hari ini tak seburuk yang ia kira. Nyatanya sekarang ada orang yang menolongnya. Rosaline kegirangan, perlahan ia mengangkat kepala, ingin tahu siapa pemilik sepatu itu. Namun sayang seribu sayang, Dewi Fortuna sepertinya memang tak memihaknya. Senyum di wajah Rosaline seketika luntur. Ternyata memang ada lagi hal yang lebih buruk. Rosaline benar-benar merasa dikutuk kesialan.


Rosaline terkesiap menatap pria yang berdiri di depannya. Jika Rosaline punya kekuatan supranatural yang bisa membaca kejadian yang akan datang, ia akan membuat opsi lain agar tidak bertatap muka dengan pria itu. Rosaline lebih memilih memaksakan diri kembali ke tempat acara meskipun harus menyeret tubuhnya, atau menggali lubang menggunakan heelsnya untuk menyembunyikan wajahnya, atau apapun asal dirinya terhindar dari pria itu.


“Tidak bisa berdiri?”


Rosaline seakan membisu, tak mampu mengeluarkan suara. Dia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


“Butuh bantuan?”


Rosaline menjawab pria itu dengan mengangguk.


“Jelas aku sangat butuh bantuan. Kalau bisa berdiri sendiri, aku tidak akan terkapar mengenaskan di sini. Dan jika aku masih punya sisa kekuatan, aku akan lari kabur dari hadapanmu sekarang juga, William! Bertemu denganmu hanya menambah daftar kesialanku hari ini” gerutu Rosaline dalam hati.


Pria itu berlutut. “Boleh aku liat?” ia meminta persetujuan sebelum menyentuh kaki Rosaline. Setelah mendapat persetujuan dengan anggukan kepala, ia langsung mengecek pergelangan kaki Rosaline.


“Kakimu tidak patah, hanya terkilir. Aku bisa bantu mengurangi rasa sakitnya. Apa kamu sanggup menahannya?”


Lagi-lagi dijawab Rosaline dengan menganggukan kepala.


Rosaline kian frustasi bila harus berlama-lama bersama William. Tidak hanya karena Rosaline merasa cemas jika William menyadari bahwa ia adalah ‘Raline’, tetapi juga karena berdekatan dengan William akan membahayakan kesehatan jantung Rosaline. Meskipun dari tadi William cuma menunjukkan wajah datar dan suara dinginnya, namun sudah membuat jantung Rosaline berdebar-debar.


William menatap lekat perempuan di depannya yang entah siapa namanya. Sangat cantik memang. Wajahnya mirip dengan seseorang yang dikenalnya, dan tiba-tiba William merasakan sesuatu yang aneh.


“Apa yang salah denganku? Mengapa mendadak jantungku berdebar saat melihatnya...” ucap William dalam hati.


Kemudian William membantu Rosaline berdiri untuk di dudukkan di kursi. Setelah Rosaline duduk, William kembali berlutut sambil memegang kaki Rosaline.


“Aku akan memutar balik pergelangan kakimu.”


Tanpa mau mengeluarkan sepatah katapun, Rosaline menyetujui dengan menganggukkan kepalanya. Sedari tadi Rosaline hanya menjawab dengan mengangguk. Masa bodoh, toh William juga tidak protes.


“Akan kumulai pada hitungan ketiga” William menjelaskan sambil menatap serius mata Rosaline. William bisa melihat pancaran rasa takut dari sorot matanya. “Satu, dua...” William bahkan tidak menyelesaikan hitungannya sesuai perjanjian namun sudah memulainya.


“Arrrgghhhhhhh!!!” teriak Rosaline sambil memukul bahu William berkali-kali. Rosaline menyalurkan seluruh rasa sakitnya ke bahu pria itu.


Rosaline meremas bahu William, menatapnya tajam penuh dendam. “Bukankah katamu sampai hitungan ketiga?!”


Alih-alih marah, William justru ingin tertawa melihat betapa lucunya tingkah perempuan itu yang seolah ingin menguliti William. Untung William masih bisa menahan tawa dan menutupi dengan wajah datarnya.


“Aku lupa” ucap William tanpa dosa.


“Apa kamu ingin menyiksaku?” ucap Rosaline.


“Tidak.”


“Ck, kenapa di dunia ini ada orang menyebalkan sepertimu...”


William hanya menyeringai. Dia sama sekali tidak tersinggung mendapat omelan.


“Apa begitu caramu berterima kasih?”


Seketika Rosaline jadi merasa bersalah. Tak seharusnya ia bersikap kekanakan hanya karena masalah sepele. Bagaimanapun William adalah pria yang telah menolongnya. Dan berkat William, kakinya kini terasa agak baikan.


“Maaf...” ucap Rosaline menyesal. “Terima kasih sudah menolongku” Rosaline tersenyum menatap William.


“Hmm” jawab William. Lalu ia berdiri, urusannya telah selesai. William hendak beranjak meninggalkan Rosaline.


“Apa urusanmu?” William memicingkan matanya.


“Aku hanya bertanya...”


“Dan aku tidak ada kewajiban menjawabnya.”


Demi apapun Rosaline ingin mengumpat karena sikap William yang kelewat cuek. Memang dasar pria kaku dan sialnya juga adalah pria yang telah memporak-porandakan hatinya. “Apa urat kepekaannya sudah terputus? Teganya dia mau meninggalkanku sendirian. Menyebalkan...” gerutu Rosaline dalam hati.


Rosaline menahan kekesalannya. “Baiklah, terserah. Maaf kalau aku mengganggumu.”


“Aku mau kembali ke tempat acara” entah angin apa yang membuat William berubah melunak. Ini sama sekali bukan William yang biasanya.


Rosaline tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak terlihat. Dia senang karena akhirnya William menghiraukannya.


“Acara?” Setahu Rosaline hari ini hanya ada satu acara di resort. “Maksudmu acara dari Heinan Group?”


“Hmm.”


Sakit di pergelangan kaki Rosaline memang sudah mendingan. Namun ia takut jika nanti tiba-tiba nyeri di kakinya kambuh dan membuatnya terjatuh lagi. Setelah menimbang-nimbang dan kebetulan tujuan mereka juga sama, Rosaline akhirnya berkata, “Emm...bisakah aku minta bantuanmu lagi?”


William mengangkat satu alisnya. “Hmm.”


“Bantu aku kembali tempat acara. Kakiku masih sedikit sakit, sepertinya tidak bisa kalau harus jalan ke sana sendiri. Maka dari itu aku butuh bantuanmu.”


“Kamu juga menghadiri acara itu?” tanya William. Rosaline meresponnya dengan mengangguk.


“Dan kamu bermaksud memintaku untuk memapahmu kembali ke sana?”


Rosaline menganggukkan kepala. “Mmm, benar.”


“Kamu tidak takut denganku?”


“Kenapa harus takut?”


“Kita ‘kan tidak saling kenal.”


“Aku tahu. Lantas kenapa?”


“Bagaimana kalau ternyata aku orang jahat yang mau macam-macam padamu?”


“Tapi aku yakin kamu adalah pria baik” balas Rosaline dengan senyuman tulus.


William menghela nafas. Mau-maunya dia direpotkan oleh perempuan yang baru ditemuinya beberapa menit lalu. Anehnya William juga tidak bisa menolak. Akhirnya William mendekat ke perempuan itu dan menyodorkan lengannya.


Rosaline meraih lengan William untuk dijadikan pegangan agar tidak jatuh. Rosaline tersenyum senang, ia memang tidak salah menilai William. Meskipun dari luar pria itu tampak cuek dan dingin, tetapi sesungguhnya William adalah pria baik dan berhati hangat.


Mereka berdua jalan pelan-pelan. William melihat Rosaline jalan terpincang-pincang. Tampak Rosaline menahan nyeri di kakinya dengan menggigit bibir bawahnya, dan pemandangan itu tak luput dari William.


“Masih sakit?”


Rosaline menoleh dan berkata, “Tidak terlalu.”


Jelas bahwa itu adalah jawaban bohong. William menggeramkan kesal, kenapa juga ia harus sepeduli ini dengannya. Tetapi hati William terasa tidak nyaman melihat perempuan itu kesakitan. William menghentikan langkah mereka sejenak.


“Jalanmu terlalu lambat. Aku lakukan ini supaya tidak memperparah cederamu. Jadi jangan salah sangka.”


“Huh? Maksudmu?” Rosaline mengernyitkan alisnya.


Masih bingung dengan perkataan William, tiba-tiba Rosaline merasa tubuhnya terangkat. Sontak Rosaline terkejut dan tangannya reflek dikalungkan ke leher William. Dia memelototi William yang seenaknya menggendong tanpa persetujuan.


“Aa-apa yang kamu lakukan?” ucap Rosaline terbata-bata. Rosaline panik bercampur gugup. Ini gila, jantungnya berdebar tak beraturan. Jika ada yang melihat adegan lovey-dovey antara dirinya dan William, orang-orang pasti akan berpikir yang tidak-tidak.


“Membantumu” jawab William santai dengan tatapan lurus ke depan memperhatikan jalan.


Ini namanya bukan membantu, tetapi mencari masalah baru. Apa William tidak tahu siapa yang sedang digendongnya sekarang?


“Ttu-tunggu. Apa kamu tahu siapa aku?” tanya Rosaline memastikan. Dia ingin tahu apakah William cukup waras untuk berani menggendongnya. Karena sekarang Rosaline tidak sedang menjadi ‘Raline’, melainkan ‘Ros’.


“Aku tidak mau tahu.”


Rosaline mendengus pasrah. Setidak peduli itukah William dengan perempuan yang sedang bersamanya sekarang? Sungguh Rosaline sangat mencemaskan pria itu. Jika ayah, kakek, atau Rayen memergoki Rosaline terang-terangan bersama pria, William akan terkena masalah. Ini sama artinya dengan melemparkan William ke arah tiga singa jantan yang overprotektif terhadapnya. Setengah mati Rosaline berusaha menyembunyikan hubungan mereka berdua agar tidak terendus oleh keluarganya. Tetapi sekarang justru William dan ia sendirilah yang mengungkapkannya.


“Hei, dengarkan aku. Turunkan aku sekarang, atau kamu akan terlibat---“


“Rosy!”


“Baby!”


Tubuh Rosaline menegang mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya. Karena terlalu lama berlarut dalam pikiran, Rosaline sampai tidak sadar kalau sekarang sudah sampai di depan pintu ballroom. Rosaline menelan ludahnya berat dan berkata dalam hati, “Terlambat....”