
"*Selamat melahirkan istri ku sayang, maaf aku tak bisa menemanimu saat engkau berjuang melahirkan anak kita,,dan aku percaya kau bisa melewatinya,
Oh. Ya walaupun aku tidak menemanimu saat melahirkan anak kita, aku sudah dudah dengar dan melihat buah hati kita, aku percaya kau melahirkan anak kembar, pantas saja saat kau hamil perutmu begitu besar seperti balon yang masuk dalam kedalam tubuh mu,
Kau tau aku, berkat jimin aku bisa melihat kedua buah hati kita, walaupun hanya lewat foto aku senang melihatnya, baby boy terlihat tampan seperti ku, dan baby girl sangat cantik sepertiku,
Perihal nama, sudah sudah ku sampaikan pada jimin, jinra kim nama untuk baby boy yang aku ambil dari singkatan nama kita, dan park jira juga, aku tau kau pasti bingung kenapa baby girl kita bermarga park, kau pasti berfikir kalau itu hanya akal akalan jimin, tolong jimin tidak tau apa apa jangan marahi dia,
Kau tau, aku bukan lah ayah biologis dari anak yang kau kandung, dan aku berniat membuat jimin merasakan mempunyai anaknya, ya walau bagaiaman pun mereka itu tetap anak jimin. Tapi aku tetap mencintai dan menyayangi anak itu seperti darah dagingku sendiri.
Dan maaf aku tak bisa membantu mu mengurus kedua buah hati kita, takdir secara sepihak memisahkan kita, dan sebagai gantinya aku mohon arra, menikahlah dengan jimin, kembali dengan dia, aku tau ini tak mungkin bagimu, tapi cobalah mengerti aku tak mau anak ku tidak merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Aku tak mau dia iri dengan anak yang lainnya, aku tak mau dia merasa kekurangan.
Aku mohon lupakan masalalu mu dengan dirinya, kembali lah, dan mulai hidup bahagia, akau yakin jimin sangat mencintaimu dan menyesali perbuatan nya.
Aku mohon, lakukanlah, jangan menunda nunda. Aku iklas menerimanya, kau adalah wanita yang terbaik untuk pasangannya, jadi kau pasti akan melakukannya kan?
Andai aku bisa bertahan melawan sakit ini, tapi yah mungkin ini sudah takdir, dan di waktu terakhir ku aku bergegas menulis surat untuk mu ini, oh yah, semoga kau menyukai hadiah yang ku berikan.
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, semoga kita bertemu di syurga nanti, jangan lupa bawa anak kita nanti,
Salam cinta
Kimsoekjin❤*"
________________
Arra menangis membaca surat itu, entah bagaimana ia mengungkapkan perasaanya, arra yakin dari 1000 lelaki hanya ada ada satu yang mempunyai sifat seperti jin, ia mampun menerima segelanya , memikir orang lain tanpa memikirkannya sendiri, bagaimana lagi ia bisa menemukan lelaki seperti jin, sebagai seorang istri arra belum seutuhnya menjadi istri yang terbaik untuk jin.
Jimin yang melihat arra berderai airmata pun menghampirinya, memeluknya lalu menepuk punggungnya, ia berharap kalau arra bisa tenang. Jimin mengerti dan tau pasti dalam surat yang di beri kan hyungnya untuk arra adalah hal yang menyedihkam dengan ucapan kata kata, sayangnya, mereka belum genap satu tahun mrnikah harus dipisahkan oleh maut.
"Nyonya. Apa kau baik baik saja" ucap eunha
Arra pun yang menyadari itu langsung menyeka air matanya, tak seharusnya ia berlarut larut dalam kesedihan
"Nee. Gwaenchanhaeo" ucap arra sembari melepas pelukan jimin dan berjalan ke sekeliling menatap ruangan
"Satu hal lagi nyonya, " ucap eunha sambil mengambil sesuatu dari tasnya
Arra merasa binggung menatap eunha. seolah bertanya "apa lagi?"
"Ini, Surat kepemilikan apartemen dan restoran, semua kekayaan tuan jin yang di tinggalkan sudah berpindah atas nama nyonya katanya untuk menunjang kehidupan anak anaknya , ia juga berpesan untuk menjual dua unit villa di busan dan hasil uangnya disumabangkan untuk badan amal pendidikan, " jelas eunha sambil.memberikan amplop coklat
Arra sendiri harus bingung bereaksi seperti apa, ia terharus sekaligus tak menyangkan. Dengan semua ini. Entah harus bagaimana ia mengucapkan terimakasih banyak pada jin. Sekarang
"Ini kunci rumahnya" ucap eunha memberikan kunci pada arra
Arra pun menerimanya, dengan senyuman walau tangis tak bisa di seka
"Kalau begitu urusan saya sudah selesai, saya permisi"
"Nee. Chamshahamnimda" balas arra
Setelah eunha berlalu, arra melarak lirik ruangan yaang ia pijaki, ia tak percay jin memberikannya sebagai hadian, dan tentunya sangat berlebihan.
Dan kini arra sadar kalau prasangka buruk yang ia torehkan di hati untuk eunha, adalah kesalahan besar jin , jin menjaga jarak untuk mengangkat panggilan bukan berarti jin mempunyai hubungan, hanya rekan bisnis yang Hendak memberikan kejutan.
____________
"tak ada yang tak mungkin yang di lakukan oleh jin"
Jimin membiarkan arra menatap seisi ruangan, ia pun melakukan hal yang sama, meliha lihat isi ruangan dengan dekor yang sudah tertata rapih dengan furniture kayu yang alami.
Jimin berfikir sendiri jika jin mampu memberikan segalanya untuk arra kenapa ia tidak??
Ya jimin akan melakukan apapun untuk arra, orang terkasihnya, dan demi amanat yang di berikan hyungnya. Tak peduli arra menolak atau tidak , menyukainya atau tidak yang jelas jimin akan berbuat sama.
__________
Malam telah tiba, jimin dan arra sudah kembali ke tempatnya masinga masing.
Jimin baru saja sampai di apartemennya,dan di dapati jihyun yang sedang menonton tv, ya jihyun sekarang yang menggantikan posisi jimin di perusahaan peninggalan appanya, itung itung jihyun sedang belajar, lagipun kemampuannya tidak di ragukan lagi, dan terlebih jihyun sedikit kurus, ia mirip jimin saat debut era no more dream
"Hyung, apa kau sangat sibuk huh?" tanya jihyun
"Eoh. Ani, aku hanya ada keperluan saja" balas jimin menaruh kunci mobil di meja dengan sembarang
"Eoh. Bagaimana keadaan arra noona?" ucap jihyun sambil memasukan cemilan je mulut nya
"Entah, sulit di jelaskan, antara baik dan tidak" ucap jimin yang juga ikut mengambil cemilan di tangan jihyun
"Eoh. Aku sangat Kasihan, kapan kapan aku akan menjenguknya, untuk menghiburnya" ucap jihyun
"H.mm. lakukan lah" balas jimin
"Aishh... Sudah sanah pergi mandi, bau keringat mu menusuk hidungku" ucap juhyun
Namun bukannya menjauh, jimin malah mendekati jihyun dan memeluknya,
"Sana pergi hyung" teriak jihyun
_____________
Di sisi lain
Arra, Selepas menyusui dua buah hatinya dan terlelap tidur ia berjalan menunu dapur, ia mengambi segelas air putih lalu menguknya,
Di dapati ajhuma in-gil yang baru masuk ke dapur untuk menyimpan gelas yang ia bawa dari kamarnya
"Ajhuma" ucap arra
Ajhuma in-gil menoleh dan berucap
"Nee?"
"Boleh aku minta pendapat?" tanya arra
"Tentu saja, barang kali saya bisa membantu?" balas ajhuma in-gil yang kini sedang mencuci gelas
"Aku mendapati surat dari jin sebelum ia pergi dan dia memintaku menikah jimin, dengan alasan dia tak mau anak ku tidak merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Dia tak mau anak ku iri dengan anak yang lainnya, dan dia tak mau anak merasa kekurangan. Aku harus bagaimana ajhuma" tanya arra
"Tuan jin memang belum pernah menjadi ayah, tapi ia sydah mampu menjadi ayah terbaik untuk anaknya, karna dengan begitu ia sangat memperhatikannya Walaupun ia tak mengurusnya, dan pendapat saya lebih baik, nyonya turuti saja keinginan mendiang tuan jin, lagipun itu juga demi kebaikan anak nyonya" ucap ajhuma in-gil
Arra terdiam, ia menelak nelak pendapat dari asinten rumah tangganya, mungkin ia harus mempertimbangkan lagi karna mengambil keputusan bukanlah hal yang kudah arra tak mau menyesal nantinya.
like, vote, and komen readers