
Lelaki paruh baya, itu meratapi pusara yang di huni anaknya. Ia menangis karna anaknya yang menjadi korban karna ulah nya sendiri,, sungguh dalam hati nya dia tak berniat untuk menghabisi anaknya. Hanya saja mungkin musibah sedang berpihak padanya.
Ia menggenggam tanah segar itu, mengusap batu nisan, dan memeluknya.
Hatinya sakit , karna putra semata wayangnya telah lebih dulu meninggalkannya, kim woo seok bukan berarti tidak peduli pada anaknya stelah mengatakan kalau jin bukann anaknya, justru dari situ ia mencoba menyari tahu keadaannya dengan menyewa orang suruhan. Niat memisahkan tapi berujung kematian.
"Maaf, sungguh appa minta maaf padamu, semua ini salah appa yang tak mengerti kamu, appa menyesal dengan semua ini, kalau saja apa tau itu, appa mungkin akan membiarkannya,, " ucap kim woo seok menangis
Kim woo seok benar benar menyesal, ia tak mengerti dengan anaknya itu, ia tak tau kalau memang anaknya benar benar mencintai wanita itu, dan bodohnya ia sendiri tak mengijinkannya, dan kini penyesalan hanyalah penyesalan yang tak ada gunanya.
___________________
"Bagaimana kondisi arra" tanya jimin khawatir
"Kondisinya belum stabil, ia harus di rawat terlebih dahulu" ucap sang dokter
"Eoh. Boleh saya menemuinya" tanya jimin
"Silahkan, kalau begitu saya permisi" balas sang dokter.
Jimin pun masuk ke dalam ruangan itu, lalu dilihat arra yang sedang terbaring lemah,
"Sudah ku katakan bukan, kau belum stabil" gumam jimin menatap arra
"Bagaimana bisa aku meninggalkan mu, sedangkan janjiku sudah terucap??" batin jimin
Ia mendekat lalu menggenggam tangannya.
Pintu ruangan pun terbuka, dilihat nyonya arru dan tuan kim datang
"Ada apa dengan arra" ucap nyonya Arru
"Keadaannya belum stabil mangkanya ia kelelahan. Dia hanya butuh istirahat" timpal jimin
"Gomawo jimin-ah" balas tuan kim
Jimin pun mengangguk,
"Kalau begitu saya permisi" lanjut jimin
"Kau mau kemana?" tanya tuan kim
"Aku mau pulang, kalian sudah datang" ucap jimin yang sebenarnya ia bohong , padahal ia hanya malu berada dengan mantan mertuanya
"Ah. Jimin-ah. Bisakah kamu menemani arra karna kami harus mengurus bayi arra" ucap nyonya arru
"Eoh. Begitu, baiklah" angguk jimin
Jimin terdiam mematung dan hanya Menatap belai kasih sayang di berikan orang tua pada anaknya, dan itu membuat jimin merindukan orang tuanya, sudah lama ia tak berkunjung tempat penyimpanan abu itu.
"Jimin-ah.." ucap ucap tuan kim
"Nee.??" tanya jimin
"Tolong jaga arra, kami akan mengurus semuanya" ucap tuan kim kembali
"Nee. Agesemnida" ucap jimin mengangguk
"Kalau begitu kami permisi, jika ada sesuatu hubungi kami" ucap nyonya arru
"Nee" ucap jimin kembali
Setelah keduanya pergi jimin kembali mendekati ranjang itu, dilihat ara sedang menutup mata dengan pulas, lelah membuatnya tak sadarkan diri. Frustasi mungkin itu yang terjadi pada arra.
"Cepatlah sembuh. Anakmu sudah menanti" gumam jimin
Siapa yang tau, setelah mengatakan itu arra sadarkan diri.
"Aku dimana" tanya arra
"Eoh. Kau sedang di rumah sakit, istirahatlah sejenak, kau terlalu lelah" ucap jimin
"Bagaimana anakku,??" tanya arra
"Mereka semua baik baik saja, eomma dan appa mu sedang mengurusnya" ucap jimin
Arra diam,
Arra masih tak percaya kalau jin suaminya itu sudah tiada, kini arra hanya akan hidup sendirian bersama anaknya. Sungguh jin sangat tak adil padanya. Bagaimana bisa ia meninggalkan dirinya, tanpa berpesan?
"Arra-ah..kau baik baik saja!?" tanya jimin dan itu membuat arra mengerjap
"Nee. Nan gwaenchanha" balas arra
"Kau bisa pulang, aku baik baik saja" ucap arra kemudian
"Tidak. Eomma dan appa mu menitipkan mu padaku, jadi mana bisa aku pergi?" balas jimin
"Aku bisa menangani dirimu sendiri, tenang saja" ucap arra
"Kau selalu bilang kau ingin sendiri, kau baik baik saja, padahal semua itu bohong, bukan" ucap jimin
"Apa urusan mu" tanya arra ketus
"Kau membenciku huh?" tanya jimin
"Tidak."
"Lalu?" tanya jimin
Arra diam
"Maaf jika aku lancang atas semuanya" ucap jimin
Namun tak mendapat balasan,
Pintu ruangan terbuka dilihat sang suster yang membawa nampan makanan,
"Permisi tuan, ini waktunya nyonya makan" ucap sang suster
"Bawa kemari" ucap jimin
Sang susterpun langsung memberikan makanan pada jimin,
"Gomawo," ucap jimin
Sang suster tersenyum
"Baiklah. Saya permisi"
Lalu mendapatkan anggukan dari jimin, dan sang suster itu pun langsung pergi
Bagaimana bisa ia makan dengan kondisi seperti ini.
"Arra?"
"Aku tidak mau makan," balas arra seketika
"Kenapa?" tanya jimin
"Aku tidak lapar" ucap arra lagi
"Bagaimana bisa, kau sendiri begitu kelelahan" ucap jimin, lalu tangannya pun menyendok satu suapan bubur di mangkook yang di pegang tangannya
"Ayo buka mulutnya?" ucap jimin
"Aku bilang tidak mau," balas arra ketus
"Tapi..kau harus makan.,"
"Sudah ku bilang,aku tidak lapar," ucap arra kesal
"Tapi tubuhmu butuh asupan," bujuk jimin
"Sudah ku bilang,aku tidak lapar,dan aku tidak mau makan, apa kau tuli?" ucap arra dengan nada tinggi kembali
"Ah. Mianhae, tapi aku peduli padamu, tapi ku rasa kepedulian ku tak berharga bagimu" ucap jimin
"Tapi ku harap kau memikirkan anak mu, jika kau tak makan bagaimana bisa kau memberi asi padanya?" tanya jimin kembali
Arra yang terdiam langsung termenung, ia berfikir kalau yang dikatakan jimin benar,anaknya butuh asupan makanan jika arra sendiri tidak makan apa yang akan di berikan pada anaknya?
Arra pun menatap jimin, yang memegang semangkuk bubur itu
"Berikan padaku" ucap arra
Jimin pun mendongak lalu tersenyum
Dan memberikan mangkoknya pada arra.
"Kau yakin bisa makan sendiri?" tanya jimin
"Apa susahnya hanya tinggal memegang sendok, mengambil sesuap bubur dan memasukannya kemulut?" ucap arra masih setia dengan nada keduanya
Jimin mengangguk percaya. Jimin melihat arra dengan tangan yang bergetar
"Ada apa?"
Baru, saja dua siapa tangan arra mulai bergetar, tak sanggup memegang sendok
"Ani. Nan gwaencahanha" balas arra
"Sungguh?" tanya jimin memastikan
Arra mengangguk lalu mencoba kembali menyiapkan makanan ke mulutnya sendiri.
Prrrrrrankkkkkkkk..
Seketika sendok itu pun jatuh, tanga arra bergetar lemas,
"Arra-ah. Gwaencanhaeo?" ucap jimin
"Ah. Mianhae, aku terlalu lemas" ucap arra
"Ah. Baiklah kalau begitu biar aku yang menyuapimu" ucap jiminn
Dan arra hanya pasrah, karna tak banyak yang bisa ia lakukan,
"Jimin-ah" ucap arra di sela sela makannya
"Nee!?" tanya jimin menatap
"Kau kan ada saat jin menghembuskan nafas?"
Jimin mengangguk
"Apa ada yang dikatakan jin pada mu? Atau tidak sebuah pesan untukku? " tanya arra
Jimin terdiam entah bagaimana ia bisa mengatakan apa yang dikatakan jin, jimin takut arra mengira kalau dirinya mengada ngada.
"Kenapa diam,?" tanya arra kembali
"Ah. Aku takut kau tak percaya apa yang aku katakan" ucap jimin
"Tidak. Katakan saja" ucap arra kembali
"Jin hyung menitipkan mu padaku, juga anakmu, " ucap jimin
"Lalu??" tanya arra
"Aku dipinta untuk bersama mu" ucap jimin
"Ouh." ucap arra seketika. Ia bersyukur kalau jin , suaminya itu tidak memintanya menikah dengan jimin kembali,
"Kau keberatan?" tanya jimin
"Ani, itu tak masalah bagiku, aku hanya ingin kau menjalankan amanat dari suamiku" ucap arra
"Eoh. Syukurlah" balas jimin
"Tapi, harus kau ingat,, kau harus tau batasan,, sekarang aku baik baik saja, kau silahkan pergi" ucap arra
"Loh" tanya jimin bingung
"Aku sudah bilang, aku baik baik , saja kau tak perlu menjaga ku" ucap arra kembali
"Aish.. Aku tak bisa begitu, orang tuan mu juga mengamanatkan pada ku" ucap jimin
"Haish, sudah ku katakan aku baik baik saja. Silahkan pergi" ucap arra dengan tegas.
"Arra-ah. Makanan belum habis" ucap jimin
"Haish , kau benar benar tuli rupanya, ku bilang silahkan pergi" ucap arra tinggi
Jimin pun diam. Seketika ia berkata
"Baiklah. Ku rasa kau butuh waktu sendiri,aku akan keluar"
**Hello, readers setia Me and Idol , author bingung ini mau tamat atau jangan, kalau jangan author mau buat cerita tentang arra sama jimin lagi, tolong pendapatnya,!!
jangan lupa vote, like, dan komen😊😊**