
"fassstt..er...jimin-ah" pekik arra
Seketika jin Terdiam, ia menghentikan aktivitasnya,
Arra membuka matanya kala jin terhenti beraktivitas.. Dalam hatinya ia beratanya tanya kenapa jin tidak melakukannya lagi?
Arra Menatap jin dengan kebingungan, setengah Sadar
"Apa kau bilang tadi?? Jimin?" tanya ulang jin
"Jimin?" pekik arra
"Ya...kau bilang faster- jimin-ah,jadi kau membayangkan aku kalau aku ini jimin mantan suamimu?"ucap jin
Arra gelagapan..mana mungkin ia berkata seperti itu
"Jin aku tidak berkata seperti itu"
"Aku tidak tuli arra , aku mendengarnya dengan kedua telinga ku" ucap jin sambil memakai pakaiannya
"Aa...aaku.."
Jin tersenyum miring, baru kali ini ia merasakan sakit hati , wanita yang di sayangi nya menyebut nama orang lain ketika bercinta dengannya..
"Ku rasa kau masih mencintai lelaki yang menyakiti mu dulu huh?" ucap jin menatap arra setelah selesai dengan pakaiannya
"Jin dengarkan ..aku..aku tak bermaksud" ucap arra meraih tangan jin yang berada di sisinya itu dengan sebelah tangan karna tangan yang satunya lagi sibuk memegangi selimut yang menutupi tubuhnya
Semua orang tahu usaha arra akan percuma. jin- Suaminya itu sudah terlalu kesal dengan ucapan arra yang secara spontan keluar.
Lagi arra berjalan ke hadapan jin dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut, dan berusaha menatap kedua matanya,
"Dengar, aku salah, mulutku mengatakannya secara tidak sadar-"
"Bibirmu yang tadi kau gunakan untuk menciumku ? Hah, aku tau kita hidup bersama baru satu bulan., tapi apa kau lupa dengan orang yang selalu ada dengan mu akhir akhir ini" ucap jin memalingkan wajahnya sembari tersenyum miris
Arra menghela napas dan merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia sadar akan kesalahannya. Ia sadar bahwa ia telah menyakiti suaminya. Tapi sungguh arra mengatakannya dengan refleks mungkin karna ia tau yang pertama kali menyetubuhinya adalah jimin , dan setelah sekian lama tak berhubungan jin melakukanya dengan pertama kalinya, membuat pikirannya buyar melayang Kemana mana sampai dimana ia mengingat hubungan tubuh bersama mantan suaminya.
Jin pergi dari hadapan arra mengambil handuk untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi, hal yang ia nikmati sudah sirna
"Jin-ah"
"Tidak perlu memanggil-manggil namaku, kalau kau saja tidak bisa mengingatnya dengan becus!" ucap jin
Arra menatap kepergian jin yang hilang di halangi pintu kamar mandi, arra terdiam hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali memakai pakaiannya namun mengganti pakaian dalamnya terlebih dahulu.
Arra yang tertungkul terkesiap mendengar suara pintu terbuka
Ketika jin sudah selesai dengan mandinya sudah rapih dengan kaos hitam juga celana pendek selutut, dan hendak melangkah ke pintu depan, arra kembali menghalangi jalannya dan memeluk tubuh jin
"tolong jangan pergi, kita bicarakan ini baik-baik, jangan seperti ini "
Jin sudah terlanjur kesal dengan ucapan arra , ia pun melepas paksa pelukan arra dan berkata
Arra terdiam, di merasakan kalau suaminya ini sedang dalam fase marah besar, entah apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini
"Minggir, aku mau keluar" ucap jin datar
"Tidak..aku ingin bicara dengan mu" bantah arra menatap jin , tetap dalam posisinya
"Awas...arra, tak ingin beradu mulut dengan mu" gusar Jin
"Kalau begitu, selesaikan sekarang, aku tak ingin seperti ini" ucap ini
Jin menghela nafas rasanya ia tak bisa jika berbicara dengan pikiran tenang saat kalut seperti ini
"Tidak... Jangan sekarang" ucap jin
"Tidak aku ingin sekarang" ucap arra paksa sambil memegang tangan suaminya
Jin melepas paksa gengamana tangan arra
"Tidak..ku bilang kau awas..jangan halangi langkahku" ucap jin semakin kesal
"Tidak...aku tidak akan minggir sebelum kau berbicara serius denganku" tegas arra
Jin menarik nafas , membuang wajah dari hadapan arra
"Awas arra"
Suara nada tinggi Seokjin membuat arra kehilangan kata-kata.
Sontak arra langsung tertungkul, lalu perlahan menggeser badannya dari pintu.
Sedangakan jin langsung pergi begitu saja
Arra terkejut, sangat terkejut dengan bentakan yang jin lakukan, selama ini jin tak pernah mengeluarkan emosinya sebesar ini, yang ada sebaliknya, memang rupa seseorang itu tak menampik dengan kepribadiannya.
Arra menatap kepergian jin yang menyusuri anak tangga., tak lama pintu tertutup kembali dengan sendirinya
Seketika air mata arra mengalir, ia melemaskan kakinya lalu terduduk pinggir pintu kamar yang tertutup itu.
Tak bisa di pungkiri kalau ia menangis
Baru kali ini rasanya ia sakit hati karna bentakan, ia tak pernah menduga jika semuanya akan seperti ini akhirnya..awal yang ia kira indah kini buruk seketika.
***hi readers..makasih udah baca.sampai sejauh ini ..kasih kritik dan saran, biar karya ku lebih baik lagi..jngan sungkan.,jika ada yng tidak di mengerti silahkan berkomentar dan sisipkan bagian nya..insyallah author benerin ..
MAAF KALAU ADA TYPO YAH...MOHON MAKLUM... AUTHOR SEKALI LAGI MINTA DOANYA BUAT KESEMBUHAN KAKEK AUTHOR.. dan maaf juga jarang up..terus kalau up up nya satu chapter , authornya lagi banyak tugas seoklah.. sekali lagi maaf
JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK , LIKENYA JUGA...JANGAN LUPA KASIH SEMANGAT BUAT AUTHOR tetep stan yah sama me and idol
I PURPLE U***