
pasca kejadian naas yang menyebabkan jin meninggal, arra kini tinggal di apartemen peninggalan jin, eomma dan appa nya sudah pergi kembali ke indonesia, karna pekerjaannya masih banyak, arra tidak sendiri, untungnya ajhuma in-gil masih tetap dengannya.
Dan kini ia hanya sibuk mengurusi bayi kembar mereka, entah sampai saat kini ia belum memberi nama untuk sang anak.
Arra bingung mencari nama yang bagus untuk anaknya, dan nama yang dulu ia ucapkan saat dengan jin ia sudah lupa, karna pikirannya terus teriang kejadian itu.
arra sedang membedaki bayi lelakinya karna usai mandi, dan memakaikan pakaian yang dulu ia beli dengan jin, syukurnya pakaian yang ia beli dulu berguna.
Selesai dengan baby boy, arra kini memangku baby girl, cantik bagaikan jin versi wanita, hanya saja jika di pikir pikir dan perhatikan keduanya anaknya sedikit mirip jimin, terlihat di matanya yang kecil, namun seperti siapapun, arra sangat bersyukur karna ia bisa melahirkan kedua anaknya, setidaknya ia tidak merasa terlalu sedih.
Arra mengusap bayi itu dengan sedikit air di tangannya, syukurnya arra bisa melakukannya berkat sang ibu yang mengajarkan nya sebelum kembali ke indonesia.
Arra mencoba tersenyum sambil mengajak bicara buah hatinya itu, dengan memanggil "sayang"
Namun ketukan pintu menyadarkan nya, membuat ia harus berhenti berucap dengan si bayi.
"Masuk" ucap arra
"Permisi nyonya, ada tuan jimin di bawah" ucap ajhuma in-gil yang membuka pintu kamarnya
"Biarkan dia masuk" balas arra masih sibuk dengan baby girl nya itu tanpa menghiraukan ajhuma in-gil
"Nee. Agesemnida" angguk ajhuna in-gil
___________
Jimin terduduk sambil melarak lirik ruangan yang di tempati arra, ia menunggu sang asisten rumah tangga ini untuk memberi kabar jika ia ingin menemui pemilik rumahnya, ia menunggu dengan mendudukkan bolongnya di ruangan itu,
Tak lama sang asisten pun dan yang menyapanya..
"Tuan. Nyonya ada di kamar nya" ucap nya
"Nee. Gomawo" ucap jimin lalu berduri dari duduknya dan membawa kembali parsel buah yang ia taruh di meja tadi
Jimin berjalan menyusuri anak tangga, kediaman dari hyungnya sangatlah megah, banyak dekorasi yang absurd tapi menambah keindahan ruangan ini.
Sampai di depan kamar Arra jimin mengetuk pintunya. Di dapati sahutan yang menit ah nya masuk, jimin pun membuka pintunya dilihat ara sedang memandikan buah hatinya.
"Arra-ah. Apa aku mengganggu mu?" tanya jimin
"Ada apa? Kau perlu sesuatu, atau tidak kau mau menanyakan kabarku?" ucap Arra tanpa melirik jimin sekilas pun
"Sudahlah jimin, aku bisa hidup sendiri tanpa jagaan mu, anggap saja permintaan yang jin ucapkan dulu sudah di lakukan" lanjut Arra
Jimin terdiam. Seakan Arra terganggu dengan kehadirannya, namun jimin mencoba tersenyum ia berjalan menghampiri bayi yang sudah dimandikan ibunya itu. Namun sebelumnya ia meletakan parsel yang ia bawa di meja ruangan itu.
"Ah.. Aku paham perasaan mu arra, tapi aku tak berniat mengganggu mu, aku hanya ingin melakukan amanat dari hyungku, aku tak bisa mengabaikannya walaupun kau yang memintanya" balas jin
Arra menghembuskan nafasnya. Ia tau jimin sangatlah keras kepala, dan mau tak mau ia hanya diam
"Oh ya.. Kau sudah beri nama anak ini?"
Tanya jimin kembali
"Belum?" balas Arra singkat
"Kenapa?? Dia lahir sudah satu minggu tapi kau belum memberikan nama untuk nya?" ucap jimin
"Lalu apa urusannya dengan mu?" tanya Arra kembali yang kini selesai memandikan baby girl nya
"Ah. Ani. Aku hanya ingin menyampaikan amanat dari jin hyung?" ucap jimin
"Apalagi??, jangan bilang aku di suruh kembali menikah lagi dengan mu" ucap arra
Jimin terdiam. Arra begitu dingin padanya. Itu membuat jimin semakin menciut nyali nya untuk mengatakan detail apa yang diucapakan hyungnya sebelum tiada.
"Ani. Ini pasal anak. "
"Lalu?" tanya arra yang masih sibuk dengan bayinya itu tanpa melirik jimin sekalipun
"Jin hyung memberi tahu nama anak nya padaku" ucap jimin
"Benarkah.?" ucap Arra seketika melirik jimin dengan tatapan senang mendengar hal itu, entah kenapa Arra menyukai hal tersebut
Jimin mengangguk.
"Apa?" tanya Arra usai membenahi anaknya , ia menatap jimin meminta jawabannya.
"Jinra kim untuk baby boy," balas jimin
Ia suling menyebut nama anak perempuannya , ia takut kalau Arra akan berfikir kalau itu hanya akal akalan dirinya.
"Jinra kim, Nama yang bagus, aku akan memanggilnya jin sama seperti ayahnya" gumam Arra
Seketika hti jimin tersayat mendengar ucapan Arra, yang jelas padahal ayahnya adalah dirinya sendiri
"Lalu, untuk baby girl?" tanya arra kembali
Jimin terdiam
"Kenapa? Ada masalah" tanya Arra yang melihat mantan suaminya itu kebingungan.
"Ah..ani.. Mmm" _jimin makin bingung ketika bagaimana caranya ia harus berkata pada Arra
"Lalu,?? Ayo katakan aku tak sabar mendengar namanya, jin memang pandai mencari nama" ucap Arra
"Nama untuk baby girl itu...." potong jimin ia menghela nafas sebelum menyebutkannya
Sedangkan Arra menatap jimin, menunggu jawabannya
"Park Jira" ucap jimin seketika
Arra mengerutkan keningnya, ia berharap salah mendengar apa yang di ucapkan jimin barusan
"PARK jira?" tanya ulang Arra
Jimin mengangguk
"Iya, park jira"
"Apa hubungannya dengan marga mu huh?, kau hanya mengakalinya saja bukan?" tanya Arra
Secepatnya jimin menggelengkan kepala, ia membantah apa yang di ucapakan Arra,
"Ani. Ani"
"Lalu kenapa namanya park jira?, bagaimana bisa? Kalau bukan akal amalan mu jelaskan padaku" ucap Arra
Sungguh jimin kini tambah pusing, kalian tau bukan pesan terakhir jin hyung yang mengatakan " kalau jimin sendiri akan menjadi pengganti ayahnya,"
"Ayo jawab" pinta Arra
Tuk tuk tukkkk
Suara ketukan pintu Mengalihkan pandangan, dan pikiran jimin, ketika ingin membuka suara, ia melirik nya ke arah pintu
Bersamaan dengan itu Arra menghela nafas, gusar dengan apa yang terjadi, ia memilih menghampiri pintunya lalu membukanya, di dapati ajhuma in-gil di balik pintu itu.
"Permisi nyonya, maaf Mengagangu" ucap ajhuma in-gil
"nee. Gwaechanha, waenaeo?" tanya Arra (ya, tak apa, kenapa?)
"Ada tamu wanita yang ingin bertemu dengan nyonya" ucap ajhuma in-gil
"Siapa?" tanya Arra
"Molla" ucap ajhuma in-gil ( tidak tahu)
"Eoh. Baiklah, suruh menunggu di ruang tamu, aku akan segera kesana" ucap arta
"Nee nyonya" ucap ajhuma in-gil
Lalu setelah itu ia pergi meninggalkan arra, dan menyampaikan pada sang tamu
Arra kembali menghampiri anaknya, ia menggendong baby boy lalu hendak meletakannya di tempat tidur bayi,sedangkan baby girl ia gendong untuk di bawa ke lanatai bawah. tak mungkin bukan arra menggendong anaknya bersamaan
Jimin yang melihatnya pun tak enak, masa iya , jimin harus berdiam diri saja,
"Sudah jinra biar aku saja yang menggendongnya" ucap jimin
Arra menatap jimin dengan tajam
"Urusan kita belum selesai, kau berhutang penjelasan padaku" ucap arra
Jimin mengangguk.
__________
Beberapa menit kemudian Arra dan jimin sampai di ruang tamu, di dapati seorang perempuan berpakaian rapi dengan dengan rasa dan dokumen di tangannya, entah dokumen apa.
Ketika Arra menghampiri nya , perempuan itu pun berdiri dan membungkan badannya lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya
"Annyoengaseo,"
"Annyoeng" balas Arra yang juga menerima uluran tangan wanita itu
"Saya park eunha, dari sebagai distributor penjualan rumah dan villa" ucap wanita itu
Arra terdiam, dia tau nama itu "eunha"
Wanita yang dulu ada disaat pertengkaran mereka terjadi, terlebih sebelum kematian jin pun jin sempat menerima panggilangan wanita ini.
"Oh. Ya. Silahkan duduk" ucap Arra
Eunha pun mengangguk,lalu menjatuhkan bolongnya disofa, bersamaan dengan itu Arra dan jimin pun melakukan hal yang sama
"Ada perlu apa " tanya Arra sopan, tak di pungkiri Arra tak enak berhadapan dengan wanita ini
"Begini, saya kemari menyampaikan amanat dari tuan kim soek jin, yang belum tersampaikan" ucap eunha
"Eoh. Begitu, ada apa?" tanya Arra lagi , sedangkan jimin hanya diam menyimak
"Eoh. Sebelumnya , saya ingin mengajak nyonya arra kesuatau tempat, apakah bisa" tanya eunha
Arra melirik jimin, seakan meminta pendapat bagaimana setuju atau Tidak?, dan jimin yang mengerti itupun mengangguk
"Baiklah.." ucap Arra
Lalu mereka bertiga pun pergi, namun sebelumnya jira dan jinra di titipka. Terlebih dahulu pada ajhuma in-gil karna keduanya tertidur.
___________
Eunha menuntun jalan dengan mobilnya, sedangkan Arra bersama jimin di dalam mobil yang sama
"Sebenarnya ada apa?" ucap Arra bingung
Jimin melirik sebentar kearah Arra
"Entah. Kita ikuti saja dia"
"Kau tau kan eunha adalah wanita yang dulu dekat dengan jin, aku takut terjadi sesuatu terlebih saat itu pembicaraannya dengan jin sangat dekat sampai jin menjauh ketika mengangkat panggilan nya" ucap arra
"Sudahlah. Tenang, Jangan berfikir negatif dulu, tarik nafas lalu buang" balas jin
Arra pun melakukan perintah yang di minta jimin, ia menghela nafas nya dengan perlahan. Mencoba berfikir positif.
Seperti yang di katakan jimin
Satu jam berlaku kini arra dan jimin tiba di perumahan elit, yang berlokasi di pinggir pantai. Jimin dan arra turun dari mobilnya mengikuti eunha masuk apa ke salah satu rumah berlantaikan dua.
"Ayo masuk" ucap eunha
Eunha tersenyum kala arra dan jimin masuk kedalam,
"Rumah siapa ini ?" tanya arra
Lagi lagi eunha tersenyum ia tak mau berbasa basi menyampaikan amanat dari jin rekannya
"Nyonya. Ini rumah sebagai hadiah dari tuan kim soek jin, atas kelahiran anak kalian" ucap eunha
Arra terkejut bukan main, ia menutup bibirnya yang tak sengaja menbentuk huruf "O" dengan mata yang terbelalak, sedangkan jimin bersikap seperti biasa karna tak ada yang tak mungkin yang di lakukan mendiang hyung
"Kau bohong bukan"
Eunha segera menggelengkan kepalanya, ia menepis pernyataan yang di berikan arra
"Ani, ini benar rumah untuk mu, dan lagi jin menitipkan surat kepadamu" ucap eunha sambil memberikan amplop putih kepada arra
Arra pun menerimanya ia pelahan membukannya, dan membacanya sedikitdemi sedikit. Sampai tak Kuasa air matanya pun mampu lolos.
"**hello readers maaf membuat kalian menunggu, sampai akhirnya baru up sekarang, author minta maaf yang sebesar besar nya, karna bingung mau ngelanjutin bagaimana, takut kepanjangan nanti malah bosen sama ceritanya, jadi author mutusin tinggal beberapa halaman untuk tamat, dan insyaallah mau buat cerita, jangan lupa mampir, terimakasih.
jangan lupa vote, like, dan komen"
I purple U 💜**