
"Tolong berikan ini nanti, untuk arra" ucap jin
"Ah. Nee.." angguk wanita itu, ia tak berani bertanya "apa ini" ia hanya menurutinya
"Terimakasih sudah datang, senang mengenalmu" ucap jin
"Nee. Semoga kau cepat membaik."balas si wanita
Jin tersenyum
"Baiklah, aku harus pergi, banyak yang harus ku urus, cepat sembuh" ucap wanita itu.
"Nee." balas jin
"Fithing" ucap wanita itu lagi lalu pergi
πππππ
Jimin mencari sang suster untuk meminta ijin agar bayi kembar itu bisa masuk kedalam ruangan UGD untuk di lihat sang ayah. Namun jimin tak mendapatkan izin, dengan alasan tertentu.
Sampai akhirnya jimin memutuskan untuk memfoto saja kedua bayi itu dan ditujukan pada sayang ayah.
Ya jimin berjalan menuju ruangan persalainan arra. Dilihat arra sedang tertidur, dan jimin bersyukur karna itu setidaknya ia tak usah memberitahu bagaimana keadaan jin, karna takut kondisinya dawn, karna ibu yang baru saja melahirkan hormonnya belum stabil.
Jimin berjalan perlahan mendekati box bayi itu, ia pun memfoto satu persatu bayinya, lalu pergi begitu saja.
3 menit jimin sudah kembali di ruangan jin di lihat jin sedang diam menatap langit langit ruangan itu
"Hyung, mianhae, aku tidak bisa membawa bayinya kemari, dokter tidak mengijinkannya" jelas jimin
"Eoh.. Begitu" ucap jin seketika raut wajahnya berubah menjadi sedih
"Tapi hyung, aku sudah memfoto bayinya. Lihat ini" ucap jimin memberikan handphonenya dan menunjukan beberapa slide foto
Jin tersenyum melihat anak itu.
"Mirip dengan mu bukan, dia tampan dan cantik" ucap jimin lagi
Jin tersenyum
"Jimin-ah.. " gumam jin
"Nee?" tanya jimin
"Bisakah kau menolongku?" tanya jin
"Kenapa hyung, katakan saja" ucap
"Bisakah kau menjaga arra untukku" ucap jin
"Apa maksudmu?, kau kan ada?" tanya jimin bingung
Jimin tersenyum lebar, ia tertawa kecil
"Aku hanya bercanda, tolong raut wajah mu biasa saja"
"Aish. Hyungg" geram jimin
"Aku hanya takut jika arra sendiri,tetaplah bersama nya"_Jin
"Apa yang kau pikirkan, jelas arra punya dirimu" ucap jimin heran
"Tentu, dia milikku, tapi siapa yang atau takdir berkata lain" ucap jin
Jin meringis, dadanya semakin sakit
"Ku mohon, bisakah kau kembali dengannya, jangan buat dia bersedih lagi" ucap jin
Sungguh jimin tak mengerti apa maksud jin, tapi ia tau apa tandanya jin mengatakan itu
"Hyung apa yang kau katakan, kau pasti sembuh, kau pasti bisa bersama arra kembali, lihat anakmu sudah lahir" ucap jimin
Lagi lagi jin tertawa, karna melihat ekspresi jimin yang takut
"Aish.. Kau terlalu serius rupanya, aku baik baik saja,aku hanya bercanda"
"Aish.. Hyung tolong jangan bergurau saat kondisi mu seperti ini" ucap jimin gusar
"Tolong , turuti keinginanku, jika kau mau aku pasti akan tenang" ucap jin
"Hyung..." gumam jimin seketika ia meneteskan air mata nya
"Berjanjilah padaku, kau tak akan menyakitinya lagi" ucap jin memegang tangan jimin
Jin pun perlahan menutup matanya,
Jimin yang melihat itu pun dengan segera menggoncangkan badannya, memastikan jin
"Hyung. Buka matamu, kau tidak matikan" ucap jimin
"Hyung.. Bangun" ucap jimin sembari menangis
"Hyung....ayo bangun, buka matamu"
"Hyungg...."._jimin masih dalam tangisan
Seketika terdengar suara kikikan, jimin yang pun mendingan kearah jin dan menatap wahjahnya, dilihat jin mengulum senyuman menahan tawa,
"Kenapa kau menangis, kau terharu yah, padahal aku hanya berkata bohong, mana mungkin aku memberikan arra padamu,"ucap jin sambil tertawa
Jimin diam tersenyum, sungguh ia tak habis pikir dengan hyungnya
"Tolong katakan pada arra.. Nama anak lelakinya jinra kim dan perempuannya park jira," ucap jin
"Kenapa menggunakan margaku?" tanya jimin bingung
"Kau akan menjadi ayahnya nanti" ucap jin seketika
Jimin gelagapan, entah ia harus berkata apa pada hyungnya ini. Tak lama pun tubuh jin melemas perlahan ia menutup matanya.
Sakit di dadanya yang ia tahan sendiri tadi akhirnya hilang bersamaan dengan nafas yang ada pada dirinya.
Jimin yang menyadari itu pun menangis kembali
"Hyung, buka matamu, kau masih hidupkan" teriak jimin
Namun tak ada balasan dari jarang yang di panggil
"Hyung.. Kau jangan berbohong, kau jangan bercanda, ini tidak lucu" ucap jimin
"Ayolah bangun" ucap jimin menangis se jadi jadinya
"Dokter... " teriak jimin sekencang kencangnya
Jimin pun menekan bell yang terhubung dengan ruangan dokter,
"Hyung . ayo bangun. Buka matamu.." uca jimin dengan tangisan
"Hyung...."
Seketika pintu pun terbuka sang dokter bersama dengan suster segera memeriksa peralatan dan kondisi dari pasiennya.
Dengan raut wajah sedih terpaksa sang dokter harus berkata
"Maaf, tuan jin sudah tiada, kami turut berduka cita"
Badan yang sendiri tadi menangis kini ambruk tak kuasa mendengar ucapan dari pria berpakaian serba putih itu
"Hyung..." jerit jimin sambil memeluk badan yang terbaring kaku itu.
"Kenapa kau secepat itu pergi, anak mu baru lahir, arra sedang terbaring menunggu mu, kenapa kau tidak bertahan??" rancau jimin
Seketika sang jenazah pun langsung di bawa untuk di bersihkan,
Jimin berjalan tertatih menuju ruangan arra. tangis tiada henti, ia merasa bersalah tek bisa menyelamatkan keduanya, "mungkin ini semua tidak akan terjadi jika aku cekatan" pikir jimin
π£π£π£π£π£π£
Dari tidurnya arra terbangun,keringat membasahi dahinya, pikirannya
Tidak tenang, bagaimana tidak ia baru saja bermimpi kalau jin meninggalkannya, dan arra tak mau itu. Seketika ia termenung berharap mimpi itu hanyalah bunga tidur.
Pintu terbuka, membuat arra tersadar dilihat Jimin yang masuk keruangannya dengan derai air mata. Arra yang melihatnya pun bingung, "ada apa dengan jimin" batin arra
Jimin berjalan tertatih menuju ruangan arra. tangis tiada henti, ia merasa bersalah tek bisa menyelamatkan keduanya, "mungkin ini semua tidak akan terjadi jika aku cekatan" pikir jimin
"Waenaeo?" tanya arra
Namun jimin tetap tertungkul.
"Ada apa jimin-ah. Bagaimana dengan suamiku?" tanya arra kembali
Jimin pun menatap arra dengan nanar
"Mianhae..." ucap jimin seketika
"Ada apa? Katakan padaku" timpal arra
"Jin hyung sudah tiada" ucap jimin setelah menghela nafas.
Arra tak percaya dengan apa yang ia dengar, bibir membentuk huruf O, namun tak tau harus berkata apa.
"Kau bercanda kan jimin, kau Berbohong kan?" tanya arra yang memang berharap apa yang di katakan jimin adalah bohong
Jimin menggelengkan kepalanya,
"Ini benar, aku tak berbohong, jin hyung sudah meninggalkan kita semua"
Seketika arra pun bangun dari ranjangnya ia tertatih berjalan menuju ruangan jin, ia ingin berlari sekencang mungkin namun kakinya tak cukup trnanga untuk melangkah sampai akhirnya ia terjatuh.
"Aku mohon kata kapan padaku ini semua bohong kan?" teriak arra merunduk dengan tangisan
Jimin mendekat, lalu memeluknya
"Sadarlah arra. Mungkin ini yang terbaik untuk jin hyung, tuhan lebih sayang padanya"
Arra tetap menangis. Mimpinya benar benar menjadi kenyataan, bahkan jin suaminya itu meninggalkan untuk selama lama nya.
"Tuhan Kenapa kau ambil orang yang ku sayang," ucap arra
Jimin tak kuasa melihatnya, sungguh ia tak sanggup melihat arra menangis seperti ini, walau bukan dirinya yang ia tangisi.
Satu jam berlalu, arra dan jimin kini berada pada ruang penghormatan di aula rumah sakit yang menjadi tempat persalinannya.
Arra terduduk di kursi roda dengan baju khas pemakaman berwarna Hitam,, di dampingi jimin yang yang juga memakai pakaian khas berwarna hitam.
Arra tak hentinya menangis, namun sesekali ia mengusap air matanya ketika satu persatu. Satu persatu tamu dengan memberikan penghormatan dengan mengucapkan bela sungkawa.
"Arra-ah"
Ucapan itu membuat arra melirik kearahnya, dilihat taehyung berserta istrinya, begitupun dengan namjoon.
"Kami turut berduka cita" ucap irene yang di lihat tengah hamil
"Gomawo,"balas arra seketika ia menangis di pelukan irene.
Memang keduanya tidak dekat, tapi irene mencoba memahami situasinya.
"Kau harus kuat. Demi anakmu" ucap taehyung
Arra mengangguk, setelah berpelukan dengan irene
"Aku yakin jin hyung di tempatkan di tempat yang terbaik, dan mungkin ini cara tuhan untuk memberikan yang terbaik untuknya" ucap namjoon
"Nee..gomawoo" balas arra
"Aku tau ini sulit bagimu, tapi kau pasti bisa melewatinya" ucap hyemi istri dari namjoon
"Mari aku antar" ucap jimin pada mereka,
Namjoon dan taehyung beserta istrinya pun mengikuti jimin keruangan dimana para tamu berkumpul sedang menikmati makannya.
Sedangkan arra kembali terduduk, seketika pikirannya terlintas tentang anaknya yang kini sedang berada di ruang bayi.
"Arra-ah"
Ucapan itu kembali membuat arra Tersadar. Dilihat ternyata, jungkook, hoseok, dan suga yang datang. Lantas arra pun segera berdiri,
Setelah memberikan bunga, ketiganya mengucapkan turut berbela sungkawa.
"Arra-ah.. Jika kau butuh bantuan hubungi kami" ucap hosoek
"Nee. Chamashaimna" ucap arra
"Kami turut berbelasungkawa, " ucap jungkook
"Nee. Terimakasih sudah datang" balas arra
"Jangan sungkan, jika perlu sesuatu" ucap suga
"Ndeee..terimakasih banyak.
Oh ya silahkan bergabung dengan yang lainnya" ucap arra dengan sedikit senyuman
Jungkook, suga, dan hosoek pun mengangguk , ia pun berjalan menuju ruang tempat berkumpul para pelayat
πππππ
"Aku tak percaya jin hyung secepat ini pergi meninggalkan kita," ucap jungkook
"Siapa yang tahu takdir berkata lain" balas namjoon
"Ini semua salahku, kalau saja aku lebih cepat bergerak mungkin jin hyung akan terselamatkan" timpal jimin
"Kau tak boleh bicara seperti itu jimin, ini kehendak tuhan" balas suga
"Ini mungkin yang terbaik untuk jin hyung" angguk hosoek
"Oh. Yah jimin, kau kan tang trakhir bersama dia, apa ada pesan yang di sampaikan?" tanya namjoon
"Dia hanya berpesan pada ku untuk menjaga arra dan bayinya" ucap jimin
"Ingat itu jimin, kau harus melakukannya" balas hoseok
Jimin mengangguk
" sangat di sayangkan , bayinya lahir tapi dia pergi untuk selama nya" ucap taehyung
" aish. Sudah jangan membicarakan orang yang sudah meninggal, setidaknya biarkan jin hyung tenang di sana" balas suga
Lantas semuanya diam, dan sibuk kembali pada hidangannya
Jimin menatap kearah arra berada, di lihat sang orang tua nya dari Indonesia baru saja tiba. Ingin rasasanya jimin kesana tapi jimin sadar dan tahu malu setelah kejadian yang lalu terjadi, jimin tak enak untuk menyapanya.
ArraΒ memeluk ibunya setelah mereka memberi penghormatan,
"Yang sabar ya nak, kamu pasti bisa melewatinya" ucap nyonya aru
"Kenapa ini semua terjadi padaku ??" tanya arra menangis
"Tuhan hanya ingin yang terbaik untuk suamimu" balas nyonya arru
"Kau yang kuat, " ucap tuan kim yang juga ikut meneteskan air mata tak kuasa melihat anaknya menangis karna takdir yang memisahkan
"Kamu pasti lelah . ayo istirahat dulu, biar eomma dan apa yang menggantikan" ucap nyonya arru
"Ani, aku akan tetap disini" balas arra
"Tapi kondisi mu belum pulih sayang" balas tuan kim
"ani, nan gwaenchanaeo" jawab arra
"Eoh. Arraseoh" balas tuan kim
"Eomma, dan appa pasti lelah, lebih baik Kalian menyicipi sesuatu dulu" ucap arra
"Ani. Kami akan disini bersama mu" balas nyonya aru
"Tapi eomma--"
"Tidak sayang, kami baik baik saja" balas nyonya aru
Arra diam. Lalu duduk kembali
"Oh yah, ngomong ngomong dimana mertua mu" tanya tuan kim
"Eoh. Dia sedang ada urusan di luar negri" ucapΒ arra bohong,
"Lalu?" tanyanya kemudian
"Dia tak bisa datang,karna urusannya penting" balas arra beralasan
"Aish. D penting pentingnya pekerja nya, tidaklah penting daripada anak" timpal nyonya arru
Arra hanya tersenyum lalu Diam kembali,ia tak mungkin memaparkan semua yang terjadi pada orang tuanya, karna takut itu menjadi masalah
ππππ
Satu jam berlalu pemakan jin sudah di lakukan, para pelayat sudah pergi meninggalkan area Pemakaman tinggal hanya anggota EX-BTS, dan orang tuanya saja yang memaninya menangis di pusara itu.
"Sudah arra-ah. Jangan lah seperti ini terus nanti suami mu akan bersedih" ucap namjoon
"Benar yang di katakan namjoon, sudah ikhlas kan saja, ayo pulang" ucap tuan kim
"Kalian pulanglah. Aku akan sedikit lebih lama disini" timpal arra
"Kau baru saja melahirkan, kondisi mu bun stabil, kau butuh istirahat" ucap jimin
Yang lain tak ikut berbicara karna tau kondisi arra yang sekarang, bagaimana bisa orang yang baru saja pisahkan oleh takdir merasa baik baik saja dengan semuanya.
"Aku baik baik saja, tolong biarkan aku disini" ucap arra menyeka tangisannya
"Tapi arra-"
"Sudah ku bilang. Aku butuh waktu sendiri" bentak arra kala jimin berucap kembali
Mereka pun saling menatap, mengangguk lalu perlahan melangkahkan kaki menjauhi tanah yang masih segar itu. Meninggalkan arra, kecuali jimin.
"Kenapa kau masih disini?" tanya arra
"Aku akan tetap bersama mu" ucap jimin
"Kenapa?" tanya arra kembali
"Itu yang di bilang jin hyung" balas jimin
"Aku baik baik saja, tinggalkan aku" ucap arra tegas
"Ani.."
"Sudah ku bilang tinggalkan aku" bentak arra yang kedua kalinya pada jimin
"Mmh. Arraseoh.." balas jimin lalu ia pun meninggalkan arra sendiri.
Bukan jimin namanya, jika ia harus meninggalkan arra, malah kini ia pergi ke ke bawah pohon rindang dan memperhatikan arra.
Dilihat arra menangis sehari jadinya dan itu membuat hati jimin meringis kesakitan.
__________
Arra menangis sehari jadinya dia tak mampu menahan derai air matanya.
Ia tak mampu jika harus kehilangan orang yang selalu ada untuknya, ia tak mampu jika harus kehilangan orang yang rela nerkorab untuknya, sungguh arra rasa ini sangat menyakitkan.
"Chagia-ah.. Apa kamu merasa senang disana?? Sedangkan aku disini menangis karna mu, aku minta maaf karna membuat mu tak enak, tapi aku tak mampu jika kamu pergi begitu saja, tanpa sepatah kata pun,aku disni ingin meminta janjimu,Β mana janji mu yang katanya kau mau memberi nama untuk anak kita saat lahir, jangankan memberi nama menemaniku bersalin pun kau tak kabulkan, chagi-ah Anak kita sudah lahir kembar, percis seperti mu, tampan dan cantik., tapi sayang kau bahkan belum melihatnya sama sekali bukan??," arra tersenyum miris derai air matanya kembali turun
"chagi-ah. Aku selalu bermimpi akan hidup bahagia dengan keluarga kita nanti, mendidik anak kita nanti, melihat anak ku bermain dengan mu, tertawa gembira bersama mu, dan berkata "eomma, appa, aku syang kalian" tapi sayang mimpi itu tinggal mimpi yang tidak bisa terwujud , aku tak kuasa jika nanti anak kita bertanya "eomma dimana appa??", haruskah aku berkata pada kenyataanya,?? Ya memang kau bukan ayah kandungnya, tapi aku ingin kau yang menjadi ayahnya.,
chagi-ah..kenapa kau melakukan ini semua, kenapa??" ucap arra masih dengan tangisan
Arra terus menagi, ia memeluk pusara itu, mungkin orang pikir ia gila , tapi memang kenyataanya begitu, arra frustasi jika harus ditinggal pergi suami.
"Chagi-ah. Aku mau pulang, anak kita sudah menunggu, kau disini yang tenang, aku akan kembali lagi nanti, baik baik yah..aku mencintaimu"
Arra pun berdiri, lalu berjalan pergi meninggalkan makam suaminya.
Matahari terik menimpa nya, tubuh lemas, lunglay tak berdaya, seketika pandangan nya buram, dadanya pun sesak, arra tak kuasa menahan sakit kepalanya, namun ia kembali berjalan untuk menemui anaknya,.namun bayangan hitam langsung menerpanya tanpa kata ia tak bisa apapun. Hanya pasrah dan berdoa ia diberi hidup untuk anaknya.
ππππππ«vote nya mana????? like dan komen jangan lupa....