ME AND IDOL Pt 2

ME AND IDOL Pt 2
88. step to ending 2



"Kenapa kau menatapku seperti itu" tanya Arra bingung karna jin tak hentinya menatap nya dengan senyuman


"Ani. Aku hanya ingin melihat mu untuk yang terakhir kalinya" ucap jin


"Apa maksudmu ??" tanya Arra bingung karna jin berkata "untuk yang terakhir kalinya"


"Eoh. Maksudkku aku ingin melihat mu untuk terakhir kalinya karna kau akan segera melahirkan, dan aku tidak bisa melihat perut mu Membesar lagi" jelas jin


"Ouh. Begitu" balas Arra


Jin tersenyum, sesekali ia memasukan ice cream ke dalam mulutnya,


Sedangkan arra memakan ice cream nya sambil menatap seluruh ruangan. Seperti sebelumnya.


Tiba matanya tertuju pada dua orang yang berpakaian serba hitam dengan tubuh yang kekar, dalam hatinya ia berkata


"Bukan kah itu orang yang sejam yang lalu berada di restoran?". Ia menatap lekat lekat orang itu dan ingatan tak mungkin salah jika hanya selang satu jam lalu.


"Kenapa mereka bisa ada disini?, apa mereka mengikutiku? " batin Arra kembali


"Sayang?" ucap jin yang menyadari Arra melamun


Seketika Arra pun tersadar dan tersenyum


"Eoh.. Waenayeo?" tanya Arra


"Kau memikirkan sesuatu?" tanya jin


"Ani... Aku hanya penasaran dengan nama yang akan kau berikan pada anak kita" ucap Arra yang jelas bohong. Ia mencoba menepis pikiran negatif di otaknya, dan menganggap kalau semuanya hanya kebetulan dan berharap semuanya akan baik baik saja.


"Aish. Sebegitu penasarannya kau dengan nama itu?" ucap jin tersenyum


Arra hanya tersenyum


"Baiklah. Cepat habiskan es cream mu nanti mencair" ucap jin


"Nee" ucap Arra mengangguk


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Jimin terus menatap pasangan itu yang tengah duduk memakan es cream di kaffe.


Sungguh jimin tak merasa jenuh dengan semua ini, tapi kadang sedikit membuat hatinya tersayat ketika melihat adegan romantis seperti sekarang ini ketika Arra menyuapi jin dengan sesendok es cream


Dan tersenyum bahagia melihatnya.


"Kau sangat bahagia dengan jin hyung rupanya, dan aku terlalu


Bodoh telah melepasmu" batin jimin


Ya jimin berharap kalau apa yang di lihat adalah kebahagian Arra dan tak sepatutnya jimin tak menyesali semuanya karna memang dulu dia yang salah.


Jimin menatap padangan itu terus sesekali juga ia memperhatikan dua orang yang bertubuh kekar, jimin tau itu orang suruhan kim woo seok karna jimin hafal betul selama satu bulan terakhir ia selalu menemukan dua orang itu tengah memantau kediaman jin dan Arra.


Drrttt..drrttt..drrrt..


Getaran handphone mengalihkan pandangan jimin dilihat dari layar pipih itu. Tertera nama "jihyun" sang adik


"Nee. Waenayeo?" tanya jimin menjawab panggilan itu


"Hyung. Hari ini aku pulang, bisa kah kau menjemput ku?"


"Sekarang?? Kenapa mendadak" gusar jimin


"Ah. Mianhae, aku lupa memberi tahu mu kalau aku libur"


"Sekarang kau dimana?"


"Ah. Aku sedang berada di bandara, kemungkinan nanti malam bari tiba disana"


"Ah. Baiklah. Jika kau sudah sampai bandara sini, kau kabari aku" ucap jimin


"Nee hyung.. "


"Sudah dulu. Aku sedang ada urusan"


"Nee. Hyung"


Seteleha menjawab panggilan itu jimin kembali menatap pasangan itu, kini keduanya keluar dan berjalan menuju toko keperluan bayi


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Arra dan jin berjalan menuju sebarang dimana toko keperluan bayi berada . entah jin rasaya senang melihat melihat barang barang mungil itu, terlebih jin melihat tempat tidur lucu berwarna pink berhiaskan boneka yang di Pahang di etalase.


"Sayang untuk apa membeli itu" ucap Arra


"Aish. Kau ini kenapa, jelas untuk anak kita" balas jin


"Tapikan kita sudah beli, " ucap Arra heran


"Tapi kan itu berwarna biru, lihat warna pink itu cantik" ucap jin


"Aish.. Tapi---"


"Sudah ayo.Β  Aku hanya ingin membelikan anakku. Apa salah??" tanya jin


Dan dengan pasrah Arra menurutinya dan berjalan menuju toko peralatan bayi di sebrang. Keduanya tersenyum bahagia karna jarang keduanya berjalan jalan di jalanan umum


BRUUUUGGGHHHKKKK


(ANGGAP SUARA TABRAKAN)


mobil putih melaju kencang kearah keduanya, desertai suara pistol yang mengeluarkantimah panasnya.


Arra tergeletak, menindih lelaki yang memeluknya, menyelamatkannya dari serempetan mobil


Arra membuka matanya, di lihat seorang lelaki yang kesakitan karna ditindihnya.


"Jimin!!" pekik Arra


Sungguh ia kira yang memeluknya adalah jin suaminya, namun ternyata bukan, Arra pun dengan cepat bangun dari jimin dan mencari suaminya.


Sungguh terkejut, Arra menemukan suaminyaΒ  jin terkapar lemas dengan darah yang mengalir dari dadanya. Dengan tertatih Arra berjalan mendekatinya, seketika jin memejamkan matanya


"Chagia-ah. Il-eona" teriak Arra


(Sayang bangun)


"Sayang.. Bangun"


"Sayang.."


Arra terus berteriak ketika jin tak sadarkan diri . orang orang pun berkerumun di tempat kejadian, melihat kejadian yang naas.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jimin bangun dari jatuhnya, kepalanya sedikit terbentur, menyebabkan rasa pusing, jin melihat arra yang menangis meratapi hyungnya.


Ia pun mendekat lalu memeluknya.


"Sabar arra jin pasti terselamatkan."


"Oppa bangun,"" teriak arra


Mobil ambulance pun datang dan membawa jin pergi ke rumah sakit,


Arra pun meminta jimin untuk menyusulnya, jimin pun menurutinya


Saat hendak melangkah seketika arra merasakan sakit di perutnya dengan begitu hebat


"Akhh. Perutku. " ucap arra memegang perutnya


"Wae.. Waenaeo" tanya jimin khawatir


"Ah. Perutku. . ." ucap arra lagi


Seketika jimin bun berpikir kalau arra mengalami kontraksi dengan cepat Jimin pun membawa arra untuk pergi kerumah sakit menyusul jin


"Arra bersabarlah.." ucap jimin


Ya jimin yang sedikit pusing terpaksa mengemudi, ia mengikuti ambulance yang membawa jin, karna dengan begitubarra bisa tau keadaan jin hyung nya,


Perasaan jimin campur aduk, takut, gelisah, Khawtir, sedih melihat semuanya, jimin merasa jodoh seharusnya ia membawa polisi saat itu juga, tapi siapa yang tau kalau semuanya akan terjadi hari ini juga


Arra terus merintih. Kesakitan namun pikirannya tertuju pada suaminya , bagaimana tidak arra melihat darah mengalir dari dadanya yang jelas ia takuti jin akan meninggalkannya.


"Akh...." pekik arra


Jimin tak kalah khawatir nya karna saat ia melihat arra , terdapat darah yang mengalir di kakinya.


"Bersabarlah. Sebentar lagi kita sampai" ucap jin


5 menit kemudian arra dan jimin sampai di rumah sakit bersamaan dengan ambulance yang membawa jin hyung


Jimin pun segera turun lalu memapah arra untuk keluar, dengan tertatih arra berjalan masuk kedalam rumah sakit dan bersamaan itu jin pun DI bawa ke ruang UGD,


Arra yang melihatnya pun tak kuasa dan langsung berjalan menghampiri jin


"Ku mohon, kau pasti bisa, kau harus hidup" ucap arra menatap. Jin dengan wajah pucat


"Anak kita akan segera lahir, kau harus menemaniku"


"kau tidak lupakan, kalau anak kita lahir kau akan memberikan nama anak kita, jangan bilang kau tidak bisa mengatakannya"


"Ku mohon, kau pasti kuat,jangan tinggalkan aku. Jika tidak aku dengan siap??" ucap arra masih dengan tangisannya


Jimin yang melihatnya pun tak kuasa meneteskan air mata, namun ia mencoba untuk kuat karna bukan dia siapa lagi yang akan menguatkan arra


"Arra-ah pendarahan mu sudah banyak" ucap jimin mencoba memisahkan keduanya


"Tidak aku ingin jin yang menemani persalinan ku" ucap arra


"Arra-ah sudah biarkan jin hyung di bawa karna ini yang terbaik untuknya"


"Aku ingin di temani suamiku" ucap arra menangis


Jimin pun memberi aba aba menitah sang perawat untuk segera membawa jin hyung.


"Maaf nyonya, kami harus segera membawa pasien" ucap si perawat


Seketika tempat tidur jin pun di dorong, menuju ruang UGD.


"Chagia-ah" teriak arra


Tak lama kemudian perawat lain pun datang membawa arra menuju ruang bersalin karna terdapat air yang mengalir atau dengan kata lain air ketubannya sudah pecah.


Jimin bingung harus menunggu yang mana antara jin hyung ataupun arra yang tengah melahirkan.


😒


😒


Tiga puluh menit berlalu jimin hanyabisa berjalan mondar mandir didepan ruangan persalina, baik arra maupun jin keduanya belum ada kabar,


Jimin sendari tadi hanya mendengar jeritan arra yang tengah kesakitan,dalam proses bersalin, sungguh jika jimin boleh masuk mungkin ia bisa sedikit menyemangiti arra


"Permisi tuan" ucap sang suster menghampiri


"Nee??" tanya jimin


"Anda keluarganya tuan jin" ucap susuter itu


"Yee. Waenaeo?" tanya jimin cemas


"Anda di panggil dokter" ucap nya


"Nee.." balas jimin mengangguk lalu berjalan mengikuti suster itu.


Tiga menit jimin sampai di ruang UGD


Dilihat sang dokter baru saja keluar Dari sana


"Bagaimana dok" tanya jimin


"Keadaannya kritis, lukanya begitu parah" ucap sang dokter


"Tapi, dia bisa selamat kan dok?" tanya jimin


"Entah. Kemungkinan nya sangat kecil, berdoa lah semoga tuhan memberikan keajaiban" ucap dokter


Jimin diam, hatinya mngilu melihat ini semua, andai dia yang di posisi jin mungkin semuanya akan baik baik saja, jimin mungkin jimin tidak akan melihat arra menangis, dan hyung tak akan di rawat seperti ini.


"Permisi tuan, nyonya arra sudah melahirkan" ucap sang suster


"Eoh. Arraseoh" balas jimin mengangguk


Entah hari ini ia harus bahagia atau tidak, disisi lain ia senang dengan kelahiran anaknya, dan disisi lain ia sedih dengan hyungnya.


Jimin melangkahkan kakakinya menuju ruangan persalinan dan tak butuh waktu lama ia sampai . didapati arra tang sedang beristirahat dengan dua box bayi di sampingnya


Kembar...


Ya arraΒ  melahirkan dua anak kembar, berjenis kelamin lelaki dan perempuan


Tertera dari keterangan box itu si laki laki adalah kakak dari si perempuan


Jimin mendekat, sungguh keduanya sangat menggemaskan dengan raut wajahnya yang tampanΒ  dan cantik.


"Jimin"


Jimin yang merasa terpanggilku menengok ke samping


"Eoh arra kau sudah membaik"


"Bagaimana keadaan suamiku?" tanya arra seketika


"Ah. Jin hyung..." ucap jimin bingung harus mengatakan apa, jika ia berkata sejujurnya jimin takut arra akan merasa dawn.


"Bagaimana?? Apa dia baik baik saja?" tanya arra kembali


"Jin hyung sedang di tangani dokter" ucap jimin


"Apa belum ada hasilnya?" tanya arra


"Belum, kau tenang saja, semuanya akan baik baik saja" ucap jimin


Arra tersenyum getir


"Bagaimana bisa aku tenang kalau suamiku masuk keruangan UGD, yang jelas sedang mempertahankan nyawanya"


Seketika jimin terdiam, sakit rasanya mendengar wanita yang di cintainya mengkhawatirkan lelaki lain..


"Ah. Maksudku, kau jangan terlalu di pikirkan kondisi mu juga Sama" ucap jin


Arra diam.


Hening...jimin pun tak lagi berucap


Namun suara ketukan pintu menyadarkan mereka


Dilihat sang suster masuk kedalam ruangan


"Maaf tuan. Dokter yang menangangi tuan jin memanggil anda" ucapnya


Seketika arra yang Mendengar nama suaminya di sebutpun menengok ke arah suster itu


"Ada apa Dengan. Suamiku?" tanya arra


"Maaf.Β  Itu akan di sampaikan dokter"


Ucap sang suster


"Kau tunggu disini.. Aku akan menemui mu saat tau hasilnya" ucap jimin lalu pergi


Arra diam, dia ingin ikut tapi dia sadar kalau kondisinya masih lemas, tak cukup tenaga untuk berjalan. Ia menatap kedua anaknya entah. Kenapa wajahnya mirip sekali dengan jin, namun matanya mirip dengan jimin.


"Sayang.. Kita berdoa untuk kebaikan appa, semoga appa mu terselamatkan" gumam arra menatap anaknya itu.


"Ada apa dengan jin hyung dok" tanya jimin ketika sampai di depan ruang UGD


"Eoh. Tuan jin sudah sadar, dia ingin bertemu dengan anda" ucap sang dokter


Jimin Mengangguk, lalu masuk kedalam ruangan itu


Dilihat hyungnya sedang menangis tanpa suara


"Hyung" ucap jimin


"Eoh jimin, " dengan segera ia mengusap air matanya


"Kau memanggil ku?" tanya jimin


"Nee. Dimana arra?" ucap jin


"Arra saja selesai melahirkan, ia sedang istirahat" jelas jimin


"Eoh. Syukurlah.., apa jenis kelaminya??" tanya jin


"Arra melahirkan bayi kembar, berjenis kelamin lelaki dan perempuan" ucap jimin


Jin tersenyum, sungguh dalam hatinya ia sangat bahagia mendengarkan ucapan jimin


"bagaimana keadaan bayinya, semua baik baik kan?" tanya jin kemudian


"Nee. Semuanya normal," ucap jimin


"Jimin-ah.." gumam jin


"Nee?" tanya jimin


"Terimakasih katelah menyelamatkan arra" ucap jin


Jimin mengangguk


"seharusnyaaku percaya dengan ucapan mu waktu itu, mungkin semua ini tak akan terjadi" ucap jin


"Ah. Hyung lupakann saja, kau pasti kuat, kau pasti sembuh" ucap jimin memberi semngat


Jin tersenyum


"Jimin-ah. Bisakah kau membawa bayinya kemari, aku ingin bertemu dengannya tanpa sepengetahuan arra"


"Nee. Hyung. Aku akan membawanya"


Ucap jimin lalu pergi


Jin kini sendirian di ruangan, dadanya terasa sakit, namun ia ingin bertemu dengan anaknya.


Seketika pintu terbuka, seorang wanita masuk dengan tergesa gesa.


"Kau baik baik saja?" tanya nya


Jin hanya tersenyum


"Aku .menunggu mu dari tadi , dan ternyata kau terkena musibah" ucap si wanita itu lagi


"Kau punya pen dan kertas" tanya jin


"Tentu,Untuk apa?" tanya si wanita itu bingung


"Berikan saja" ucap jin


Lalu si wanita itu memberikan apa yang di mau jin.


Wanita itu hanya diam memperhatikan jin yang menulis setiap kalimat di kertas itu, entah yang isinya apa dan tentang apa..


πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”


"Bodoh.. Bagimana bisa kalian seceroboh ini," omel pria paruh baya


"Maaf boss. Kami salah sasaran"


"Tak ada gunanya aku menyuruh kalian,Β  membuat ku merugi saja, pergi kalian aku tidak akan membayar sepeser dari kerja kalian"


"Tapi bos--"


"Tapi apa, kalian membahayakan nyawa anakku, pergi kalian" bentak pria paruh baya itu


**Hollaaaa. Bentar lagi ending, tinggal 2-4 chapter lagi, insyaallah mau buat story baru lagi, dukung yah,jangan lupa vote, like dan komen!!


maaf loh telat up-nya, soalnya susah sinyal. harap maklum lah .


I purple U**