ME AND IDOL Pt 2

ME AND IDOL Pt 2
68.dont cry



Jin terus berjalan menyusuri tangga .mungkin ada dua puluh lima anak tangga lagi baru jin selesai.


Dan Mungkin jika jin bersabar


Lift mungkin sudah bisa di gunakannya. Sayang jin tak peduli itu semua.Β  yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada arra dan memint maaf padanya.


20 menit jin kini sudah tiba di halaman gedung. jin menyusuri setiap sudut, melarak lirik Kesana kemari namun tak kunjung menemui arra .


Jin pun memutuskan untuk mengambil mobilnya yang terparkir di basmant, karna jin pikir arra pulang ke apartemennya.


Ya semoga saja...


Jin mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh karna khawatir dengan keadaan arra apa lagi arra sedang hamil..jin tak mau membuatnya strees..


"Ah..tidak...." pekik jin


"KenaPa akau ini bodoh sekali. . dengan menuruti kemauan appa kalau pada akhirnya akan seperti ini" ucap jin kesal ka


"Arra maaf kan aku..aku tak berniat menyakiti ataupun mengkhianati mu"


Rasa kesal, marah, pusing, gelisah, khawatir, sedih, semuanya tercampur aduk karna kejadian barusan.


Ia tak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri karna kebodohannya, ya andai waktu bisa di ulang mungkin jin memilih untuk menolak semuannya dari Awal. Dan bagaimana bisa seorang ayah memaksakan kehendak yang membuat anaknya tak bahagia dengan pelihannya, jin benci itu.


20 menit jin sudah sampai di apartementnya, ia masuk dengan langkah yang gontai. Ia menaiki tangga demgan tergesa gesa berharap kalau arra pulang ke tempat tinggalnya.


"Arra...kau dimana?" ucap jin Berteriak menyusuri anak tangga


"Arra-ah...aku minta maaf" ucap jin kembali.


Sampai di kamar jin tak menemukan batang hidungnya , hanya terdapat koper yang di nawa arra dari indonesia.


Jin kembali menuruti anak tangga. Ia kembali mencari ke setiap ruangan sampai akhirnya ia menemukan ajhuma in-gil


"Ah..ajhuma apa kau lihat istriku" tanya jin


"Ah..tidak tuan, hanya saja beberapa jam yang lalu istrimu keluar" ucap ajhuma in-gil


"Ouh..begitu baiklah..aku akan keluar, jika istriku pulang tolong hubungi aku" ucap jin


Setelah mendaoat anggukan dati ajhuma in-gil jin kembali berjalan keluar.


Ia menumpangi mobilnya lagi,


Hatinya sakit ketika semua ini terjadi, ya jin tau ini tak sesakit hati arra tapi ini benar benar membuat pikirannya larut oleh frustasi di tambah arra yang tak ada di apartemennya.


"Arra--ah..sayng dimana kau?" pikir jin matanya tak henti melarak lirik pinggiran jalan!


Jin mencoba menghubungi arra namun tak kunjung di diangkat.Β  Dan yang ada di alihkan terus menerus.


πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›


Jimin part.


Berpapasan dengan arra adalah hal yang menyenangkan namun beda dengan situasi sekarang ini..


Jimin memilih pergi dari temoat itu, karna muak dengan kelakuan hyung nya yang dianggap paling baik darinya untuk menjaga arraΒ  kini malah sama juga spertinya yang dulu.


Sampai di halaman jimin mengendarai mobilnya..kali ini ia memilih ke mini markat untuk membeli soju ,


Ya pikiran nya hanya ingin Tenang dan hanya Dengan sedikit soju mungkin akan membaik.


Tiba di mini market jimin mengambil beberapa botol soju. Juga air mineral karna takut jimin terlalu banyak minum, dan sekalian dengan cemilannya beberapa bungkus.


Tak butuh lama jimin selesai lalu kembali mengendarai mobilnya. Jimin memyusuri jalanan yang fi hiasi lampun, sayang nya jimin meninggalkan pesta yang mungkin member lain sedang bersenang senang.


"Jihyun!" gumam jimin


Tiba tiba jimin terpikir dengan adiknya itu, sudah lama ia tak menghubungi jihyun karna katanya ia sedang sibuk dengan tugasnya. Dan jimin harap kuliah jihyun di australia tidak sia sia. Itupun demi kebaikannya.


Jimin pun memutuskan untuk menghubunginya, karna rasa rindu pada adiknya itu dan ingin memberikan semangat , ya kalau bukann jimin sebagai kakaknya siapa lagi yang akan memberikan semangat? Pacarnya ? Entah jimin sendiri pun belum mendengar dari mulut adiknya itu.


Jimin memasang aerphonenya lalu memulai panggilan


Tuuuhtttt....tuuutttt...tuuuutttt


"Eoh..yeoboseo" ucap jimin setelah sambungan tersambung


"Ah..hyung kau pasti rindukan" ucap jihyun terdengar tersenyum geli


"Aih..kau ini..bagaimana kuliah mu"


"Yak..kau malah menanyakan kuliahku daripada kabar ku hyung"


Jimin tersenyum, adiknya sungguh menggemaskan, kalau saja jihyun bersamanya mungkin jimin akan langsung mencubitnya..


"Ah..mianhae...tapi jika ku tanya kan , aku sudah tau jawabannya, pasti akan menjawab "bai baik saja" bukan"Β 


"Aish..menyebalkan..ya sudah kalau begitu aku akan menjawab pertanyaan kau sebelumnya"


"Ya..kuliahku disini lancar hanya saja banyak tugas yang membuat ku sedikit pusing"


"Kau pusing karna tugas pasti berat badan mu turun kan?" ucap jimin menggoda


Jihyun tertawa


"Ya.. Dari 65 kini jadi 60"


"Kau harus semangat, jika kau cepat lulus kau pasti kau akan memegang perusahaan cabang di busan, dan kau pasti akan kurus lagi" ucap jimin tertawa


"Aish..sudahlah..,jangan membuatku ingin mencubitmu"


"Aih...jihyun-ah..apa uang yang ku transfer cukup?" tanya jimin


"Tentu, bahkan jika ada sisa aku tabungkan"


"Eoh..ayukurlah..jika kau kekurangan bilang saja" ucap jimin


"Eoh..hyung...bagaimana keadaan mu?"


"Aku baik..kenapa?"


"Ani..aku turut prihatin mendengar kau bercerai dengan seulgi Noona"


"Gwaenchanha..aku baik baik saja..kau tau usah pikirkan" ucap jimin


"Eoh..ku harap kau sesuai dengan perkataan mu"


Jimin diam


"Eoh..hyung..kau sering bertemu dengan arra noona tidak? apa dia baik baik saja?"


"Eoh..tidak..aku tidak tahu" ucap jimin


"Eoh..begitu jika kau bertemu dengannya, tolong titipkan salam dariku" ucap jihyun


"Eoh..nee..apa kau belum mengantuk" tanya jimin sembari melirik jam di tangannya yang menunjukan pukul 21:30 yang kemungkinan di australia sudah pukul 00:00 dini hari. Dan untuk menuju kediamannya jimin butuh 25 menit lagi


"Eoh..ani..,aku masih merindukan mu" ucap jihyun tertawa geli.


"Aishh...kau ini...eh..apa teman teman mu menyenangkan?" tanya jimin


"Tentu..aku punya banyak teman dari berbagai negara,mereka sangat ramah,dan kau tau setelah mereka mengetahui aku ini adik mu aku langsung di dekati para wanita dari fans mu dulu"


Jimin tertawa


"HAlah..kau terkenal berkat ku , maka berterimakasihlah padaku"


"Tanpa mu pun aku bisa terkenal karna aku salah satu siswa terbaik di kelas ku"


"Aish..semoga saja apa yang kau katakan benar benar terjadi"


"Ouh..jadi kau meragukan ku?" tanya jihyun


"Aish...bukan begitu maksud ku"


"Lihat saja nanti jika aku lulus aku akan---"


"Ah...jihyun sudah dulu.." ucap jimin tiba tiba karna pandangannya menemukan sesuatu


"Kenapa?" tanya jihyun terdengar kecewa.


"Ada hal yang mendadak..mengerti lah" ucap jimin yang kini menatap kearah halte bus


"Eoh baiklah.."


Setelah sambungan terputus jimin menepikan mobilnya untuk berhenti di jarak yang cukup jauh dari halte bus itu.


Dilihat wanita yang sedang merunduk sambil mengusap air mata di pipinya


Samar samar jimin mengenali postur Tubuhnya,


Jimin turun dari kemudinya lalu berjalan mendekati wanita itu. Dengan ragu ia menyekal pundukannya namun di tepis oleh pemiliknya


"Jangan sentuh aku!"


"Pergi...dari sini" ucap wanita itu masi dalam keadaan merinduk dengan tangisan


Ya suar ini jimin kenali..jimin tak salah kalau wanita ini wanita yang ia temui di pesta namjoon hyung


"Arra.. Ini aku jimin" ucap jimin


Seketika ia mendongak lalu memeluk jimin tanpa rasa takut mengkhianati suaminya.


"Don't wanna Cry"