
Pukul 11.30, acara pesta pernikahan Kak Kyle telah usai.
Para tamu sudah banyak yang pulang.
Kak Liam menungguku diluar.
Sedangkan Aku, mendatangi Kak Kyle untuk berpamitan.
"Laura, istirahatlah disini dulu" Pinta Kak Kyle.
"Itu benar Putri, pasti Anda sudah sangat lelah. Tempat tinggal Anda dari sini juga cukup jauh" Kata Istri Kak Kyle.
"Ah, Lain kali saja Ratu, pak kusir telah menunggu Saya. Saya harus pamit undur diri" Kata Ku.
Istri Kak Kyle melihat Kak Kyle.
"Baiklah. Aku izinkan pulang. Tapi, apa Kau melihat Liam ?" Tanya Kak Kyle.
"Saya tidak melihatnya Baginda" jawabku.
"Astaga Liam, Kau dimana ? Apakah Dia benar benar marah padaku?" Tanya Kak Kyle.
"Baginda, Kalau boleh bertanya, Kenapa Kak Liam marah kepada Anda ?" Tanyaku.
"Ah! Biasa~... Dia marah karena hal yang sepeleh" Kata Kyle.
Kak Kyle menyembunyikan sesuatu dariku.
Aku tersenyum padanya.
"Baiklah Baginda. Saya pamit. Semoga hubungan Anda tentram dan damai" kataku sambil sedikit membungkuk.
"Hati hati dijalan" kata Istri Kak Kyle.
Aku mengangguk dan pergi.
Kak Liam telah menungguku di kereta kuda.
"Sudah selesai ?" Tanya Kak Liam sambil tersenyum padaku.
"Sudah Kak. Mari pulang " Ajakku.
"Ayo"
Kami pun kembali.
Sesampai dirumah, Aku langsung mandi dan beranjak untuk tidur.
"DRASSSSSHHH!!!!" Diluar hujan.
Aku berjalan untuk menutup jendela kamarku yang terbuka.
"Hah (hela napas) untung tadi nggak kehujanan" Batinku sambil menutup jendela kamarku.
Aku sangat membenci hujan dibulan November.
Sebab,
"CTARRRRRR!!!! HUAAH!" Jerit ku yang kaget karena suara guntur.
Hujan dibulan November, gunturnya selalu keras seperti ini.
"DRAP!" Aku langsung berlari kearah kasurku dan tidur sambil menyelimuti seluruh tubuhku.
Aku tidak takut dengan guntur.
Aku hanya takut dengan kilatnya.
"Ctarrr!" Suara guntur menggelegar diluar rumah.
"Tok! tok! tok !" Suara ketukan pintu.
Aku membuka selimutku untuk mendengarkannya lagi.
"Laura. Kau, sudah tidur?" Suara Kak Liam dibalik pintu.
"Tumben bertanya ? Biasanya langsung masuk tanpa permisi ?" Batinku sambil berdiri dan berjalan kearah pintu.
"Cklek..." Aku membuka pintu.
Aku melihat Kak Liam yang memakai baju kaosnya yang berwarna biru tua.
Dan perban yang ada dilengan dan didadanya terlihat.
"Ada apa Kak ?" Tanyaku.
"Aku, menagih janji yang harus Kau penuhi" Kata Kak Liam sambil masuk kekamarku dengan sangat santai.
"Eh? Ternyata Dia masih ingat" batinku.
"Apa yang Kakak minta ?" Tanyaku.
Kak Liam duduk dikasur.
"Aku, ingin tidur disampingmu" jawab Kak Liam sambil tersenyum menyeringai padaku.
"Ha?" otakku loading.
"APA ???!!!" Tanya ku yang terkejut mendengar permintaan Kak Liam itu.
Wajahku memerah karena malu dan jantungku berdegup dengan kencang karena mendengar permintaan itu.
"Aku ingin tidur disampingmu. Hanya tidur biasa dan tidak melakukan apapun" jelas Kak Liam.
"HAH ?! KAK ! APA KAU GILA?! DASAR MESUM ! AKU INI ADIKMU !! KAU KESAMBET APA KAK ?!" Tanyaku ngegas.
"CTAARRRRRRRR!" Suara guntur bersamaan dengan kilat dan yang menyambar pohon besar didekat rumah.
"Huah! Bruk!" Teriakku sambil menutup mataku dan lari kedepankum
Tragisnya,.... Kakiku terselip dan-
Aku tak sengaja jatuh ke Kak Liam yang jatuh juga karenaku diatas kasur.
"Nah, dasar penakut. Jadi, siapa yang mesum sekarang ?" Tanya Kak Liam.
Aku tak berani membuka mataku
Aku sangat malu.
Aku langsung menekan kasur untuk berdiri.
"Greb!" Kak Liam malah memelukku diposisi yang seperti itu.
"Hei~ lihatlah Aku" Kata Kak Liam bernada.
"Kak! lepasin Aku!" Kataku sambil berusaha bangkit.
"Apa Kau malu dipeluk olehku ?" Tanya Kak Liam.
Aku tetap memejamkan mataku dan wajahku mulai terasa panas.
"Ayolah~ Lihatlah Aku sebentar. Aku hanya ingin melihat wajahmu dari dekat Laura" Kata Kak Liam dan terkekeh kecil.
Aku langsung membuka mataku.
Dan, Aku melihat wajah Kak Liam yang sangat merah padam.
Aku membelalakan mataku dan langsung-
"GRRRT!" Aku mengigit bahu Kak Liam yang dekat dengan mulutku.
Aku sangat kesal padanya.
Bercandanya Kak Liam kali ini sudah keterlaluan.
"Ah!" pelukan Kak Liam langsung melemah.
"Degh Degh!" Aku mendengar suara Jantung Kak Liam yang bedebar.
Aku membelalakan mataku lagi dan langsung berdiri.
Aku mengosok bibirku.
"Eh? Kak... Kakak kenapa ?!" Tanya Ku.
Kak Liam langsung duduk.
"Laura" Panggil Kak Liam.
Aku menunggu Kak Liam bicara.
"Hayo~ siapa yang ngajarin Kau ngasih tanda begini pada orang ?" Tanya Kak Liam yang wajahnya masih merah padam dan menunjukkan bahunya yang ada bekas gigitanku.
"Ah?" Aku baru sadar, Aku mengigit bagian yang salah.
"Wuah! MAAAFKAN AKU PANGERAN!!!!!sruuk!" Teriak ku dan langsung bersujud dihadapan Kak Liam.
"Aku tidak akan memaafkan mu kalau permintaanku belum Kau tepati" Kata Kak Liam.
Aku langsung melihat Kak Liam.
Sempat sempatnya dia mencari kesempatan.
"Baiklah! Tapi jangan menyentuhku sedikit pun!" tegasku.
"Tentu tentu~" Jawab Kak Liam sambil menjatuhkan dirinya diatas kasur.
Aku berdiri
Lagi lagi, Dia bertidak seenak jidatnya.
Kak Liam tidur disebelah Kiriku.
Dan Aku tidur membelakangi Kak Liam
Aku tidak mengantuk sama sekali.
Rasanya, seperti Kak Liam menatapku terus dari belakang.
"Laura, apa Kau sudah tidur?" Tanya Kak Liam dibelakang ku.
"Kenapa Kak ?" Tanyaku tanpa melihat kebelakang.
"Apa Kau marah ?" Tanya Kak Liam.
"Tidak" Jawabku.
"Lalu, kenapa Kau membelakangiku terus dari tadi ?" Tanya Kak Liam.
Aku tidak bermaksud membuat Kak Liam merasa bersalah.
Aku langsung mengubah posisiku dan melihat Kak Liam
"Laura, apakah, bekas gigitan yang saat itu masih belum hilang ?" Tanya Kak Liam.
"Belum Kak" Jawabku.
"Apa masih terasa sakit ?" Tanya Kak Liam.
"Tidak sakit Kak" Jawabku.
Kak Liam menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut kecuali wajahnya.
"Maafkan Aku" Kata Kak Liam yang tak menatapku.
"Kenapa Kak Liam meminta maaf ?" Tanyaku.
"Andai saja, Aku ikut Kalian saat itu. Mungkin semua ini tak akan terjadi. Termasuk kematian Ayah. Aku belum sempat berbicara ataupun meminta maaf kepadanya dengan benar" Kata Kak Liam.
Aku melihat mata Kak Liam yang berair.
Hujan ini, membuat suasana terasa sedih.
"Kak, kata Kakak, kematian Ayah memanglah sudah takdir Ayah. Untuk apa menyalahkan diri Kakak sendiri?" Tanyaku.
Sejenak Aku berfikir mungkin, Kak Liam kemari memang butuh teman untuk bercerita.
"Aku tidak menyalahkan diriku. Hanya saja, kenapa akhir akhir ini banyak sekali kejadian yang terjadi denganku. Bermula dari kematian Ibu yang mendadak. Apakah Ayah pikir Aku ini bukan Anaknya ? Begitu dengan Kyle, Apakah Dia berfikir kalau Aku bukan Adiknya ? Aku seperti bukan siapa siapa dikeluarga Nelzefvia. Aku lelah dengan semua ini" Kata Kak Liam sambil menutup wajahnya dengan selimut.
"Kemudian, Aku sering melihatmu bersama Ibu saat Aku diAsramakan oleh Ayah. Kau selalu menghindariku dan mendekati Ibu. Ku pikir, Kau akan merebut cinta Ibu untukku. Maafkan Aku karena Aku sempat membencimu" Kata Kak Liam.
Yah, Kurasa Kak Liam salah paham sebab, dulu Aku menghindari Kak Liam karena takut dengan warna pupilnya.
"Lalu, Aku kecewa pada Kyle karena Dia memaksa untuk mempercepat pernikahannya. Ia membentakku dihadapan banyak orang. Wanita yang disukai Kyle itu bukanlah wanita baik baik" Kata Kak Liam.
"Padahal, Aku sudah membuka hati untuk Kyle. Kenapa Dia malah membuatku kecewa ?" Tanya Kak Liam.
Ternyata, Ini alasan Kak Liam marah pada Kak Kyle.
"Kak, Kakak sudah berjuang dengan keras. Semangatlah terus Kak" Kataku sambil mengusap lengan Kak Liam yang berselimut.
Kak Liam membuka selimutnya.
"Aku, tidak ingin menjadi kepala keluarga di rumah cabang. Aku lebih baik meninggalkan semua itu dan tinggal disini bersamamu" Kata Kak Liam.
"Kak, Apa Kakak melakukan itu demiku ?" Tanyaku.
"Tidak. Aku melakukan itu hanya untuk diriku sendiri" Jawabnya sambil berpaling dariku.
"Tep" Aku memegang kedua pipi Kak Liam dan mendekatkan wajahku didekatnya.
"Kak, Jangan terlalu memaksakan diri Kakak untuk menjadi sosok yang lebih baik. Jadilah diri Kakak sendiri yang bisa membuat Kakak bahagia tanpa ada paksaan orang lain" Kataku.
"Aku, lebih suka Kakak yang apa adanya" Kataku sambil melepas pipi Kak Liam.
Kak Liam membelalakan matanya.
Aku tersenyum
Kak Liam berani melakukan apapun demiku.
Aku, belum tentu berani melakukan banyak hal untuk Kak Liam.
"Sruukk" Kak Liam mengusap rambutku.
"Tidurlah, mulai besok Kau harus kembali Ke Asrama Keputrianmu" Kata Kak Liam.
Sempat sempatnya Dia membuatku tenang, padahal kini Kak Liam sedang bersedih.
"Kak, kenapa Kak Liam sangat baik padaku ?" Tanyaku.
"Tidak tau" Jawabnya.
"Kak, Kenapa Kak Liam berkata kalau Kak Liam tidak akan mati dulu ?" Tanyaku.
"Aku akan mati bila Aku sudah bahagia nanti" Jawabnya.
"Apakah sekarang Kak Liam tak pernah merasa bahagia ?" Tanyaku.
"Walau Kau dekat. Bagiku, Kau terasa jauh Laura. Bila suatu hari nanti Kau bertemu dengan Arlo. Jangan mau untuk membalas cintanya" Kata Kak Liam.
"Maksudnya Kak?" Tanyaku.
"Bila Kau mencintai Arlo, Kau tidak akan bisa hidup bersama dengannya. Dia akan mati setelah Kau membalas cintanya. Cukup cinta i saja dirimu dan tak perlu mengingat Arlo. Percayai saja kalau Dia adalah mitos. Mitos itu, tidak pernah ada. Benarkan ?" Tanya Kak Liam sambil tersenyum padaku.
"Iya Kak. Bisa jadi penyihir Arlo itu orang yang jadi jadian untuk membuat nyata mitos tentang Dia" Kataku.
Kak Liam memperlebar semyuman manisnya.
"Ayo tidur" Kata Kak Liam sambil memainkan rambutku yang terurai.
"Aku tak bisa tidur Kak" Lirihku.
Hujan mulai mereda.
"Mau Ku peluk dan ku elus ?" Tawarnya.
"Enggak mau !" sahutku.
"Yasudah. Kalau Kau tak mau ku elus. Pegang dan tepuk tepuk perlahan kepalaku" Kata Kak Liam sambil mengambil tanganku dan menaruh tepak tanganku di kepalanya yang berambut putih.
Aku mulai menepuk nepuk kapala Kak Liam.
"Akhir akhir ini Aku sulit tidur" Kata Kak Liam yang memejamkan matanya.