LIAMARLO

LIAMARLO
KEBENARAN TENTANG LIAM DAN SOSOK ITU bag.5 _Selesai



"Aku sudah tidak memikirkan Laura, Dia membenciku. Selamatkan diriku dengan cara membunuhku. Aku tidak mungkin tidak bisa menahan Dia lagi" Kata Liam.


Alan tidak hanya mewariskan sihirnya pada Liam, tapi, Dia mewariskan juga ingatan dan semua tujuannya pada Liam.


Liam mulai bisa melihat apa yang telah Alan liat di masa lalu setiap memejamkan matanya.


Alan selalu mendapatka perlakuan buruk dari para raja raja di semua penjuru negeri karena matanya yang berwarna merah.


Alan membohongi pengikutnya yang berniat menguasai negri ini sendirian dengan perkataan ingin menghapus aturan mengenai larangan pemakaian sihir di negri ini.


"Siapa yang Kau maksud dengan Dia, Liam ?" Tanya Arlo.


"ALAN" Jawab Liam.


"Apa maksudnya ini ?" Tanya Gevand.


Liam melihat Arlo.


"Aku sudah ingat semuanya, seminggu sebelum Aku akan di asramakan oleh ayah dan ibu. Aku merasakan sakit yang luar biasa dari dalam tubuhku dan mataku. Itu terasa sangat panas dan menganggu. Bisikan bisikan aneh mulai terdengar di telingaku. Aku baru sadar, kalau kejadian itu, yang membuatku takut untuk tidur sendirian di kamarku" Cerita Liam sambil menunduk.


"Saat Aku terbangun di pagi hari, mata biruku berubah menjadi merah. Aku sangat ketakutan saat itu. Kemudian, Kyle mulai menjauh i ku dan melarang teman temanku untuk bermain denganku"


Hari itu yang diceritakan oleh Liam


"Jangan dekati Liam. Dia punya penyakit yang menular. Bisa bisa mata kalian berwarna merah seperti Liam" Suara Kyle dari balik jendela kamar Liam.


Liam yang masih berusia enam tahun hanya membiarkan saja Kakaknya berkata seperti itu.


Saat itu, Dera sudah di pindahkan di kerajaan Nelzefvia bersama Kyle.


Dera dari dulu memang dekat dengan Kyle dan sering melihat Liam tapi, Ia tidak berani mendekati Liam.


Dera hanya melihati Liam dari kejauhan.


Laura yang baru berusia 4 tahun menanggis melihat Liam yang bermata merah dengan rambut hitam legam.


Laura kecil, sangat takut pada Liam karena warna matanya yang sangat aneh dan mencolok itu.


Flyyn langsung mengendong Laura dan menenangkannya.


"Dia merebut Ibu dariku"


Dulu Liam sangat membenci Laura karena kasih sayang dari Flyyn dan ayahnya mulai berkurang padanya.


Kemudian, dihari keberangkatan Liam ke Dynantya untuk di Asramakan


Rasa panas, sakit dan, gatal mulai terasa di sekujur tubuhnya.


Liam tidak memberitahukan pada Flyyn tentang sakitnya.


Liam yang tertidur diperjalanan mulai mengaruk kasar kulitnya yang terasa sakit dan gatal didalam kereta kuda.


"Nak, hancurkan semuanya" Suara bisikan yang selalu di dengarkan oleh Liam.


Kulit Liam mulai terasa perih, saat itu, Liam terbangun dan melihat kemeja putihnya sudah penuh dengan darahnya sendiri.


Liam melihat tangannya yang mengeluarkan energi sihir yang berwarna merah.


Ia langsung berteriak dengan keras.


Prajurit dan kusir Liam yang berada di luar kereta kuda sangat terkejut dan langsung menghentikan kuda mereka.


"Bunuh semua yang ada di hadapanmu" Bisikan itu.


Prajurit yang berada di luar kereta kuda langsung membuka pintu kereta kuda.


"Pangeran ! Ada ap- TRASHHHH!!!! CRAAAT!!!!!"


Tanpa sadar, tubuh Liam terasa ringan dan seperti di gerakan oleh sesuatu.


"BRUK!" Kusir melihat Prajurit itu terjatuh di sampingnya dengan keadaan leher yang tertebas.


"HUAH!!!!" Kusir itu sangat terkejut dan berteriak dengan keras.


"Tep !" Liam turun dari kereta kuda.


Ia merasakan sensasi yang berbeda saat membunuh orang.


Rasa sakitnya, perlahan menghilang.


"Bunuh semua orang yang ada di hadapanmu. Itu adalah obat untukmu"


"Benarkah ?" Tanya Liam.


"Iya, cepatlah sebelum ada orang yang melihatmu" Bisik suara itu.


Liam mengosok darah yang ada di dagunya sambil mendekati kearah kusir itu yang terjatuh.


"PANGERAN !!!! AMPUNI SAYA !!!!! ISTRI SAYA SUDAH HAMIL TUA, SEBENTAR LAGI AKAN MELAHIRKAN !!" Teriak minta ampun kusir itu.


Senyum menyeringai terlihat di wajah Liam yang terkenal pendiam itu.


"Apa peduliku ? TRASHH !!! CRAT!!!!!"


Itulah yang terjadi pada Liam saat itu.


Kejadian yang menimpa Liam kemudian diselidiki oleh Tim penyidik dari Dynantya dan Nelzefvia.


Kemudian, kedua pihak dari Tim penyidik itu menyimpulkan kalau Liam di serang oleh Arlo yang keberadaannya masih di ambang ada atau tidak ada.


Aelius berfikir tidak mungkin kalau Arlo akan menyerang Liam.


Kemudian, Aelius menutup hal itu dari khalayak umum.


Setelah Liam tersadar dari pingsannya yang memakan hampir seminggu, Ia terbangun dan melihat sekitanya yang sudah bukan lagi berada di Nelzefvia.


Liam yang bermata merah melihat Kyle dan Aelius yang berada di dekatnya.


Liam mulai merasakan rasa sakitnya lagi.


Pedang sihir berwarna merah keluar dari tangan Liam dan langsung menebaskannya ke arah Kyle yang paling dekat dengannya.


Untungnya, ada Aelius disana.


Aelius langsung mendorong keras kursi yang di duduki oleh Kyle hingga Kyle terpental jauh.


Kyle sangat terkejut begitu pula dengan Aelius.


"Liam ! Dia Kakakmu ! Kyle ! Kenapa Kau ingin menebaskan pedangmu kearah Kyle ?!" Tanya tegas Aelius.


Liam berjongkok di atas kasurnya.


"membunuh orang adalah obat terbaik untukku. Rasa sakit ini sangat menyiksaku" Kata Liam sambil mengeluarkan kedua pedang sihirnya dari kedua telapak tangannya.


"Pedang apa itu ? Kenapa tiba tiba keluar dari tangannya ?" Batin Kyle.


"Kyle, Keluarlah dari sini dan jangan biarkan ada orang lain yang masuk. Berjanjilah pada Kakek untuk merasahasiakannya dari Ibumu dan ayahmu" Kata Aelius.


Kyle mengangguk dan langsung keluar dari kamar Liam untuk menjaganya.


Arlo diam diam muncul dari belakang Liam dan langsung -


"DUAGH!!" Memukul keras tengkuk Liam hingga Liam pingsan.


"Maafkan Aku Arlo. Ini terakhir kalinya Aku minta bantuanmu" Kata Aelius.


"Aku masih belum memaafkanmu. Aku kemari untuk menepati janjiku pada Aneria untuk menjaga dan melindungi bocah ini" Kata Arlo sambil membalik tubuh Liam.


Arlo membuka dan menutup mata Liam yang terpejam.


"Matanya berwarna merah, didalam dirinya juga ada energi sihir negatif. Ini sudah terlambat untuk menghilangkan sihir di dalam dirinya" Kata Arlo sambil melepas tangannya yang memainkan mata Liam yang terpejam.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan ?" Tanya Aelius.


"Bunuh saja bocah ini. Dia adalah ancaman untuk Negri ini" Kata Arlo sambil tersenyum.


"Tolong jangan membunuhnya. Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya ?" Tanya Aelius.


"Ini bukan hal yang mudah. Apa surat yang dulu kuberikan sudah diterima oleh bocah ini ?" Tanya Arlo.


"Belum, Aku masih menyimpannya. Saat Dia tersadar Aku akan langsung memberikan surat itu padanya" Kata Aelius.


"Baiklah, untuk sekarang pikirkan saja dulu mengenai bocah ini. Luka yang ada di sekujur tubuhnya tidak akan bisa disembuhkan. Itu dikarenakan efek dari jumlah energi sihir yang berada di dalam dirinya yang telah mencapai di ambang kapasitas kemampuan tubuhnya. Tapi, hebat juga, bocah ini bisa menerima energi sihir dari orang lain. Padahal, bila salah sedikit tubuhnya bisa meledak kapan saja" Kata Arlo sambil mengusap rambut hitam Liam.


Aelius, mendapatkan suatu ide yang agak membahayakan Liam.


"Arlo, Kau berkata kalau Liam bisa menerima energi sihir milik orang lainkan ?" Tanya Aelius.


"Iya" Kata Arlo sambil melihat Aelius.


Keduanya saling melihat.


"OH ! Ide bagus ! Aku akan memberikan sebagian kecil energi sihirku untuk menyegel kekuatannya" Kata Arlo.


"Menyegel ? Apa itu tidak mempengaruhi kepribadian Liam ?" Tanya Aelius.


"Tidak bila Aku hanya menyegel kekuatannya saja. Mungkin, kepribadiannya akan tetap seperti itu. Dia mungkin akan menjadi orang yang selalu seperti itu. Membunuh orang lain demi menghilangkan rasa sakitnya" Kata Arlo.


"Apa Kau bisa menghilangkan sifat Liam yang seperti itu ?" Tanya Aelius.


"Tidak bisa. Sifat dan karakter seseorang, hanya bisa di ubah oleh dirinya sendiri" Jawab Arlo.


"Tau mungkin, Kau mau Aku memisahkan kedua jiwa bocah ini yang menjadi satu ?" Tanya Arlo.


"Maksudnya ?" Tanya Aelius.


"Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki sisi positif dan negatif. Putramu ini, dominan dengan sisi negatifnya. Dia di penuhi dengan rasa kebencian yang membuat energi sihir didalam dirinya yang keluar dengan sendirinya" Jelas Arlo.


"Kalau begitu, lakukan itu Arlo. Aku sangat memohon padamu" Aelius bersujud di hadapan Arlo.


"Berdirilah. Aku akan membawa bocah ini di rumahku untuk melakukan ritualnya, Kau datanglah juga. Aku membutuhkan darahmu" Kata Arlo sambil mengendong Liam.


"Kenapa Kau tidak melakukan itu di sini saja ?" Tanya Aelius sambil melihat Arlo.


"Kalau bocah ini mengamuk bagaimana ? Apa Kau bisa menahannya sambil melindungi orang orang di sekitarmu ?" Tanya Arlo yang membopong Liam.


"Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu Arlo. Aku akan menyusul kalian" Kata Aelius.