
Saat itu, atau setengah jam yang lalu....
"Sayang, malam ini kenapa tidak menghadiri acara pengangkatan Putra Mahkota Dynantya yang baru ?" Tanya Viona Istri Kyle sambil memeluk Kyle dari belakang.
"Aku tidak akan datang walau sudah dapat undangannya" Jawab Kyle.
"Kenapa ?" Tanya Viona sambil mengusap rambut Kyle.
"Kakek yang memutuskan hubungan keluarga denganku. Aku juga belum meminta maaf padanya, pada Laura, dan pada Liam. Aku akan sangat malu bila kesana sekarang" Jawab Kyle sambil berfokus pada dokumen didepannya yang berisi surat surat pemutusan kerja sama.
"Hah..... Aku sangat lelah...." Gumam Kyle yang menghela napas panjang.
"Bukankah malam ini malam yang cocok untuk meminta maaf pada Raja Dynantya dan kedua saudara saudari Kamu ? Aku juga akan meminta maaf pada mereka. Entah kenapa rasanya, Aku seperti takut mereka akan benar benar meninggalkanmu" Kata Viona sambil melihat Kyle dari samping.
Kyle yang mendengarkannya langsung menjatuhkan penanya.
Kyle melihat istrinya.
"Kenapa, Kau berkata begitu Viona ?" Tanya Kyle.
"Ya, karena Aku yang egois. Kyle harus kehilangan keluarga dan kepercayaan yang telah di wariskan oleh ayah Kyle" Jawab Viona sambil mengambil pena Kyle yang jatuh di lantai.
Kyle memutar tempat duduknya.
Viona yang ada di hadapannya langsung Ia peluk.
"Itu bukan kesalahanmu. Itu karena Aku yang tidak becus menjadi seorang Kakak. Besok, Aku akan mengosongkan jadwalku. Dan besok, Kita akan ke Dynantya. Aku akan meminta maaf dan membawa kembali adik adik kecilku" Kata Kyle sambil mengusap rambut Viona yang pirang.
"Iya..." Viona balik memeluk Kyle.
"Sudah lepaskan. Aku harus menyelesaikan dokumen ini" Kata Kyle sambil memegang bahu Viona.
Viona memeluk Kyle dengan erat.
Kyle merasakan dadanya yang tiba tiba basah.
Kyle menyadari kalau Viona menanggis di pelukannya.
"Viona, Kau kenapa ?" Tanya Kyle sambil melihat wajah Viona yang memerah karena menanggis.
"Jangan suruh Aku untuk melepas pelukanku. Aku tiba tiba merasa sangat merindukanmu" Kata Viona sambil menutup wajahnya di pelukannya yang memeluk Kyle.
Kyle benar benar tidak paham dengan kelakuaan Viona yang akhir akhir ini berubah.
Kyle tersenyum sambil mengusap rambut Viona.
Namun, tidak lama kemudian.....
"BAMMMMMM!!!!! PYARRRRRRR!!!!!!" Terdengar suara ledakan dari dalam ruangan utama istana.
Kyle yang masih memeluk Viona langsung terkejut mendengar suara ledakan yang sangat keras itu.
Mereka berdua sempat jatuh kelantai akibat guncangan yang cukup keras tersebut.
"Viona ! Aku tidak apa apa ?!" Tanya Kyle sambil melihat wajah Viona yang sangat terkejut.
"Aku tidak apa apa. Tapi, ledakan apa itu ?!" Tanya Viona sambil mengusap air matanya.
"AAAAAA!!!!!!" Suara teriakan sisa prajurit dan pelayan terdengar hingga diruangan Pribadi Kyle.
"Sembunyilah. Aku akan melihat keluar. Jangan keluar sampai Aku perintahkan" Kata Kyle sambil berdiri.
"Kyle, berhati hatilah" Kata Viona sambil berdiri.
...***...
Akibatnya, seluruh pelayan dan Prajurit yang berada di dalam istana tersebut ada yang mati dan ada yang melarikan dari istana.
Pengikut Dera, Yang berada di Nelzefvia tidak berjumlah sedikit.
Sebagian besar pengikut Dera yang berada di Nelzefvia mengejar seluruh rakyat Nelzefvia yang melarikan diri.
Pada Akhirnya,
Kaki kanan Kyle sudah hancur akibat tertindihan runtuhan atap ruangan.
Sedangkan Viona, Istri Kyle mati karena melindungi Kyle saat Kyle akan di serang menggunakan sihir oleh Penasehatnya.
Mata kiri Kyle juga sudah rusak akibat tertancap pecahan kaca saat terjadi ledakan kedua yang menghancurkan sebagian istana Dynantya.
"Buahahahhaha...." Penasehat itu tertawa terbahak bahak melihat Laura yang kesusahan mengangkat pedang.
Penasehat itu berjalan kearah Laura.
Andreas yang bersembunyi di dekat pilar penyangga ruangan di dekat Kyle mulai bergerak.
"Putri, tunggulah sebentar lagi" Batin Andreas.
"Putri saja tidak bisa memegang pedang, Bagaimana bisa Putri menyelamatkan Raja Kyle ?" Tanya Penasehat itu sambil melangkah kearah Laura.
Andreas telah di samping Kyle.
"Raja Kyle, ayo Kita harus cepat bergegas" Lirih Andreas sambil memegang lengan Kyle.
"Andreas.... Laura bagaimana ?" Tanya Lirih Kyle.
"Pertama, Anda harus keluar dulu dari sini. Saya akan membantunya setelah Anda benar benar aman" Lirih Andreas sambil mengendong Kyle di pungungnya dan mengangguk pada Laura kemudian pergi perlahan melewati jendela yang kacanya telah pecah.
"Lihatlah, tanganmu saja gemetar saat memegang pedang" Kata Penasehat itu.
Laura memantapkan kuda kudanya dan menurunkan pedangnya itu karena benar benar terasa berat serta bahunya bahunya mulai terasa pegal.
Laura sudah menyiapkan satu pedang kecil yang Ia temukan dari dalam rumah Arlo yang Ia ikatkan di pahanya.
Ia sengaja mengambilnya karena, siapa tau ada orang yang berniat buruk padanya.
Laura mulai memperhatikan langkah penasehat agar bisa menjaga jarak aman dari dia.
Penasehat itu mulai merasa ada yang aneh dengan kehadiran Laura.
Penasehat itu berhenti di tempat Ia berdiri.
"Oh tunggu sebentar, bukan kah Putri saat ini harusnya berada di Dynantya? Jangan jangan !" Penasehat itu langsung melihat kebelakang.
Penasehat itu langsung membelalakan matanya.
Ia terkejut melihat Kyle sudah tidak ada di belakangnya.
"Kesempatanku !" Tegas batin Laura.
Laura menggunakan kesempatannya untuk kabur keluar dari dalam ruangan istana.
Penasehat itu melihat Laura yang melarikan diri.
Laura berlari sambil melepas sepatu sandal yang berhak tingginya.
Laura langsung membuangnya sembarangan dan mengangkat gaunnya yang panjang.
Jarak ruangan itu dengan pintu keluar istana cukup jauh.
Penasehat yang beumur kurang lebih 35 tahunan itu dengan cepat berlari mengejar Laura.
Laura dengan nafas terengah engah terus berlari menuju pintu keluar itu.
"Hosh ! Hosh ! Aku menyesal ! Kenapa Aku harus benci dengan pelajaran olahraga" Batin Laura yang teris berlari.
Pintu keluar mulai terlihat.
Laura melangkahkan lompatannya yang tinggi keluar dari sana.
"Tep !" Andreas yang melihat Laura berlari keluar langsung menarik tangan Laura untuk berlari bersama sambil membopong Kyle di punggungnya.
"Kerja bagus...." Ucap Andreas sambil memperlihatkan senyumannya pada Laura.
Baru kali ini, Laura melihat Andreas yang selalu memasang wajah datar itu tersenyum.
"Iya!" Jawab Laura sambil mengikuti langkah Andreas berlari di samping depannya.
Mereka berdua terus berlari tanpa melihat kebelakang.
"KAMI YANG AKAN MENANG !!!! PERCUMA KALIAN KABUR !!!!" Teriak Penasehat Kyle itu yang tidak mengejar Laura dan Andreas lagi.
"Lewat sini !" Tegas Laura sambil menarik tangan Andreas yang mengengamnya.
Andreas mengikuti Laura yang balik menarik tangannya.
Laura membawa Andreas dan Kyle kedalam rumah kosong yang sudah lama tak berpenghuni.
Mereka bertiga langsung masuk kesana untuk beristirahat sebentar dan menunggu waktu yang pas untuk keluar, atau lebih tepatnya lagi, menunggu bantuan dari Arlo datang.
Andreas menurunkan Kyle dengan nafasnya yang tersenggal senggal.
"Bruk !" Andreas langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai kayu rumah itu yang masih bersih.
"Hosh hosh... Haha... itu tadi,.... lari yang menyenangkan" Andreas tertawa dengan nafas yang yang tersenggal sengal.
"Kak Kyle, Apa Kakak.... baik... baik... saja ?" Tanya Laura sambil mengusap wajah Kyle yang penuh dengan darah dengan gaunnya perlahan.
"Laura, Andreas.... terima kasih telah menyelamatkanku. Tapi tumben, biasanya Liam bersamamu Laura. Dimana Dia ?" Tanya Kyle.
Andreas berhenti tertawa dan Laura langsung diam di tempat.
Andreas duduk dari tidurnya.
"Raja Dynantya mati di bunuh musuh. Sedangkan Pangeran Liam mati atas keinginannya sendiri" Jawab Andreas.
"Hah?!" Kyle terkejut dan langsung melihat kearah Andreas.